Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Laporan Bacaan Kebudayaan

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk berbudaya yang berbeda dengan hewan yang hanya memiliki naluri. Jika dilihat dari asal kata, budaya atau culture (dalam bahasa Inggris) berasal dari bahasa Yunani, yaitu culere yang berarti pengolahan tanah. Hal tersebut disebabkan kegiatan awal manusia adalah mengolah tanah untuk memenuhi kebutuhan makan. Hal tersebut juga sesuai dengan pendapat Alvin Toffler dalam buku Gelombang Ketiga yang membagi tiga periode atau zaman, yaitu masa awal adalah masa pertanian, masa pertengahan adalah masa industri, dan masa depan adalah bioteknologi. Dalam hal ini, C.A van Peursen dalam bukunya yang berjudul Strategi Kebudayaan memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang bersifat dinamis yang mengandung unsur perkembangan. Hal tersebut didasarkan pada tahapan sejarah manusia dari sikap yakin akan mistis hingga sikap modern dengan berbagai relasi baru.

Antropolog Indonesia, Koentjoraningrat dalam buku Pengantar Ilmu Antropologi mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Dari definisi tersebut dapat dilihat bahwa wujud dari kebudayaan adalah rasa, karsa, dan karya. Rasa adalah wujud kompleks dari ide, gagasan, nilai, dan norma yang bersumber pada pikiran dan perasaan manusia. Karsa adalah wujud kompleks aktivitas atau tindakan berpola manusia yang dipengaruhi faktor luar dan bersifat bendaniah, sedangkan karya adalah benda hasil budaya.

Selanjutnya, C.Kluckhohn memaparkan unsur-unsur kebudayaan universal yang membentuk kebudayaan. Pertama, peralatan dan perlengkapan hidup manusia yang merupakan hasil karya manusia untuk memenuhi kebutuhan primer hingga sekunder. Kemudian mata pencarian hidup dan sistem ekonomi juga bagian dari karya manusia yang membuat manusia memperoleh kebutuhan hidup sesuai dengan tuntutan. Ada pula sistem kemasyarakatan yang membentuk jaringan paling sedikit, yaitu desa hingga jaringan paling luas, yaitu internasional. Bahasa sebagai sarana komunikasi juga membuat hubungan manusia dengan generasi lainnya lancar. Lalu, kesenian sebagai keindahan muncul setelah kebutuhan fisik manusia terpenuhi melalui budaya. Tidak ketinggalan, sistem pengetahuan berguna bagi kehidupan manusia melalui pengalaman. Terakhir, religi muncul sebagai upaya menghindarkan manusia dari bencana yang dihubungkan dengan Tuhan. Tujuh unsur budaya yang telah disebutkan membentuk tiga wujud, yaitu sistem budaya, sistem sosial, dan kebudayaan fisik.

 

Sumber

Widyosiswoyo, Supartono. 2006. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 31, 2014 by in Laporan Bacaan.
%d bloggers like this: