Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Desa Long Loreh, Malinau, Kalimantan Utara

DSC00823

Hari yang telah ditunggu-tunggu tiba. Hari yang telah dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya ini membuat semangat, khawatir, dan penasaran bersatu menjadi satu emosi yang tidak bias dituliskan dengan kata-kata. Bagaimana tidak, pada hari Senin, 4 Agustus 2014 peserta Kuliah Kerja Nyata (K2N) UI sudah harus bersiap untuk memeriksa segala keperluan program dan berangkat pada dini harinya. Hal tersebut mungkin sama dengan perasaan dan ekspresi anak sekolah yang akan masuk sekolah dari liburan panjangnya. Namun, suasana tenang justru saya jumpai saat memasuki gedung Pusat Pelayanan Mahasiswa Terpadu (PPMT), tempat berkumpulnya peserta K2N, pada jam yang telah disepakati bersama ini. Hal ini membuat perasaan menjadi lebih tenang karena peserta K2N yang baru hadir pada saat itu juga tenang. Mungkin memang benar, lingkungan sangat menentukan sikap dan perilaku individu, termasuk saya sendiri. Jika lingkungan sekitar kita merasa panic, khawatir, dan lain sebagainya, kita juga yang sebenarnya biasa saja akan menjadi ikut merasakan hal yang dirasakan oleh lingkungan sekitar. Begitu juga sebaliknya, jika lingkungan sekitar merasa tenang dan biasa saja, individu yang panic dan khawatir juga akan merasa tenang. Hal ini kontras dengan suasana pada pukul 23.00 WIB. Meskipun demikian, suasana yang penuh semangat tersebut tidak bertahan lama akibat makin larutnya malam.

Hari telah berganti, barisan troli bandara telah berjajar rapi padahal jam keberangkatan pesawat yang akan kami naiki masih sekitar dua jam lagi. Kobaran semangat kembali bergelora setelah puas melepas lelah di bus kuning (bikun) dari kampus perjuangan yang berlokasi di Kota Depok menuju Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) di Cengkareng, Jakarta Barat. Para penumpang sipil lainnya yang memiliki tujuan sama dengan kami merasa kaget dan tidak biasa. Pasalnya, antrean troli terbilang sangat panjang dan setiap trolinya membawa barang yang sangat banyak. Setelah penimbangan logistik selesai di menit terakhir keberangkatan, para peserta K2N dan penumpang lainnya menaiki bus kecil terlebih dahulu untuk diantarkan ke pesawat yang memiliki tujuan Tarakan. Antrean bak antrean sembako pun tidak terelakkan pada saat menaiki tangga pesawat. Hal ini disebabkan masih banyak barang maupun logistik yang harus dimasukkan ke dalam kabin pesawat. Tidak tanggung-tanggung, penuhnya kabin pesawat Lion Air ini dapat terlihat dari banyaknya barang bawaan penumpang yang duduk di belakang tetapi menaruh barang bawaannya di kabin bagian depan pesawat. Hal ini pulalah yang menyebabkan kemacetan mobilisasi turun pesawat  setibanya di bandara tujuan. Perjalanan panjang selama tiga jam yang cukup membuat kuping pengang tanpa makanan atau snack pun ini tidak hanya disambut oleh indahnya panorama Pulau Kalimantan yang menakjubkan dengan pemandangan hutan yang masih sangat hijau, tetapi pihak Pemerintah Kota Tarak an juga telah bersiap menjemput dan mengantarkan kami ke salah satu hotel yang dapat dikatakan sebagai hotel kebanggan Kota Tarakan.

DSC04276             _DSC5267 _DSC5265 _DSC5254DSC04281

Di Swiss-Bell Hotel ini, para peserta K2N dijamu layaknya tamu dari pemerintah lain dengan hidangan makan pagi secara prasmanan. Hal ini tentu saja tidak dapat disangka ataupun terpikirkan sebelumnya oleh peserta K2N yang lain. Pasalnya, setelah turun dari pesawat banyak yang telah menyiapkan mental langsung menuju pedalaman. Mungkin hal tersebut dipicu oleh kesederhanaan bandara di Kota Tarakan yang jauh berbeda dengan bandara di Jakarta. Tidak hanya itu, kami pun disambut oleh Universitas Borneo Tarakan dan jajaran pejabat di Kota Tarakan. Dalam penyambutan tersebut, Rektor Universitas Borneo Tarakan menyampaikan niatan untuk bekerja sama dengan universitas Indonesia terkait hal apapun, baik penelitian maupun K2N yang mencakup wilayah Kalimantan Utara. Hal ini diperlukan untuk dapat lebih mempermudah Universitas Indonesia dalam memahami lokasi tujuan karena bagaimanapun juga Universitas Borneo Tarakan akan jauh lebih tahu secara mendalam kondisi wilayahnya dibandingkan pihak lain yang berlokasi di luar Kalimantan Utara.

DSC04289 DSC04288 DSC04295 DSC04298 DSC04299DSC04303

Selain itu, pihak peserta K2N diperkenankan pula menanyakan hal apapun terkait lokasi K2N dengan pejabat Kota Tarakan. Banyak sekali masukan dan wawasan baru yang didapatkan dari sesi tanya jawab tersebut. Hal tersebut juga membuat banyak inspirasi baru dalam mengadakan program K2N di desa atau lokasi masing-masing nantinya. Semua hal tersebut semakin membukakan mata terkait kondisi wilayah yang berada di pedalaman provinsi baru. Jika yang seakan sulut sedikit demi sedikit itu semakin membara dengan teriknya matahari dan kondisi pelabuhan Kota Tarakan yang sangat ramai dipadati penumpang speed boat ini. Muka yang ceria langsung berubah menjadi muka serius dengan kerutan sedikit di dahi. Barang bawaan yang banyak ini harus melewati sesaknya penumpang lain di dalam pelabuhan cukup membuat kondisi seketika berubah 180 derajat dari sebelumnya. Dengan speed boat kami melanjutkan perjalanan laut dan sungai. Maksudnya, kami harus mengarungi atau menyebrang dari Pulau Tarakan ke daerah yang namanya Kabupaten Malinau. Perjalanan pun harus ditempuh melewati laut dan dilanjutkan ke arah sungai. Maklum, Pulau Kalimantan ini banyak sekali sungai sehingga untuk ke beberapa daerah tertentu perjalanan melewati sungai pun masih harus dilakukan. Perjalanan ini harus dilalui selama empat jam dengan pemandangan banyak kapal pengangkut batu bara. Untungnya, air sungai sangat tenang sehingga kapal dapat melaju dengan tidak bergelombang seperti melewati polisi tidur. Kemudian, perjalanan dilanjutkan melalui darat menggunakan bus menuju Kantor Bupati Kabupaten Malinau. Sesampainya di kantor bupati, kami disambut dengan sangat ramah. Terlebih lagi, kami juga diberikan makanan. Hal tersebut menjadi istimewa karena makanan akan menjadi barang yang akan sangat dirindukan jika telah tiba di desa lokasi K2N nantinya. Hal tersebut terbukti pada saat tiba di Desa Long Loreh harga makanan benar-benar sangat mahal. Bayangkan saja, nasi putih dengan sambal goreng kentang dan sayur singkong harganya lima beras rupiah. Jika dibandingkan di Jawa, lauk yang serupa tersebut paling hanya lima ribu rupiah. Hal yang mencengangkan berikutnya adalah pasokan listrik di Desa Long Loreh hanya ada pada pukul 18.00-24.00 WITA. Meskipun rumah yang diperuntukkan terbilang bagus seperti rumah panggung, tetapi tetap saja banyak jendela yang tidak bisa ditutup atau dikunci. Alhasil, nyamuk banyak yang bernyanyi di sekitar kuping walaupun sudah tidur dengan sleeping bag. Kondisi yang serba minim ini tidak melunturkan semangat yang telah dibawa di Desa Long Loreh. Bahkan, kondisi demikian semakin membuat tantangan tersendiri yang harus dihadapi lebih menantang dari perkiraan sebelumnya.

DSC04308DSC04315DSC04323DSC04322DSC04367DSC04343DSC04338DSC04348DSC04381DSC04384DSC04401

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 12, 2015 by in Bebas.
%d bloggers like this: