Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Cobaan Awal Kuliah Kerja Nyata di Desa Long Loreh

DSC04428

Pagi pertama di lokasi Kuliah Kerja Nyata (K2N) UI 2014 di Kalimantan Utara atau lebih tepatnya di Desa Long Loreh diawali dengan berbenah barang bawaan dan logistik. Tentu saja, hanya sebagian dari peserta K2N yang telah membuka mata menyambut sinar mentari pagi yang datang dari sela-sela jendela yang tidak dapat terkunci. Hal tersebut tidak mengherankan karena perjalanan yang sangat panjang untuk sampai di Desa Long Loreh sangat amat memakan energi tubuh walaupun hanya duduk selama perjalanan berlangsung. Perjalanan udara, laut, dan darat telah ditempuh semua dalam satu hari dari pagi hingga malam hari.

Pada saat berbenah, beberapa anak sekolah dasar sedang berjalan menuju sekolah yang jaraknya tidak jauh dari rumah singgah. Beberapa dari kami pun spontan menyapa anak tersebut. Pasalnya, tidak berapa lama anak sekolah tersebut menuju sekolah, mereka lalu kembali lagi ke arah semula. Ternyata, sekolah masih belum masuk sehingga anak yang sudah telanjur datang dipulangkan oleh kepala sekolah. Kebetulan, di sekolah tersebut sudah ada beberapa guru yang datang dan menginap di dekat kompleks sekolah. Kepala sekolah SD yang sekaligus suami dari pemilik rumah singgah kami pun terlihat berdedikasi dengan memakai baju coklat khas pegawai negeri. Hal tersebut disebabkan sekolah masih libur dan beberapa guru masih memakai baju kesehariannya.

DSC04414DSC04427

Kembalinya anak sekolah dasar tersebut mengundang hasrat beberapa peserta K2N untuk bertegur sapa dan berkenalan. Tidak disangka-sangka, anak sekolah tersebut sangat ramah dan bersahabat. Tanpa segan anak tersebut menjawab semua pertanyaan yang kami ajukan. Bahkan, anak tersebut yang diketahui bernama Shalom mengajak teman-temannya ke rumah singgah kami. Melihat keramahan anak sekolah dasar ini membuat kami berniat mengelilingi sekolah tersebut untuk sekadar melihat-lihat saja.

DSC04802

Pada saat di sekolah, kami bertemu dengan kepala sekolah dan beberapa guru. Kami tak lupa memperkenalkan diri dan bertanya sedikit. Hal yang dapat dikagumi dari sekolah ini adalah perpustakaan sekolah dasar yang menurut saya sangat besar untuk ukuran perpustakaan di desa. Sekolah dasar saya saja dulu tidak punya perpustakaan. Padahal, sekolah dasar saya berada di Pulau Jawa yang notabene terbilang bagus dari segi infrastruktur. Di sekolah dasar tersebut, kami melihat sekumpulan bocah bermain. Beberapa di antara kami pun berinteraksi dengan mereka dan berfoto. Sayangnya, niatan baik untuk bercakap-cakap dengan anak-anak yang sedang bermain tersebut membuat mereka terus mengikuti kami hingga rumah singgah.

DSC04578DSC04579

DSC04581

Entah kepolosan kami sangat tinggi atau memang jiwa sosial kami yang tergerak, kami meladeni anak-anak tersebut. Jika sebelumnya Shalom kembali lagi ke rumah singgah untuk belajar, anak-anak yang kami temui di sekolah tersebut tidak terlalu serius belajar dan cenderung mengacau. Hal tersebut membuat barang bawaan kami masih berantakan hingga siang tiba. Memang seru bila bermain dan berbicara dengan anak-anaktersebut serta belajar bahasa Dayak Punan. Akan tetapi, tenaga mereka seakan tidak akan habis di saat kami kelelahan.

DSC04429

Rasa letih tersebut timbul karena mereka tidak ada niatan belajar dan hanya mondar-mandir ke sana ke mari serta bergelantungan di jendela. Untuk mengatasi hal tersebut, saya mengajak anak-anak memperlihatkan sungai dan musala. Hal tersebut efektif untuk membuat teman-teman saya yang lain tenang. Meskipun telah diajak berkeliling, anak-anak tetap bersemangat. Setelah bernegosiasi, saya sepakat dengan anak-anak bila mau main ke rumah singgah mereka harus belajar. Sesampainya di rumah singgah, teman saya langsung mengambil alih untuk mengajarkan mereka berhitung. Saya tidak tahu jurus apa yang dikeluarkan teman saya sehingga anak-anak tersebut pulang.

DSC04422

Namun, saat kami beristirahat siang anak-anak dengan seenaknya masuk ke dalam rumah singgah untuk mengambil minum dan ada yang naik ke lantai atas melalui pohon rambutan di samping rumah singgah. Hal tersebut membuat kami kelabakan. Pasalnya, tidak ada jendela maupun pintu yang dapat dikunci. Efek dari ketiadaan kunci ini cukup membuat kami harus berpikir mengunci semua bagian rumah. Meskipun demikian, anak-anak tersebut juga telah berjasa memberikan rambutan dari pohon rumah singgah kepada kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 12, 2015 by in Bebas.
%d bloggers like this: