Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Pola Pembentukan Akronim Nama Program Televisi dan Radio

BAB 1

PENDAHULUAN

 

 1.1  Latar Belakang

Dalam melakukan pekerjaan, manusia seringkali membutuhkan alat bantu untuk memudahkan pengerjaannya. Alat bantu tersebut bisa berupa alat dan bisa juga berupa pola tertentu. Alat bantu yang berupa alat adalah mesin jahit, traktor, dan masih banyak lagi. Begitu pula dengan alat bantu berupa pola. Biasanya, pola digunakan untuk membantu mengingat sesuatu agar mudah di hafal, menarik untuk diikuti, dan menjadi pembeda dengan hal yang sejenis. Di dunia multimedia seperti sekarang ini, semakin bertambah banyak alat bantu yang tercipta baik dalam bentuk barang maupun pola yang digunakan untuk membantu manusia. Hal tersebut diiringi oleh bertambah banyak pula televisi dan radio yang ada di Indonesia. Menurut Belch (2011), radio adalah suatu media yang dicirikan oleh program yang sangat terspesialisasi ditujukan kepada segmen khalayak yang sempit. Keterbatasan radio dalam melakukan hiburan dan menyampaikan informasi kepada masyarakat mendorong terciptanya televisi. Hal-hal yang tidak terdapat dalam radio ditampilkan dalam televisi. Hal yang paling mendasar adalah pada televisi masyarakat dapat melihat visualisasi semua hal yang ada di dalamnya dan memiliki jangkauan yang luas.

Pada siaran televisi maupun radio membutuhkan program atau acara yang dapat menarik perhatian masyarakat. Hal ini disebabkan keberlangsungan televisi atau radio ditentukan dari berapa banyak masyarakat yang melihat kedua media tersebut. Hal tersebut juga tidak terlepas dari iklan yang nantinya akan menghidupi televisi dan radio. Di Indonesia, televisi dan radio begitu banyak jumlahnya. Contoh televisi nasional yang ada di Indonesia adalah RCTI, Trans TV, Indosiar, TV One, Global TV, dan masih banyak lagi. Radio pun tidak sedikit jumlahnya, seperti Gen FM, Prambors FM, Trax FM, dan lain-lain. Dari sekian banyak televisi dan radio tersebut memiliki program atau acara yang tidak kalah banyaknya dan berganti seiring perkembangan waktu. Keberlangsungan program televisi atau radio juga ditentukan oleh rating. Bila program tersebut tidak mendapat rating bagus, pihak televisi atau radio akan mengganti program baru yang lebih diminati masyarakat. Untuk itu, para penyedia jasa, seperti televisi dan radio membuat nama program yang unik dan variatif walaupun termasuk ke dalam jenis program yang sama. Hal tersebut dimaksudkan untuk menarik perhatian masyarakat dan mudah diingat. Perlombaan tidak langsung media televisi dan radio diikuti dengan perlombaan nama program yang sebagian besar merupakan hasil dari kependekan kata.

Istilah kependekan kata merupakan istilah yang digunakan oleh Harimurti Kridalaksana dalam menyebutkan hasil dari proses pemendekan. Dalam hal ini, kependekan kata lebih dikenal dengan istilah abreviasi. Menurut Harimurti Kridalaksana (2007: 159), abreviasi adalah proses penanggalan satu atau beberapa bagian leksem atau kombinasi leksem sehingga jadilah bentuk baru yang berstatus kata. Dilihat dari segi fungsinya, abreviasi sering digunakan untuk memudahkan para pemakai bahasa dalam menyebut suatu frase tertentu. Jika dilihat dari segi bentuknya, kependekan kata dibagi menjadi singkatan, inisial, akronim, dan lain sebagainya.

Dalam tulisan ini, bentuk kependekan kata yang akan dibahas adalah akronim. Menurut Harimurti Kridalaksana, akronim merupakan proses pemendekan yang menggabungkan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai sebuah kata. Misalnya, ABRI dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Adapun Raja Massita Raja Arifin dalam Kamus Akronim, Inisialisme, dan Singkatan (1994: vii) menyebutkan bahwa akronim terbentuk jika suatu istilah tidak ditulis secara penuh, tetapi dengan menggabungkan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai sebuah kata. Misalnya, KONI dari Komite Olahraga Nasional Indonesia. Kecenderungan akronim yang digunakan program siaran televisi dan radio sangat bervariatif dan tidak umum menarik untuk dilihat pola pembentukannya. Bahkan, tidak sedikit pula program siaran yang diambil dari kata bahasa Inggris, tetapi memiliki singkatan dalam bahasa Indonesia.

1.2  Rumusan Masalah

Dengan demikian, dapat dirumuskan sebanyak dua pertanyaan untuk rumusan masalah dalam proposal penelitian ini, yaitu sebagai berikut,

  1. Bagaimana kecenderungan pola pembentukan akronim program televisi dan radio?
  2. Apakah ada faktor yang mempunyai peranan dalam pola pembentukan akronim program televisi dan radio?
  3. Apakah perbedaan pola pembentukan akronim nama program televisi dan radio?

1.3  Tujuan Penelitian

Penelitian di bidang Morfologi ini bertujuan untuk mendeskripsikan kecenderungan pola pembentukan akronim program siaran televisi dan radio yang ada di Indonesia.

1.4  Data Penelitian

Data penelitian pada makalah ini akan diambil dari nama program televisi dan radio yang ada di Indonesia. Namun, data yang diambil adalah nama program dari tiga televisi dan tiga radio untuk mempermudah penelitian. Tiga televisi yang akan dijadikan data adalah Trans TV, Trans 7, dan Indosiar. Tiga radio yang akan dijadikan data adalah Hard Rock FM, Gen FM, dan Ardan FM. Dari ketiga televisi dan radio tersebut terdapat nama program yang merupakan akronim.

Nama program yang merupakan akronim di Trans 7 adalah OVJ (Opera Van Java), ILK (Indonesia Lawak Klub), dan Bolang (Bocah Petualang). Kemudian nama program akronim di Trans TV adalah !nsert (Informasi Selebriti), Sentil (Selebriti Interview Usil), dan YKS (Yuk Keep Smile). Lalu, nama program akronim di Indosiar adalah KISS (Kisah Seputar Selebriti) dan AFI (Akademi Fantasi Indonesia).

Selanjutnya, nama program akronim di radio Hard Rock FM adalah PARANOIA (Party At No Limitation) dan GMHR (Good Morning Hard Rock). Di radio Gen Fm juga terdapat nama program akronim, yaitu GANAS (Gen Empat Puluh Lagu Hits Terpanas) dan TULALIT (Tujuh Lagu Hits Paling Komplit). Sementara itu, Radio Ardan Bandung juga mempunyai nama program akronim, seperti Hegarmanah (Heboh, Segar, Ngeunah), Cipaganti (Cinta Pagi di Bandung City), dan Siliwangi (Siapin Selimut Wangi).

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini diharapkan dapat mendeskripsikan pengaruh pola pembentukan akronim program siaran televisi dan radio terhadap minat masyarakat. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat memudahkan penyedia jasa televisi dan radio untuk membuat nama program sesuai minat masyarakat disesuaikan dengan bidang Morfologi.

 

1.6  Metode dan Teknik Penelitian

1.6.1        Cara Pengklasifikasian

Data dikumpulkan dari nama program siaran yang merupakan akronim yang ada di televisi dan radio. Semua daftar akronim program siaran televisi dan radio tersebut kemudian dicatat sesuai dengan pola pembentukan akronim tersebut. Perbedaan pola pembentukan akronim yang terdapat dalam nama program siaran televisi dan radio akan menjadi fokus analisis. Setelah menemukan data yang akan dianalisis, maka nama program tersebut dikaitkan dengan teori pola pembentukan akronim yang dipaparkan oleh Harimurti Kridalaksana dalam buku Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Selanjutnya, hasil pengklasifikasian akronim tersebut dilihat pola kecenderungan pembentukannya. Tidak hanya itu, dilihat pula perbedaan pola pembentukan nama program radio dan televisi. Keterkaitan data juga akan dilihat dari aspek budaya dalam mengundang minat masyarakat. Setelah itu, dapat terlihat kecenderungan pola pembentukan akronim yang terdapat dalam nama program siaran televisi dan radio. Hasil penelitian akan bisa digunakan sebagai pembeda media televisi dan radio dalam membuat nama program siaran.

1.6.2        Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk menggambarkan dan menjabarkan fenomena yang terjadi dengan menggunakan prosedur ilmiah untuk masalah secara aktual (Sutedi, 2009: 58). Oleh karena itu, penelitian ini membutuhkan metode yang tepat dan relevan untuk dapat menjawab permasalahan. Metode berfungsi untuk memperlancar pencapaian tujuan secara lebih efektif dan efisien. Metode dalam penelitian deskriptif dibagi menjadi dua, yaitu metode kuantitatif dan metode kualitatif. Dalam hal ini, penelitian deskriptif ini menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif adalah metode penelitian yang semata-mata hanya berdasarkan fakta yang ada atau fenomena yang memang secara empiris hidup pada penutur-penuturnya sehingga yang dihasilkan atau dicatat berupa data yang bersifat apa adanya (Sudaryanto, 1992:62).

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif karena penulis ingin melihat nama program yang dihasilkan media televisi dan radio. Nama program tersebut akan dicatat sesuai dengan data kualitatif yang ada. Data kualitatif dalam penelitian ini adalah pola pembentukan akronim program siaran televisi dan radio. Hal tersebut berbeda dengan data kuantitatif yang ditunjukan dengan angka. Dengan metode kualitatif ini, penulis akan dapat menganalisis kecenderungan pola pembentukan akronim program siaran televisi dan radio.

BAB 2

LANDASAN TEORI

 

 2.1 Jenis-jenis Kependekan Kata

            Dalam buku Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia, abreviasi mempunyai nama lain, yaitu pemendekan kata. Namun, untuk mengungkapkan hasil proses abreviasi disebut kependekan kata. Menurut Harimurti (1989: 159), abreviasi adalah proses penanggalan satu atau beberapa bagian leksem atau kombinasi leksem sehingga jadilah bentuk baru yang berstatus kata. Awalnya, abreviasi atau bentuk kependekan kata ini dalam bahasa Indonesia digunakan untuk memenuhi kebutuhan berbahasa secara praktis dan cepat. Biasanya, kependekan kata ini digunakan oleh kalangan akademis, angkatan bersenjata, hingga menjalar ke kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, abreviasi digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu singkatan, penggalan, akronim, kontraksi, dan lambang huruf.

2.1.1 Singkatan

Salah satu jenis kependekatan kata ini merupakan hasil dari proses pemendekan yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik yang dieja huruf demi huruf, seperti:

FSUI   (Fakultas Sastra Universitas Indonesia)

DKI     (Derah Khusus Ibukota), dan

KKN   (Kuliah Kerja Nyata)

2.1.2  Penggalan

Penggalan adalah proses pemendekan kata yang mengekalkan salah satu bagian dari leksem, seperti:

Prof     (Profesor)

Bu       (Ibu), dan

Pak      (Bapak)

2.1.3 Akronim

Akronim adalah proses pemendekan yang menggabungkan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai sebuah kata yang sedikit banyak memenuhi kaidah fonotaktik Indonesia, seperti:

FKIP   /efkip/ (Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan)

ABRI /abri/    (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), dan

KONI /koni/   (Komite Nasional Olahraga Indonesia)

2.1.4 Kontraksi

Kontraksi adalah proses pemendekan kata yang meringkaskan leksem dasar atau gabungan leksem, seperti:

tak       dari tidak, dan

takkan dari tidak akan

2.1.5 Lambang Huruf

Lambang huruf, yaitu proses pemendekan yang menghasilkan satu huruf atau lebih yang menggambarkan konsep dasar kuantitas, satuan, atau unsure, seperti:

g          (gram)

cm       (sentimeter), dan

Au       (Aurum)

2.2 Klasifikasi Bentuk-bentuk Akronim

Menurut Harimurti (1989: 169), klasifikasi akronim lebih sukar ditentukan daripada kalsifikasi singkatan, penggalan, kontraksi, dan lambang huruf. Biasanya, akronim dilafalkan dalam kependekan sebagai kata yang wajar. Dalam hal ini, di Indonesia sering sekali terdapat tumpang tindih akronim. Berikut ini akan dijelaskan klasifikasi bentuk akronim.

2.2.1 Pengekalan suku pertama dari setiap komponen:

Nalo    = Nasional Lotere

Orba    = Orde baru

Orla     = Orde lama

2.2.2 Pengekalan suku pertama komponen pertama dan pengekalan kata seutuhnya:

banstir = banting setir

angkot = angkutan kota

2.2.3 Pengekalan suku kata terakhir dari tiap komponen:

Gatrik  = tenaga listrik

Lisin     = ahli mesin

Menwa = resimen mahasiswa

2.2.4 Pengekalan suku pertama dari komponen pertama dan kedua serta huruf pertama dari komponen selanjutnya:

Himpa                = Himpunan Peternak Ayam

Markoak = Markas Komando Angkatan Kepolisian

Gapani    = Gabungan Pengusaha Apotek Nasional Indonesia

2.2.5 Pengekalan suku pertama tiap komponen dengan pelepasan konjungsi:

Anpuda = Andalan Pusat dan Daerah

2.2.6 Pengekalan huruf pertama tiap komponen

KONI = Komite Olahraga Nasional Indonesia

LEN   = Lembaga Elektronika Nasional

LAN    = Lembaga Administrasi Negara

2.2.7 Pengekalan huruf pertama tiap komponen frase dan pengekalan dua huruf pertama komponen terakhir:

Aipda = Ajun Inspektur Polisi Dua

Aika    = Arsitek Insinyur Karya

2.2.8 Pengekalan dua huruf pertama tiap komponen:

Unud   = Universitas Udayana

2.2.9 Pengekalan tiap huruf pertama tiap komponen:

Komrad           = komunikasi radio

Komwil           = komando wilayah

Puslat              = pusat latihan

Banser             = bantuan serbaguna

2.2.10 Pengekalan dua huruf pertama komponen pertama dan tiga huruf pertama komponen kedua disertai pelesapan konjungsi:

Abnon             = abang dan none

2.2.11 Pengekalan dua huruf pertama komponen pertama dan ketiga serta pengekalan tiga huruf pertama komponen kedua:

Nekolim          = Neokolonialis, Kolonialis, Imperialis

Odmilti            = Oditur Militer Tinggi

2.2.12 Pengekalan tiga huruf pertama komponen pertama dan ketiga serta pengekalan huruf pertama komponen kedua:

Nasakom         = Nasionalis, Agama, Komunis

Nasasos           = Nasionalisme, Agama, Sosialisme

2.2.13 Pengekalan tiga huruf pertama tiap komponen serta pelesapan konjungsi:

Falsos              = Falsafah dan Sosial

2.2.14 Pengekalan dua huruf pertama komponen pertama dan tiga huruf pertama komponen kedua:

Jabar                = Jawa Barat

Jatim                = Jawa Timur

2.2.15 Pengekalan empat huruf pertama tiap komponen disertai pelesapan konjungsi:

Agitrop            = Agitasi dan propaganda

2.2.16 Pengekalan berbagai huruf dan suku kata yang sukar dirumuskan:

Akaba              = Akademi Perbankan

Agripoleksos   = Agama, Ideologi, Politik, Ekonomi, dan Sosial

Urildiadj          = Urusan Moril Direktorat Ajudan Jendral

                                                                                               BAB 3

ANALISIS

 

 3.1 Klasifikasi Bentuk-bentuk Akronim Nama Program Televisi dan Radio

Bentuk-bentuk akronim nama program televisi dan radio dapat diklasifikasikan sesuai dengan penggolongan Harimurti Kridalaksana dalam buku Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Dalam hal ini, bentuk akronim yang umum atau biasa digunakan adalah pengekalan huruf pertama tiap komponen. Hal tersebut menjadikan nama program lebih mudah dihafal karena hanya terdiri dari beberapa huruf. Hal tersebut dapat terlihat dalam nama program televisi dan radio yang terdapat dalam data analisis. Misalnya, nama program televisi OVJ yang mempunyai kepanjangan Opera Van Java. Nama program tersebut diakronimkan dengan mengambil huruf pertama di setiap kata atau komponen. Dari kepanjangan nama program tersebut dapat terlihat adanya penggabungan tiga bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Belanda, dan Inggris. Penggunaan bahasa Indonesia ditandai dengan kata opera yang juga berarti drama. Komponen kedua dari nama program di Trans 7 ini juga diambil dari bahasa Belanda, yaitu van yang mempunyai arti dari. Kemudian penggunaan bahasa Inggris terlihat dari komponen Java yang mempunyai arti Jawa.

Hal tersebut serupa dengan nama program lain, tetapi masih di stasiun televisi yang sama, yaitu ILK. Program yang terdapat di Trans 7 ini, memiliki kepanjangan Indonesia Lawak Klub. Berbeda dengan program OVJ, program ILK memiliki kepanjangan dalam bahasa Indonesia. Hal tersebut disamakan dengan nama program lain yang memiliki konsep acara sama, tetapi dijadikan parodi, yaitu Indonesia Lawyers Club. Penggunaan kepanjangan atau komponen bahasa Indonesia juga terdapat dalam program AFI yang ditayangkan di Indosiar. Program AFI memiliki kepanjangan Akademi Fantasi Indonesia. Program musik tersebut membentuk sebuah nama yang mirip dengan nama manusia. Hal tersebut dimaksudkan untuk memudahkan penonton mengingat program ini.

Selain itu, ada pula nama program yang menggunakan kepanjangan bahasa Inggris dengan kombinasi kata seruan dalam bahasa Indonesia. Hal tersebut terlihat dalam program YKS di Trans TV. Program tersebut memiliki kepanjangan Yuk Keep Smile. Kata seruan bahasa Indonesia yang dipakai adalah yuk. Komponen tersebut sama saja dengan kata ayo yang dapat berarti mengajak. Penggunaan bahasa Inggris terdapat dalam dua komponen, yaitu keep dan smile. Komponen kedua mempunyai arti tetap, sedangkan komponen ketiga mempunyai arti senyum. Program komedi ini mengajak penonton untuk tetap senyum dengan cara menonton program ini.

Dalam penggolongan akronim yang sama dengan nama program di atas, nama program radio ada yang menggunakan bahasa Inggris sepenuhnya. Hal tersebut terlihat dalam program GMHR di radio Hard Rock. Kepanjangan dari program GMHR adalah Good Morning Hard Rock. Hal tersebut memperlihatkan perbedaan antara nama program televisi dan radio. Nama program radio tidak mencampurkan bahasa dalam kepanjangan nama program. Sesuai dengan nama program, program tersebut merupakan program siaran pagi yang ada di radio Hard Rock. Untuk memudahkan pendengar mengingat dan penyiar dalam menyampaikan nama program, maka diperlukan akronim sehingga tdak menghabiskan durasi hanya karena menyebutkan nama program yang panjang.

Tidak hanya bentuk pengekalan huruf pertama tiap komponen yang terdapat dalam nama program televisi dan radio, tetapi ada bentuk lain yang membentuk akronim di nama program televisi. Program tersebut adalah KISS yang mempunyai kepanjangan Kisah Seputar Selebriti. Program yang tayang di Indosiar ini mempunyai bentuk pengekalan suku pertama dari komponen pertama (Kisah) dan huruf pertama dari komponen kedua (Seputar) dan terakhir (Selebriti). Program yang mengemas berita selebriti ini mengambil akronim yang  membentuk kata dalam bahasa Inggris. Kata tersebut adalah kiss yang berarti cium. Apalagi lambang program ini adalh bentuk bibir merah yang melambangkan arti kata kiss itu sendiri.

Dari data penelitian, banyak pula bentuk pengekalan berbagai huruf dan suku kata yang sukar dirumuskan. Misalnya, program !nsert yang tayang di Trans TV. Program tersebut merupakan berita artis yang terpopuler. Nama program itu sendiri diambil dari kata berbahasa Inggris, yaitu insert. Dalam hal ini terdapat pergantian huruf i dengan tanda seru (!), tetapi tidak mengubah pelafalan. Kepanjangan dari program tersebut adalah informasi selebriti. Jika dituliskan, program tersebut hanya bisa dikatakan mempunyai pengekalan suku pertama komponen pertama (informasi) dan selebihnya tidak dapat dirumuskan. Hal ini disebabkan tidak ada pola yang jelas dalam pengambilan huruf di komponen kedua. Namun, setidaknya huruf tersebut masih terdapat di dalam komponen sehingga dapat disambung-sambungkan.

Meskipun demikian, pada makalah ini akan tetap dituliskan bentuk akronim yang sesuai dengan nama program televisi dan radio walaupun tidak sesuai dengan bentuk akronim yang diklasifikasikan oleh Harimurti Kridalaksana. Misalnya, program Sentil yang tayang di Trans TV. Program tersebut mempunyai bentuk pengekalan dua huruf pertama komponen pertama (Selebriti), huruf kedua dan ketiga komponen kedua (Interview), dan dua huruf terakhir komponen ketiga (Usil). Program ini juga mengandung bahasa Inggris dalam kepanjangannya, yaitu interview. Komponen berbahasa Inggris tersebut mempunyai arti wawancara.

Kemudian ada pula bentuk pengekalan huruf pertama komponen pertama dan empat huruf terakhir komponen terakhir. Hal tersebut terdapat pada nama program radio Gen FM, yaitu Ganas. Program tersebut mempunyai kepanjangan gen empat puluh lagu hits terpanas. Nama program yang tegolong dalam nama program yang panjang ini hanya mengambil akronim dari komponen pertama dan komponen terakhirnya saja. Pengekalan huruf pertama komponen pertama ditandai adanya huruf g (Ganas) dan  empat huruf terakhir komponen terakhir ditandai dengan anas (Ganas). Dalam hal ini, nama program ini dijadikan sebuah kata yang sudah memiliki makna. Hal tersebut dimaksudkan agar pendengar mudah mengingat nama program sesuai kata yang sudah ada di masyarakat. Di sisi lain, makna kata ganas juga dapat mencerminkan program siaran tersebut. Program musik yang memunculkan tangga lagu tersebut bisa saja diibaratkan bahwa musik yang ditampilkan atau diputar adalah lagu yang ganas atau berbobot walaupun mengandung perbedaan makna jika melihat Kamus Besar Bahasa Indoensia (KBBI).

Selain itu, ada pula bentuk pengekalan yang tidak jauh berbeda dengan bentuk pengekalan sebelumnya. Bentuk pengekalan yang tidak jauh berbeda dengan bentuk sebelumnya terlihat dalam program Tulalit di radio Gen FM. Program tersebut memiliki kepanjangan tujuh lagu hits paling komplit. Dalam hal ini, program tersebut mempunyai bentuk pengekalan suku pertama komponen pertama (tujuh) dan komponen kedua (lagu) serta tiga huruf terakhir komponen terakhir (komplit). Di radio Gen FM cenderung memiliki nama program yang panjang-panjang, tetapi juga memiliki akronim sebuah kata yang sudah dikenal. Program Tulalit merupakan program pemutaran tujuh lagu sekaligus tanpa jeda iklan. Hal tersebut berbeda dengan arti kata tulalit sendiri yang sudah dikenal masyarakat, yaitu sindiran terhadap orang yang memiliki respon lambat dalam berpikir. Makna negatif dari kata tulalit diubah menjadi sebuah nama program yang beda dari yang lain, tetapi bermakna positif.

Setelah itu, ada pula nama program radio yang diambil dari nama tempat di Bandung. Nama program tersebut adalah Siliwangi di radio Ardan Bandung. Program di malam hari tersebut memiliki kepanjangan siapin selimut wangi. Bentuk yang dipakai nama program tersebut adalah pengekalan suku pertama komponen pertama (siapin), suku kedua komponen kedua (selimut), dan kata seutuhnya komponen terakhir (wangi). Dalam hal ini, pemakaian nama tempat yang sudah terkenal di Bandung dipakai untuk membuat pendengar radio Ardan Bandung mudah mengenali dan menghafal nama program yang berisi curahan hati dan pemutaran lagu sendu yang menyayat hati. Strategi tersebut juga dipakai di program lain, yaitu Cipaganti. Nama program di radio Ardan Bandung ini tergolong ke dalam bentuk pengekalan yang tidak semua huruf terdapat dalam komponen. Bahkan, penggunaan nama program terkesan dipaksakan agar sesuai dengan nama yang memang sudah dikenal masyarakat. Program Cipaganti memiliki kepanjangan cinta pagi di Bandung city. Pengekalan yang ada hanya dua huruf pertama komponen pertama (cinta) dan komponen kedua (pagi). Selebihnya terpaksa disambungkan walaupun berbeda huruf, seperti ty sama dengan ti.

Hal yang sama juga terdapat dalam program Hegarmanah di radio Ardan Bandung. Meskipun kata yang diambil bukan dari nama tempat, tetapi kata dalam bahasa Sunda tersebut juga sering digunakan dan sudah dikenal masyarakat. Hegarmanah mempunyai arti bersih hati. Namun, program Hegarmanah memiliki kepanjangan heboh, segar, ngeunah. Pada program ini terdapat kepanjangan yang juga memakai bahasa Sunda, yaitu ngeunah. Kata tersebut mempunyai arti enak. Dalam hal ini, terdapat huruf yang tidak memiliki korelasi dengan kepanjangan kata, yaitu ma. Lain daripada itu, program Hegarmanah mempunyai bentuk pengekalan suku pertama komponen pertama (heboh), suku kedua komponen kedua (segar), dan suku terakhir komponen terakhir (ngeunah). Di radio Hard Rock juga mempunyai pola bentuk pengekalan yang sejenis. Persamaan pola bentuk pengekalan tersebut adalah sama-sama terdapat huruf yang tidak memiliki korelasi dengan kepanjangannya. Nama program tersebut adalah PARANOIA yang mempunyai kepanjangan party at no limitation. Penggunaan nama program berbahasa Inggris tersebut mempunyai bentuk pengekalan suku pertama komponen pertama (party), huruf pertama komponen kedua (at), dan kata seutuhnya komponen ketiga (no). Huruf yang tidak mempunyai korelasi dengan kepanjangannya adalah i dan a (PARANOIA).

Selanjutnya, terdapat nama program televisi dan radio yang klasifikasi bentuknya berbeda dengan klasifikasi bentuk dari Harimurti Kridalaksana. Sebenarnya ada yang hampir menyerupai, tetapi terdapat perbedaan di komponen kedua. Misalnya, nama program Bolang. Program tersebut mempunyai kepanjangan Bocah Petualang, maka dapat terlihat bahwa nama program tersebut termasuk ke dalam pengekalan dua huruf pertama komponen pertama (Bocah) dan empat huruf terakhir atau suku kata terakhir komponen kedua (Petualang). Hal tersebut hampir sama dengan penggolongan Harimurti yang ke-14, yaitu pengekalan dua huruf pertama komponen pertama dan tiga huruf pertama komponen kedua. Perbedaan terlihat dari komponen kedua. Harimurti hanya menyebutkan tiga huruf pertama komponen kedua, sedangkan nama program petualangan di atas termasuk empat huruf terakhir atau suku kata terakhir komponen kedua.

BAB 3

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

            Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pola pembentukan akronim nama program televisi dan radio sebagian besar menggunakan pengekalan huruf pertama tiap komponen. Bentuk akronim tersebut sesuai dengan teori Harimurti Kridalaksana. Hal tersebut dapat memudahkan masyarakat dalam menghafal dan mengenal nama program televisi dan radio. Keterkenalan nama program akan berdampak kepada peringkat kesuksesan program. Program yang dikenal masyarakat akan membawa rezeki yang berlimpah pula untuk media televisi dan radio. Hal tersebut berkaitan dengan pemasangan iklan yang merupakan sumber pendapatan kedua media tersebut. Berikut pola pembentukan akronim nama program televisi dan radio:

a.       Pengekalan huruf pertama tiap komponen:

OVJ   = Opera Van Java

ILK    = Indonesia Lawak Klub

YKS = Yuk Keep Smile

KISS = Kisah Seputar Selebriti

AFI    = Akademi Fantasi Indonesia

GMHR= Good Morning Hard Rock

b.      Pengekalan dua huruf pertama komponen pertama, huruf kedua dan ketiga komponen kedua, dan dua huruf terakhir komponen terakhir:

Sentil   = Selebriti Interview Usil

c.       Pengekalan huruf pertama komponen pertama dan empat huruf terakhir komponen terakhir:

Ganas = gen empat puluh lagu hits terpanas

d.      Pengekalan suku pertama komponen pertama dan suku terakhir komponen terakhir:

Bolang = Bocah Petualang

e.       Pengekalan suku pertama komponen pertama dan kedua serta tiga huruf terakhir komponen terakhir:

Tulalit  = tujuh lagu hits paling komplit

f.       Pengekalan suku pertama komponen pertama, suku kedua komponen kedua, dan pengekalan kata seutuhnya komponen terakhir:

Siliwangi= siapin selimut wangi

g.      Pengekalan berbagai huruf atau suku kata yang sukar dirumuskan:

!nsert   = Informasi Selebriti

h.      Pengekalan berbagai huruf atau suku kata yang sukar dirumuskan dan belum tentu terdapat dalam komponen:

PARANOIA   = Party at no limitation

Hegarmanah    = Heboh, segar, ngeunah

Cipaganti         = Cinta pagi di Bandung city

i.        Pengekalan suku pertama dari komponen pertama dan kedua serta huruf pertama dari komponen selanjutnya:

KISS   = Kisah Seputar Selebriti

Selain itu, dapat disimpulkan pula bahwa bahasa Inggris mempunyai peranan penting dalam pola pembentukan akronim nama program televisi dan radio. Hal tersebut disebabkan banyak nama program televisi yang mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris pada kepanjangan akronim. Tidak sedikit juga yang mengambil akronim dari kata bahasa Inggris, seperti insert dan kiss. Di sisi lain, nama program televisi dan radio tidak memiliki perbedaan pengambilan akronim dan pola pembentukan akronim. Hal tersebut disebabkan hal-hal yang terdapat dalam nama program televisi juga ada di radio.

Daftar Pustaka

George E. Belch & Michael A. Belch. 2001. Advertising and Promotion: An Integrated Marketing Communication Perspectives. New York: Graw Hill.

Harimurti Kridalaksana. 2007. Bahasa dan Linguistik. Dalam Kushartanti, dkk. 2007. Pesona Bahasa: Langkah awal memahami Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kridalaksana, Harimurti. 1989. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia.

Sudaryanto. 1992. Metode Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sutedi, Dedi. 2009. Penelitian Pendidikan Bahasa Jepang. Bandung: Humaniora.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 11, 2014 by in Makalah.
%d bloggers like this: