Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Perkenalan Nilai Adat Dayak

Tidak seperti biasa pada pagi hari hujan turun dengan derasnya. Sekitar pukul 05.00 WITA hujan datang membasahi tanah Dayak di Desa Long Loreh ini. Tak berapa lama kemudian hujan berhenti dan digantikan oleh pemandangan awan yang gelap dan tidak bersahabat. Padahal, pukul 07.00 WITA cuaca biasanya telah sangat cerah. Kondisi cuaca yang demikian tentunya sudah tidak asing bagi orang Jakarta dan sekitarnya. Akan tetapi, di Desa Long Loreh hal tersebut bukan hanya faktor cuaca ekstrim yang melanda bumi karena bulan Agustus pun seharusnya memasuki musim kemarau. Kondisi jalanan pun berbeda dari sebelumnya. Pada jam yang sama biasanya masyarakat telah lalu lalang untuk berladang dan bersekolah. Namun, pada hari ini hanya sedikit masyarakat yang terlihat beraktivitas. Mungkin, faktor hujan rintik-rintik yang tak berkesudahan menyebabkan masyarakat Desa Long Loreh menunggu hujan sampai berhenti total untuk memulai aktivitasnya. Rupanya, kondisi demikian tidak bertahan lama walaupun cuaca masih tidak secerah sebelumnya.

Untungnya, kondisi cuaca yang gelap tidak menghalangi murid SMP untuk mengenyam pendidikan di sekolah. Meskipun keadaan ruang kelas yang terbilang gelap tanpa adanya penerangan, tetapi murid SMP masih bisa beraktivitas seperti biasa. Hal ini cukup memprihatinkan karena sekolah memiliki listrik untuk menghidupkan lampu tetapi ruang kelas tidak diberi lampu sehingga pada saat cuaca gelap ruang kelas masih gelap. Hal tersebut berbeda dengan ruang guru yang penuh akan listrik, seperti TV, lampu, komputer, dan colokan yang aktif. Padahal, ruang kelas juga membutuhkan lampu agar murid dapat melihat dengan jelas dan suasana belajar tidak menakutkan. Sekadar informasi, listrik sekolah dengan listrik rumah memiliki perbedaan. Jika listrik rumah hanya akan hidup pada pukul 18.00-24.00 WITA, listrik sekolah hidup dari pagi hingga sore hari. Kondisi listrik yang hidup dari pagi hingga sore hanya berlaku bagi sekolah, kantor desa, dan kantor camat. Entah apa yang menyebabkan kondisi demikian.

Sore harinya, masyarakat digegerkan dengan berita orang lemas (sebutan bagi orang yang tenggelam atau hanyut di sungai). Sebenarnya, masyarakat yang geger adalah para pendatang. Orang Dayak Kenyah, Dayak Punan, maupun Dayak Merak tidak terlalu kaget dengan berita tersebut seakan berita seperti itu sudah sering terjadi. Menurut salah satu warga Dayak, orang yang tenggelam di sungai tersebut telah melanggar adat. Pelanggaran yang dilakukan adalah tidak meminum kopi yang telah diberikan oleh Ketua Adat. Seharusnya, jika masyarakat atau orang yang lebih tua telah menyuguhkan kopi atau apapun harus diminum walaupun hanya sedikit. Hal tersebut berlaku untuk semua orang, termasuk orang Dayak sendiri. Akan tetapi, dari tahun ke tahun, kebanyakan korban adalah pendatang. Jarang orang Dayak melanggar hal tersebut meskipun pernah ada juga cerita tentang orang Dayak yang tenggelam di sungai. Proses meninggalnya pendatang yang mati lemas pun bisa dibilang tidak wajar. Ceritanya, ada dua pendatang yang merupakan pekerja tambang datang ke rumah ketua adat untuk bersilahturahmi atau memberitahukan kedatangan mereka di desa ini setelah libur lebaran. Kemudian, mereka diberikan kopi untuk menemani berbincang-bincang. Satu orang dari mereka meminum kopi dan satu orangnya lagi belum meminum kopi karena katanya masih kenyang. Sepulang dari bertamu, mereka melewati sungai yang tidak terlalu dalam. Bisa dibilang, ketinggian sungai hanya setengah dari badan orang dewasa.

Pada saat di tengah sungai, orang yang tidak meminum kopi tersebut terjatuh alias kepeleset. Hal yang aneh adalh saat kepeleset orang yang belum minum kopi tersebut langsung terseret arus yang bisa dibilang tidak begitu deras. Orang yang minum kopi tidak kenapa-kenapa atau dengan kata lain selamat. Mayat dari orang yang belum minum kopi tersebut baru ditemukan 3 hari kemudian. Percaya atau tidak, kejadian tersebut turut melanggengkan kepercayaan masyarakat setempat. Namanya pendatang sudah seharusnya menaati norma adat yang berlaku di masyarakat tempat tinggalnya walaupun hal tersebut bisa dibilang tidak masuk akal. Hal ini disebabkan tidak semua hal bisa dipikir menggunakan akal sehat. Meskipun demikian, ada cerita pula bahwa orang yang tewas tersebut tidak bisa berenang sehingga sudah sewajarnya tidak memiliki keseimbangan dan terbawa arus.

Atas kejadian tersebut, kami sampai didatangi oleh salah satu tentara yang bertugas di desa ini. Tentara tersebut menceritakan kronologi kejadian orang lemas tersebut kepada kami. Selain itu, tentara tersebut juga memperingatkan kami selaku pendatang untuk selalu menaati aturan atau norma yang berkembang di masyarakat Long Loreh ini. Hal tersebut disebabkan keselamatan akan bisa menjadi taruhannya bila kami melanggar aturan tersebut. Tentara yang juga merupakan pendatang tesrebut tidak ingin kejadian yang sering dialami pekerja tambang batu bara itu juga dialami oleh kami selaku mahasiswa K2N dari UI. Lalu, kami juga diminta untuk menghindari sungai walaupun diajak oleh masyarakat Long Loreh sekalipun. Hal itu dimaksudkan untuk meminimalisir bahaya yang bisa ditimbulkan dari sungai.

Informasi yang disampaikan dengan nada yang tidak biasa atau bisa dibilang serius tersebut sedikit membuat sebagian diantara kami, mahasiswa K2N UI, agak was-was atau khawatir sendiri. Bagaimana tidak, kami baru sekitar seminggu mengabdi di desa ini dan sudah disuguhkan oleh kejadian yang tidak mengeenakkan apalagi kami diperingatkan pula oleh aparat negara yang bertugas di desa ini. Terlebih lagi, hari sebelumnya kami telah menyambangi sungai di dekat rumah singgah untuk melihat kondisi sungai yang menurut penuturan warga airnya tidak sejernih sebelum ada eksplorasi tambang.

Meskipun demikian, anak-anak Desa Long Loreh yang kami jumpai mengatakan bahwa kami tidak perlu takut dan bersikap biasa saja seperti biasanya. Dua anak SMP yang sering datang ke rumah singgah kami ini menyampaikan bahwa kejadian tersebut merupakan ulah dari perbuatannya sendiri terlebih lagi orang yang mati lemas tersebut merupakan pekerja tambang. Bisa saja, pengurukan tambang yang melebihi batas wajar membuat alam marah sehingga mencari mangsa pekerjanya untuk mengingatkan perusahaan akan hal tersebut. Itulah yang suka tidak disadari oleh kebanyakan pendatang dan menganggap bahwa orang Dayak masih mempunyai sihir yang dapat membuat pendatang mati lemas di sungai. Padahal, kata anak tersebut jarang orang yang bisa sihir untuk sekarang-sekarang ini. Pemikiran masyarakat Desa Long Loreh yang tidak lagi konvensional mulai meninggalkan hal-hal magis seperti itu. Bahkan, telinga panjang yang menjadi identik dari orang Dayak ini telah ditinggalkan pula sehingga sisa orang tua yang sudah berumur 70-an yang masih menerapkan budaya tersebut. Katanya, kalau telinganya panjang tidak bisa diangkat jadi pegawai negeri oleh pemerintah.

DSC04744 DSC04743 DSC04748 DSC04752 DSC04753 DSC04773 DSC04774

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 20, 2015 by in Bebas.
%d bloggers like this: