Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Teori Proposisi Menurut Mildred L. Larson

Dalam buku Penerjemahan Berdasar Makna, Larson mengungkapkan proposisi adalah pengelompokan konsep ke dalam satuan bermakna. Konsep tersebut ada yang berupa inti dan konsep lainnya berhubungan langsung dengan konsep inti. Misalnya, konsep TONO, ANTON, dan MEMUKUL dapat digabungkan untuk membentuk proposisi. Perbuatan MEMUKUL adalah konsep inti. Jika TONO yang memukul dan ANTON yang dipukul, proposisinya adalah Tono memukul Anton. Jika TONO yang dipukul dan ANTON yang memukul, proposisinya adalah Anton memukul Tono. Dalam skala yang lebih besar, jika ada kalimat Tono menolak tawaran Anton, dapat dilihat proposisinya ada dua, yaitu Tono menolak dan Anton menawar.

Konsep yang terdapat dalam proposisi adalah BENDA, KEJADIAN, dan ATRIBUT. Jika konsep inti merupakan konsep KEJADIAN, proposisinya disebut proposisi kejadian. Biasanya, proposisi kejadian ditandai dengan verba. Kemudian jika konsep intinya merupakan BENDA atau ATRIBUT, proposisinya disebut proposisi keadaan. Konsep BENDA dapat dikenali dengan bentuk nomina, sedangkan konsep ATRIBUT dapat diketahui dari bentuk ajektiva. Konsep KEJADIAN dapat merujuk ke dalam bentuk perbuatan, pengalaman, atau proses. Jenis perbuatan dapat terlihat dalam konsep BERLARI, MEMUKUL, dan MEMAKAN. Jenis pengalaman merujuk ke aktivitas panca indera, seperti MELIHAT, MENDENGAR, dan BERPIKIR. Jenis proses ditandai dengan konsep perubahan keadaan, seperti MENINGGAL, MEMBEKU, dan MENJADI ASAM.  Hal tersebut berbeda dengan proposisi keadaan yang dapat dilihat dalam dua bentuk, yaitu topik dan sebutan. Topik adalah konsep yang dibicarakan, sedangkan sebutan terdiri dari BENDA atau ATRIBUT yang digunakan untuk menandai topik dan hubungan keadaan itu. Kalimat Buku itu milik Anton memperlihatkan bahwa topiknya adalah BUKU dan sebutannya adalah ANTON.

Setelah mengetahui klasifikasi proposisi, penelitian dilanjutkan dengan melihat relasi dalam proposisi tersebut. Relasi dalam proposisi kejadian dan proposisi keadaan mempunyai perbedaan. Relasi dalam proposisi kejadian dinamakan peran kasus. Relasi dalam proposisi ini mempunyai dua belas peran kasus, yaitu pelaku, penyebab, penderita, pemeroleh, penyerta, hasil, alat, tempat, sasaran, waktu, cara, dan ukuran. Pelaku adalah BENDA yang melakukan perbuatan. Misalnya, John berlari cepat. Penyebab adalah BENDA (orang atau benda) yang menyebabkan adanya KEJADIAN (perbuatan atau proses). Misalnya, Surya menjatuhkan Joni. Penderita adalah BENDA yang mengalami KEJADIAN atau dipengaruhi oleh KEJADIAN. Misalnya, Anjing makan daging. Jika KEJADIAN merupakan perbuatan, penderitanya adalah objek kalimat berupa verba, sedangkan jika KEJADIAN merupakan pengalaman atau proses, penderitanya adalah subjek kalimat. Pemeroleh adalah BENDA yang beruntung atau rugi karena KEJADIAN itu. Misalnya, dalam proposisi Mary memberikan buku kepada ibunya, kata bukunya adalah penderita, dan ibunya adalah pemeroleh. Penyerta adalah BENDA yang ikut mengambil bagian dan berhubungan erat dengan pelaku, penyebab, atau penderita dalam sebuah KEJADIAN. Misalnya, Saya makan malam dengan istri saya. Hasil merupakan sesuatu yang dihasilkan oleh KEJADIAN. Misalnya, Mary menulis surat. Alat adalah BENDA tak bernyawa yang digunakan untuk melaksanakan KEJADIAN. Misalnya, Maria menulis dengan pensil. Tempat adalah BENDA yang menunjukkan penempatan spasial KEJADIAN, yaitu sumber, tempat, tempat tujuan dari suatu KEJADIAN. Misalnya, Jangan melarikan diri dari rumah. Sasaran adalah BENDA yang dituju oleh perbuatan. Misalnya, dalam proposisi Ia melemparkan bola kepada temannya, kata bola merupakan penderita dan temannya adalah sasaran. Waktu adalah penempatan temporal dari KEJADIAN. Misalnya, John masuk kuliah tiga minggu lalu. Cara adalah keterangan KEJADIAN. Misalnya, Orang itu berlari dengan cepat. Ukuran adalah keterangan jumlah atau frekuensi KEJADIAN. Misalnya, Jane sering berdoa.

Perbedaan relasi dalam proposisi kejadian dan keadaan dapat terlihat dari jumlah relasinya. Jika relasi dalam proposisi kejadian berjumlah dua belas, relasi dalam proposisi keadaan berjumlah lima belas. Penamaan relasi kedua relasi pun berbeda. Jika relasi dalam proposisi kejadian dinamakan peran kasus, relasi dalam proposisi keadaan dinamakan peran keadaan. Tabel di bawah ini menunjukkan peran keadaan beserta contoh bentuk proposisi dalam bahasa Indonesia.

Topik Peran Keadaan Sebutan Proposisi
anjing penamaan Fido Nama Anjing itu Fido.
mobil itu kepemilikan saya Mobil itu milik saya.
mobil tempat garasi Mobil itu berada di garasi.
merah klasifikasi warna Merah adalah sejenis warna.
meja bahan kayu Meja itu terbuat dari kayu.
cerita pelukisan Bill Cerita itu tentang Bill.
direktur identifikasi Mr. Jones Mr. Jones adalah direkturnya.
buku pemerian kecil Buku itu kecil.
Mary kekerabatan kakak saya Mary adalah kakak saya.
Bill peran sosial dokter Bill adalah seorang dokter.
tas ini perwadahan beras Tas ini berisi beras.
bukti eksistensi Itu buktinya.
cuaca suasana panas Panas sekali.
waktu waktu siang Sudah siang.

 

Pengelompokan proposisi ini harus dikaitkan dengan satuan yang lebih besar. Pengait kelompok proposisi ini disebut hubungan penambahan dan hubungan pendukung. Hubungan penambahan dilakukan apabila proposisi tidak ada yang lebih prominen atau mengandung inti yang sama. Sebaliknya, hubungan pendukung dilakukan apabila proposisi hanya bersifat mendukung proposisi yang lebih prominen. Hubungan keduanya dibedakan dengan huruf besar dan huruf kecil. Huruf besar digunakan untuk mengungkapkan proposisi induk, sedangkan huruf kecil digunakan untuk mengungkapkan proposisi pendukung. Misalnya, kalimat Maria menyapu lantai karena lantainya kotor, proposisi induknya merupakan HASIL ditandai dengan Maria menyapu lantai dan proposisi pendukung merupakan alasan ditandai dengan karena lantainya kotor. Contoh tersebut yang disebut hubungan pendukung. Contoh dari hubungan penambahan adalah Mula-mula Yanto memotong rumput, sesudah itu ia memperbaiki pagar, dan mengecat pintu. Dalam hal ini, ketiga proposisi tersebut sama-sama melakukan pekerjaan dan tidak ada yang lebih prominen. Hal tersebut disebabkan adanya kesamaan waktu diantara ketiganya. Hubungan ini dapat berupa alasan-HASIL, sarana-TUJUAN, dasar-KESIMPULAN, konsesi-LAWAN HARAPAN, syarat-KONSEKUENSI, dan keadaan-INDUK.

Selain itu, terdapat pula hubungan lainnya, seperti hubungan orientasi, hubungan penjelasan, dan hubungan logis. Dalam hubungan orientasi, jenis hubungan utamanya adalah keadaan-INDUK dan pengarah-ISI. Hubungan keadaan-INDUK ditandai dengan adanya keadaan tempat, waktu, dan latar belakang. Proposisi yang dihubungkan harus menggunakan proposisi keadaan. Salah satu contoh adanya faktor tempat terlihat dalam dua proposisi Ia sedang berjalan di pasar dan Ia melihat Budi. Proposisi Ia berjalan di pasar merupakan keadaan, sedangkan proposisi Ia melihat Budi adalah INDUK. Kemudian hubungan pengarah-ISI ditandai dengan proposisi kejadian seperti tabel di bawah ini.

Jenis Contoh Kata Kejadian
wicara mengatakan, memerintah, memperingatkan, menjanjikan
persepsi melihat, mendengar, merasa, mencium, mencicipi
kognisi mengetahui, mengingat, berpikir, menyetujui
volisi (kehendak) memutuskan, menghendaki, menginginkan, bermaksud
evaluasi bagus, benar, salah

Contoh dari hubungan pengarah-ISI terlihat dalam kalimat katakan kepadanya jangan pergi. Proposisi Kamu mengatakan kepadanya adalah pengarah dan proposisi Jangan pergi adalah ISI. Selanjutnya, hubungan penjelasan dibagi menjadi dua, yaitu hubungan penjelasan dengan pengungkapan kembali dan hubungan penjelasan tanpa pengungkapan kembali. Hubungan penjelasan pengungkapan kembali adalah INDUK-padanan, INDUK-amplifikasi, dan GENERIK-spesifik. Hubungan INDUK-padanan ditandai dengan sinonim atau makna yang sama. Misalnya, dalam kalimat Bersukacita dan bergembiralah, proposisi kamu bergembira adalah INDUK, sedangkan proposisi kamu bersukacita adalah padanan. Selanjutnya, hubungan INDUK-amplifikasi ditandai dengan informasi tambahan berupa partisipan, waktu, tempat, atau cara. Misalnya, dalam kalimat Ia buka prakter dokter, proposisi Ia merawat (orang yang sakit) dengan obat adalah INDUK, sedangkan proposisi Ia merawat (orang) di klinik di kota adalah amplifikasi. Kemudian, hubungan GENERIK-spesifik ditandai dengan proposisi umum dan proposisi khusus. Proposisi umum ini disebut GENERIK dan proposisi khusus adalah spesifik. Misalnya, proposisi GENERIK terlihat dalam proposisi badu bekerja keras sepanjang hari, sedangkan proposisi spesifik terlihat dalam proposisi Badu memotong rumput.

Jika hubungan penjelasan pengungkapan kembali hanya berjumlah tiga, hubungan penjelasan tanpa pengungkapan kembali berjumlah empat, yaitu perbandingan-INDUK, ilustrasi-INDUK, cara-INDUK, dan kontras-INDUK. Hubungan perbandingan-INDUK ditandai dengan prefiks se-, kata sebagai, seperti, dari, atau daripada. Misalnya, dalam kalimat Rambutnhya putih seperti kapas. Proposisi kapas itu putih menjadi perbandingan dan proposisi rambutnya putih adalah INDUK. Hubungan ilustrasi-INDUK ditandai dengan adanya contoh. Misalnya, Allah akan mulai memerintahkan sangat sedikit orang dan akhirnya akan memerintah sangat banyak orang seperti halnya tanaman sesawi yang mulai dengan benih yang sangat kecil dan tumbuh menjadi pohon yang sangat besar. Hubungan cara-INDUK ditandai dengan adanya peran cara. Misalnya, kalimat Ia berjalan cepat, meninggalkan teman-temannya. Proposisi Ia meninggalkan teman-temannya adalah INDUK, sedangkan proposisi Ia berjalan cepat adalah cara. Hubungan kontras-INDUK ditandai dengan adanya pertentangan. Misalnya, kalimat Saya pergi kuliah hari ini, tetapi Budi tidak terdiri dari proposisi Saya kuliah hari ini adalah INDUK dan proposisi Budi tidak pergi kuliah hari ini adalah kontras.

Ada pula hubungan logis yang merupakan hubungan pendukung-INDUK nonkronologis yang selalu terdapat konsep atau gagasan sebab-AKIBAT. Hubungan ini dibedakan menjadi alasan-HASIL, sarana-HASIL, tujuan-SARANA, konsesi-LAWAN HARAPAN, dasar-KESIMPULAN, dasar-DESAKAN, dan syarat-KONSEKUENSI. Hubungan alasan-HASIL ditandai dengan kata karena, sebab, oleh karena itu, jadi, dan maka. Misalnya, kalimat Tini mengambil cuti karena ia capek mempunyai proposisi Tini mengambil cuti adalah HASIL dan proposisi Tini capek adalah alasan. Hubungan sarana-HASIL ditandai dengan kata dengan dan melalui. Misalnya, kalimat Kita akan sembuh dengan meminta dokter menyuntik kita. Proposisi kita akan sembuh adalah HASIL dan proposisi dengan bantuan dokter yang menyuntik (kita) adalah sarana. Hubungan tujuan-SARANA ditandai dengan konjungsi agar, supaya, untuk, dan sehingga. Perbedaannya dengan sarana-HASIL adalah HASIL sudah tercapai, sedangkan tujuan mungkin belum tercapai. Misalnya, kalimat Ia pergi memanggilnya untuk makan siang terdiri dari proposisi ia pergi adalah SARANA dan proposisi (agar) ia memanggilnya untuk makan siang adalah tujuan. Hubungan konsesi-LAWAN HARAPAN ditandai dengan konjungsi walaupun, walau, biarpun, meskipun, dan sungguhpun. Misalnya, kalimat Walaupun dokter menganjurkan Joko untuk tidak ke luar rumah, ia tetap pergi menonton bola. Proposisi dokter menyuruh Joko tidak ke luar rumah adalah sebab atau konsesi dan proposisi Joko pergi menonton bola adalah LAWAN HARAPAN. Hubungan dasar-KESIMPULAN ditandai dengan konjungsi oleh karena itu, maka, pasti, saya berkesimpulan bahwa, dan kesimpulannya, yaitu. Selain itu, hubungan ini juga dapat ditandai dengan suatu pernyataan jika KESIMPULAN. Misalnya, kalimat Maria sakit parah sekali, mungkin akan meninggal terdapat proposisi Maria sakit parah sekali sebagai dasar dan proposisi Mungkin Maria akan meninggal adalah KESIMPULAN. Hubungan dasar-DESAKAN ditandai dengan suatu perintah jika DESAKAN dan adanya konjungsi jadi, maka, dan oleh karena itu. Misalnya, kalimat Ayah baru saja mengecat meja itu, jadi jangan menyentuhnya memiliki proposisi Ayah mengecat meja itu sebagai dasar dan proposisi (kamu) jangan menyentuh meja itu sebagai DESAKAN. Terakhir, hubungan syarat-KONSEKUENSI ditandai dengan kata jika. Misalnya, kalimat Jika saya masih muda, saya akan memilih tinggal di eropa. Proposisi jika saya masih muda adalah syarat dan proposisi saya akan memilih tinggal di eropa adalah KONSEKUENSI.

 

Sumber:

Larson, Mildred L. 1988. Penerjemahan Berdasarkan Makna: Pedoman untuk Pemadanan Antarbahasa. Jakarta: Penerbit Arcan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 18, 2014 by in Linguistik.
%d bloggers like this: