Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Pemahaman Cinta Tanah Air Masyarakat Indonesia.

Nasionalisme bangsa Indonesia dapat dianggap sebagai cita-cita bangsa. Hal tersebut tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Seperti yang telah diketahui bersama, Pembukaan UUD 1945 ini tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Hal tersebut disebabkan Pembukaan UUD 1945 selalu dibacakan setiap upacara bendera hari Senin pada waktu sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Hal ini membuat Pembukaan UUD 1945 sudah melekat di otak kita sehingga kita dapat dengan mudah hafal di luar kepala. Namun, tidak semua anak di Indonesia dapat mendengar nasionalisme bangsa Indonesia tersebut, terutama anak di daerah perbatasan dan terluar Indonesia. Upacara bendera saja jarang dilakukan di daerah perbatasan. Selain memang jumlah murid yang terbatas atau sedikit, jumlah guru pun juga sangat terbatas sehingga pada sekolah yang terletak di perbatasan sulit melakukan upacara bendera dengan lengkap seperti daerah lainnya.

 

Dalam Pembukaan UUD 1945, terdapat beberapa poin hakikat identitas kebangsaan. Pertama, ada semangat antikolonialisme. Hal tersebut didasarkan oleh pengalaman historis setiap daerah yang pernah dijajah. Pengalaman historis yang sama tersebut membuat beberapa daerah dapat dipersatukan dengan sebutan Indonesia. Kedua, pada pembukaan UUD 1945 juga terdapat amanat negara untuk dapat menyejahterakan masyarakat dengan memberikan perlindungan sosial. Hal tersebut dapat dibilang sebagai kewajiban negara yang harus dipenuhi kepada warga negaranya atau rakyatnya. Kewajiban tersebut harus dipenuhi oleh negara secara menyeluruh. Sementara itu, ada pula makna internasionalisme yang terkandung dalam identitas kebangsaan. Internasionalisme ini diartikan sebagai semangat nasionalisme Indonesia yang bersifat kosmopolit. Misalnya, dukungan negara Indonesia pada kemerdekaan negara lain, seperti india dan Aljazair. Peran aktif Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga termasuk ke dalam makna internasionalisme. Poin terakhir yang ada dalam hakikat bangsa adalah pancasila sebagai dasar negara. Hal tersebut ditujukan untuk menuju cita-cita bersama bangsa Indonesia. Cita-cita bangsa Indonesia adalah menciptakan masyarakat yang adil dan makmur.

 

Namun, di balik beberapa poin yang telah disebutkan di atas ternyata ada pengkerdilan makna nasionalisme itu sendiri. Hal tersebut disebabkan banyak hal-hal yang ada di masyarakat yang sebenarnya tidak sesuai dengan Pembukaan UUD 1945. Kata “bela negara” juga telah mengalami pergeseran. Untuk saat ini, bela negara harus dipertanyakan kembali. Pertanyaan seperti siapa yang harus dibela sekiranya perlu ditinjau lebih mendalam. Hal tersebut dimaksudkan adanya faktor masyarakat yang sekarang ini lebih memihak kepada kepentingan tertentu dibandingkan kepentingan umum. Penafsiran “NKRI harga mati” juga telah mengalami kekenduran. Padahal, arti dari NKRI harga mati adalah persatuan Republik Indonesia harus diperjuangkan semaksimal mungkin tanpa ada pertimbangan lainnya. Akan tetapi, untuk sekarang ini ungkapan “NKRI harga mati” hanya akan sekadar menjadi slogan dengan tidak dilaksanakan dalam kehidupan di masyarakat. Hal demikian disebabkan banyaknya diskon dalam hal ini yang berbanding terbalik dengan semboyan “NKRI harga mati”. Masyarakat tidak menghayati secara benar maksud dari kata-kata tersebut. Pemahaman yang kurang juga menjadikan hal tersebut terjadi di masyarakat.

 

Pengkerdilan makna nasionalisme lainnya adalah sikap masyarakat yang hanya sekadar mengartikan nasionalisme dengan hafal lagu nasional, melaksanakan upacara bendera, dan memakai baju batik. Sikap keliru yang ada di masyarakat tersebut semakin membuat arah makna nasionalisme berubah haluan. Bahkan, bisa dibilang nasionalisme hanya sebuah formalitas belaka tanpa adanya penghayatan terhadap nilai-nilai nasionalisme itu sendiri. Hal tersebut juga terlihat dalam ungkapan “Ganyang Malaysia” yang diucapkan oleh Bung Karno pada salah satu pidatonya. Pemahaman yang tidak utuh dan tidak menyeluruh membuat masyarakat tidak akan mengetahui esensi atau maksud sebenarnya dari ungkapan yang diutarakan presiden pertama Indonesia tersebut. Jika mengutip dari salah satu pidato Presiden Sukarno, maksud dari “Ganyang Malaysia” adalah sikap tidak terima terhadap tudingan Malaysia kepada Indonesia yang akan merebut sabah dan Serawak. Dalam pidatonya, Presiden Sukarno mengatakan bahwa Indonesia tidak pernah mempunyai niat untuk memperluas daerah negara. Hal tersebut disebabkan Indonesia itu lahir atas adanya kesamaan historis pernah dijajah dan terbebas dari imperialisme. Tudingan memperluas wilayah juga termasuk ke dalam imperialisme, maka sangat tidak mungkin Indonesia merebut Serawak dan Sabah yang tidak mempunyai kesamaan dijajah Belanda. Sabah dan Serawak sendiri dijajah oleh Inggris. Wilayah Indonesia adalah wilayah yang dulu disebut Hindia Belanda. Sebenarnya, masuknya Timur-Timur telah menyalahi aturan karena Timur-Timur tidak dijajah Belanda, tetapi dijajah oleh Portugis. Masuknya Timur-Timur ke Indonesia tidak terlepas dari pengaruh politik perang dingin. Amerika mendesak Indonesia memasukkan Timur-Timur agar wilayah tersebut tidak dijadikan tempat komunisme karena adanya kekosongan wilayah atau lebih tepatnya kekosongan kekuasaan. Jika kemudian Timur-Timur lepas dari Indonesia sebetulnya tidak menjadi masalah yang serius dan tidak perlu direbut kembali bagi Indonesia. Hal tersebut disebabkan, sudah sesuainya kodrat Timur-Timur tidak berada di Indonesia karena perbedaan historis tersebut. Dalam hal ini, masyarakat yang tidak mengetahui hal tersebut terus berkoar mendesak pemerintah merebut Timur-Timur kembali. Hal tersebut malah menimbulkan kesan bahwa masyarakat Indonesia belum mengenal tanah airnya sendiri.

 

Sebenarnya, tudingan miring Malaysia terhadap Indonesia didasarkan atas kekhawatiran Inggris atas wilayah Sabah dan Serawak masuk ke negara Indonesia. Kekhawatiran tersebut muncul karena di wilayah Sabah dan Serawak atau lebih tepatnya daerah Brunei Darussalam adalah daerah penghasil minyak bumi yang menghasilkan banyak uang bagi Inggris. Dalam hal ini, wilayah Sabah dan Serawak penting untuk membantu Inggris membayar kekalahan Perang Dunia II kepada Amerika. Selain itu, dalam kasus lainnya seperti kasus Pulau Sipadan dan Ligitan juga masyarakat tidak seharusnya merasa kehilangan wilayah tersebut. Hal tersebut disebabkan tidak adanya pengaruh apapun di Pulau Sipadan dan Ligitan mengenai Indonesia. Tidak adanya campur tangan pemerintah Indonesia membuat kedua pulau tersebut tidak menjadi wilayah milik Indonesia. Di Pulau Sipadan dan Ligitan malah berdiri penginapan yang dibangun oleh pemerintah Malaysia. Tidak mengherankan, jika Pulau Sipadan dan Ligitan menjadi pulau milik Malaysia karena pemerintah Malaysia telah melakukan campur tangan dalam pembangunan di wilayah tersebut. Alasan-alasan tersebut adalah alasan yang tidak diketahui masyarakat Indonesia sehingga pemahaman nasionalisme masyarakat Indonesia terlihat jelas masih sangat kurang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 8, 2014 by in Artikel.
%d bloggers like this: