Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Analisis Konteks “Akun Facebook Wali Kota Bogor Diretas”

 I. Pendahuluan

Di dalam pemberitaan  di media massa cetak maupun daring sekarang ini, mulai banyak dijumpai artikel yang memuat mengenai perseorangan atau tokoh tertentu dibandingkan institusi ataupun kebijakan maupun permasalahan sosial di sekitar. Meskipun proporsi berita tokoh ini masih tidak terlalu mendominasi, tetap saja berita tentang tokoh selalu dimunculkan. Entah, pemberitaan tokoh tersebut berkaitan dengan kasus korupsi, pencalonan tertentu, ataupun skandal dirinya. Hal ini memunculkan gambaran bahwa artikel yang memuat tokoh juga termasuk muatan artikel yang diminati pembaca di Indonesia.

Dalam hal ini, pemberitaan tokoh tidak sembarang tokoh yang diberitakan. Maksudnya, tidak semua tokoh akan diberitakan di dalam media massa cetak maupun daring. Terlepas dari berbagai faktor yang memengaruhi media massa tersebut, ada kecenderungan bahwa tokoh yang dimunculkan memiliki dua ciri. Pertama, ciri yang dimunculkan adalah tokoh yang belum familiar oleh publik sebelumnya tetapi terlibat dalam kasus korupsi atau kasus negatif lainnya. Hal ini tidak mengherankan karena kasus korupsi merupakan kasus yang sekarang sedang jadi sorotan publik sehingga siapapun orangnya walaupun tidak terkenal akan dimunculkan dengan penekanan jabatan tokoh korupsi tersebut. Kedua, tokoh yang memang sudah lama melalang buana di dalam dunia pemberitaan media massa dengan citra positif apalagi jika tokoh tersebut mempunyai jabatan atau status sosial yang tinggi.

Berkaitan dengan hal tersebut, konteks apa yang ada di dalam artikel mengenai tokoh menarik untuk dilihat secara mendalam. Hal ini akan memperlihatkan konteks apa yang biasa ada di dalam artikel tentang tokoh dengan mengambil contoh atau sampel dari artikel yang menjadi data pada tulisan ini. Apakah konteks lebih cenderung kepada sosok pribadi tokoh tersebut ataukah konteks dominannya lebih kepada jabatan yang disandang oleh tokoh tersebut. Selain itu, tulisan ini juga akan memperlihatkan perbedaan teori konteks yang dipaparkan oleh Hymes, Cook, dan Cutting berdasarkan fokus teorinya masing-masing. Hal ini dimaksudkan untuk memeproleh gambaran yang menyeluruh mengenai hal apa yang membedakan ketiganya dalam hal konteks.

 

II. Teori Konteks Menurut Beberapa Ahli

Ada beberapa teori konteks yang sekiranya bisa dipakai untuk membantu pemahaman dalam menganalisis konteks. Beberapa teori konteks tersebut adalah teori menurut Cutting (2002), Cook (1992), dan Hymes (dalam Renkema, 2004). Dari beberapa teori tersebut akan dicari apa saja yang menyamakan dan membedakan di antara ketiganya. Hal ini dimaksudkan untuk memahami lebih komprehensif terkait analisis konteks yang nantinya akan dikaitkan dengan artikel “Akun Facebook Wali Kota Bogor Diretas”.

Hymes (dalam Renkema, 2004: 44) mempunyai istilah tersendiri dalam membantu menganalisis konteks. Nama istilah dari model yang diajukan Hymes adalah SPEAKING. Akronim ini mempunyai kepanjangan Setting, Participants, Ends, Act, Keys, Instrumentalities, Norms, and Genres. Beberapa komponen ini yang dijadikan acuan untuk melihat konteks pada sebuah wacana. Setting atau latar sendiri merujuk atau mengarah kepada sesuatu yang berhubungan dengan waktu dan tempat terjadinya komunikasi serta latar psikologis. Participants atau peserta berkaitan dengan penutur (speaker) atau pemberi pesan (sender) dan peserta tutur (audience) atau penerima pesan (receiver). Ends merupakan hasil dan tujuan yang ingin dicapai atau goals dari sebuah percakapan.

Act termasuk ke dalam bentuk dan muatan pesan yang mengacu pada bentuk isi kalimat. Misalnya, kalimat seruan, kalimat perintah, kalimat tanya, dan lain-lain. Keys atau cara lebih kepada cara peserta tutur mengemukakan pesan, seperti serius, becanda, santai, dan sebagainya. Instrumentalities atau sarana adalah hal yang mengacu pada medium penyampaian pesan seperti secara lisan atau tulis maupun dengan telepon atau langsung. Norms atau norma mengacu kepada aturan main atau perilaku peserta komunikasi. Misalnya, komunikasi satu arah, dua arah, atau interupsi. Genre atau jenis ini lebih mengarah kepada kategori, seperti percakapan, teks, dan ragam bahasa (formal dan nonformal).

Beda lagi, Cook (1992: 5) membagi konteks ke dalam beberapa kategori yang tidak sama dengan kategori yang dikemukakan oleh Hymes. Beberapa kategori tersebut adalah substansi, parabahasa, situasi, ko-teks, interteks, peserta, dan fungsi. Substansi adalah materi fisik apapun yang membantu komunikasi, seperti udara, telepon, televisi, dan komputer. Parabahasa merupakan perilaku bermakna apapun yang mengiringi bahasa. Misalnya, mimik wajah dan jenis huruf. Situasi lebih kepada sifat dan hubungan antarhal di luar wacana. Ko-teks, yaitu teks yang mengetahui atau didahului atau mengikuti teks. Interteks adalah teks yang dipandang menjadi bagian atau berhubungan dengan teks yang lain. Participants atau peserta komunikasi ialah siapapun yang terlibat dalam peristiwa komunikasi yang termasuk pula perasaan, pengetahuan, sikap, perilaku, dan lain-lain. Terakhir, fungsi cenderung mengarah kepada untuk apa teks dihasilkan atau dikemukakan.

Tidak hanya itu, Cutting (2002: 3-6) pun mempunyai teori yang berbeda mengenai konteks. Dalam hal ini, Cutting membagi konteks ke dalam tiga jenis, yaitu konteks situasional, konteks latar belakang, dan konteks ko-tekstual. Konteks situasional adalah apa yang diketahui oleh peserta komunikasi tentang apapun di sekeliling atau di sekitar. Kemudian, konteks latar belakang ialah apa yang diketahui peserta komunikasi tentang mitra tutur/tulis (interpersonal knowledge) dan dunia (cultural general knowledge). Ada pula konteks ko-tekstual yang dapat diartikan sebagai apa yang diketahui oleh peserta komunikasi tentang apa yang telah dikatakan atau dinyatakan.

Jika dilihat secara keseluruhan, ketiganya mempunyai teori konteks yang berbeda. Perbedaan tersebut terlihat dari dimensi atau ranah fokus aspek yang ingin dilihat dalam melakukan analisis. Dalam hal ini, Charles Morris (dalam Noth, 1995) membagi tiga dimensi semiosis dalam kaitan analisis gabungan wacana dengan semiotik. Ketiga dimensi tersebut adalah dimensi sintaksis, dimensi semantik, dan dimensi pragmatik. Dari ketiga dimensi ini memiliki spesifikasi atau objek kajian yang berbeda tetapi ketiganya saling berkaitan satu sama lain. Hal ini disebabkan ketika ingin melakukan analisis konteks dengan menggunakan ketiga dimensi ini sekiranya dapat menghasilkan analisis konteks yang mendalam dibanding hanya melihat ke dalam satu dimensi saja.

Dimensi sintaksis merupakan dimensi yang didasarkan pada hubungan antarbahasa. Maksudnya, dimensi sintaksis melihat teks dalam tataran frase, klausa, dan kalimat. Hal ini memberikan pemahaman bahwa dimensi sintaksis cenderung melihat sesuatu yang ada di dalam teks itu sendiri atau dari sudut pandang bahasanya. Kalau dihubungkan dengan tiga teori konteks yang ada, dimensi sintaksis merupakan dimensi yang dipakai oleh teori konteks Hymes. Di lain pihak, dimensi semantik merupakan dimensi yang fokusnya didasarkan pada makna dari sebuah teks. Makna di sini tidak hanya dapat diartikan sebagai makna kata saja tetapi makna seperti gambar, suara atau sesuatu yang berada di luar bahasa masih bisa diperikutkan. Dari teori konteks yang ada, teori konteks dari Cook sekiranya lebih masuk ke dalam dimensi semantik ini. Hal ini disebabkan hal yang berada di luar bahasa ikut dimasukkan ke dalam kategori studinya.

Dimensi berikutnya adalah dimensi pragmatik. Dimensi ini hampir sama dengan dimensi semantik yang memperikutkan aspek atau hal yang berada di luar bahasa. Akan tetapi, aspek di luar bahasa yang dijadikan fokus pada dimensi semantik dan pragmatik ini berbeda. Kalau dimensi semantik lebih memperikutkan aspek seperti gambar, suara, dan sebagainya, dimensi pragmatik lebih kepada memperikutkan aspek peserta yang ikut di dalam komunikasi tersebut. Lebih jelasnya lagi, dimensi pragmatik ini merupakan dimensi yang melihat penerimaan sebuah tanda atau teks pada masyarakat. Bila dihubungkan dengan teori konteks, bisa dibilang dimensi pragmatik termasuk ke dalam fokus dari teori konteksnya Cutting. Dengan begitu, dapat diketahui bahwa beda teori konteks, berbeda pula dimensi atau ranah fokus aspek yang dilihat pada teori konteks tersebut.

 

III. Metode

Metode pemerolehan data didapat dari artikel surat kabar cetak atau koran. Data yang diambil merupakan salah satu artikel yang paling menarik dan tidak terlalu panjang. Hal ini disebabkan cakupan tulisan ini hanya sebatas melihat perbedaan dari teori konteks yang dikemukakan oleh Hymes, Cook, dan Cutting sehingga dirasa tidak perlu memerlukan data dengan teks yang panjang. Surat kabar cetak yang dipilih adalah koran Kompas edisi 10 Oktober 2015 dengan artikel yang berada pada kolom Kilas Metro yang berjudul “Akun Facebook Wali Kota Bogor Diretas”.

Artikel ini menjadi menarik untuk dibahas karena seperti yang diketahui bersama bahwa Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto, sebelum menjabat seperti sekarang merupakan seorang politisi yang segala hal yang diterima ataupun yang dilakukannya bisa jadi memuat unsur politik di dalamnya. Terlebih lagi, media sosial seperti Facebook miliknya diretas entah oleh siapa. Hal tersebut membuat hal apa yang ada di konteks tersebut menarik dilihat lebih jauh. Kemudian, hal-hal yang menjadi dasar konteks ini menjadi heboh juga menarik diketahui dan dilihat dalam analisis konteks.

Langkah pertama yang dilakukan dalam tulisan ini adalah mengambil data terkait unsur sintaksis, semantik, dan pragmatik berdasarkan teori konteks dari Hymes, Cook, dan Cutting. Setelah data dari beberapa unsur tersebut diambil, data akan dibedakan berdasarkan tiga teori seperti yang telah disebutkan. Kemudian, dari data yang ada akan dilihat apakah aspek yang ditonjolkan di dalam artikel tersebut. Hal ini akan memudahkan untuk melihat konteks besar apa yang terkandung di dalam artikel yang berjudul “Akun Facebook Wali Kota Bogor Diretas” selain perbedaan mendasar ranah dari ketiga teori konteks tersebut.

 

IV. Analisis Konteks “Akun Facebook Wali Kota Bogor Diretas”

Pada artikel dalam rubrik Kilas Metro yang berjudul “Akun Facebook Wali Kota Bogor Diretas” terdapat beberapa konteks yang dapat dilihat berdasarkan tiga teori dari Hymes, Cook, dan Cutting. Dalam hal ini, unsur atau kategori apa saja yang ada di dalam aertikel ini akan dibahas satu per satu sehingga pemahaman mengenai perbedaan ketiga teori dapat terlihat dengan jelas.

Pada teori konteks yang dikemukakan oleh Hymes, kategori yang membentuk konteks ada delapan yang membentuk akronim SPEAKING. Kategori tersebut adalah latar, peserta, hasil & tujuan, bentuk pesan, cara, sarana, norma, dan jenis. Dilihat dari artikel yang menjadi sumber data, dapat diketahui bahwa latar yang terdapat pada artikel mengarah kepada waktu terjadinya. Waktu terjadinya peristiwa peretasan tidak diketahui tetapi waktu Bima Arya mengumumkan peristiwa tersebut adalah Jumat (9/10). Peserta percakapan yang dituju wali kota Bogor ini adalah masyarakat luas yang memiliki pertemanan di sosial media Facebook. Hal ini disebabkan pemberitahuan peretasan akun Facebook Bima Arya dilakukan oleh dirinya sendiri di akun Twitter dengan menyebutkan kata “teman2” pada penggalan kicauan “Selamat bekerja teman2, mengabarkan akun FB pribadi saya dibajak, mohon abaikan apapun”.

Dari penggalan kicauan tersebut juga menyaratkan bahwa tujuan yang diharapkan Bima Arya adalah agar masyarakat tidak menanggapi apapun yang ada di akun Facebook dirinya karena akun tersebut diretas oleh sorang tidak dikenal. Takutnya, ada dugaan kejahatan yang mengatasnamakan dirinya apalagi Bima Arya merupakan wali kota Bogor. Bentuk dari pesan yang disampaikan pun tergolong ke dalam kalimat seruan untuk mengabaikan apapun yang ada di akun Facebook tersebut. Cara yang dilakukan Bima Arya dilakukan dengan mengemukakan pesan secara santai. Hal ini terlihat dari adanya pengantar “Selamat bekerja teman2” sebelum isi pesan yang sebenarnya ingin disampaikan.

Sarana atau instrument yang dipakai adalah melalui akun Twitter miliknya dengan penyampaian pesan secara tertulis. Norma yang ada pada artikel tersebut pun dilakukan dengan model komunikasi satu arah. Hal ini disebabkan Bima Arya hanya sebatas mengabarkan tanpa melibatkan peserta komunikasi lain dengan diberikan pertanyaan di akhir kicauannya. Hal ini menandakan bahwa jenis situasi yang diberikan termasuk ke dalam kategori laras formal walaupun memakai akun pribadi dirinya bukan di akun pemerintah atau institusi. Kondisi tersebut dilakukan Bima Arya tidak terlepas dari jabatannya sebagai wali kota Bogor yang harus menjaga wibawanya di depan publik. Maka dari itu, kicauan di akun Twitter pribadinya pun dibuat dalam laras formal supaya kredibilitasnya di depan publik masih terjaga dan benar keaslian akunnya.

Di lain pihak, Cook melihat konteks pemberitahuan peretasan akun Facebook Bima Arya berdasarkan tujuh kategori. Beberapa kategori tersebut adalah substansi, parabahasa, situasi, ko-teks, interteks, peserta, dan fungsi. Dilihat dari sisi substansi, materi fisik yang membantu komunikasi di sini adalah sosial media, baik dilakukan di telepon genggam ataupun komputer. Dalam hal ini, tidak ada aspek lain selain bahasa yang bisa dilihat. Dari sisi parabahasa pun tidak ada yang bisa dilihat di sini. Hal ini disebabkan parabahasa yang dimaksud Cook lebih kepada kualitas suara, gerak tubuh, mimik wajah, dan jenis huruf. Situasi yang ada di dalam artikel peretasan akun Facebook Bima Arya adalah adanya kekhawatiran Bima Arya kalau akun milik dirinya disalahgunakan mengingat dirinya berada di dalam ranah politik yang bisa saja peretasan tersebut mengancam nama baiknya sebagai individu maupun sebagai wali kota Bogor.

Ko-teks yang ada di sini merupakan pernyataan dari Bima Arya dalam kicauannya di akun Twitter yang sekaligus mampu menjawab interteks yang ada di dalam artikel tersebut. Keterangan pada artikel sengaja memuat pernyataan kicauan akun Twitter Bima Arya untuk lebih meyakinkan bahwa apa yang ditulisnya memang benar. Peserta yang terlibat dalam komunikasi bisa dibilang antara Bima Arya dengan masyarakat yang mengikuti akun di sosial medianya. Fungsi yang dimaksud Bima Arya di sini adalah menghimbau masyarakat agar waspada atas apa yang penyalahgunaan akun Facebooknya. Hal ini dikhawatirkan dapat menjadi modus pemerasan atau hal negatif lainnya.

Beda lagi dengan Cutting, konteks yang dimaksud terbagi menjadi tiga, yaitu konteks situasional, konteks pengetahuan latar belakang, dan konteks ko-tekstual. Konteks situasional yang ada di dalam artikel tersebut adalah situasi percakapan yang membahas tentang peretasan akun Facebook Bima Arya. Kemudian, konteks pengetahuan latar belakang yang ada di sini adalah pengetahuan latar belakang yang sama-sama mengatahui bahwa peretasan akun Facebook dapat termasuk ke dalam tindakan negatif. Pengetahuan latar belakang tentang peretasan akun Facebook yang bersifat negatif tersebut didasarkan pada kebiasaan orang Indonesia yang membajak dengan maksud melakukan aksi kejahatan apalagi akun yang dibajak adalah akunnya wali kota Bogor. Hal tersebut didukung dengan adanya pemasangan status atau foto yang tidak selayaknya. Selain itu, adanya kekhawatiran Bima Arya terhadap akun facebook yang diretas bisa jadi tergolong ke dalam pengetahuan interpersonal tentang mitra tulis. Terakhir, konteks ko-tekstual yang dapat ditunjukkan pada artikel yang menjadi data tulisan ini adalah Bima Arya akhirnya berencana untuk melaporkan peretasan dan pemalsuan akun miliknya.

 

V. Penutup

Dari berbagai pemaparan berdasarkan tiga teori konteks yang berbeda, dapat disimpulkan bahwa artikel yang berjudul “Akun Facebook Wali Kota Bogor Diretas” dirasa lebih cocok memakai teori konteks Hymes. Hal ini disebabkan bentuk artikel ini yang bisa dilihat secara utuh pada teori konteks Hymes yang lebih melihat dari sisi sintaksisnya.

Berbeda dengan teori konteks Cook yang ada beberapa kategori yang kurang sesuai karena ketiadaan beberapa elemen. Misalnya, kualitas suara, gerak tubuh, mimik wajah, dan jenis huruf. Hal tersebut menyaratkan bahwa teori konteks Cook lebih cocok mengkaji data iklan yang beberapa unsur yang disebutkan sebelumnya ada. Beberapa unsur tersebut juga menandakan bahwa teori konteks lebih fokus dalam ranah semantik karena melibatkan makna di luar bahasa.

Begitu pula dengan teori konteks Cutting yang melihat konteks dari sudut keberterimaan suatu teks. Hal ini membuat aspek pragmatik merupakan aspek yang menjadi fokus kajian konteks Cutting. Aspek pragmatik yang dilihat mengarahkan bahwa data yang lebih sesuai adalah teks dialog sehingga segi pragmatik akan jauh terlihat.

 

 

Daftar Pustaka

Cutting, J. 2002. Pragmatics and Discourse: A Resource Book for Students. London & New York: Routledge.

Cook, G. 1992. The Discourse of Advertising. Edisi Kedua. London/New York: Routledge.

Nöth, Winfried. 1995. Handbook of Semiotics. Bloomington dan Indianapolis: Indiana University Press. Hlm.39-47 dan 310-313

Renkema, J. 2004. Introduction to Discourse Studies. Second Edition. Amsterdam/Philadelphia: John Benjamins Publishing Company.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 5, 2015 by in Bebas.
%d bloggers like this: