Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Mulai Bersilahturahmi ke Aparat Desa Long Loreh

Waktu istirahat selama dua hari yang telah diberikan pendamping lapangan sudah berakhir. Hari Kamis harus menjadi hari untuk memulai pergerakan untuk berkenalan. Kami pun membagi tugas untuk menyambangi ketua desa, ketua camat, dan ketua adat. Namun, hari itu kondisi sedang tidak memungkinkan. Hal tersebut disebabkan tidak adanya air untuk beraktivitas, seperti mandi, BAK, maupun BAB. Fokus kami pun tertuju untuk melihat dan memperbaiki kondisi selang serta mencari air bersih untuk memulai hari. Hal yang membuat ribet adalah kami harus menimba air dari sumur rumah depan yang kosong dan memang menjadi sumber air bagi rumah singgah kami dan sekitarnya.

Setengah hari kami habiskan mengisi air bak mandi untuk berbagai keperluan. Setelah itu, kami mulai berkeliling saat hujan sedang galau untuk turun atau tidak. Ada yang pergi ke kantor kecamatan, ada yang pergi ke rumah kepala desa, dan ada yang pergi ke rumah ketua adat. Beruntunglah teman kelompok yang pergi ke kecamatan dan rumah kepala desa. Hal tersebut disebabkan saat mereka berangkat hujan belum turun. Sementara itu, kelompok yang bertugas ke rumah adat dan sekretaris desa harus menunggu hujan berhenti. Sekadar informasi, kami yang diberikan tugas untuk berkontribusi nyata di lokasi K2N UI 2014 Desa Long Loreh ada sebanyak 10 orang termasuk pendamping lapangan. Jadi, untuk berkeliling kami membagi diri menjadi 3 kelompok yang terdiri dari 3 orang.

Hujan yang turun sebelum kelompok yang bertugas ke rumah ketua adat bergerak membuat kelompok ini harus menunggu lama dan saat datang ke tempat tujuan pemilik rumah sedang tidak ada di tempat. Saat kelompok lain telah selesai berkunjung, kami semua pergi ke lapangan bola di depan SMP Negeri 2 Malinau Selatan untuk melihat salah satu teman kami yang bernama Dicky bermin bola bersama warga Long Loreh. Meskipun tim yang terdapat Dicky harus menelan kekalahan di pertandingan awal, kami tetap menikmati momen berada di tengah-tengah warga sambil memperkenalkan diri bahwa kami warga baru yang akan berada di Desa Long Loreh ini selama satu bulan.

DSC04534 DSC04543 DSC04544 DSC04539 DSC04536

Malamnya, kunjungan ke rumah sekretaris desa dilanjutkan untuk berkoordinasi mengadakan pertemuan dengan aparat desa. Hal tersebut diketahui dari Pak Matius selaku staf kepala desa pada saat menyambangi kami untuk mengingatkan teman kami bermain bola pada sore harinya. Ketika bertemu sekdes yang bernama Pak Ingan, beliau mengatakan bahwa niatan mengadakan pertemuan itu baik, tetapi sebaiknya dan biasanya harus berkoordinasi kepada Pak Mika selaku Kepala Desa Long Loreh. Di sisi lain, jamuan yang diberikan Pak Ingan sangatlah banyak. Kami mencicipi berbagai buah-buahan khas Long Loreh atau khas Kalimantan pada umumnya. Misalnya, lai (semacam durian yang berwarna orange), rambutan, cempedak (semacam nangka), dan nanas. Hampir satu jam di rumah Pak Ingan kami memakan buah-buahan. Bahkan, kami masih diberikan buah-buahan untuk dibawa pulang.

Setelah itu, kami berkunjung ke rumah ketua adat. Banyak wejangan yang sudah selayaknya diberikan ketua adat kepada pendatang seperti kami. Saat kunjungan, kami disambut baik dan memang sangat diharapkan kedatangannya untuk dapat membantu mengubah hal-hal yang masih kurang di Desa Long Loreh ini.

Berdasarkan hasil kunjungan ke kantor kecamatan, kepala desa, dan sekretaris desa serta ketua adat, dapat diketahui bahwa di Desa Long Loreh terdapat tiga suku dominan, yaitu Dayak Kenyah, Dayak Merak, dan Dayak Punan. Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani. Ladang tempat para masyarakat bekerja sehari-hari pun terbilang cukup jauh sehingga ada angkutan khusus semacam truk yang mengangkut atau mengantarkan para petani dari depan Puskesmas selama dua kloter. Keberangkatan kloter pertama pada pukul 08.00 WITA. Kloter berikutnya ada pada pukul 09.00 WITA. Begitu juga dengan jadwal pulang. Waktu kepulangan kloter pertama ada pada pukul 16.00 dan 17.00 WITA. Lahan ladang yang digarap masyarakat Long Loreh pun sangat beragam dan terbilang banyak. Pasalnya, satu rumah diberikan minimal satu hektar ladang. Namun, masyarakat yang ingin menggarap ladang lebih banyak sangat diperbolehkan, seperti lima hektar atau sepuluh hektar. Kemudahan tersebut sangat membantu masyarakat Long Loreh karena mereka tidak perlu membeli tanah terlebih dahulu sebelum menggarap tanah untuk ditanam buah-buahan atau sayur-sayuran.

Tidak hanya itu, sekolah dari SD hingga SMA juga tidak dipungut biaya sama sekali. Bahkan, biaya kuliah juga akan ditanggung Pemerintah Kabupaten Malinau, baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta. Salah satu contoh dari pembiayaan sekolah yang sangat lancar ini dibuktikan oleh anak ketua adat yang tengah berkuliah di UPN Veteran Yogyakarta. Hal yang masih sangat disayangkan adalah kondisi tersebut tidak berbanding lurus dengan minat belajar siswa-siswi Long Loreh itu sendiri. Fakta yang cukup miris diketahui dari banyak muri SMA yang bolos sekolah. Mungkin, dengan adanya kemudahan bersekolah tersebut membuat murid-murid tidak segan-segan membolos karena tidak ada dampak langsung bagi murid tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 15, 2015 by in Bebas.
%d bloggers like this: