Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Pudarnya Tradisi Ketimuran Orang Indonesia di Negeri Barat dalam Cerita Pendek “Muammar Memilih Jalannya Sendiri” Karya Sori Siregar

Setiap manusia pasti menginginkan hidup yang enak dan menyenangkan. Tidak ada satu pun manusia yang menginginkan hidup dalam tekanan maupun penindasan. Tekanan hidup dapat berupa tekanan batin, tekanan moral, tekanan ekonomi, tekanan budaya, dan lain sebagainya. Biasanya, tekanan yang sering dialami oleh manusia adalah tekanan ekonomi, khususnya masyarakat Indonesia. Seseorang bisa melakukan apa saja untuk menanggulangi atau mengatasi masalah ekonomi. Hal tersebut disebabkan tekanan atau permasalahan ekonomi merupakan hal yang paling krusial dan menjadi beban hidup yang paling berat. Jika seseorang terkena tekanan ekonomi, maka aspek lain dalam kehidupan juga akan menjadi terganggu. Misalnya, tidak bisa membeli makan, tidak bisa berpergian, tidak bisa menyekolahkan anak, dan lain sebagainya. Hal demikian menyebabkan adanya ungkapan bahwa sebenarnya manusia tidak membutuhkan uang, tetapi segalanya membutuhkan uang. Ungkapan tersebut menggambarkan pentingnya aspek ekonomi dalam menunjang kehidupan.

Tekanan yang sudah menjadi permasalahan bersama di negeri ini mengharuskan manusia untuk mencari akal agar dapat terbebas dari belenggu yang menyengsarakan kehidupan yang hanya sekali ini. Banyak sekali cara yang dapat dilakukan manusia dalam menyelesaikan atau mengejar aspek ekonomi. Mulai dari usaha kecil-kecilan untuk menambah pemasukan tambahan, bekerja menjadi apapun di perusahaan besar asal insentif yang diberikan juga besar, sampai melakukan tindakan kriminal yang membahayakan diri sendiri dan orang lain. Meskipun banyak yang memilih pilihan terakhir tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang melakukan hal-hal yang positif. Salah satu kegiatan positif yang dapat menunjang manusia melepaskan tekanan ekonomi adalah belajar hingga perguruan tinggi. Selain itu, bila usia sudah tidak mencukupi atau telanjur tidak bisa menempuh pendidikan, usaha yang dapat dilakukan manusia untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik adalah bekerja apapun dengan tidak pilih-pilih dan pekerjaan itu dilakukan semaksimal mungkin. Usaha keras dan kejujuran pasti akan membawa manusia menuju kepada sebuah kesuksesan yang ukurannya tiap orang akan berbeda.

Hal tersebut yang dilakukan oleh keluarga Maludin dalam cerita pendek “Muammar Memilih Jalannya Sendiri” karya Sori Siregar. Dalam cerita ini, Maludin memboyong istri beserta anaknya yang masih berusia dua tahun ke negeri barat untuk bekerja.  Kemudian Maludin pun mendapatkan dua anak yang dilahirkan di negeri barat ini. Kehidupan Maludin sebelum dan sesudah pindah ke negeri barat juga sangat berbeda. Ketika Maludin masih tinggal di negeri asalnya, kehidupan keluarga Maludin sangat sederhana. Penghasilan sebagai guru SMA yang rendah memaksa istri Maludin untuk mencari tambahan dengan menjahit pakaian anak-anak. Namun, setelah pindah ke negeri barat istri Maludin tidak perlu mencari tambahan dengan menjahit pakaian anak-anak dan bisa fokus menjadi ibu rumah tangga. Hal tersebut dapat terlihat dalam kutipan di bawah ini.

“Bagi Maludin hidup di negeri baru ini jauh lebih menyenangkan daripada di kota yang ditinggalkannya. Bukan saja karena pendapatannya lebih besar daripada yang dulu diperolehnya sebagai guru SMA di kotanya, tetapi juga karena ia berdomisili di lingkungan permukiman yang lebih baik, tidak sumpek dan bersih serta berbagai hal lain seperti dekatnya jarak kantor dan rumahnya, transportasi umum yang selalu tepat waktu dan dapatnya Maryam sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga tanpa harus membantu Maludin mencari nafkah dengan menjahit pakaian anak-anak.”

Selain itu, dalam kutipan di atas juga dapat terlihat bahwa Maludin memiliki lingkungan permukiman yang lebih baik. Ketika berada di negeri asalnya, Maludin harus rela tinggal di permukiman yang padat penduduk dan tidak bersih. Sebaliknya, di negeri barat Maludin mendiami permukiman yang bertolak belakang dari negeri asalnya. Bahkan, permukiman dengan kantor Maludin tidak berjarak jauh. Hal ini semakin memudahkan Maludin dalam mencari nafkah. Hal ini memperkuat fakta bahwa sebenarnya manusia tidak menginginkan kehidupan yang tidak enak dan manusia akan selalu mencari jalan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik dari kehidupan sebelumnya.

Hal tersebut juga menyiratkan bahwa karya sastra mempunyai peran dalam melihat berbagai sisi kehidupan manusia dalam berbagai sudut pandang. Dalam hal ini, karya sastra dapat dipandang sebagai bentuk ungkapan ekspresi manusia atas segala hal yang terdapat di kehidupan nyata. Ekspresi tersebut disalurkan ke dalam bentuk tulisan yang memiliki tujuan atau kegunaan tertentu oleh pengarang. Aspek kegunaan memiliki keterkaitan dengan fungsi karya sastra yang diungkapkan oleh Horace. Ia mengungkapkan bahwa fungsi karya sastra adalah dulce et utile. Artinya, karya sastra memiliki fungsi menyenangkan dan berguna. Dua aspek fungsi karya sastra tersebut menjadi landasan setiap karya sastra yang diciptakan oleh pengarangnya. Terlebih lagi, biasanya faktor kegunaan menjadi objek kajian yang menarik untuk dibahas. Hal tersebut disebabkan faktor kegunaan ini dapat menyangkut pandangan atau pesan yang ingin disampaikan pengarang. Hal tersebut dapat mencerminkan kehidupan nyata atau dapat juga sebagai penanaman nilai tertentu kepada masyarakat.

Apabila ingin membahas sebuah karya sastra, cerita pendek “Muammar Memilih Jalannya Sendiri” karya Sori Siregar menarik untuk dibedah lebih mendalam. Hal tersebut disebabkan cerita pendek ini memiliki hubungan dengan fakta kehidupan manusia yang menginginkan hidup yang enak dan menyenangkan. Apalagi gambaran negeri asal tokoh Maludin dalam cerita pendek ini kurang lebih sama dengan kondisi negara Indonesia. Namun, dalam cerita pendek ini negeri asal tokoh Maludin tidak disebutkan dengan jelas. Hal tersebut sama dengan negeri barat tempat keluarga Maludin pindah yang tidak disebutkan dengan jelas oleh pengarang. Penyebutan negeri yang tidak transparan tersebut membuat pembaca akan penasaran dengan negeri yang disebutkan dalam cerita pendek ini. Keingintahuan pembaca akan negeri yang dibicarakan menjadikan cerita pendek ini pasti akan dibaca hingga selesai oleh pembaca. Hal tersebut dilakukan pembaca untuk mencari tahu maksud dari cerita pendek ini dan negeri mana yang sedang menjadi topik dalam cerita. Terlebih lagi, latar belakang pengarang yang pernah penempuh pendidikan di luar negeri membuat pembaca akan tertarik melihat sudut pandang yang akan digunakan dalam membuat karya sastra.

Sori Siregar adalah seorang penulis cerpen dan novel yang pernah mengemban studi di Universitas Lowa, Amerika Serikat. Ia mengemban studi di Amerika selama dua tahun. Pengarang cerita pendek “Muammar Memilih Jalannya Sendiri” ini juga mengikuti International Writing Program di Universits Lowa sejak tahun 1970. Ia mulai berkarya sejak tahun 1960 dan karyanya telah dimuat di berbagai media. Misalnya, Sastra, Horison, Budaya Jaya, Pustaka Budaya, Kompas, Suara Pembaruan, Sarinah, The Jakarta Post, Media Indonesia, Bisnis Indonesia, JawaPos, Republika, dan media lainnya. Selain itu, Sori juga aktif menjadi penerjemah berbagai karya sastra asing, baik novel, cerita pendek, maupun drama. Dengan latar belakang tersebut, setidaknya Sori telah memiliki setumpuk pengalaman dalam dunia sastra dan pernah mencicipi kehidupan di luar budaya Indonesia. Pengalaman hidup di luar negeri tersebut setidaknya tertuang dalam cerita pendek yang berjudul “Muammar Memilih Jalannya Sendiri” yang diterbitkan pada surat kabar Kompas tanggal 14 Oktober 2012.

Melalui cerita pendek “Muammar Memilih Jalannya Sendiri”, pembaca akan menemukan berbagai bahasan yang menarik dari sisi hiburan dan penuh pesan dari sisi kegunaan. Pada bagian awal cerita pendek saja, pembaca sudah disuguhkan dengan konotasi negatif tentang suatu hal. Konotasi negatif ini sangat memengaruhi interpretasi pembaca, terutama jika ditampilkan pada bagian awal. Bagian yang berkonotasi negatif dan terletak di awal akan membuat pembaca berpikir bahwa kondisi yang digambarkan memang buruk. Hal tersebut terlihat dalam kutipan di bawah ini.

“Malam telah merangkak jauh. Perlahan. Sebentar lagi pagi terjangkau. Hujan rintik-rintik di luar. Maludin yang letih masih tidak dapat tidur. Sepanjang malam menjelang pagi itu ia tetap terjaga.”

Kutipan di atas menggambarkan suasana genting yang diekspresikan pengarang dengan keadaan kondisi cuaca di luar rumah yang hujan. Selain itu, suasana yang demikian tersebut juga menggambarkan kondisi batin tokoh Maludin. Kehadiran hujan di dalam sebuah karya sastra dapat menjadi sebuah tanda atau simbol yang memiliki interpretasi kelam, sunyi, dan dingin. Sementara itu, penggambaran tokoh yang letih, tidak dapat tidur, dan tetap terjaga dari malam sampai pagi diinterpretasikan sebagai sebuah keadaan seseorang yang gelisah dengan beban masalah yang berat. Melalui bagian pertama tersebut tampak bahwa pengarang membuka cerita dengan sesuatu yang menarik perhatian pembaca dan seolah membuat pembaca bertanya permasalahan buruk apa yang sebenarnya terjadi pada tokoh yang ada dalam cerpen.

Konotasi buruk tersebut sengaja dibuat oleh pengarang untuk memunculkan berbagai peristiwa yang dialami tokoh dalam cerita pendek sebagai hal yang buruk pula. Hal tersebut terlihat dari bagian akhir cerita yang berdampak buruk pula. Korelasi bagian awal yang mempunyai konotasi buruk diimbangi dengan bagian akhir yang mempunyai konotasi buruk pula menjelaskan bahwa cerita pendek ini ingin mengungkapkan peristiwa yang mempunyai konotasi buruk. Hal tersebut menjadikan pembaca akan mempunyai pikiran untuk melihat peristiwa apa saja yang menyebabkan peristiwa tersebut memiliki konotasi negatif atau buruk. Hal tersebut akan berbeda jika bagian awal dan akhir cerita memiliki konotasi positif atau baik. Jika cerita pendek mempunyai korelasi bagian awal dan akhir yang berkonotasi positif, maka pembaca pasti akan berpikir untuk menemukan peristiwa yang berkonotasi positif tersebut untuk dijadikan pelajaran hidup di kehidupan nyata.

Bagian akhir cerita pendek “Muammar Memilih Jalannya Sendiri” yang berkonotasi negatif ini ditunjukkan oleh sikap dan ucapan tokoh Maludin dan istrinya. Tokoh tersebut juga merupakan orang tua dari tokoh Muammar yang namanya dijadikan judul pada cerita. Tokoh Muammar ini menjadi penting karena memengaruhi sikap dan ucapan orang tuanya atau tokoh Maludin dan istri pada bagian akhir cerita. Pada bagian ini tokoh Maludin dan istri menyesalkan perilaku atau perbuatan anaknya yang bernama Muammar. Hal tersebut menjadi penyesalan orang tua Muammar di balik kehidupan yang dirasa lebih baik dari kehidupan terdahulu saat masih tinggal di negeri asal. Hal tersebut membuat peristiwa yang dialami Muammar adalah sebuah peristiwa yang sangat erat kaitannya dengan konotasi negatif. Konotasi tersebut dapat terlihat dalam kutipan di bawah ini.

“Anak kesayanganku telah memilih jalannya sendiri, ujar Maryam dalam hati. Setelah itu ia memandang suaminya dengan penuh pengertian.“Kesenangan dan kegembiraan kita selama ini harus kita bayar terlalu mahal,” ujar Maludin kepada Maryam.”

Kutipan di atas dapat menjelaskan bahwa Maryam, istri Maludin, dan Maludin kecewa atas keputusan yang telah dipilih oleh anaknya, Muammar. Hal tersebut diutarakan atau digambarkan pada bagian akhir cerita untuk memberitahukan kepada pembaca bahwa peristiwa yang terdapat dalam cerita ini tidak baik. Selain itu, bagian akhir yang diberi konotasi negatif oleh pengarang ini juga sebagai upaya menyampaikan pesan bahwa perbuatan atau pola pikir yang dilakukan oleh Muammar tidak patut untuk dicontoh karena akan membuat orang tua menjadi kecewa. Hal tersebut perlu menjadi perhatian pembaca disebabkan pengarang tidak memberikan penekanan konotasi pada bagian tengah cerita. Ketiadaan pemberian penekanan konotasi tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran kondisi atau peristiwa yang sebenarnya. Jika pembaca terus diarahkan ke dalam penekanan konotasi, maka pembaca akan terpaku oleh konotasi negatif tersebut dan penggambaran peristiwa atau kondisi tidak akan maksimal. Hal tersebut dapat terlihat dari adanya kata kesenangan dan kegembiraan yang diucapkan oleh Maludin kepada Maryam. Kedua kata tersebut tidak mencerminkan konotasi negatif pada bagian tengah cerita dan berusaha menjabarkan kondisi sesungguhnya di balik keberpihakkan pengarang.

Hal tersebut membuat pembaca akan lebih banyak berfokus ke dalam konotasi negatif yang memaparkan pandangan pengarang atas peristiwa yang ditampilkan. Hal tersebut diperkuat dengan penyampaian konotasi negatif pada bagian awal dan akhir cerita. Konotasi tersebut membuat topik yang dibahas adalah seputar peristiwa atau kondisi buruk yang ada dalam cerita pendek “Muammar Memilih Jalannya Sendiri”. Hal tersebut disebabkan berbagai peristiwa dalam cerita pendek ini kurang lebih merupakan gambaran atas keprihatinan pengarang mengenai kondisi sosial masyarakat tertentu. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Abrams (1981) bahwa karya sastra dapat dipandang sebagai tiruan, pencerminan, atau penggambaran dunia dan kehidupan manusia. Peristiwa yang ditampilkan di dalam karya sastra dapat merupakan sebuah kejadian yang memang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, karya sastra dapat dibuat berdasarkan peristiwa yang sesungguhnya terjadi dalam kehidupan nyata.

Kondisi masyarakat yang diangkat oleh pengarang dalam cerita pendek “Muammar Memilih Jalannya Sendiri” adalah kondisi orang Indonesia yang menetap di negeri barat atau luar negeri. Kondisi yang menggambarkan konotasi negatif dalam cerita tersebut terlihat dari jalan cerita anak Maludin dan Maryam yang bernama Muammar memilih meninggalkan keyakinan dan keluarga. Hal tersebut dilakukan oleh Muammar yang telah memperoleh pendidikan yang tinggi di negeri barat. Pendidikan di negeri barat yang gratis atau bebas biaya tersebut membuat Muammar mampu sekolah hingga perguruan tinggi. Namun, pendidikan yang tinggi tersebut membuat Muammar lebih mementingkan rasio atau akal pikiran dibandingkan agama dan budayanya sendiri. Hal tersebut membuat Muammar tidak cocok lagi dengan jalan pikiran kedua orang tuanya dan keluar rumah. Padahal, pemicu dari perbuatan angkat kaki Muammar disebabkan oleh ketidaksetujuan Maludin dan Maryam mengizinkan pacar Muammar menginap di rumah. Hal tersebut memperlihatkan bahwa adanya kepudaran tradisi ketimuran orang Indonesia yang tinggal di negeri barat.

Pudarnya tradisi ketimuran orang Indonesia di negeri barat dalam cerita pendek ini lebih menekankan kepada tingkah laku dan pola pikir. Ketidaksesuaian tingkah laku dan pola pikir tokoh Muammar dengan kondisi masyarakat Indonesia secara umum disebabkan lingkungan tempat tinggal yang berbeda. Jika tokoh Muammar tidak berada di negeri barat dan berada di Indonesia mungkin tingkah laku dan pola pikirnya akan berbeda dengan kondisi yang terdapat dalam cerita. Ketimpangan tingkah laku yang menandakan pudarnya tradisi ketimuran dalam tokoh Muammar adalah tidak menjunjung tinggi kehormatan orang tua, tidak mematuhi dan memperhatikan orang tua, bersikap merendahkan orang tua, dan melepas keyakinan yang dianut karena pengaruh lingkungan. Hal tersebut bertolak belakang dengan ungkapan yang melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Salah satu buku yang menjelaskan ungkapan kehidupan adalah buku Tradisi Tradisional Sebagai Sumber Informasi Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Meskipun buku yang dijadikan acuan mengenai ungkapan tradisional daerah Yogyakarta, tetapi ungkapan ini dapat merepresentasikan ungkapan daerah lain di Indonesia. Hal tersebut disebabkan atas dasar ungkapan masyarakat Indonesia yang sebenarnya sama saja di setiap daerahnya. Daerah yang berbeda pulau maupun berbeda suku tersebut hanya berbeda bahasa dalam menyampaikan ungkapan tersebut. Inti atau maksud dari ungkapan di setiap daerah pada kenyataannya sama saja. Kesamaan ungkapan itu pula yang menyebabkan daerah-daerah yang berbeda ini dapat melebur menjadi satu kesatuan yang bernama negara Indonesia.

Aspek tidak menjunjung tinggi kehormatan orang tua dalam tokoh Muammar tidak sesuai dengan ungkapan memikul tinggi memendam dalam. Maksud dari ungkapan tersebut adalah anak harus berbakti dan menghormati orang tua. Kekurangan atau sifat tercela orang tua seharusnya ditutupi oleh anak. Sebaliknya juga demikian, anak seharusnya menjaga kehormatan orang tuanya. Hal tersebut yang tidak dilakukan oleh Muammar selaku orang yang berasal dari Indonesia atau lahir sebagai keturunan orang timur. Hal tersebut terlihat dalam kutipan di bawah ini.

“Maludin dengan halus meyakinkan Muammar bahwa berdasarkan keyakinan yang mereka peluk, tindakan yang akan dilakukan Muammar itu adalah salah. Bahkan, agama apa pun tidak akan membenarkan hal itu. Mendengar keterangan ayahnya, Muammar menjelaskan, Joyce, pacarnya itu, ingin menginap di rumah mereka karena ingin mengenal lebih jauh Maludin, Maryam, Fatur, dan Fayed.”

 

Kutipan di atas memaparkan bahwa Muammar meminta izin kepada Maludin agar pacarnya dapat menginap di rumah mereka. Akan tetapi, menurut budaya timur tindakan menginap di rumah keluarga pacar tidak diperbolehkan. Hal tersebut disebabkan adanya ketakutan hal-hal negatif yang akan terjadi. Apalagi Muammar masih sebagai pacar dan belum diikat dalam tali pernikahan. Hal tersebut akan membuat terjadinya perbuatan yang dilarang agama. Dari segi budaya, tindakan tersebut jika diizinkan akan menimbulkan pergunjingan di lingkungan mereka. Hal tersebut dapat menimbulkan dosa dan ketidaknyamanan keluarga atas adanya pergunjingan tersebut.

Namun, Muammar tetap bersikeras untuk mengajak pacarnya ke rumah dengan niatan pacarnya menginap. Maludin sebagai ayah merasa kaget dengan adanya kedatangan pacarnya Muammar. Kemudian Maludin meminta penjelasan kepada Muammar secara empat mata. Tindakan Muammar yang langsung membawa pacarnya ke rumah walaupun tidak diperbolehkan oleh orang tuanya memperlihatkan tokoh Muammar yang tidak menjunjung tinggi kehormatan keluarga. Dalam hal ini, sikap tidak memperbolehkan pacar anaknya untuk menginap di rumah adalah sebuah kehormatan keluarga yang harus dijaga dan diikuti oleh anak. Kehormatan tersebut akan rusak ketika anaknya melanggar aturan atau norma yang berlaku di keluarga. Tanpa disadari, Muammar telah merusak kehormatan keluarga dengan tetap mengajak pacarnya ke rumah untuk menginap.

Selain itu, tindakan Muammar yang tetap mengajak pacarnya ke rumah meskipun orang tua telah menolak atau tidak mengizinkan termasuk dalam tindakan yang tidak memerhatikan dan mematuhi nasihat orang tua. Padahal, Muammar telah diberitahu oleh Maludin bahwa jika Muammar masih melakukan niatannya tersebut akan membuat beberapa kerugian. Namun, Muammar seakan tidak peduli dan menginginkan niatannya tetap terwujud. Hal tersebut terlihat dalam kutipan di bawah ini.

“Mendengar kalimat-kalimat yang meluncur dengan lancar dari mulut ayahnya, Muammar tersenyum. Masih sekuno ini ayahku, katanya dalam hati. Bukan hanya ayah, tetapi juga ibu dan kedua adikku, kata hatinya melanjutkan. Ini harus diterobos untuk membuka jalan baru. Pemikiran seperti itu muncul tiba-tiba dalam kepala Muammar. Itulah yang dilakukannya keesokan harinya.”

 

Kutipan di atas menampilkan kondisi Muammar yang keras kepala dan tidak bisa diberitahu oleh orang tua. Dengan demikian, kutipan tersebut juga menampakkan tokoh Muammar yang tidak menghormati dan memerhatikan nasihat orang tuanya. Kondisi yang demikian muncul dalam benak Muammar karena kedua orang tua dan adik-adiknya tidak memiliki pendidikan setinggi Muammar. Hal tersebut membuat Muammar merasa bahwa orang tuanya masih kuno atau ketinggalan zaman. Muammar sebagai orang yang telah mendapat pendidikan barat yang cukup tinggi merasa harus membuat sebuah terobosan baru dalam keluarga agar tidak terkungkung oleh adat yang menyesatkan. Hal tersebut merupakan kondisi yang membuat prihatin karena Muammar lebih mementingkan akal pikiran dibandingkan aspek agama dan budaya. Padahal, dalam agama apapun telah dijelaskan bahwa tindakan yang ingin dilakukan Muammar akan mendapat keburukan maupun fitnah. Hal tersebut disebabkan belum adanya ikatan antara Muammar dengan pacarnya. Kondisi tersebut juga memperlihatkan tokoh Muammar yang merasa sudah memiliki kedewasaan seharusnya mendapat kebebasan dan memilih jalan hidupnya sendiri.

Tidak hanya itu, sikap Muammar yang mempunyai konotasi buruk dan berdampak memudarkan tradisi ketimuran adalah sikap Muammar yang merendahkan orang tua. Hal ini tidak sesuai dengan ungkapan siapa kamu siapa aku.  Dalam hal ini, ungkapan tersebut mempunyai pengertian bahwa orang tidak boleh merendahkan orang lain, terutama orang tua. Hal tersebut tidak hanya dianggap sebagai suatu hal yang tidak sopan, tetapi juga menyebabkan orang tersebut terkena dosa. Hal tersebut disebabkan perbuatan merendahkan orang lain dilarang oleh agama apapun. Hal tersebut terlihat dalam kutipan di bawah ini.

“Muammar mendengarkan hardikan ayahnya dengan tenang. Baginya, kekunoan ayahnya semakin dipertegas dengan teriakan itu. Muammar merasa ayah, ibu, dan kedua adiknya telah terperangkap dalam kepicikan yang mengekang. Dua puluh tahun di negeri yang jauh ini tidak membuat mereka dapat menyerap keragaman nilai di sekitar mereka.”

Kutipan di atas menjelaskan bahwa Muammar merendahkan orang tuanya dalam hati. Meskipun hal tersebut dilakukan dalam hati, tetap saja namanya merendahkan orang tua merupakan tindakan tercela dan mendapat dosa dari Tuhan. Sikap merendahkan orang tua tersebut ditunjukkan Muammar ketika mendengar teriakan ayahnya atas kedatangan pacarnya ke rumah. Hal tersebut malah membuat Muammar menilai orang tuanya sebelah mata. Seharusnya, ketimpangan pendidikan yang diperoleh Muammar dengan orang tuanya tidak dijadikan alasan untuk Muammar melakukan tindakan tercela tersebut. Padahal, Muammar mendapat pendidikan di negeri barat tersebut disebabkan oleh bantuan orang tuanya yang pindah ke negeri barat. Namun, Muammar tidak menyadari hal tersebut dan silau akan akal pikirannya sendiri. Dalam hal ini, Muammar menganggap bahwa hal-hal yang didapatnya di negeri barat adalah suatu kemajuan yang harus diikuti dalam keseharian maupun kehidupan. Padahal, tidak berarti segala perbuatan atau tindakan orang di negeri barat ini merupakan sebuah kemajuan. Aspek budaya tidak bisa terlepas begitu saja terkait perbuatan atau tindakan ini. Pemahaman yang tidak menyeluruh dan tidak kuatnya agama yang sedang dianut membuat Muammar mempunyai pikiran merendahkan orang tuanya.

Aspek terakhir pudarnya tradisi ketimuran dalam cerita pendek “Muammar Memilih Jalannya Sendiri” adalah tokoh Muammar meninggalkan keyakinan yang diajarkan orang tua kepadanya sejak kecil. Muammar tumbuh besar di lingkungan dunia barat yang liberal. Ia biasa menerima kebebasan dari lingkungan sekitar dengan segala kemudahan hidup yang ia terima. Permasalahan tersebut mulai muncul ketika Muammar membawa teman perempuannya menginap di rumah dan ia lebih memilih untuk meninggalkan keluarga serta keyakinannya daripada mendengar nasihat ayah dan ibunya yang tidak memperbolehkan pacarnya menginap. Permasalahan ini tampak pada kutipan teks berikut ini.

“Ananda dibesarkan di negeri ini, di negeri yang jauh dari tempat kita berasal. Negeri ini telah membentuk ananda menjadi orang yang sangat mengutamakan otak. Karena itu ananda tidak ingin mencampur adukkan keyakinan dan rasio. Salah satu di antaranya harus diutamakan. Dan, ananda senantiasa memberi tempat utama kepada isi kepala. Dengan alasan itu pula ananda telah melepaskan keyakinan keluarga kita, yang juga keyakinan yang ananda pegang selama ini.”

Realitas sosial yang digambarkan pengarang melalui cerita pendek ini memunculkan permasalahan tersendiri. Permasalahan meninggalkan agama tidak bisa dianggap sepele. Hal tersebut juga menandakan bahwa adanya pemahaman yang memadai di sekolah belum tentu menggambarkan pemahaman yang menyeluruh terkait agama. Negeri barat yang tidak menjunjung tinggi keyakinan atas dasar melakukan suatu hal membuat orang Indonesia yang beragama ikut terbawa arus tersebut. Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa di sekitar kita banyak orang-orang yang kini tidak lagi memegang keyakinan tertentu karena mereka percaya bahwa rasio lebih dapat berterima di era globalisasi ini. Kecanggihan teknologi dianggap mampu menyelesaikan berbagai permasalahan dalam kehidupan manusia. Semakin banyak masyarakat yang mengenal ilmu pengetahuan dan teori-teori filsafat, tetapi hal tersebut justru membawa mereka pada dunia rasio yang kekal. Mereka tidak mampu mencerdaskan diri sendiri untuk menyeimbangkan antara akal budi, dan agama. Permasalahannya adalah fenomena tersebut dianggap sudah biasa oleh masyarakat Indonesia yang pada dasarnya dikenal sebagai bangsa yang bertuhan dan memegang agama.

Dalam hal ini, pengarang memiliki keberanian untuk mengangkat hal yang dianggap biasa oleh orang di negeri barat, tetapi pada dasarnya sensitif untuk dibicarakan bagi masyarakat Indonesia. Ketika sebuah permasalahan sosial diangkat dalam karya sastra artinya tema tersebut menjadi tema besar untuk didiskusikan. Pengarang mengajak pembaca untuk mengeluarkan berbagai ide dan berbagai pandangan mengenai permasalahan tersebut. Bagaimana seharusnya pembaca sebagai bangsa Indonesia yang memegang dasar-dasar ketuhanan yang termaktub dalam Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara menanggapi kebebasan seseorang untuk tidak memegang keyakinan tertentu.

Selain itu, cerita pendek “Muammar Memilih Jalannya Sendiri dapat memberikan gambaran kepada pembaca bahwa pengarang memiliki kegelisahan mengenai permasalahan lunturnya tradisi ketimuran orang Indonesia yang hidup di negeri orang. Kegelisahan tersebut dapat terjadi karena dua faktor, yaitu pengalaman pribadi pengarang selama hidup di negeri Barat ketika menimba ilmu dan hasil obeservasi terhadap berbagai permasalahan yang terjadi di sekitar. Kemudian pengarang menuangkan kegelisahannya tersebut ke dalam sebuah karya sastra berupa cerita pendek agar pesan-pesan yang ingin ia sampaikan kepada masyarakat dikemas dalam bentuk yang menarik dan mengena bagi pembaca.

Selain keempat norma yang telah dipaparkan di atas, cerita pendek karya Sori Siregar memberikan sebuah gambaran bahwa pada dasarnya ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia harus berjalan seimbang dengan keyakinan atau agama karena tidak semua hal yang ada dalam kehidupan manusia dapat dianalisis berdasarkan logika atau rasio saja. Melalui tokoh Muammar, pembaca diingatkan bahwa faktor lingkungan memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap perubahan karakter, budaya, dan keyakinan seseorang. Pada bagian akhir cerpennya pengarang menuliskan secara tersirat sebuah pesan besar bahwa seburuk-buruknya keadaan di negeri kelahiran dan sebaik-baiknya keadaan di negeri lain, tetap saja negeri sendiri menjadi tempat untuk kembali karena nilai-nilai budaya yang telah mengalir dalam darah kita.

 

DaftarPustaka

Abrams, M. H. 1981. A Glosary of Literary Terms. New York: Holt, Rinehart, and Winston

http://www.tamanismailmarzuki.com// (diaksespadahariSabtu, 07 Juni 2014 padapukul 10.35 WIB)

Pradopo, Rachmat Djoko. 1994. Prinsip-Prinsip Kritik Sastra: Teori dan Penerapannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Siregar, Sori. “Muammar Memilih Jalannya Sendiri” dalam Kompas edisi 14 Oktober 2012.

____.1986. UngkapanTradisionalSebagaiSumberInformasiKebudayaan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta: ProyekInventarisasidanDokumentasiKebudayaan Daerah. Jakarta:DepartemenPendidikandanKebudayaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 8, 2014 by in Sastra.
%d bloggers like this: