Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Usaha Pembuatan Tahu dan Tempe sebagai Potensi Ekonomi Kreatif di Desa Long Loreh

Pada saat berada di SMP Negeri 2 Malinau Selatan, salah satu guru ada yang bercerita bahwa ada peserta K2N UI yang berada di Desa Langap berkunjung ke rumahnya. Kebetulan, suami Ibu Mince adalah gembala di gereja Desa Langap. Peserta K2N UI di Desa Langap tersebut bertamu ke rumah gembala gereja untuk mengkoordinasikan penyuluhan pola hidup bersih dan sehat setelah ibadah hari Minggu. Setelah itu, peserta K2N UI yang bertugas di Desa Langap diajak untuk mengunjungi pabrik tahu dan tempe yang Ibu Mince dan Bapak Gembala rintis. Di akhir ceritanya, Ibu Mince mengundang kami, peserta K2N UI di Desa Long Loreh untuk mengunjungi pula pabrik tahu dan tempe yang hanya ada satu-satunya di Kecamatan Malinau Selatan ini.

Penasaran dengan pabrik tahu dan tempe ini, kunjungan pun dilakukan walaupun pabriknya berada di Desa Langap. Dengan mengandalkan satu motor, delapan orang diangkut bertiga-tiga. Lokasi pabrik tahu dan tempe ini berada di dekat rumah Pak Camat. Tidak berbeda dengan bangunan rumah pada umumnya di desa ini, bangunan kayu panggung yang dikhususkan untuk pembuatan tahu dan tempe ini tidak terlalu luas. Usaha kecil-kecilan ini memang baru memasuki tahap awal atau start-up. Ukuran bangunan yang tidak terlalu besar tersebut setidaknya mampu menghasilkan 100 tahu dalam sehari. Dalam hal ini, produksi tahu lebih banyak dibandingkan produksi tempe. Hal ini disebabkan masyarakat Desa Long Loreh lebih menyukai tahu daripada tempe.

Persebaran produksi tahu dan tempe milik Ibu Mince ini sudah meluas ke berbagai tempat di Kecamatan Malinau Selatan. Beberapa perusahaan batu bara di sekitar desa, seperti BDMS, MA, dan KPUC menjadi langganan produksi tahu dan tempe ini. Kisaran harga lima tahu sebesar enam ribu rupiah untuk harga tertinggi dan empat ribu lima ratus rupiah untuk harga terendah. Besaran harga dapat dinegosiasikan oleh sang pemilik usaha. Di sisi lain, Pak Gembala dan Ibu Mince yang merupakan keturunan suku Dayak ini mengetahui proses pembuatan tahu dan tempe dari orang Jawa. Peluang usaha tahu yang belum ada di desa ini menjadikan Pak Gembala berusaha belajar pembuatan tahu dan tempe. Modal awal sekitar belasan juta kini berkembang menjadi usaha tahu dan tempe yang laku. Pasalnya, usaha tahu dan tempe hanya ada satu, sedangkan permintaan di masyarakat tinggi. Bahkan, jika ada pesanan dalam jumlah besar, Pak Gembala dan Ibu Mince harus rela bergadang hingga larut malam. Kondisi tersebut memperlihatkan potensi usaha tahu dan tempe yang masih sangat besar di Desa Long Loreh ini untuk kegiatan ekonomi. Alangkah lebih baiknya jika masyarakat Desa Long Loreh ikut membuat pabrik tahu dan tempe untuk meningkatkan perekonomian. Hal ini disebabkan masih jarang produsen sejenis. Hal ini tentunya menjadi kabar baik bagi masyarakat Desa Long Loreh yang ingin mengembangkan dan menggerakkan perekonomian desa. Anggapan dan ketergantungan masyarakat akan perusahaan tambang sekiranya dapat berkurang bila masyarakatnya mau mandiri. Salah satu caranya adalah membuka usaha pembuatan tahu dan tempe. Dengan begitu, kegiatan ekonomi di Desa Long Loreh akan semakin beragam dan potensi desa semakin tergali lagi.

DSC06839 DSC06841 DSC06845 DSC06850 DSC06855 DSC06858 DSC06861 DSC06862 DSC06867 DSC06869 DSC06871 DSC06875 DSC06876 DSC06877 DSC06882 DSC06886 DSC06887 DSC06888 DSC06891 DSC06893 DSC06894

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 25, 2015 by in Bebas.
%d bloggers like this: