Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Ketidaktepatan Positivisme Logis dalam Masalah Sosial Budaya

Menurut Karl Raimund Popper, ada beberapa hal yang membuat positivisme logis ini tidak sesuai dalam masalah sosial budaya. Malahan, masalah sosial budaya ini dirasa lebih cocok memakai rasionalisme kritis. Hal ini disebabkan positivisme logis menempatkan ilmu pengetahuan bersumber dari pengalaman dan tidak menerima hal yang bersifat metafisika. Hal yang bersifat metafisika disebut positivisme logis sebagai sesuatu yang meaningless atau tidak bermakna. Bisa dibilang, positivisme logis membuktikan atau membenarkan fakta melalui pengamatan dan eksperimen yang lebih cocok digunakan untuk penerapan metode ilmu pengetahuan alam.

Selain itu, dalam positivisme logis fakta dipandang sebagai sesuatu yang dianggap obyektif, terlepas dari pengaruh teori, dan merupakan bagian yang utuh dari teori. Kreativitas dan imajinasi ilmuwan pun pada positivisme logis tidak diperhitungkan. Bahkan, fakta dianggap sebagai fondasi tepercaya bagi ilmu pengetahuan. Kemudian, fakta dalam postivisme logis juga ditempatkan sebagai premis untuk menarik kesimpulan pada tataran teori yang abstrak dan umum. Hal ini tentu saja berbeda dengan rasionalisme kritis yang mengakui keterkaitan fakta dengan teori. Lalu, rasionalisme kritis Popper juga memberi tempat yang terhormat pada kreativitas dan imajinasi. Tidak ketinggalan, dalam rasionalisme kritis teori yang abstrak dan umum justru dipakai sebagai premis, sedangkan fakta dianggap sebagai kesimpulan.

Lebih mendalam lagi, perbedaan antara postivisme logis degan rasionalisme kritis disampaikan oleh Alfons Taryadi yang mengutip rumusan Hendryk Skolimowski yang tertera pada materi kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan dari Dr. Akhyar Yusuf. Pertama, rasionalisme kritis lebih mendekati ilmu pengetahuan dari segi pertumbuhannya, sedangkan positivisme logis lebih mengarah kepada segi strukturnya. Kedua, rasionalisme kritis menganggap metafisika bisa bermakna sebagai sumber ilmu, sedangkan positivisme logis menganggap metafisika tidak bermakna. Ketiga, rasionalisme kritis mengajukan pendapat bahwa ilmu berkembang melalui konjektur yang imajinatif dan berani dengan dikontrol tes yang sistematis, sedangkan positivisme logis mempunyai metode induksi untuk verifikasi teori. Keempat, rasionalisme kritis berpendapat bahwa tidak ada fondasi yang tidak tergoyahkan, sedangkan positivisme logis beranggapan bahwa pengalaman adalah fondasi kokoh bagi ilmu pengetahuan.

Dalam hal ini, positivisme logis lebih mengarah dan cocok diaplikasikan ke dalam metode ilmu pengetahuan alam dan tidak cocok diterapkan ke dalam ilmu pengetahuan sosial budaya. Sebab, ada perbedaan yang mendasar antara fenomena alam dengan fenomena sosial budaya. Hal tersebut membuat pemaksaan penerapan metode ilmu pengetahuan alam dianggap tidak tepat untuk ilmu sosial budaya. Hal ini sejalan dengan Harre yang menyebut metode kuantitatif dominan dipakai pada penelitian ilmu pengetahuan alam sebagai paradigma lama, sedangkan metode kualitatif lebih dominan dipakai pada penelitian sosial budaya sebagai paradigma baru.

Tidak hanya itu, perbedaan mendasar ilmu pengetahuan alam dengan ilmu pengetahuan sosial budaya juga diutarakan oleh Winch. Perbedaan tersebut terletak pada tujuannya. Jika ilmu pengetahuan alam bertujuan menemukan hukum alam dan memberikan penjelasan, maka ilmu pengetahuan sosial budaya lebih bertujuan menginterpretasikan fenomena sosial budaya itu sendiri. Hal ini disebabkan positivisme logis menolak keberagaman fenomena. Padahal, fakta tidak lagi seperti fakta yang tersedia. Makusdnya, para ilmuwan menghadapi realitas baru, ketidakpastian, dan kepanikan moral yang menghadang dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Maka dari itu, adanya keunikan individu dan kekhasan fenomena sosial budaya membuat perlunya paradigma baru yang bisa menghargai atau memfasilitasi keanekaragaman dan keunikan fenomena sosial budaya tersebut.

 

Daftar Acuan

Lubis, Akhyar Yusuf. 2014. Filsafat Ilmu Klasik hingga Kontemporer. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Lubis, Akhyar Yusuf. 2015. Falsifikasionisme Karl Raimund Popper sebagai Alternatif Induktivisme Positivisme Logis. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 4, 2015 by in Bebas.
%d bloggers like this: