Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Sikap Masyarakat Perkotaan dalam Cerita Pendek Jalan Sunyi Kota Mati Karya Radhar Panca Dahana

Karya sastra tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya berbagai aspek yang mengelilinginya. Jika berbagai aspek yang mengelilingi karya sastra tersebut tidak ada, maka dapat dikatakan karya sastra tersebut tidak hidup. Karya sastra yang tidak hidup membuat pembaca dan karya sastra akan mempunyai jarak yang saling berjauhan. Hal tersebut akan berkaitan dengan menarik atau tidaknya sebuah karya sastra untuk dibaca oleh masyarakat. Sebaliknya, jika karya sastra mempunyai berbagai aspek yang mengelilinginya, maka karya sastra tersebut dapat dikatakan hidup. Aspek yang mengelilingi karya sastra dapat membuat kedekatan jarak antara pembaca dan karya sastra. Kedekatan jarak tersebut akan menimbulkan minat atau ketertarikan membaca karya sastra tersebut.

Salah satu aspek yang dapat membuat sebuah karya sastra hidup adalah adanya sikap masyarakat. Dalam hal ini, sikap masyarakat mempunyai peranan dalam membentuk pandangan berbagai tokoh yang terdapat dalam karya sastra. Adanya sikap masyarakat yang ditunjukkan melalui tokoh dapat mencerminkan dan mengekspresikan hidup masyarakat pada saat karya sastra tersebut dibuat. Secara tidak langsung, sikap masyarakat tersebut dapat memperlihatkan potret kenyataan sosial. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Thomas Warton dalam tulisan Sastra dan Masyarakat oleh Rene Wellek & Austin Werren. Thomas Warton mengungkapkan bahwa sastra mempunyai kemampuan untuk merekam ciri-ciri zamannya. Sepaham dengan Thomas Warton, De Bonald juga mengungkapkan bahwa sastra adalah ungkapan perasaan masyarakat. Ungkapan perasaan tersebut akan menghasilkan kebenaran sosial yang dapat mewakili zaman karya sastra tersebut dibuat.

Dalam hal ini, aspek sikap masyarakat sebagai ciri-ciri penentu zaman akan menjadi fokus perhatian. Kajian tersebut akan dilihat dalam cerita pendek Jalan Sunyi Kota Mati karya Radhar Panca Dahana. Cerita pendek tersebut dipilih karena isi cerita pendek tersebut sebagian besar menggambarkan sikap masyarakat yang ditunjukkan melalui berbagai tokoh. Pandangan tersebut disampaikan melalui dialog antartokoh yang saling mengomentari sebuah kejadian. Meskipun sikap atau pandangan antartokoh berbeda-beda, tetapi hal itu masih dapat ditarik satu garis lurus yang disesuaikan dengan konteks latar karya sastra tersebut. Konteks latar yang bisa dihubungkan adalah konteks latar tempat dan waktu. Hal tersebut disebabkan semua sikap tokoh yang terdapat dalam karya sastra tersebut mengerucut kepada tempat masyarakat tersebut hidup, yaitu perkotaan. Selain itu, konteks latar tempat juga dapat menjadi ciri pembeda antara sikap masyarakat perkotaan dan daerah lainnya, seperti pedesaan. Kemudian konteks latar waktu dapat dikaitkan dengan sejarah sikap atau pandangan masyarakat. Hal tersebut disebabkan perbedaan waktu dapat memengaruhi perbedaan sikap masyarakat walaupun masih dalam latar tempat yang sama.

Sebenarnya, cerita pendek Jalan Sunyi Kota Mati menceritakan sebuah kejadian di jalanan ibukota. Peristiwa yang terjadi adalah kecelakaan kendaraan mewah dengan kendaraan umum dan kakek yang sedang menyeberang jalan di depan halte bus. Hal tersebut disaksikan oleh banyak calon penumpang bus yang sedang berada di halte, termasuk tokoh aku. Semua pihak dalam cerita ini ikut berbicara mengutarakan pendapatnya atas kejadian tersebut. Ada yang menyalahkan kendaraan mewah, ada juga yang menyalahkan kendaraan umum, dan ada yang menyalahkan kakek yang menyeberang jalan. Bahkan, tidak hanya orang yang berada di halte bus yang berkomentar, tetapi ada juga orang-orang yang berada di warung dekat halte dan orang-orang yang berada di kafe mewah yang tidak jauh dari tempat kejadian perkara yang ikut memberikan pendapat atas kecelakaan yang terjadi.

Semua pendapat masyarakat yang berada di tempat yang berbeda tersebut ada yang dihubungkan melalui tokoh aku. Misalnya, tokoh aku yang pergi ke warung untuk meminjam lap dan air bersih. Meskipun demikian, ada juga penggambaran suasana kafe dan suasana di dalam mobil mewah yang tidak melibatkan tokoh aku, tetapi diceritakan oleh pengarang seolah pengarang mengambil sudut pandang orang ketiga. Tokoh aku mencoba menolong korban kecelakaan sebisa mungkin. Kakek yang menjadi korban juga menjadi perhatian tokoh aku untuk ditolong. Dompet kakek yang tergeletak jauh dari kakek membuat tokoh aku berniat mengambil untuk diserahkan kepada kakek. Namun, tokoh aku sudah telanjur dikira orang di sekitar ingin mencopet dompet kakek sehingga tokoh aku mendapat hukuman masyarakat hingga meninggal dunia.

Sebagian besar cerita pendek Jalan Sunyi Kota Mati yang digambarkan melalui berbagai dialog tokoh menyuarakan pendapat mengenai satu hal. Berbagai perspektif atau sikap masyarakat ini memperlihatkan adanya cerminan masyarakat yang sesungguhnya di dunia nyata. Hal tersebut sesuai dengan pendekatan kritik sastra yang diungkapkan Abrams. Dalam buku A Glosary of Literary Terms, Abrams mengelompokan empat tipe kritik, yaitu kritik mimetik, kritik pragmatik, kritik ekspresif, dan kritik objektif. Dalam hal ini, kritik mimetik dirasa sesuai dengan cerita pendek karya Radhar Panca Dahana ini. Tipe kritik mimetik adalah kritik yang memandang karya sastra sebagai tiruan, pencerminan, atau penggambaran dunia, dan kehidupan manusia. Pendekatan ini mempersoalkan cermin yang dipakai pengarang dalam karya sastra untuk menampilkan realitas yang sesungguhnya. Aspek tiruan yang ditampilkan dalam cerita pendek tersebut terlihat dalam kutipan di bawah ini.

“Tapi, mengapa semua berubah hanya dalam satu kedipan mata. Seperti tak ada yang berdiam dalam waktu. Tiap kedip seakan membuat hidup yang berbeda. Tak seperti got di sisi semua jalan, manusia di kota tak pernah berhenti. Bahkan di halte. Halte ini bernyawa. Lalu mati. Bernyawa lagi. Mati lagi…”

 

Kutipan di atas merujuk kepada aspek tiruan karena pengarang sedang menirukan kehidupan kota yang ramai. Tingkat mobilitas masyarakat perkotaan yang tinggi menyebabkan orang dalam halte bus silih berganti dengan cepatnya. Semua masyarakat berlomba dengan waktu. Hal tersebut dimanfaatkan masyarakat dengan sebaik mungkin tanpa pernah berhenti. Masyarakat diibaratkan nyawa yang menghidupi halte bus yang kosong. Kecepatan orang bergantian menandakan bahwa latar tempat cerita pendek tersebut adalah perkotaan. Hal tersebut disebabkan masyarakat perkotaan, seperti di ibukota memliki jumlah penduduk yang lebih banyak dibandingkan pedesaan. Selain itu, di dalam kutipan juga pengarang sudah menyebutkan kata kota. Kemudian latar perkotaan juga diungkapkan dalam kutipan di bawah ini.

“Tetes gerimis masih jatuh dalam rombongan-rombongan kecil, seperti tertib peziarah di petilasan, ketika seorang tua yang sudah pensiun cukup lama menyeberang dengan tangan kanan membawa bungkusan. Tiga karyawan sebuah perusahaan bercakap di sisi kiriku seperti tiga radio. Yang seorang menatap tekun LCD smartphone, lainnya mengamati seksama iklan di dinding halte, dan seorang lainnya seperti tukang obral yang rajin mengelilingkan matanya.”

 

Jika sebelumnya latar tempat terlihat dari penggambaran kondisi tempat tersebut, pada kutipan di atas latar tempat dapat diketahui melalui perilaku masyarakat yang digambarkan. Penggambaran tersebut terlihat dari adanya kakek yang sedang menyeberang sendiri tanpa ditemani oleh siapapun. Hal tersebut memperlihatkan sikap individualis masyarakat perkotaan yang cenderung tidak peduli dengan kondisi sekitar. Hal tersebut akan berbeda jika latar tempat berada di pedesaan. Kakek yang menyeberang pasti akan dibantu oleh siapapun yang berada di sana dan tidak membiarkan kakek tersebut menyeberang sendirian.

Lalu adanya tiga karyawan yang berbincang nyaring seperti radio juga memperlihatkan keegoisan tanpa mengindahkan orang lain yang sekiranya terganggu. Sikap individual tampak juga dari perilaku orang yang sibuk sendiri dengan barang elektronik miliknya dan orang yang diam memandang sekeliling dengan santainya. Sikap ramah yang tidak ditampilkan pengarang dalam cerita pendek tersebut mengacu kepada masyarakat perkotaan. Biasanya, masyarakat pedesaan akan saling menyapa dan menanyakan tujuan walaupun tidak saling kenal untuk memecahkan keheningan. Hal tersebut kontras dengan masyarakat perkotaan.

Selanjutnya, cerita pendek ini mempunyai nilai kebenaran yang berkembang di kehidupan masyarakat. Nilai kebenaran tersebut diperlihatkan melalui dialog antartokoh yang saling menyuarakan pendapatnya mengenai kecelakaan lalu lintas. Hal tersebut terlihat dalam kutipan di bawah ini.

”Semua gara-gara motor kelewat banyak,” sambung seorang tua yang nongkrong di pojokan, ”karenanya mereka saling salip, rebutan ruang yang makin ciut. Sama saja dengan ruang di warung ini, yang tambah sesek sama ocehan.”

”Bukan salah motor. Tapi kakek goblok yang nyeberang seenaknya,” si peci coba mencoba menyanggah.

 

”Tapi kalau angkot nggak ugal-ugalan, kecelakaan nggak hebat begini.” Kali ini seorang pemuda tiga puluhan, tampaknya tukang kredit, memberi tanggapan.

”Yang keterlaluan ya pengemudi sedan mahal itu. Dia kurang cepet ngerem sampai pengendara motor hancur kepalanya kelindes,” sambung yang lain.

”Semua salah! Semua ini gara-gara polisi nggak kerja. Pemerintah nganggur,” seorang pemuda seakan menggeram untuk dirinya sendiri.”

 

Perbedaan pendapat dalam kutipan di atas menjelaskan bahwa pemikiran masyarakat tersebut bersifat heterogen. Pemikiran yang bersifat heterogen tersebut mengacu kepada pemikiran masyarakat perkotaan. Hal tersebut berbeda dengan pemikiran masyarakat pedesaan yang cenderung homogen. Keheterogenan tersebut terlihat dari sudut pandang yang berlainan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya yang berada di warung dekat kejadian kecelakaan. Meskipun pendapat antartokoh berlainan, tetapi semua pendapat tersebut mengandung penghakiman terhadap salah satu korban dalam kecelakaan. Semua pihak yang terlibat dalam kecelakaan tidak luput dari penghakiman masyarakat. Bahkan, hal lain di luar pihak yang berpekara juga ikut tersangkut dalam penghakiman masyarakat. Misalnya, pemerintah dan polisi.

Tidak hanya itu, nilai kebenaran atas sikap masyarakat perkotaan juga terlihat dari dialog antartokoh yang berada di dalam mobil mewah yang terlibat kecelakaan. Pendapat yang diutarakan suami dan istri ini juga memperlihatkan pemikiran orang yang terlibat dalam kecelakaan setelah sebelumnya pemikiran yang disampaikan hanya melalui orang yang tidak terlibat dalam kecelakaan. Hal tersebut terlihat dalam kutipan di bawah ini.

”Sudah tahu mobil ini baru mulai cicilannya, sudah nabrak. Keras lagi. Pasti bonyok. Memangnya kamu punya anggaran untuk ke bengkel, di akhir bulan begini. Ceroboh!” Nyonya itu menampilkan wajah yang sangat tidak puas bahkan pada kata-katanya sendiri.

”Kenapa bengong kaya macan mabok begitu? Keluar segera. Lihat seberapa parah mobil kita? Siapa yang harus bayar perbaikannya?”

”Ya, seharusnya mobil di depan. Dia berhenti mendadak,” lelaki yang suami sang nyonya itu akhirnya bersuara.

”Dia itu tabrakan, pasti ada penyebabnya. Motor itu? Kita minta ganti sama pengendara motor itu? Sudah mati kali dia.”

”Apa peduliku?” tukas nyonya sambil membenahi gelung rambutnya yang jadi sedikit kacau. ”Yang harus dipedulikan justru papamu yang brengsek ini. Kita dibikinnya telat ke resepsi, malah mungkin harus nongkrong di bengkel. Nyebelin.”

 

Kutipan dialog suami dan istri di dalam mobil tersebut menampilkan pemikiran masyarakat perkotaan yang tidak berperikemanusiaan dan meterialistis. Sifat kemanusiaan sudah hilang ditelan oleh kepentingan individu. Hal tersebut terlihat dalam dialog tokoh nyonya yang tidak memedulikan korban yang ditabrak dan malah mengkhawatirkan mobil barunya. Sikap materialistis juga didukung oleh pemikiran nyonya yang ingin meminta ganti rugi kepada pengendara motor dan lebih memperhitungkan kerugian memperbaiki mobil dibandingkan nyawa manusia.

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa cerita pendek Jalan Sunyi Kota Mati karya Radhar Panca Dahana menjelaskan sikap masyarakat perkotaan yang individualis, materialistis, dan tidak memiliki rasa kemanusiaan. Hal tersebut sangat disayangkan karena sikap masyarakat perkotaan yang demikian sangat jauh dari identitas masyarakat Indonesia. Karakteristik masyarakat Indonesia yang ramah, saling bergotong royong, dan peduli terhadap sesama manusia telah hilang ikut terbawa arus modernisasi dan globalisasi negeri ini. Selain itu, pemikiran masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi kesopanan juga tidak tampak lagi dalam masyarakat perkotaan. Sekarang, masyarakat cenderung mengutarakan hal yang bersifat negatif tanpa ragu melakukan penghakiman terhadap semua pihak yang terlibat dan memiliki keterkaitan dengan hal tersebut. Bahkan, penghakiman secara fisik juga dilakukan masyarakat perkotaan dengan seenaknya sebelum memintai keterangan pelaku yang belum tentu bersalah. Hal tersebut dialami tokoh aku yang harus rela meninggal dihakimi massa. Padahal, tokoh aku mempunyai niat baik untuk mengembalikan dompet kakek yang disangka masyarakat hendak membawa kabur dompet tersebut.

 

Daftar Pustaka

Abrams, M. H. 1981. A Glosary of Literary Terms. New York: Holt, Rinehart, and Winston.

Dahana, Radhar Panca. Jalan Sunyi Kota Mati dalam koran Kompas tanggal 14 April 2014.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1994. Prinsip-prinsip Kritik Sastra: Teori dan Penerapannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Rene Wellek & Austin Warren. Sastra dan Masyarakat. Dalam Wasono, Sunu, dkk. Pengantar Sosiologi Sastra Indonesia. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 25, 2014 by in Makalah.
%d bloggers like this: