Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Realitas Pejuang Pascakemerdekaan dalam Cerita Pendek Vickers Djepang Karya Nugroho Notosusanto

Karya sastra hadir atau tercipta dari kondisi sosial masyarakat pengarang. Biasanya, karya sastra berupa novel, puisi, atau drama dapat menggambarkan keadaan yang sebenarnya terjadi di masyarakat yang dirasakan atau menjadi fokus perhatian pengarang. Namun, tetap saja sesuatu yang disebut karya sastra harus memenuhi unsur fiktif atau imajinasi. Sebuah karya sastra tidak bisa dipercaya sepenuhnya sebagai sebuah fakta, tetapi sebagian besar memaparkan realitas yang ada. Realitas dipandang sebagai sebuah keadaan yang nyata sarat dengan pesan moral yang ingin disampaikan. Pesan tersebut dilesapkan ke dalam percakapan atau dialog tokoh dan bisa juga langsung dipaparkan melalui penjelasan tokoh. Hal tersebut disebabkan oleh adanya kepedulian atau kegelisahan pengarang untuk memberitahukan kepada masyarakat tentang hal yang mungkin luput dari perhatian atau mencoba menjelaskan ketimpangan yang terjadi di masyarakat.

Dalam hal ini, banyak sekali karya sastra yang mengangkat realitas yang ada di masyarakat. Mulai dari angkatan Balai Pustaka dengan novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli hingga pascakemerdekaan yang ditandai dengan angkatan 1966 dengan novel Sri Sumarah dan Bawuk karya Umar Kayam. Novel Sti Nurbaya, misalnya, mengangkat realitas yang ada di masyarakat Minang. Kondisi perkawinan yang dipaksa dan tidak bebas memilih pasangan menjadi fokus Marah Rusli. Dengan adanya novel tersebut, pergolakan batin anak yang dipaksa nikah dengan orang yang tidak dicintai baru terkuak setelah sekian lama masyarakat Minang tidak ada yang berani mengungkapkan hal tersebut. Begitu pula dengan novel Sri Sumarah dan Bawuk. Novel yang berlatar waktu tahun 1960-an ini mengangkat realitas kesetiaan dan penderitaan perempuan Jawa yang terseret oleh arus pergerakan komunis di Indonesia.

Dari sekian banyak karya sastra yang mengandung realitas yang ingin disampaikan kepada masyarakat, kami akan membahas salah satu karya sastra berupa cerita pendek yang berjudul Vickers Jepang karya Nugroho Notosusanto. Cerita pendek ini bercerita tentang terdesaknya kebutuhan ekonomi Palguno, putra seorang bangsawanan pensiunan bupati yang juga seorang bekas tentara Font MKS. Palguno tidak tahu harus berbuat apa untuk membayar bidan karena istrinya akan segera melahirkan. Keadaan Palguno yang dekat dengan garis kemiskinan membuatnya harus melakukan hal yang tidak terpuji, yaitu menodong menggunakan senjata Vickers Jepang. Saat sedang melancarkan aksi menodong, korban Palguno mengetahui bahwa senjata Vickers Jepang yang dibawanya tidak memiliki peluru. Seketika itu juga, aksi menodong pun gagal. Ternyata, korban yang berhasil menggagalkan aksi menodong Palguno adalah atasannya saat menjadi prajurit Font MKS yang bernama Mas Nug.

Suasana menegangkan berubah menjadi hangat seperti bertemu kawan lama. Atasan Palguno pun mengajak berbincang-bincang setelah lama tidak bertemu. Namun, kegelisahan Palguno yang tidak tertahankan terhadap istrinya membuatnya harus cepat kembali pulang dengan membawa uang yang saat itu belum didapatnya. Kondisi tersebut pun diketahui Mas Nug dan bersama Palguno pergi melihat kondisi istri yang sedang ingin melahirkan. Sesampainya di rumah Palguno yang terletak di gang sempit, Palguno dan Mas Nug sudah mendengar teriakan bayi. Kehidupan putra bangsawan pensiunan bupati yang tragis juga tidak terlepas dari ketidaksetujuan keluarga Palguno terhadap pasangan hidupnya yang berbeda status sosial. Berkat naluri cinta yang kuat diantara keduanya, Palguno dan istri terpaksa kawin lari dan tidak mendapat bantuan keuangan dari keluarga Palguno. Akhirnya, Palguno meminta bantuan Mas Nug untuk membeli senjata Vickers Jepang miliknya.

Berdasarkan cerita di atas, karya Nugroho Notosantoso tersebut dapat dilihat pendekatannya terhadap karya sastra. Abrams membagi kritik sastra ke dalam empat tipe, yaitu kritik mimetik, kritik pragmatik, kritik ekspresif, dan kritik objektif. Dari keempat tipe tersebut, cerpen di atas menggambarkan kritik prinsip kritik mimetik, yaitu kritik yang memandang karya sastra sebagai tiruan, pencerminan, atau penggambaran dunia, dan kehidupan manusia. Kriteria utama yang dikenakan pada karya sastra adalah “kebenaran” penggambaran atau yang hendaknya digambarkan. Hal yang terlihat sebagai tiruan dalam cerpen tersebut terdapat dalam kutipan berikut:

“Didekat emplacement station Senen, gelapnja seperti didalam trowongan keretaapi. Suara orang berlatjur tidak ada didalam gerbong jang berserakan diatas ril. Penndjual sate Madura dan kue putu djuga pada lenjap. Djalanan sepi seperti kuburan,” (hlm.38)

Kutipan di atas mencoba menirukan atau menggambarkan kehidupan pada tahun 1950an, yaitu suasana kota Jakarta pascakemerdekaan yang masih diliputi suasana yang belum stabil dan mencengkeram. Penduduk Jakarta diliputi kecemasan ketika malam datang, jalan-jalan sepi, dan banyak terjadi tindak kriminal. Selain itu, terdapat juga kutipan yang menggambarkan sisi lain dari kehidupan kota sebagai berikut:

“Rumahnja terletak digang jang sempit, betjek dan bau. Dimuka pintu bamboo itu ia berdiri sedjurus. Njala lampu minjak menjorot keluar…” (hlm.44)

Keadaan Republik Indonesia yang baru saja merdeka menyebabkan berbagai sisi kehidupan belum stabil sehingga banyak masyarakat yang mengalami kesulitan hidup terutama kesulitan ekonomi, seperti di kota Jakarta. Penggambaran kesulitan hidup diutarakan melalui tokoh Palguno. Kesulitan hidup yang dialami Palguno datang ketika istrinya hendak melahirkan sedangkan dirinya belum mempunyai cukup uang untuk membiayai bidan. Kebutuhan yang mendesak tersebut membuat Palguno harus menodong orang di tengah jalan dengan menggunakan senjata bekas menjadi prajurit Font MKS. Tidak hanya itu, cerpen tersebut juga mempunyai nilai kebenaran yang berkembang dalam kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut dapat terlihat dalam kutipan berikut:

“Biarpun peladjar SMP, tapi dimata mereka tetap anak desa. Merendahkan martabat keluarga.

Djadi bagaimana?

Saja paksakan, ia minum lagi, merenung. Hubungan antara mereka dan saja terputus. Mereka masih bangga akan martabat mereka. Saja djuga mengerti tapi saja tak dapat mengingkari kasih dan terimakasih.” (hlm.42)

Kutipan di atas menjelaskan bahwa tokoh Palguno yang merupakan putra seorang bangsawanan pensiunan bupati terpaksa kawin lari demi seorang yang dikasihinya. Hal tersebut disebabkan perbedaan status sosial keluarga Palguno dengan istri yang berbeda sehingga ditentang oleh keluarga Palguno yang dari kalangan Priyayi. Sejak saat itu, hubungan Palguno dan keluarga terputus. Palguno pun terpaksa hidup seadanya dan tidak mendapat bantuan apapun dari keluarganya yang tergolong mampu tersebut. Hal tersebut merupakan fenomena yang biasa kita temui di dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, konflik pertentangan tersebut sudah ada dari angkatan Balai Pustaka yang dipelopori oleh novel Siti Nurbaya.  Namun, perbedaan terletak pada sikap anak yang tetap memilih orang yang dikasihinya walaupun keluarganya menentang. Hal tersebut berbeda dengan tokoh Siti Nurbaya yang pasrah menerima orang yang tidak dicintainya menjadi suaminya.

Akibat dari pertentangan keluarga, Palguno pun harus hidup susah di Jakarta. Kesusahan hidup yang dialami Palguno membuat dirinya melakukan tindak kriminal dengan menodong orang di tengah jalan. Hal tersebut dilakukan Palguno karena tidak ada jalan atau usaha lain yang dapat mendatangkan uang dengan cepat. Kebutuhan yang sudah mendesak tersebut sudah menjadi alasan klasik bagi para penjahat untuk melakukan aksi tidak terpujinya. Hal serupa sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Berikut kutipan yang menjelaskan alasan Palguno melakukan aksi penodongan.

“Mengambil bidan mas. Bidannja sudah saja kirim kerumah. Saja bermaksud mentjari tambah uang untuk membiajai kelahiran baji…” (hlm.43)

Setelah melihat karya sastra menurut pendekatannya, sebuah karya sastra tidak terlepas dari fungsi hakikat karya sastra itu sendiri. Fungsi hakikat karya sastra, yaitu dulce et utile yang berarti menyenangkan dan berguna. Nilai dulce et utile meliputi fungsi karya sastra yang memancarkan pengalaman jiwa, menguatkan suasana, dan memperbesar perasaan kemanusiaan. Bagian yang menggambarkan nilai dulce et utile adalah sebagai berikut:

“Pada suatu malam jang kujup dengan hudjan, aku pulang dari sebuah rendez-vous jang hangat dan romantis. Sepedaku merek Phillips bikinan Surabaja, keadaannja sudah pajah benar. Selain djalannja bergojang-gojang karena rodanja tidak lurus, rantainja berbunji pula, membikin lagu jang tidak njaman. Air hudjan merajap masuk via leherbaju dan merembes kedalam via djashudjan Swan kwalitet Rp.90 jang tidak waterproof 100%. Dengan sebal aku menjenandungkan lagu Tik-tik-tik bunji hudjan diasat genting…” (hlm.38)

Pengarang menguatkan suasana dengan kalimat-kalimat penjelas yang mendeskripsikan latar suasana dan keadaan tersebut secara detail. Penjelasan tersebut membuat cerpen Vickers Jepang menyenangkan karena banyak hal yang menghibur dengan kalimat santai. Apalagi di akhir paragraf tersebut, tokoh aku menyanyikan lagu rintik hujan. Hal tersebut menimbulkan kesan menyenangkan. Aspek lain dari hakikat karya sastra juga terdapat dalam kutipan berikut:

“… Kini ia mengharapkan lagi bantuan pada saat2 jang kritis. Dan kesukarannja sekaranglebih besar. Sebagai orang normal aku merasa bangga, bahwa masih ada orang jang menaruh kepertjatjaan sebegitu besar kepadaku.” (hlm.44)

Kutipan di atas dapat menjelaskan bahwa terdapat kandungan fungsi karya sastra untuk memperbesar perasaan kemanusiaan. Kandungan tersebut terlihat dari desakan kebutuhan Palguno untuk membayar bidan atas kelahiran anaknya. Tokoh Mas Nug hadir sebagai penyelamat atas kehidupan Palguno. Dalam hal ini, pengarang mencoba untuk menggugah rasa kemanusiaan masyarakat akan orang yang sedang membutuhkan pertolongan. Perasaan bangga Mas Nug ditunjukkan untuk membuat kesan bahwa menolong orang yang sedang kesusahan adalah sebuah kehormatan.

Berdasarkan berbagai penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa cerita pendek karya Nugroho Notosusanto memaparkan realitas pejuang pascakemerdekaan yang jauh dari kehidupan yang mapan atau berbeda dengan kondisi terdahulunya. Bahkan, ketidakberdayaan pejuang atas desakan ekonomi ditunjukkan dengan menjual senjata yang menjadi benda pusaka sebagai prajurit. Dengan menjual senjata tersebut, tokoh Palguno sama saja menjual harga diri yang dulu disandangnya sebagai prajurit atau pejuang. Hal tersebut bisa saja dimaksudkan agar masyarakat atau pemerintah lebih memerhatikan nasib para pejuang yang dulu pernah membela negara. Masyarakat diajak untuk menghargai dan menolong para pejuang yang sedang dilanda kesusahan dan sikap tersebut dicontohkan oleh Mas Nug. Di samping itu, cerpen ini juga memiliki nilai menyenangkan dan berguna sesuai dengan hakikat karya sastra.

Daftar Pustaka

Abrams, M. H. 1981. A Glosary of Literary Terms. New York: Holt, Rinehart, and Winston.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1994. Prinsip-prinsip Kritik Sastra: Teori dan Penerapannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 9, 2014 by in Sastra.
%d bloggers like this: