Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Sisi Lain Kampanye Pemilu Legislatif

Pada tahun 2014, Indonesia akan mempunyai sebuah pesta rakyat untuk memeriahkan demokrasi yang ditegakkan di bumi pertiwi ini. Lebih tepatnya, semua rakyat Indonesia akan melakukan pencoblosan pada bulan April untuk memilih wakil yang akan memperjuangkan nasib rakyat. Sebelum hari pencoblosan itu tiba, para calon wakil rakyat akan melakukan kampanye terlebih dahulu. Hal tersebut dimaksudkan agar calon legislatif tersebut mendapat dukungan suara dari rakyat. Namun, upaya menarik dukungan masyarakat tidak semua dilakukan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Banyak para calon wakil rakyat yang melakukan jalan pintas untuk memenangkan pemilihan.

Sebenarnya, kampanye dilakukan agar masyarakat bisa mengenal visi dan misi yang dipegang oleh tiap calon legislatif. Kampanye dapat didefinisikan sebagai serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan untuk menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu. Biasanya, cakupan waktu yang ditentukan untuk melakukan kampanye tidak terlalu lama. Hal ini menyebabkan tiap calon legislatif harus berpikir keras memanfaatkan waktu kampanye yang singkat tersebut.

Dalam hal ini, aturan kampanye sudah diatur di dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Setiap calon legislatif harus mematuhi aturan yang sudah ada. Jika calon legislatif melanggar ketentuan yang berlaku, maka calon legislatif tersebut bisa terkena diskualifikasi atau tidak dapat melanjutkan pemilihan. Dalam hal ini, pengawasan kampanye calon legislatif dilakukan oleh Badan Pengawas Pemilu (Banwaslu).

Cara yang dapat ditempuh calon legislatif untuk melakukan kampanye sesuai dengan Undang-undang adalah melakukan penyebaran bahan kampanye kepada masyarakat melalui media cetak maupun media elektronik, seperti televisi dan radio. Selain itu, calon legislatif juga dapat melakukan tatap muka langsung kepada masyarakat. Pemasangan baliho, poster, atau alat peraga kampanye juga diperbolehkan selama masa kampanye berlangsung. Bahkan, calon legislatif bisa melakukan debat kandidat dengan calon lainnya. Biasanya, debat antarcalon ini telah menjadi agenda rutin dalam rangkaian kampanye yang diselenggarakan oleh KPU.

Namun, dari banyaknya cara yang dapat dilakukan calon legislatif dalam berkampanye masih saja terdapat penyelewengan atau upaya yang dilakukan di luar ketentuan yang berlaku. Hal ini memunculkan ketidaktransparanan dan keprihatinan terhadap proses demokrasi yang sedang dibangun oleh Indonesia. Dana yang tidak sedikit dikeluarkan para calon legislatif ini memunculkan ambisi untuk memenangkan pemilihan. Ambisi dan modal yang besar tersebut membuat calon legislatif harus menang agar usaha yang telah dilakukan tidak sia-sia. Hal tersebut menimbulkan upaya kampanye negatif.

Kampanye negatif adalah kampanye yang sifatnya menyerang pihak lain melalui sejumlah data atau fakta yang bisa diverifikasi dan diperdebatkan. Hal ini sering ditemukan dalam perpolitikan di Indonesia. Biasanya, pihak lawan calon legislatif akan mengumbar berbagai masalah hidup di masa lalu yang memalukan calon legislatif yang menjadi saingan. Masalah hidup di masa lalu yang memalukan calon legislatif disebarkan melalui dua cara, yaitu mulut ke mulut dan media. Hal tersebut dirasa ampuh untuk menurunkan kepercayaan publik untuk tidak memilih calon legislatif tersebut.

Selain itu, kampanye jenis ini juga dapat dikatakan sebagai kampanye yang melakukan jalan pintas, seperti membagikan uang kepada masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat mengenal istilah “serangan fajar”, yaitu pembagian uang kepada masyarakat di pagi hari sebelum melakukan pencoblosan. Dengan membagikan uang kepada masyarakat, terutama masyarakat menengah ke bawah diharapkan golongan tersebut akan melakukan pencoblosan sesuai dengan kehendak yang memberikan uang. Hal tersebut tidak terlepas dari rendahnya tingkat pendidikan golongan ini. Mereka tidak berpikir efek jangka panjang dari pencoblosan asal mereka dapat uang untuk membeli makan. Hal tersebut sangat disayangkan karena wawasan Pemilu belum dimengerti sepenuhnya oleh masyarakat.

Bahkan, tindakan kampanye negatif termasuk ke dalam kampanye terselubung atau kampanye hitam. Misalnya, calon legislatif menitipkan pesan kepada ahli agama untuk melakukan dakwah dengan mempromosikan calon legislatif tersebut. Ahli agama tersebut pun diberikan kompensasi berupa uang dalam jumlah besar apalagi jika pengikut ahli agama tersebut juga banyak. Karakteristik Indonesia yang cenderung agamis membuat penyebaran kampanye pun dilakukan melalui jalur agama. Terlebih lagi masyarakat di lingkungan pesantren yang menentukan pilihan berdasarkan pilihan pemuka agama di tempat tersebut.

Hal-hal di luar aturan yang telah ditetapkan KPU yang dilakukan calon legislatif telah mengotori hakekat dari pengertian demokrasi itu sendiri. Padahal, tujuan dari adanya Pemilu adalah pemilihan pemimpin dari rakyat dan untuk rakyat. Hal tersebut disebabkan kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat. Namun, masyarakat sebagai rakyat masih belum memahami makna Pemilu secara keseluruhan. Hal tersebut menyebabkan upaya kampanye negatif merajalela di masyarakat. Dalam hal ini, suara rakyat dapat dengan mudah dibeli hanya dengan lembaran uang yang tidak banyak jumlahnya tersebut. Sportivitas dalam pemilihan juga kurang dijunjung oleh tiap calon sehingga upaya kampanye negatif bervariasi bentuknya.

Sementara itu, ketidakpahaman masyarakat dapat berasal dari kurangnya sosialisasi yang dilakukan KPU atau kurang adanya perhatian masyarakat tentang Pemilu. Aspek ini harus segera diperbaiki oleh badan pemerintah yang berwenang. Sebab, keberhasilan penegakan demokrasi yang dilakukan di Indonesia akan terlihat jika adanya keberhasilan penyebaran pemahaman Pemilu secara keseluruhan kepada masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 25, 2014 by in Artikel.
%d bloggers like this: