Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Pemahaman Kecerdasan Anak

Pembekalan ke-4 Kuliah Kerja Nyata (K2N) Universitas Indonesia tahun 2014 (17/5) menghadirkan pembicara dari Ketua Komisi Nasional Anak, yaitu Kak Seto Mulyadi. Lulusan doktor dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini menjelaskan bahwa dalam dunia pendidikan di Indonesia ada indikasi diskriminasi. Dalam hal ini, diskriminasi tidak boleh diartikan sebagai hal yang berhubungan dengan suku, agama, ras, dan antaretnis (SARA). Bahkan, hal kecil yang selalu dilakukan baik orang tua maupun kita sendiri ternyata dapat digolongkan menjadi diskriminasi. Contohnya, masyarakat, orang tua,  maupun kita, biasanya sering melakukan dikotomi kecerdasan. Padahal, kecerdasan tidak dapat hanya dilihat dari satu aspek saja. Ada aspek lainnya yang lebih luas yang tidak boleh luput dari perhatian. Seringkali, kecerdasan bagi orang Indonesia adalah memperoleh nilai yang bagus, masuk jurusan IPA atau eksakta di SMA walaupun pada saat kuliah mengambil jurusan rumpun sosial budaya juga pada akhirnya, dan lulus kuliah 3,5 tahun. Orang Indonesia luput perhatian bahwa kecerdasan tidak sesempit dari yang telah dijelaskan. Orang yang dapat memasak dengan mudah dan menjadi chef di hotel berbintang juga dapat dikatakan sebagai orang yang memiliki kecerdasan. Orang yang dapat bermain alat musik juga dapat dikatakan memiliki kecerdasan. Jika dianalogikan kepada hewan, burung elang akan terlihat pintar dalam aspek terbang tinggi, tetapi dalam aspek berlari burung elang akan mendapat nilai buruk. Evaluasi kepada anak seharusnya melihat segala aspek kemampuan anak. Tidak pandai pada satu aspek belum tentu pada aspek lainnya juga tidak pandai. Setiap anak dan manusia memiliki kecerdasan masing-masing. Permasalahannya adalah apakah orang di sekeliling menyadari kecerdasan yang dimiliki seseorang atau tidak.

 

Masalah sebenarnya yang timbul dari ketidaktahuan masyarakat adalah pentingnya menyadari tipe gaya belajar. Aspek ini akan memengaruhi cara penerimaan materi pelajaran kepada anak. Tipe gaya belajar ada tiga, yaitu visual, auditori, dan kinestetik. Visual adalah gaya belajar yang memiliki kecenderungan kuat dalam aspek melihat atau merekam segala sesuatu yang menggunakan indera penglihatan. Auditori adalah gaya belajar yang menekankan kemampuan mendengar dan kinestetik adalah gaya belajar yang menekankan kemampuan gerakan. Setiap tipe gaya belajar memiliki cara penyampaian yang berbeda. Misalnya, jika anak yang mempunyai gaya belajar visual, maka guru harus memberikan penjelasan melalui gambar-gambar atau tulisan yang memiliki warna-warna yang menarik sehingga anak tersebut gampang menangkap materi yang sedang diajarkan. Hal tersebut berbeda dengan gaya belajar auditori yang hanya dengan menjelaskan dan menceritakan langsung dapat mengerti mengenai materi pelajaran yang dijelaskan. Gaya belajar kinestetik berbeda lagi dengan gaya belajar lainnya, anak harus diajak bergerak atau biasanya diajak bermain games yang berisi pemahaman materi. Jika para orang tua dan guru menyadari betapa beragamnya gaya belajar dan penerimaan materi kepada anak diharapkan orang tua tidak lagi melakukan pelabelan pintar atau bodoh. Hal tersebut disebabkan semua anak pada dasarnya adalah anak yang cerdas. Orang sukses adalah orang yang dihargai dan ditemukan kecerdasannya oleh masyarakat dan lingkungan, terutama orang tuanya. Pemahaman tersebut seharusnya menjadikan orang tua dan masyarakat untuk menggali potensi yang dimiliki anaknya. Hal itu disebabkan kesuksesan orang tidak diukur hanya di bidang akademis, tetapi dapat juga dalam bidang nonakademis.

 

Pemahaman orang tua dan masyarakat Indonesia yang keliru mengenai kecerdasan dan pendidikan anak membuat adanya pemaksaan terhadap anak. Pemaksaan tersebut akan berujung kepada tindakan anak yang suka membangkang sehingga timbul masalah baru lagi, yaitu bullying. Arti kata bullying ini tidak hanya dapat diartikan sebagai tindakan penindasan kepada seseorang, tetapi bisa juga diartikan sebagai luapan perasaan seseorang karena tidak tersalurkannya emosi yang terdapat dalam diri. Emosi yang muncul dari bullying ini ini adalah gelisah, rendah diri, panik, agresif, dan ingin bunuh diri pada tingkatan yang sudah parah atau berat. Sayangnya, bullying ini sering atau erat kaitannya dengan dunia pendidikan. Padahal, menurut Undang-Undang Dasar (UUD), pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif. Keaktifan tersebut akan membuat orang tua atau guru dapat melihat potensi atau bakat apa yang dimiliki seseorang. Namun, keaktifan ini sudah menjadi konotasi negatif menjadi bullying.

 

Bullying yang dapat juga diartikan dengan kata kekerasan tidak hanya terjadi di dunia pendidikan. Kekerasan juga dapat terjadi di keluarga dan media. Kekerasan yang terjadi di keluarga dapat juga berupa pemaksaan belajar anak yang sebenarnya tidak sesuai dengan gaya belajar anak tersebut. Hal yang sudah umum dilakukan oleh para orang tua tersebut ternyata tergolong ke dalam tindak kekerasan. Hal tersebut lebih merujuk kepada kekerasan nonverbal. Ternyata, kekerasan tidak hanya berupa kontak fisik, tetapi dapat juga berupa tindakan nonfisik. Pemahaman mengenai hal ini seharusnya dicari tahu oleh para orang tua agar tidak adanya kesalahan penanaman nilai kepada anak. Hal tersebut merupakan buah dari kurikulum pendidikan yang kurang berpihak kepada anak sehingga para orang tua menerima pemahaman yang keliru atau salah.

 

Penanaman nilai yang baik untuk diajarkan kepada anak adalah etika, estetika, IPTEK, nasionalisme, dan kesehatan. Urutan tersebut seringkali salah penempatan. Aspek IPTEK lebih ditonjolkan daripada etika dan estetika sehingga kedua nilai tersebut yang sekarang menjadi problematika tersendiri bagi bangsa Indonesia. Jika penanaman urutan nilai tersebut dilakukan sesuai dengan kondisi ideal, pendidikan di Indonesia pasti akan lebih maju dan berkembang lagi. Hal tersebut disebabkan nilai etika dan estetika mempunyai peran yang penting bagi perkembangan anak. Jika kedua hal tersebut sudah ditanamkan kepada anak dengan benar, maka nilai positif lainnya akan mengikuti dengan sendirinya. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 14, 2014 by in Artikel.
%d bloggers like this: