Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Perjalanan Panjang

Setiap pagi, aku harus bangun pagi untuk memulai aktivitas sebagai mahasiswa. Pagi yang dimaksud adalah pukul 06.00 WIB. Untungnya, bangun pagi bukan hambatan bagiku. Kegiatan rutin keagamaan yang sedang aku anut juga mengharuskan aku bangun pagi. Tak heran, aku terbiasa membuka mata di pagi hari. Namun, ada yang berbeda dengan suasana di pagi hari kala itu. Cahaya yang biasanya menerobos masuk ke dalam rumah tak tampak olehku. Setelah melakukan ibadah, aku menuju teras rumah untuk memastikan kondisi bahwa ini sudah pagi. Langit sudah memunculkan warna biru muda, tetapi masih redup. Sambaran petir pun terdengar beberapa kali menandakan hujan akan turun. Tak berapa lama kemudian, aku bergegas untuk bersiap diri untuk menuju kota belimbing.

Hal pertama yang aku lakukan untuk bersiap diri adalah meletakkan beberapa buku yang akan dipelajari ke dalam tas. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan mandi. Saat aku sedang mengenakan pakaian, terlihat jarum pendek pada jam dinding telah menunjukkan angka tujuh. Sontak, aku mempercepat pergerakan dan setengah berlari dalam rumah. Ketika hendak memanaskan motor, hujan turun dengan deras dan kencang. Aku pun bergegas memakai jas hujan untuk melindungi tubuh dari derasnya air yang turun dari langit tersebut. Di tengah hujan badai, aku melaju bersama motor kesayanganku menerobos jalanan pesisir Jakarta. Meskipun hujan mengguyur jalanan, mobil bermuatan besar yang khas daerah utara ini tidak memperlambat geraknya. Aku pun memandang awas dan merasa was-was kepada mobil bermuatan besar yang ada di belakang maupun depanku.

Intensitas hujan semakin mengecil tatkala aku tengah melaju di daerah Rawamangun. Suasana padat kendaraan bermotor sudah biasa meramaikan jalan Pramuka Raya ini. Meskipun harus berimpitan dan beriringan dengan pengendara motor lainnya, aku masih dapat melaju walau dengan kecepatan rendah. Setidaknya, nasib pengendara motor tidak seperti pengendara mobil yang harus rela seakan parkir di jalanan dalam hitungan menit atau jam. Aku masih harus ikut dalam barisan pengendara motor di sisi kiri jalan hingga di daerah Manggarai. Setelah melewati lampu merah yang di seberang jalan terdapat toko buku Imannuel, motorku dengan bebas melintasi jalanan yang bisa dibilang tidak terlalu ramai. Namun, kondisi seperti itu tidak bertahan lama. Intensitas hujan bertambah kencang kembali dan terlihat antrian kendaraan roda empat maupun roda dua sebelum terowongan Manggarai. Ternyata, kemacetan mendadak tersebut disebabkan oleh banyaknya pengendara motor yang meneduh di dalam terowongan. Padahal, jalanan di terowongan Manggarai tidak terlalu lebar. Aku pun harus bersabar menerima kondisi jalanan yang serba tidak menentu ini.

Terbebas dari kemacetan terowongan Manggarai, tidak serta merta membebaskan aku dari kondisi yang tidak mengenakkan. Sesampainya di daerah Tebet, aku harus menerima kondisi bahwa jalanan telah banjir. Dengan berhati-hati dan pelan, aku melintasi banjir yang dapat merendamkan betisku. Hal yang paling aku khawatirkan adalah adanya lubang. Sesuai dengan kekhawatiran, tiba-tiba ban motorku harus masuk ke dalam lubang yang tidak lama kemudian bisa naik kembali. Jalanan yang tidak begitu bersahabat ini harus aku tempuh selama kurang lebih 10 menit hingga aku terbebas dari genangan air. Aku pun sudah memasuki kawasan Kalibata dengan lancar dan tidak ada kendala. Kemacetan yang biasa terjadi tidak aku alami. Mungkin kondisi hujan telah membuat banyak pengendara motor meneduh di pinggir jalan atau malas keluar rumah.

Hujan sudah tidak turun di kawasan Pasar Minggu, tetapi aku masih dapat melihat jejak kedatangan air yang dihasilkan awan tersebut. Hal tersebut terlihat dari jalanan yang masih basah. Namun, sesampainya aku di daerah Lenteng Agung, jejak hujan tidak terlihat. Bahkan, banyak pengendara yang tidak menggunakan jas hujan. Aku merasa habis ditipu oleh kondisi yang demikian. Jalan yang menjadi satu-satunya akses menuju Depok dari Pasar Minggu ini pun kering dan cenderung berdebu. Lebih parah lagi, saat aku tiba di kampus perjuangan jas hujan yang aku kenakan hampir kering. Satpam yang berada di parkiran motor pun sampai bertanya kepadaku kalau aku terkena hujan di daerah mana. Meskipun demikian, aku tetap mensyukuri perjalanan panjang yang telah aku tempuh dengan selamat walaupun aku harus rela telat masuk kelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 23, 2014 by in Cerita Pendek.
%d bloggers like this: