Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Hubungan Sastra, Politik, dan Ideologi dalam Roman Pendek Bawuk Karya Umar Kayam

  1. Pendahuluan

Kondisi suatu masyarakat akan dapat diketahui dari karya sastra. Hal tersebut disebabkan karya sastra merupakan sebuah cerminan yang ada di masyarakat dengan memasukkan unsur fiksi di dalamnya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Wellek dan Werren (1956). Dalam hal ini, Wellek dan Werren juga mengungkapkan bahwa sastrawan bertugas mengekspresikan pengalaman dan pahamnya yang menyeluruh tentang kehidupan. Akan tetapi, sastrawan akan melakukan tindakan keliru bila pengungkapan ekspresi dilakukan dengan selengkap-lengkapnya. Hal ini dapat melanggar kaidah karya sastra yang harus memuat unsur imajinatif atau fiksi. Jika unsur tersebut tidak ada pada sebuah tulisan, maka tulisan itu tidak dapat dikatakan sebagai sebuah karya sastra. Hal tersebut membuat pemahaman yang menyeluruh mengenai karya sastra ini perlu ditingkatkan dalam masyarakat. Hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan agar masyarakat tidak salah dalam menilai maupun membuat karya sastra.

Pemahaman mengenai baik atau buruknya karya sastra memudahkan masyarakat untuk memilah karya sastra yang patut dibaca dan karya sastra yang kurang cocok dibaca. Ketidakcocokan karya sastra tidak serta merta berhubungan dengan isi karya sastra. Hal tersebut bisa juga dilihat dari faktor eksternal yang mengelilingi karya sastra tersebut. Misalnya, adanya perbedaan politik, ideologi, dan sebagainya. Biasanya, karya sastra yang tidak diterima masyarakat karena adanya perbedaan politik dan ideologi dengan penguasa itu tidak dilakukan secara objektif. Subjektivitas menjadi dasar penerimaan atau penolakan karya sastra tersebut. Hal ini menyebabkan tidak semua karya sastra yang beredar di masyarakat adalah karya sastra yang memang layak dibaca. Hal tersebut sudah berlangsung pada masa Balai Pustaka. Penerbit Balai Pustaka hanya menerima karya sastra yang tidak mengandung pergerakan yang dapat membangkitkan semangat antikolonialisme. Bahkan, bisa dikatakan karya sastra yang diterbitkan Balai Pustaka tidak boleh mengomentari atau merendahkan Belanda.

Oleh karena itu, dalam tulisan ini hubungan sastra, politik, dan ideologi menjadi menarik dibahas lebih mendalam. Hubungan tersebut akan dibahas berdasarkan karya sastra yang tumbuh di tengah pergolakan keadaan bangsa yang masih memiliki usia dini ini. Hal tersebut disebabkan kondisi bangsa Indonesia yang tidak stabil pada tahun 1966 membuat bangsa ini mengalami pemasukan unsur politik, ideologi, dan kepentingan lainnya dari berbagai negara, termasuk munculnya unsur komunisme. Tulisan ini akan melihat apakah karya sastra pada masa pergolakan politik yang hebat ini dapat digolongkan ke dalam karya sastra baik untuk dibaca oleh masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan karya sastra pada masa ini cenderung menceritakan komunisme sebagai bahan cerita. Komunisme merupakan sebuah paham yang diutarakan Karl Marx yang berasal dari Uni Soviet. Paham ini tumbuh atas dasar ketidakadilan sistem liberal kaum Barat.

Selain itu, tulisan ini juga akan mengungkapkan apakah ada hubungan antara karya sastra, politik, dan ideologi. Hal-hal yang menyangkut hubungan tersebut akan dipaparkan dalam analisis. Landasan teori yang dipakai dalam melihat hubungan tersebut adalah teori hubungan sastra, politik, dan ideologi menurut Sapardi Djoko Damono dalam buku Pengantar Sosiologi Sastra Indonesia. Karya sastra yang dijadikan data dalam tulisan ini yang sekaligus merepresentasikan karya sastra yang dibuat pada masa pergolakan tahun 1966 adalah roman pendek yang berjudul Bawuk karya Umar Kayam. Hal ini disebabkan roman pendek ini mengungkapkan kisah perempuan yang terbawa arus komunisme karena suaminya adalah tokoh Partai Komunis Indonesia. Adanya unsur politik dan ideologi yang kuat dalam karya sastra ini membuat penulis tertarik menjadikan roman pendek ini sebagai data.

 

2. Hubungan Sastra, Politik, dan Ideologi Menurut Sapardi Djoko Damono

Dalam tulisan ini, gagasan dan teori mengenai hubungan antara sastra, politik, dan ideologi yang dipakai adalah gagasan dan teori yang dipaparkan oleh Sapardi Djoko Damono. Ia mengungkapkan bahwa terdapat empat aspek keterkaitan antara sastra, politik, dan ideologi. Pertama, pemikiran mengenai hal ini ternyata telah dipikirkan oleh Plato yang seorang filsuf Yunani pada masa sebelum Masehi. Hal yang dijelaskan oleh Plato adalah hubungan antara sastra dan masyarakat. Ia menyatakan bahwa sesuatu yang ada di dunia ini sebenarnya hanyalah sebuah tiruan dari kenyataan tertinggi yang ada di dunia ide. Dalam hal ini, meja, kursi, dan lain sebagainya adalah hasil dari tiruan yang ada di dunia ide. Bila sastrawan menggambarkan benda-benda tersebut berarti karya sastra tersebut juga sama saja meniru tiruan dari barang tiruan. Dapat dikatakan, sastrawan membawa pembaca kepada dunia kenyataan tertinggi dengan menjauhkan dunia ide. Hal ini disebabkan ada pandangan yang berpendapat bahwa sesuatu yang berguna dalam kehidupan nyata atau mendekati dunia nyata akan jauh lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dunia ide.

Kedua, Plato juga berkeyakinan bahwa setiap warga negara yang ideal adalah masyarakat yang lebih banyak menggunakan akal sehat dan bukan perasaannya. Dalam hal ini, sastra tidak cocok untuk masyarakat yang berpikir sehat. Pemikiran ini seperti ini membuat karya sastra harus dijauhkan dari masyarakat. Pasalnya, masyarakat yang mempunyai akal sehat akan berpandangan bahwa lebih baik menciptakan tindakan daripada hanya membuat gambaran tindakan. Terlebih lagi, masyarakat yang lebih menggunakan akal sehat juga akan berpandangan bahwa lebih baik menjadi bagian yang ditiru daripada hanya menciptakan barang tiruan. Teori plato tersebut masih sangat kuat pengaruhnya terhadap pola pikir masyarakat.

Ketiga, Bradbury mengungkapkan bahwa sastrawan yang semakin eksentrik dan suka mengritik, maka karya sastra yang dihasilkan akan semakin unggul dibandingkan karya sastra yang dihasilkan oleh sastrawan yang mempunyai sikap sebaliknya. Hal ini didasarkan pada perkembangan masyarakat barat yang memberikan kebebasan kepada pengarang untuk melancarkan hak untuk membangkang, menentang, dan bersikap kasar. Meskipun demikian, tidak semua sastrawan memanfaatkan hak-hak yang dimiliki untuk menciptakan karya sastra. Terakhir, dalam masyarakat barat terdapat nalar kaum humanis yang konvensional di balik toleransi yang besar terhadap keterbukaan seksual atau etika pembangkangan. Dalam hal ini, karya sastra  bertujuan mendidik dan memperluas pengetahuan kita tentang kehidupan. Selain itu, karya sastra juga dapat meningkatkan kepekaan perasaan dan membangkitkan kesadaran kita akan suatu permasalahan yang terdapat di masyarakat. Bradbury juga mengungkapkan karya sastra yang baik atau karya sastra yang akan menjadi klasik adalah karya sastra yang dapat menemukan ungkapan dalam mencari makna di tengah-tengah dunia yang bercerai berai. Biasanya, karya sastra tersebut mencerminkan segala ciri pengarang.

 

3. Hubungan Sastra, Politik, dan Ideologi dalam Roman Pendek Bawuk Karya Umar Kayam

Hubungan sastra, politik, dan ideologi dapat terlihat dalam empat aspek seperti yang sudah dipaparkan dalam landasan teori. Pertama, ada pandangan yang berpendapat bahwa sesuatu yang berguna dalam kehidupan nyata atau mendekati dunia nyata akan jauh lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dunia ide. Maksudnya, karya sastra yang menggambarkan kehidupan sesungguhnya atau realis lebih bagus dibandingkan karya sastra yang penuh dengan khayalan imajinatif pengarang. Dalam hal ini, roman pendek Bawuk menggambarkan kehidupan yang mendekati sesungguhnya. Hal tersebut dapat terlihat dalam kutipan di bawah ini.

 

“Mereka mendengar tentang keadaan S, tentang siapa-siapa yang tertangkap di S. Mereka mendengar tentang Aidit yang berada di sekitar Solo, dan mereka mendengar tentang sikap Sukarno terhadap Gestapu yang disebutnya Gestok.” (hlm.103)

 

Kutipan di atas dapat menjelaskan bahwa cerita ini menggambarkan kehidupan yang mendekati sesungguhnya di masyarakat. Hal tersebut ditandai dengan adanya latar tempat yang dirahasiakan. Misalnya, (kota) S. Padahal, bisa saja pengarang menulis asal nama kota tanpa harus menuliskan inisial kota saja. Hal ini membuktikan bahwa pengarang menulis sebuah karya sastra realis. Meskipun karya sastra harus memuat unsur fiksi, tetapi pada kutipan di atas menerangkan bahwa sebisa mungkin pengarang menceritakan kejadian yang menyerupai aslinya. Pemberian inisial nama kota ini menjadi ganjil pula ketika ada nama kota yang disebutkan dengan jelas, seperti Solo. Nama kota yang tidak diberi inisial ini bukan merupakan nama kota karangan. Kota Solo adalah nama daerah di Provinsi Jawa Tengah. Hal tersebut membuktikan bahwa pengarang tidak menulis atas dasar dunia ide semata. Namun, pengarang menulis sesuatu yang berguna pada kehidupan nyata atau mendekati dunia nyata.

Hal tersebut diperkuat dengan adanya nama tokoh yang juga bukan merupakan sebuah nama karangan dari pengarang. Nama-nama yang menjadikan roman pendek ini dapat diduga sebagai karya sastra yang menulis kehidupan nyata adalah Sukarno dan Aidit. Tokoh Sukarno di dalam roman pendek ini disebut sebagai presiden Indonesia. Hal tersebut terlihat dari adanya pandangan Sukarno atas permasalahan di negeri ini. Biasanya, pandangan presiden dalam melihat masalah akan menjadi dasar pandangan masyarakat pula. Peran tokoh Sukarno sebagai presiden dalam roman pendek ini sama dengan peran Sukarno dalam kehidupan nyata. Selain itu, tokoh Aidit dalam kutipan di atas terlihat sebagai tokoh yang dicari keberadaannya. Dalam kutipan di atas belum terlihat jelas siapa tokoh Aidit, tetapi bila merujuk kepada tokoh Sukarno yang perannya sesuai dengan kehidupan nyata dapat diketahui bahwa Aidit adalah tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI). Adanya kesamaan peran dalam roman pendek yang sesuai dengan kehidupan nyata membuat roman pendek ini berhubungan dengan unsur politik dan ideologi yang ingin disampaikan pengarang.

Kedua, Plato berkeyakinan bahwa warga negara yang ideal adalah masyarakat yang menggunakan akal sehat dibandingkan perasaan. Hal tersebut pula yang mendasari roman pendek Bawuk ini. Dalam roman pendek ini, cerita tidak menjadi bagian yang dapat ditiru. Hal ini disebabkan roman pendek ini memaparkan kepahitan yang dialami orang yang terlibat dalam ideologi komunis walaupun tokoh dalam cerita tidak menyadari hal tersebut. Hal tersebut menandakan roman pendek ini menjelaskan hal yang seharusnya tidak boleh ditiru. Hal tersebut bertentangan dengan Plato yang memaparkan bahwa lebih baik menjadi bagian yang ditiru. Meskipun demikian, memaparkan akibat atas hal buruk juga dapat menjadi salah satu contoh untuk menjadi dasar menghindari hal serupa atau sejenis di kemudian hari. Hal tersebut dapat terlihat pada kutipan di bawah ini.

 

“Aku kawin dengan seorang pemimpin gila. Aku tidak seberuntung Yu Mi dan Yu Syul bisa kawin dengan priyayi yang terpandang. Aku ketemu dengan seorang yang SMA pun tidak tamat. Seorang mimpi bahwa tanpa ijazah, tanpa kedudukan resmi orang pun bisa dipandang di masyarakat. Alangkah tololnya dia. Dia mengira dia mengetahui masyarakat kita. Tapi sesungguhnya dia tidak tahu apa-apa. Seharusnya dia menamatkan sekolahnya, meneruskannya di dalam negeri atau di luar negeri, mengusahakan tempat kedudukan yang baik di pemerintahan dan dari sana terus maju lagi paling tidak jadi kepala bagian, sukur-sukur jadi direktur atau dirjen. Yang dia kerjakan malah berhenti sekolah, jadi marxis, belajar intrik, kasak-kusuk lagi, mimpi lagi dan akhirnya malah berontak.” (hlm. 121)

 

Pada kutipan di atas, tokoh Bawuk menceritakan penyesalannya terhadap suaminya. Suami Bawuk merupakan pemimpin PKI yang sedang melakukan pemberontakan. Jalan hidup yang berliku-liku seperti ini membuat Bawuk tersadar akan pandangannya yang keliru. Kesadaran Bawuk atas kekeliruan yang telah dilakukan suaminya dilatarbelakangi oleh adanya pemikiran menggunakan akal sehat. Kutipan di atas tersebut menandakan bahwa bawuk lebih menggunakan akal sehat dibandingkan perasaan. Pandangan ini menyangkut ideologi yang dipegang oleh seseorang. Dalam hal ini, Bawuk dan suami memegang ideologi komunis. Hal tersebut terlihat jelas dari ketimpangan hidup antara Bawuk dan saudaranya yang tidak memegang ideologi komunis tersebut. Selain itu, adanya ideologi komunis yang dipegang oleh bawuk dan suaminya ditandai dengan adanya kata marxis dalam kutipan di atas. Kata tersebut merujuk kepada pengikut paham Karl Marx yang merupakan seorang tokoh komunis. Sayangnya, adanya keadaan politik yang berlainan dengan paham ini membuat ideologi komunis tidak bisa menyebar secara luas. Hal tersebut menandakan adanya hubungan antara sastra, politik, dan ideologi.

Kutipan di atas juga menjelaskan bahwa ideologi komunis yang dipegang seseorang akan berlawanan dengan keadaan politik negara ini. Hal tersebut akan membuat seseorang yang mempunyai ideologi tersebut tidak akan mendapat tempat di masyarakat. Hal itu juga akan mempunyai keterkaitan dengan faktor lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Contoh tokoh Bawuk pada kutipan di atas dapat dijadikan pelajaran hidup bahwa seseorang harus berhati-hati dalam menentukan ideologi yang akan dijadikan pedoman hidup. Faktor keadaan politik negara juga harus menjadi perhatian dalam menentukan ideologi. Meskipun roman pendek ini tidak memberikan contoh untuk ditiru, tetapi contoh buruk tersebut akan berguna untuk pelajaran masyarakat dalam bertindak sehingga pembaca dapat menjadi warga negara yang ideal dengan penekanan pada aspek pemikiran menggunakan akal sehat seperti yang telah dilakukan tokoh Bawuk pada akhir cerita.

Ketiga, Bradbury mengungkapkan bahwa sastrawan yang semakin eksentrik dan suka mengritik, maka karya sastra yang dihasilkan akan semakin unggul. Dalam hal ini, Umar Kayam sebagai pengarang mencoba mengkritik paham atau ideologi komunis yang ada di Indonesia. Ideologi tersebut diceritakan sebagai sebuah ideologi yang dapat menghancurkan hidup seseorang. Padahal, tokoh Bawuk merupakan tokoh yang pintar dan memiliki pendidikan yang terbilang tinggi. Namun, kesalahan pemilihan suami yang memiliki ideologi komunis dengan adanya kondisi politik yang tidak memihak justru membuat hidup tokoh Bawuk ini jatuh. Hal tersebut dapat terlihat pada kutipan di bawah ini.

 

“Aduh, Mas Sun, sedih saya kalau sudah mulai bertanya tentang salah dan tidak salah. Dari sudut keluarga ini perkawinanku dengan Mas Hassan sudah sejak semula salah. Kalau aku tempo hari mau saja kawin dengan akademikus yang baik atau seorang perwira simpatik kaya Mas Sun, dan tidak dengan seorang revolusioner, komunis dan sekarang berontak lagi, semuanya bukankah sudah beres?” (hlm. 117)

 

Pada kutipan di atas, Bawuk menyadari kesalahan dalam memilih pasangan hidup membuatnya harus menelan pil pahit kehidupan atas keputusannya tersebut. Hal ini diceritakan sebagai upaya pengarang dalam mengkritik ideologi komunis. Ideologi ini digambarkan oleh pengarang sebagai ideologi yang tidak cocok diterapkan di Indonesia. Selain itu, pengarang juga melancarkan kritik dengan menggambarkan kehidupan tokoh Bawuk yang tidak beres. Kritik tersebut disandingkan dengan perbandingan kehidupan tokoh yang lain. Adanya perbandingan tersebut semakin memperlihatkan bahwa ideologi komunis tidak baik untuk masyarakat Indonesia. Adanya kritik yang diutarakan pengarang menandakan bahwa roman pendek Bawuk ini merupakan karya sastra yang unggul sehingga masyarakat patut membaca dan menjadikan tokoh Bawuk sebagai pelajaran hidup yang sangat berharga.

Aspek terakhir adalah karya sastra yang baik atau karya sastra yang akan menjadi klasik adalah karya sastra yang dapat menemukan ungkapan dalam mencari makna di tengah-tengah dunia yang bercerai berai. Hal tersebut juga terdapat dalam roman pendek Bawuk ini. Di balik penyesalan tokoh Bawuk akan ideologi yang dianut suaminya, ternyata tokoh ini menemukan makna hidup yang menjadi bagian dari dirinya. Meskipun harus hidup dalam dunia yang tidak aman, tetapi setidaknya tokoh Bawuk telah menemukan lingkungan yang sesuai dengan dirinya. Kesesuaian tersebut tidak didasarkan enak atau tidaknya hidup. Tokoh Bawuk mengajarkan masyarakat bahwa hidup harus sesuai dengan apa yang diinginkan walaupun hidup tersebut tidak enak. Hal tersebut terlihat dalam kutipan di bawah ini.

 

“Tapi mas-mas, mbak-mbak, mammie-pappie, itulah dunia pilihanku. Dunia abangan yang bukan priyayi, dunia yang selalu rendah dan gelisah, dunia yang penuh ilusiyang memang seringkali bisa indah sekali.” (hlm.121)

 

Pada kutipan di atas, tokoh Bawuk menjelaskan kepada seluruh anggota keluarga mengenai pandangan dan tindakan yang telah dilakukannya selama ini. Tokoh Bawuk memaparkan bahwa hidup yang sedang dijalaninya sekarang adalah hidup yang sebenarnya dikehendakinya walaupun kontras dengan kehidupan keluarganya yang tidak seperti itu. Namun, adanya keadaan politik yang tidak memihak atas ideologi yang dianut oleh Bawok dan suaminya membuat hidup Bawok semakin terpuruk. Di sisi lain, hal yang menarik pada kutipan di atas adalah sikap tokoh Bawok yang tetap pada pendirian atas apa yang telah dilakukannya. Hal ini dapat dijadikan pelajaran hidup bagi masyarakat. Sikap teguh pada pendirian dan bertanggung jawab atas apa yang sudah dipilih  sangat penting untuk diterapkan dalam setiap individu pada masyarakat Indonesia. Hal tersebut pula yang menjadikan roman pendek ini tergolong ke dalam roman pendek klasik.

 

4. Penutup

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa roman pendek yang berjudul Bawuk karya Umar Kayam adalah karya sastra yang unggul dan bagus. Hal ini didaasarkan pada isi cerita yang menggambarkan kemiripan kehidupan nyata dengan mengesampingkan unsur fiksi. Unsur tersebut hanya tidak dominan dalam cerita, tetapi unsur khayalan atau fiksi tetap ada dan tidak hilang. Selain itu, roman pendek ini juga terbilang bagus karena dapat mengajarkan masyarakat menggunakan akal pikiran untuk menjadikan masyarakat yang membaca karya sastra ini sebagai warga negara yang ideal. Kemudian adanya kritik atas adanya ideologi komunis dan adanya pelajaran yang dapat dijadikan pedoman hidup masyarakat juga menjadikan roman pendek ini dapat bertahan lama hingga sekarang atau klasik.

Tidak hanya itu, dalam roman pendek ini juga memaparkan adanya hubungan antara karya sastra, politik, dan ideologi. Dalam hal ini, karya sastra merupakan wadah atau sarana bagi pengarang untuk melontarkan berbagai pandangan atau ideologi terkait permasalahan yang ada di masyarakat. Biasanya, permasalahan tersebut mempunyai pengaruh dengan faktor politik di negara tersebut. Sikap menerima atau menolak pandangan atau ideologi tertentu tergantung kepada keadaan politik yang ada. Bila keadaan politik tidak memungkinkan untuk seseorang mempunyai pandangan atau ideologi tertentu, maka seseorang tersebut akan mengalami kejatuhan. Sebaliknya, seseorang yang menerapkan ideologi yang disesuaikan dengan keadaan politik negara tersebut, maka seseorang tersebut akan tidak mengalami kejatuhan. Bahkan, seseorang yang ikut dalam ideologi yang sesuai dengan keadaan politik akan dapat menempati posisi atau kedudukan yang membuat hidup akan lebih baik dan enak.

Meskipun demikian, roman pendek ini tetap mengajarkan kepada masyarakat untuk memilih pilihan hidup yang disesuaikan dengan pilihan sendiri. Memang, pilihan hidup sendiri belum tentu membawa seseorang akan hidup enak. Namun, setidaknya seseorang yang mempunyai pilihan hidup sendiri akan lebih menikmati hidup dan mengetahui hakikat hidup yang baik dan buruk. Hal tersebut membuat seseorang yang telah menemukan hakikat hidup yang baik akan mengajarkan hakikat hidup yang baik tersebut kepada keturunannya atau kepada lingkungan sekitar. Intinya, segala tindakan yang ditempuh berdasarkan ideologi tertentu harus memerhatikan keadaan politik yang sedang berkembang di masyarakat. Dalam hal ini, pemikiran akal sehat sangat diperlukan dalam menentukan langkah sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari.

 

DAFTAR PUSTAKA

Kayam, Umar. 1975. Sri Sumarah dan Bawuk. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

Wasono, Sunu, dkk (ed.). Pengantar Sosiologi Sastra Indonesia. Depok: Program Studi Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 14, 2014 by in Makalah.
%d bloggers like this: