Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Pembicara pada pembekalan yang bertema kesehatan ini (17/5) dilakukan oleh pakar kesehatan masyarakat, Bapak Zarfiel Tafal dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Pada kesempatan tersebut, ia menjelaskan terlebih dahulu pengertian perilaku dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Perilaku adalah respon makhluk hidup terhadap stimulus dari keadaan lingkungan tertentu. Hal ini tentu saja berkaitan dengan sikap dan kebiasaan seseorang yang dilakukan dalam unit satuan terkecil, yaitu keluarga maupun lingkungan sekitar. Kedua faktor, seperti keluarga dan lingkungan mempunyai peran penting dalam menyukseskan atau menerapkan PHBS itu sendiri. Tanpa adanya kedua faktor tersebut, PHBS belum tentu dapat dilaksanakan. Bahkan, bisa saja jika kedua faktor tidak mendukung, pemahaman PHBS tidak akan diketahui oleh masyarakat. Pemahaman PHBS seharusnya dilakukan secara menyeluruh kepada semua lapisan masyarakat. Aspek Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi kendala pemahaman PHBS belum optimal. Hal tersebut disebabkan banyak sekali masyarakat yang harus diberikan edukasi mengenai hal ini, terutama masyarakat daerah. Akses daerah yang belum tentu terjamah ini dapat menyulitkan sosialisasi PHBS ini.

 

Pemahaman PHBS yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah mengubah perilaku itu sendiri. Terlebih lagi, sebagai peserta Kuliah Kerja Nyata (K2N) yang akan mengabdi kepada masyarakat harus menyebarkan pemahaman PHBS ke daerah-daerah. Akan tetapi, sebelum melakukan penyebaran informasi, peserta K2N harus mengubah perilaku terkait masalah kesehatan dari dalam diri sendiri. Penerapan perilaku sehat dari peserta K2N dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya berdampak kepada diri sendiri, tetapi kepada orang yang berada di sekeliling kita. Hal tersebut akan membuat jangkauan perilaku menjadi lebih luas dan tidak hanya terpaku kepada kegiatan K2N. Hal ini sesuai dengan fungsi peserta K2N sebagai stumulius masyarakat. Jika peserta K2N sudah dapat berfungsi sebagai stimulus, maka masyarakat akan merespon stimulus tersebut dan penerima stimulus akan memengaruhi lingkungannya menyebarkan stimulus yang didapatnya. Dampak baik yang menyerupai rantai tersebut akan menjadi dasar kontribusi yang dapat dilakukan peserta K2N kepada masyarakat secara luas sebagai pengabdian masyarakat.

 

Dalam hal ini, H. L. Blum (1979) memaparkan ada beberapa faktor atau model peran perilaku. Model tersebut dinamakan Force Field Paradigm. Faktor peran perilaku tersebut adalah faktor upaya kesehatan, faktor perilaku, faktor lingkungan, dan faktor bawaan. Faktor upaya kesehatan ini biasanya dilakukan oleh ahli-ahli kesehatan baik dokter, perawat, dan lain sebagainya. Faktor ini hanya memiliki presentase keberhasilan 10%. Hal tersebut disebabkan 90% lainnya tergantung kepada individu itu sendiri yang menerapkan perilaku sehat atau tidak. Semua faktor tersebut berhubungan erat satu dengan yang lainnya dan tidak dapat terpisah. Terlebih, bila berbicara mengenai faktor keturunan. Aspek biologis tersebut akan mempunyai hubungan dengan lingkungan. Faktor lingkungan juga memengaruhi faktor gaya hidup seseorang. Jelaslah bahwa model peran perilaku ini harus dilihat dari berbagai arah agar pemahaman kesehatan semakin komprehensif atau menyeluruh sehingga dampak baik akan diterima sebagai orang yang menerapkan perilaku sehat. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 14, 2014 by in Bebas.
%d bloggers like this: