Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Observasi Lapangan Kuliah Kerja Nyata di Desa Long Loreh

DSC04510

Perkenalan dan kunjungan ke berbagai tokoh masyarakat maupun tempat publik terus dilakukan untuk mengetahui situasi dan kondisi Desa Long Loreh. Setelah aparat desa, sekarang giliran sekolah dan tempat pelayanan kesehatan yang menjadi sasaran. Hal tersebut disebabkan tema besar K2N UI yang berpedoman pada aspek pendidikan dan kesehatan. Meskipun ada pula aspek ekonomi kreatif dan lingkungan, tetapi dua aspek ini telah didapat dari kunjungan aparat desa. Sekolah dasar yang terletak di samping rumah singgah kami ini ternyata memiliki dua belas kelas. Setiap tingkatan mempunyai dua kelas. Banyaknya murid sekolah dasar ini menyebabkan bangunan sekolah lama masih dipertahankan atau digunakan walaupun sudah ada bangunan baru. Bahkan, tempat yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal guru juga harus dijadikan kelas. Ketersediaan kelas yang terbatas ternyata tidak membuat perpustakaan terlupakan. Bangunan perpustakaan di sekolah dasar ini terbilang besar. Hal ini disebabkan masih jarangnya sekolah di Pulau Jawa yang mempunyai perpustakaan. Kepala sekolah dasar sangat menyambut kedatangan kami sebagai mahasiswa K2N UI. Banyak harapan yang disampaikan dan bias menjadi program K2N kami selama berada di Desa Long Loreh. Setiap hari Jumat dan Sabtu kepala sekolah dasar ini memberikan kami waktu untuk masuk ke dalam kelas dan melakukan intervensi kepada anak-anak. Hal ini disebabkan dua hari tersebut memang tidak ada kegiatan belajar mengajar tetapi ada kegiatan lainnya, seperti pramuka. Selain itu, belum ada papan nama kelas dan papan struktur juga menjadi masukan bagi kami untuk dapat melakukan hal tersebut dalam waktu satu bulan mendatang.

DSC04855DSC04857DSC06259DSC04577

Kondisi dan permintaan yang berbeda ditunjukkan oleh sekolah menengah pertama. Sekolah yang berada di depan lapangan utama Kecamatan Malinau Selatan ini menjadi sasaran empat sekolah dasar di empat desa, termasuk sekolah dasar Long Loreh. Selintas saat melewati kelas di sekolah menengah pertama ini murid menduduki satu bangku. Tidak seperti sekolah menengah pertama pada umumnya seperti di Pulau Jawa yang muridnya duduk berdua-dua. Dari pihak sekolah menyampaikan bahwa perlu adanya pembelajaran setelah kegiatan sekolah usai. Hal ini disebabkan jam sekolah yang hanya sampai siang hari sehingga hanya sedikit waktu yang dipakai untuk melakukan kegiatan belajar. Orang tua pun pada siang hari masih sibuk di ladang masing-masing. Oleh karena itu, alangkah lebih baiknya jika sore hari kami diminta mengadakan bimbingan belajar, khusus kelas tiga. Lalu, banyak guru yang masih belum datang setelah libur lebaran. Malahan, guru yang masih belum datang setelah libur lebaran adalah guru yang beragama Kristen. Guru yang beragama Islam justru datang lebih awal dibandingkan guru yang tidak merayakan lebaran. Maklum, guru sekolah di Desa Long Loreh kebanyakan bukan merupakan masyarakat asli Kalimantan sehingga ketika libur tiba mereka akan pulang kampung ke daerah asal. Sebagian besar guru ini pun berasal dari tanah Sulawesi. Hal ini bisa menjadi pertimbangan kami untuk mengisi kelas yang gurunya belum datang. Kepala sekolah pun membuka selebar-lebarnya akses kami untuk melakukan intervensi dalam bentuk dan cara  apapun di sekolah asal masih sesuai dengan tujuan awal kedatangan kami selaku peserta K2N.

DSC04612DSC04613DSC04696DSC05566DSC01891DSC07090DSC05575

Sayangnya, pada tingkat taman kanak-kanak, sekolahnya masih tutup. Meskipun TK Long Loreh berada di dalam kompleks SD Long Loreh yang telah masuk sekolah, tetapi tetap saja berbeda masuk sekolahnya. Menurut penuturan salah satu guru SD saat kami datang ke TK umum Long Loreh, terdapat juga TK muslim di sebelah masjid di Desa Sengayan. Mungkin salah satu guru SD tersebut melihat sebagian besar di antara kami menggunakan jilbab sehingga kami diarahkan pula ke taman kanak-kanak tersebut. Rasa penasaran pun membimbing kami ke TK Islam tersebut. Di TK itu, anak-anak diajarkan baca tulis alphabet, baca tulis huruf Arab (untuk membaca al quran), dan gerakan maupun bacaan salat. Menurut guru yang mengajar, kemajuan anak di TK Islam dengan TK umum jauh lebih baik. Banyak orang tua yang beragama non-Islam mau mendaftar. Akan tetapi, TK tersebut merupakan TK islam sehingga tetap saja ditolak karena alasan beda agama. Bayaran yang tidak seberapa itu tidak kalah saing dengan gratisnya taman kanak-kanak umum. Pendirian TK Islam ini didasarkan atas tidak adanya pengajaran agama Islam di taman kanak-kanak umum. Pada TK Long Loreh, doa yang diajarkan adalah doa agama Kristen karena mengikuti agama mayoritas di Desa Long Loreh. Hal tersebut membuat anak yang beragama Islam hanya mengetahui doa agama Kristen bila tidak diajarkan orang tuanya di rumah.

DSC05277DSC04603

Pada sekolah menengah atas, banyak siswa dan siswi yang belum fokus terhadap pelajaran. Pasalnya, setiap bulan Agustus murid sekolah menengah atas ini masih focus untuk pertandingan antar-SMA. Misalnya, sepak bola, badminton, dan lain sebagainya. Sebenarnya, kebutuhan mendasar murid sekolah menengah atas ini adalah minat belajar untuk dapat meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu perguruan tinggi. Terlebih lagi, murid SMA Long Loreh atau SMA 5 Malinau Selatan ini tidak perlu bingung memikirkan biaya karena semua telah ditanggung pemerintah daerah. Mungkin, pola piker masyarakat yang masih sebagian besar adalah petani ini membuat jenjang perguruan tinggi bukanlah tujuan setelah lulus sekolah menengah atas melainkan berladang meneruskan pekerjaan orng tuanya sebagai petani juga.

DSC06530DSC06528DSC06970DSC00498

Di lain pihak, Pusat Kesehatan masyarakat atau biasa disingkat Puskesmas Long Loreh telah aktif menyalurkan informasi kesehatan ke berbagai tempat. Misalnya, sekolah, posyandu, dan gereja. Penyaluran informasi kesehatan tersebut ada yang berupa permintaan dari pendeta, misalnya, dan ada pula yang merupakan inisiatif dokter atau aparat Puskesmas. Dokter tempat ini ada tiga orang. Dua orang adalah dokter umum dan satu orang dokter gigi. Semua dokter di Desa Long Loreh merupakan pegawai negeri yang memang ditempatkan khusus untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat desa. Rumah dokter pun berada di belakang Puskesmas sehingga jika ada warga yang membutuhkan jasa dokter dapat dengan mudah menemui ahli kesehatan ini. Meskipun di Desa Long Loreh telah mempunyai tenaga medis seperti dokter, tetapi tetap saja masyarakat beserta tokoh adat Desa Long Loreh masih mengharapkan adanya tenaga kesehatan dari putra-putri daerah sendiri. Hal ini disebabkan sudah banyak dokter yang silih berganti untuk bertugas di desa ini. Banyak dokter yang tidak betah dan pulang begitu saja. Padahal, kebutuhan masyarakat kepada dokter akan selalu ada setiap harinya.

DSC04571 DSC04570

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 13, 2015 by in Bebas.
%d bloggers like this: