Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Analisis Komparatif Cerita Pendek Apa Jang Terlanggar Mendjadi Mas Karya Thio Liang Hin dengan Kisah Raja Midas dalam Mitologi Yunani

  1. Pendahuluan

Rene Wellek (1976) mengutip pendapat Horace bahwa karya sastra bersifat dulce et utile. Artinya, karya sastra mempunyai sifat menghibur dan berguna. Dalam hal ini, maksud dari menghibur dan berguna adalah menyenangkan hati dan mempunyai pesan yang ingin disampaikan kepada pembacanya. Hal tersebut yang menjadi landasan setiap pengarang dalam membuat karya sastra, termasuk kalangan peranakan Tionghoa. Hal tersebut tidak terlepas dari karya sastra peranakan Tionghoa yang bersifat didaktis, humoristis, dan informatif (Jacob, 1996). Sifat didaktis adalah sifat karya sastra sebagai teladan agar pembaca menghindari hidup yang tidak baik. Apalagi identitas peranakan Tionghoa di Indonesia yang semakin lama memudar membuat kekhawatiran tersendiri terhadap generasi penerusnya. Oleh karena itu, peranakan Tionghoa membuat karya sastra untuk melestarikan identitas kebudayaan nenek moyang mereka.

Awalnya, sebelum membuat karya sastra peranakan Tionghoa terlebih dahulu menerjemahkan karya sastra yang berasal dari negeri Tiongkok ke dalam bahasa Melayu. Selain itu, peranakan Tionghoa juga menyadur atau menyalin karangan dari negeri lain dengan mengubah isi cerita sesuai dengan kondisi dan budaya setempat. Karangan yang disadur ini mempunyai cerita yang berbeda dari cerita aslinya. Meskipun demikian, tidak semua cerita diubah oleh pengarang dan masih memiliki persamaan dengan cerita aslinya. Aspek persamaan dan perbedaan karya sastra yang disadur oleh peranakan Tionghoa dari cerita aslinya menarik untuk dibahas. Hal tersebut sesuai dengan sifat kajian sastra bandingan. Untuk memudahkan penulis dalam melakukan penelitian, sifat kajian sastra bandingan yang diambil adalah kajian yang bersifat komparatif, yaitu kajian yang yang melihat aspek persamaan dan perbedaan dua karya sastra yang sejenis.

Korpus data yang diambil dalam makalah ini adalah cerita pendek yang berjudul Apa jang Terlanggar Mendjadi Mas karya Thio Liang Hin. Cerita pendek tersebut terdapat dalam antologi cerita pendek Nona Koelit Kutjing.  Hal tersebut disebabkan cerita pendek tersebut merupakan cerita saduran dari mitologi Yunani yang berjudul Kisah Raja Midas. Selain itu, penulisan penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persamaan dan perbedaan cerita pendek karangan peranakan Tionghoa dengan cerita pendek aslinya dari mitologi Yunani yang sejenis. Manfaat penulisan makalah ini untuk mengetahui ciri khas cerita pendek saduran peranakan Tionghoa yang dibandingkan dengan cerita aslinya.  Landasan teori yang akan dipakai adalah teori sifat kajian sastra bandingan yang bersifat komparatif dari buku Sastra Bandingan: Ruang Lingkup dan Metode oleh Rajali Kasim. Dalam hal ini, aspek persamaan dan perbedaan cerita pendek Apa jang Terlanggar Mendjadi Mas karya Thio Liang Hin dengan Kisah Raja Midas dalam mitologi Yunani akan dideskripsikan sesuai teori. Dari aspek persamaan dan perbedaan tersebut, dapat terlihat ciri khas yang dimunculkan pernakan Tionghoa dalam melakukan penyaduran karya sastra.

 

 II. Sifat Kajian Sastra Bandingan Komparatif

Menurut Basnett (1993:1), sastra bandingan adalah studi teks lintas budaya yang mempunyai ciri antardisiplin dan berkaitan dengan pola hubungan dalam kesusastraan lintas ruang dan waktu. Setidaknya, kajian sastra bandingan harus memiliki dua objek karya sastra yang dibandingkan. Objek karya sastra tersebut adalah karya sastra dengan latar belakang budaya yang berbeda. Perbedaan latar belakang budaya tersebut harus diikuti oleh perbedaan dalam aspek ruang dan waktu. Dalam hal ini, tidak semua karya sastra dapat dibandingkan begitu saja. Dua karya sastra tidak dapat dibandingkan jika tidak memiliki alasan tertentu. Karya sastra dapat dibandingkan dengan memenuhi syarat tertentu. Abas (1994:74) menyatakan bahwa kesusastraan bandingan mengkaji secara sistematik karya sastra sebuah negara dengan karya sastra negara lain. Biasanya, hal yang dibandingkan adalah karya-karya yang sejenis. Pengertian sejenis tidak identik dengan genre. Dalam kajian sastra bandingan, karya sastra yang dibandingkan tidak hanya dari negara yang berbeda, tetapi harus memiliki keterkaitan yang menghubungkan dua karya sastra tersebut.

Hal tersebut sesuai dengan pendapat Sutarto (2012:78—82) yang menyatakan bahwa telaah sastra bandingan tidak bisa dilepaskan dari sejarah sastra. Hal tersebut disebabkan sastra berbicara tentang perjalanan perasaan dan pikiran manusia dari zaman ke zaman dan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Hal yang perlu diperhatikan dalam telaah sastra bandingan adalah suatu penilaian terhadap karya sastra hendaknya tidak lepas dari jati diri penciptanya. Kemudian telaah sastra bandingan harus menguak kenyataan, wawasan tentang manusia, budaya, martabat nilai lokal, dan semangat zaman yang dibangun oleh masyarakat Timur sebagai masyarakat yang memiliki hak untuk menjaga warisan budaya mereka. Dalam disiplin sastra bandingan juga hendaknya menghindari kegiatan pembacaan jauh agar penelaah memperoleh hasil yang maksimal. Perbandingan karya sastra yang terpisah dari keseluruhan sastra nasionalnya cenderung menjadi dangkal karena telaah semacam itu hanya terbatas kepada pembicaraan tentang pengaruh, sumber, reputasi, dan ketenaran. Selain itu, telaah sastra bandingan hendaknya tidak memasukkan secara mentah-mentah konsep multikulturalisme barat karena pemahaman tentang the other seringkali harus bertabrakkan dengan metanarasi yang dipegang teguh sebagai rujukan oleh masyarakat Timur.

Menurut Kasim (1996:17—18), kajian sastra bandingan mempunyai empat sifat. Keempat sifat tersebut adalah kajian bersifat komparatif, kajian bersifat historis, kajian bersifat teoretis, dan kajian bersifat antardisiplin. Kajian bersifat komparatif menitikberatkan pada penelaahan teks karya sastra yang dibandingkan, seperti studi pengaruh dan afinitas. Kajian bersifat komparatif merupakan titik awal munculnya sastra bandingan. Kajian ini dipandang sebagai kajian terpenting dalam sastra bandingan. Kajian bersifat komparatif dapat berbentuk kajian pengaruh maupun kajian kesamaan. Kajian yang bersifat komparatif juga dapat mencakup kajian mengenai tema maupun kajian genre. Sifat yang mendasari kajian ini adalah melihat persamaan dan perbedaan karya sastra yang dibandingkan. Kajian bersifat historis memusatkan perhatian pada nilai-nilai historis yang melatarbelakangi antara karya sastra dengan karya sastra lainnya atau antarsatu kesusastraan dengan kesusastraan lain, atau suatu karya sastra dengan masalah sosial dan filsafat. Kajian ini dapat berupa masuknya suatu pemikiran, aliran, teori kritik sastra, ataupun genre masuknya genre sastra dari suatu negara ke negara lain. Kajian bersifat teoretis adalah kajian pada bidang konsep, kriteria, batasan, atau aturan-aturan dalam berbagai bidang kesusastraan. Misalnya konsep mengenai aliran, genre, bentuk, teori, ataupun kritik sastra. Kajian bersifat teoretis tidak menyentuh kajian sastra darimanapun. Kajian yang bersifat antardisiplin merupakan kajian yang cenderung berfokus pada aliran Amerika. Kajian ini membandingkan antara karya sastra dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, agama, dan seni. Ruang lingkup kajian ini yang begitu luas sehingga diperlukan pengetahuan yang luas pula untuk melakukan kajian. Fokus pembicaraan tetap pada karya sastra. Materi nonsastra sebagai pembanding dipakai sebagai bantuan untuk memperjelas makna dari suatu karya sastra atau untuk mengetahui dasar pemikiran penulisnya.

 

 III. Ringkasan Cerita Pendek Apa Jang Terlanggar Mendjadi Mas Karya Thio Liang Hin

Di suatu negeri terdapat raja yang bernama Midas. Raja ini mempunyai anak bernama Marygold. Anak perempuan Raja Midas mempunyai paras yang begitu cantik dan pipi yang lembut. Semua orang pasti akan jatuh hati ketika melihat Marygold. Raja Midas pun sayang sekali dengan Marygold. Rasa sayang Raja Midas yang begitu tinggi kepada anaknya membuat dirinya gencar mengumpulkan emas. Hal tersebut dimaksudkan jika suatu saat nanti Raja Midas menutup mata, ia bisa memberikan harta yang banyak kepada Marygold.

Obsesi mengumpulkan emas tersebut membuat Raja Midas melakukan pengandaian jika semua benda adalah emas. Namun, Marygold tidak terlalu memedulikan pengandaian perkataan ayahnya tersebut. Saat Raja Midas sedang menghitung hartanya karena takut jumlahnya berkurang, dengan tiba-tiba datang orang tua yang memuji kekayaan Raja Midas. Meskipun mendapat pujian memiliki harta yang banyak, Raja Midas tidak terlalu senang. Hal tersebut disebabkan masih ada keinginan Raja Midas yang belum terwujud. Keinginan Raja Midas yang masih belum terwujud adalah segala sesuatu yang dipagang Raja Midas akan berubah menjadi emas (Golden Touch). Dengan begitu, Raja Midas mempunyai banyak emas untuk disimpan.

Setelah mendengar keinginan Raja Midas tersebut, orang tua yang datang dengan tiba-tiba itu mengatakan bahwa permintaan Raja Midas akan terwujud besok pagi. Hal tersebut pun terbukti ketika Raja Midas bangun dari tidurnya dan sprei yang dipegangnya berubah menjadi emas. Melihat hal tersebut, hati Raja Midas menjadi sangat senang. Semua barang yang dipegang Raja Midas seketika langsung berubah menjadi emas. Mulai koran, bunga, hingga alat makan berubah menjadi emas. Bahkan, kopi dan makanan yang dihidangkan untuk sarapan pagi juga berubah menjadi emas setelah tersentuh tangan maupun mulut Raja Midas. Kegembiraan yang awalnya menyelimuti hati Raja Midas seketika sirna. Hal tersebut membuat Raja Midas sedih karena tidak bisa makan maupun minum. Marygold pun ikut bersedih dengan kejadian yang menimpa ayahnya tersebut. Marigold pun memeluk Raja Midas sebagai bentuk rasa prihatin. Namun, seketika itu juga Marygold langsung berubah menjadi emas. Raja Midas pun menyesal atas keinginannya yang merupakan sebuah keserakahan.

Tiba-tiba, orang tua yang kemarin bertemu muncul kembali dan menanyakan kabar dari Raja Midas. Dari pengakuan Raja Midas diketahui bahwa kesenangan yang sejati sudah tidak ada karena golden touch. Ia pun menyadari bahwa golden touch membahayakan dirinya dan menjauhkan dirinya dari kebahagiaan yang sebenarnya sudah didapat. Raja Midas pun mendapatkan pelajaran yang berharga atas kejadian tersebut dan mengucapkan terima kasih kepada orang tua itu. Tidak lupa, Raja Midas meminta maaf kepada orang tua itu atas kelakuan yang tidak sepantasnya kemarin. Orang tua tersebut pun menyuruh Raja Midas menyeburkan dirinya dan mengambil air di kali supaya keadaan kembali seperti semula. Akhirnya, semua barang yang telah dipegang Raja Midas telah kembali seperti sebelumnya, termasuk Marygold. Setelah itu, Raja Midas hidup dengan enak dan tidak terlalu serakah dengan emas.

 

 IV. Ringkasan Kisah Raja Midas dalam Mitologi Yunani

Suatu hari Dewa Apolo mengikuti perlombaan musik dengan Pan, pemain suling kesayangan Raja Midas dari Kerajaan Lidia. Negeri itu terletak di tepi laut Egea, Timur Tengah. Dalam hal ini, Raja Midas mempunyai hak istimewa untuk menentukan pemenang perlombaan musik tersebut. Raja Midas pun memberikan hadiah kepada Pan. Padahal, permainan Pan dengan Dewa Apolo masih lebih bagus Dewa Apolo. Perlakuan yang tidak adil tersebut membuat Dewa Apolo menghukum Raja Midas dengan membuat telinga Raja Midas menyerupai telinga keledai yang panjang.

Hal tersebut membuat Raja Midas mengurung diri di dalam istana. Raja Midas juga memerintahkan pemangkas rambut untuk membuatkan rambut palsu yang dapat menyembunyikan telinga panjangnya. Pemangkas rambut itu harus memegang rahasia bahwa Raja Midas mempunyai telinga yang menyerupai keledai. Tidak kuat menahan rahasia, pemangkas rambut tersebut menggali lubang di ladang dan mengatakan bahwa Raja Midas mempunyai telinga yang mirip dengan telinga keledai. Namun, di bekas lubang yang dibuat pemangkas rambut tumbuh galah. Apabila galah tersebut tertiup angin, terdengar suara pemangkas rambut yang mengatakan bahwa Raja Midas mempunyai telinga mirip dengan telinga keledai. Setiap orang yang melewati tempat itu mendengar suara tersebut. Rahasia yang awalnya hanya diketahui pemangkas rambut menjadi rahasia umum yang diketahui banyak orang.

Di lain pihak, Silenus yang sedang mengembara ke suatu tempat ke tempat lainnya sampai di istana Raja Midas. Silenus adalah ayah angkat dan guru dari Bakkhus. Saat Silenus datang, kebetulan Raja Midas sedang menjamu Bakkhus, dewa anggur dan pesta, putra dari Jupiter dan Semele. Bakkhus pun senang dapat bertemu dengan Silenus dan berterima kasih kepada Raja Midas yang telah mempertemukannya. Bakkhus memberikan hadiah apa yang diminta Raja Midas akan dikabulkan. Raja Midas meminta apa yang disentuhnya menjadi emas. Ketika permintaan tersebut dikabulkan, apa yang dipegang Raja Midas langsung berubah menjadi emas. Namun, Raja Midas dihadapkan kenyataan lain bahwa ia tidak bisa makan dan minum. Hal tersebut disebabkan apa yang tersentuh dengan dirinya, termasuk mulutnya langsung berubah menjadi emas. Raja Midas kembali memohon kepada Bakkhus untuk menghilangkan permintaannya. Melihat kesengsaraan Raja Midas, Bakkhus menyuruh Raja Midas mandi di Sungai Paktotus agar terbebas dari permintaannya. Raja Midas segera menenggelamkan dirinya di sungai tersebut. Pasir dasar sungai yang tersentuh Raja Midas juga menjadi emas. Setelah itu, Raja Midas pun terbebas dari kesengsaraan.

 

V. Analisis Komparatif Cerita Pendek Apa jang Terlanggar Mendjadi Mas Karya Thio Liang Hin dengan Kisah Raja Midas dalam Mitologi Yunani

Menurut Kasim (1996:17—18), kajian yang bersifat komparatif melihat persamaan dan perbedaan karya sastra yang dibandingkan. Persamaan dan perbedaan dapat dilihat dari segi isi cerita, nama tokoh, dan latar dari cerita pendek Apa  jang Terlanggar Mendjadi Emas dan Kisah Raja Midas. Hal ini disebabkan kedua cerita pendek tersebut merupakan cerita pendek yang sejenis dari dua budaya yang berbeda. Cerita pendek Apa jang Terlanggar Mendjadi Emas merupakan karangan Thio Liang Hin, sedangkan Kisah Raja Midas berasal dari mitologi Yunani. Dari segi nama tokoh, kedua cerita pendek tersebut mempunyai kesamaan nama tokoh Midas sebagai raja. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan di bawah ini.

 

“Pada jeman dahulu kala, di satu negri ada duduk memerenta satu raja yang terkenal dengen nama Midas. Barangkali di itu jeman tida ada laen orang lagi yang lebi seraka sama mas-mas seperti raja ini.” (Apa jang Terlanggar Mendjadi Emas: 133)

 

“Pada suatu hari dewa Apolo terlibat dalam suatu perlombaan musik dengan Pan, pemain suling kesayangan raja Midas dari kerajaan Lidia.” (Kisah Raja Midas: 23)

 

Dari kutipan di atas terlihat bahwa tokoh kedua cerita pendek sama-sama bernama Midas sebagai raja. Pada mitologi Yunani, negeri tempat raja Midas berkuasa disebutkan berada di Kerjaan Lidia, sedangkan cerita pendek karangan peranakan Tionghoa itu tidak menyebutkan nama kerjaan yang dipimpin Midas. Bahkan, cerita pendek Apa jang Terlanggar Mendjadi Emas ini menyebutkan pula sifat dari tokoh Midas ini, sedangkan dalam mitologi Yunani sifat tokoh Midas tidak disebutkan secara tersurat. Sifat tokoh Midas yang disebutkan tersebut mempunyai sifat serakah terhadap emas.

Akan tetapi, nama tokoh yang lainnya tidak sama dari kedua cerita pendek tersebut. Bisa dibilang, kedua cerita juga mempunyai perbedaan jalan cerita pula. Hal tersebut terlihat dari perbedaan nama tokoh dan peranannya selain tokoh  Midas sebagai raja. Hal tersebut dapat terlihat dalam kutipan di bawah ini.

 

“ Rupa-rupa barang yang ada di dunia, ampir boleh ditentuken Midas tida begitu suka, kacuwali pada anak prampuannya, Marygold, dan mas-mas.” (Apa jang Terlanggar Mendjadi Emas: 133)

 

“Akhirnya, sampailah Silenus di istana Midas, yang kebetulan sedang menjamu Bakkhus atau Dionisos, dewa anggur dan pesta, putra Jupiter dan Semele. Silenus adalah ayah angkat dan guru Bakkhus.” (Kisah Raja Midas: 24)

 

Pada cerita pendek Apa jang Terlanggar Mendjadi Emas, Raja Midas mempunyai anak perempuan bernama Marygold. Tokoh Marygold dimunculkan pengarang untuk memperkuat sifat Raja Midas yang gemar mengumpulkan emas. Hal tersebut dimaksudkan agar Marygold dapat hidup dengan enak dengan banyaknya emas. Dari nama anak perempuan Raja Midas saja sudah terlihat bahwa Raja Midas terobsesi dengan emas, yaitu nama anak perempuannya mengandung kata gold yang dalam bahasa Inggris berarti emas. Sebaliknya, pada Mitologi Yunani Raja Midas tidak mempunyai anak perempuan. Di cerita pendek Kisah Raja Midas, sang raja sedang kedatangan tamu, yaitu Bakkhus dan Silenus. Kebetulan, Silenus adalah ayah angkat sekaligus guru dari Bakkhus yang sudah lama tidak bertemu. Pertemuan Silenus dan Bakkhus di istana Midas membuat Bakkhus berterima kasih kepada Raja Midas.

Dalam hal ini, nama tokoh yang membuat konflik kedua cerita pendek ini juga memiliki perbedaan walaupun mempunyai peranan yang sama. Peran tokoh tersebut adalah mengabulkan permintaan Raja Midas yang menginginkan apa yang dipegangnya berubah menjadi emas. Saat keinginan tersebut terkabul, maka muncul konflik dari Raja Midas. Hal tersebut terlihat dalam kutipan di bawah ini.

 

“Satu kali, salagi ia itung pergi-dateng itu uwang; dengen sekunyung-kunyung saorang tuwa yang tida katahuan dari mana datengnya, telah menyamperi pada Midas kita, sembari berkata begini.” (Apa jang Terlanggar Mendjadi Emas: 134)

 

“Karena gembira akan bertemu dengan Silenus, Bakkhus menjanjikan akan memberi apa saja yang diminta Midas.” (Kisah Raja Midas: 24)

 

Tokoh Bakkhus dalam Mitologi Yunani mempunyai peran dalam mewujudkan permintaan Raja Midas. Hal tersebut disebabkan Raja Midas telah mempertemukan Bakkhus dengan Silenus yang telah lama tidak bertemu. Namun, dalam Apa jang Terlanggar Mendjadi Emas, nama tokoh yang akan mengabulkan permintaan Raja Midas adalah seorang tua yang tidak diberitahu namanya. Kemunculan tokoh seorang tua juga tidak jelas dibandingkan kemunculan tokoh Bakkhus yang jelas, yaitu sedang bertamu ke istana Raja Midas. Seorang tua muncul dengan tiba-tiba dan tidak ada keterkaitan dengan peristiwa sebelumnya.

Konflik yang dimunculkan dalam kedua cerita pendek mempunyai persamaan. Kedua cerita memunculkan konflik Raja Midas yang tidak bisa makan dan minum setelah permintaan apa yang dipegangnya menjadi emas terkabul. Hal tersebut yang membuat Raja Midas menyesal telah meminta apa yang dipegangnya menjadi emas. Hal tersebut terlihat dalam kutipan di bawah ini.

 

“Semua taplak meja, semua piring besar dan kecil, serta cangkir berubah menjadi emas. Demikian pula makanan dan minuman seketika bersentuhan dengan bibirnya yang rakus itu. Anugerah berharga yang mengubah semuanya menjadi emas sekarang menghalanginya untuk menghilangkan lapar dan dahaga.” (Kisah Raja Midas: 24)

 

“Marygold dahar dengen enak, tapi bagi Midas ada sanget tida leluwasa sekali, kerna baru saja ia ambil satu cangkir koffi aken diminum, lantaran itu koffi terlanggar dengen Midas punya lida, lantas saja beroba jadi mas. (Apa jang Terlanggar Mendjadi Mas: 138)

 

Kerakusan Raja Midas yang meminta apa yang dipegangnya menjadi emas malah membuat dirinya terjebak ke dalam situasi yang tidak mengenakkan. Kedua cerita pendek di atas sama-sama memperlihatkan bahwa Raja Midas tidak bisa makan dam minum karena semua yang bersentuhan dengan dirinya langsung berubah menjadi emas. Hal yang berbeda terletak dalam segi penggambaran situasi konflik tersebut. Jika dalam Kisah Raja Midas, makanan dan minuman yang diambil sang raja tidak disebutkan, tetapi dalam cerita pendek Apa jang Terlanggar Mendjadi Emas Raja Midas hendak meminum kopi yang langsung berubah menjadi emas setelah tersentuh bibirnya.

Penyelesaian konflik kedua cerita pendek sejenis ini memiliki bagian yang berbeda. Perbedaan tersebut terdapat dalam cerita karangan Thio Liang Hin yang menambahkan hal yang harus dilakukan oleh Raja Midas untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Nama tempat yang digunakan untuk mengakhiri penderitaan Raja Midas juga berbeda. Hal tersebut dapat terlihat dalam kutipan di bawah ini.

 

“Kalu begitu, pergi dan, jeburi dirimu di itu kali dekat kau punya kebon, dan bawa juga satu tempayan buat ambil aer di itu kali. Kamudian, dengen itu aer kau sirami semua barang-barang yang kau hendak pulangken ka asalnya kombali!” (Apa jang Terlanggar Mendjadi Emas: 140)

 

“Karena kesengsaraan dan putus harapan yang diderita Midas tampaknya sungguh-sungguh, Bakkhus memerintahkannya mandi di sungai Paktotus apabila ingin bebas dari anugerah yang telah berubah menjadi kutukan itu.” (Kisah Raja Midas: 25)

 

Dalam Apa jang Terlanggar Mendjadi Emas, Raja Midas diminta untuk menyeburkan dirinya ke sebuah kali agar terbebas dari permintaan apa yang dipegangnya menjadi emas. Selain itu, Raja Midas juga harus mengambil air kali di tempayan dan menyirami semua benda yang telah menjadi emas untuk bisa kembali menjadi semula. Hal tersebut berbeda dengan Kisah Raja Midas, sang raja hanya perlu menyeburkan diri dan tidak perlu menyirami benda yang telah menjadi emas agar kembali seperti semula. Terlebih lagi, nama tempat Raja Midas menyeburkan diri juga berbeda, yaitu di danau. Hal tersebut disebabkan perbedaan letak geografis pengarang di kedua cerita pendek. Bisa saja Thio Liang Hin mengambil latar kali karena di Indonesia lebih sering ditemukan kali dibandingkan danau.

 VI. Penutup

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa cerita pendek Apa jang Terlanggar Mendjadi Emas karya Thio Liang Hin dengan Kisah Raja Midas dalam Mitologi Yunani mempunyai perbedaan jalan cerita. Hal tersebut didasakan perbedaan tokoh yang dimunculkan. Cerita karangan Thio Liang Hin memaparkan kalau Raja Midas mempunyai seorang anak perempuan, sedangkan dalam Mitologi Yunani tokoh Raja Midas tidak mempunyai anak perempuan. Begitu juga sebaliknya. Dalam Mitologi Yunani Raja Midas kedatangan tamu, yaitu Silenus dan Bakkhus, sedangkan cerita Apa jang Terlanggar Mendjadi Emas tidak memunculkan tokoh Silenus dan Bakkhus. Perbedaan kemunculan tokoh ikut memengaruhi perbedaan jalan cerita.

Sebenarnya, perbedaan jalan cerita disesuaikan dengan kondisi masyarakat pembuatan cerita tersebut. Faktor geografis dan budaya sangat memengaruhi cerita. Meskipun cerita Apa jang Terlanggar Mendjadi Emas merupakan cerita saduran dari Kisah Raja Midas dalam Mitologi Yunani, tidak semua aspek yang ada di cerita aslinya dimunculkan kembali. Misalnya, tempat penyeburan Raja Midas dari danau menjadi kali, Raja Midas yang mempunyai tamu menjadi mempunyai anak perempuan, dan lain-lain. Hal tersebut dimaksudkan agar hal-hal yang sekiranya di cerita aslinya kurang diterima akal masyarakat menjadi cerita yang dimengerti dan diterima akal masyarakat tempat cerita tersebut.

Meskipun demikian, inti dari kedua cerita pendek tersebut mempunyai persamaan. Hal yang sama dari kedua cerita pendek tersebut adalah Raja Midas mempunyai permintaan apa yang dipegangnya menjadi emas. Penyelesaian dari permintaan Raja Midas tersebut juga sama, yaitu menyeburkan diri dalam air. Hal tersebut membuat kedua cerita memiliki kesamaan amanat. Hal tersebut dimaksudkan agar pembaca atau orang tidak boleh serakah. Keserakahan hanya akan mendatangkan kerugian dan kesengsaraan bagi diri sendiri.

 

Daftar Pustaka

Abas, Lutfi. 1994. Beberapa Aspek Penting dalam Kesusasteraan Bandingan.  Dalam Kesusasteraan Bandingan Sebagai Satu Disiplin. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Basnett, Susan. 1993. Comparative: a Critical Introduction. Oxford: Blackwell.

Djojohadikusumo, Sukartini Silitonga. 1977. Mitologi Yunani. Jakarta: Penerbit Djembatan.

Jacob Sumardja. Latar Sosiologis Sastra Melayu Tionghoa. Dalam Suryadinata, Leo. 1996. Sastra Peranakan Tionghoa Indonesia. Jakarta: Grasindo

Kasim, Rajali. 1996. Sastra Bandingan: Ruang Lingkup dan Metode. Medan: Universitas Sumatera Utara Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1994. Prinsip-prinsip Kritik Sastra: Teori dan Penerapannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Suryadinata, Leo. 1996. Sastra Peranakan Tionghoa Indonesia. Jakarta: Grasindo.

Sutarto, Ayu. 2012. Sastra Bandingan dan Sejarah Sastra. Jember: Fakultas Sastra Jember bekerjasama dengan Mastera dan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia.

Thio Liang Hin. 1914. Apa jang Terlanggar Mendjadi Mas. Dalam Damono, Sapardi Djoko, dkk. 2005. Nona Koelit Koetjing: Analogi Cerita Pendek Indonesia Periode Awal (1870-an-1910-an). Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 13, 2014 by in Makalah.
%d bloggers like this: