Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Analisis Pragmatik Keberterimaan Jawaban

 

I. Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali percakapan yang ditemui tidak straight forward atau tidak secara langsung. Hal ini membuat percakapan tersebut perlu mendapat pemahaman yang padu atau menyeluruh agar penutur dan mitra tutur sama-sama memahami konteks yang sama. Pemahaman ini bisa saja disebabkan oleh berbagai faktor di dalam dan di luar bahasa tersebut. Maka dari itu, konteks keberterimaan jawaban perlu diteliti lebih lanjut supaya antara penutur dan mitra tutur mengetahui apa saja faktor yang bisa menjadikan jawaban relevan dan yang tidak walaupun secara tersirat sekalipun. Hal ini bisa juga dijadikan sebagai acuan mana percakapan yang menjawab pertanyaan yang diberikan dan mana percakapan yang tidak menjawab pertanyaan tetapi masih berterima.

 

II. Konsep Pragmatik dalam Wacana Menurut Joan Cutting (2002)

Dalam memahami pragmatik keberterterimaan jawaban diperlukan beberapa aspek yang dapat memberikan gambaran mengenai hal tersebut. Dari beberapa teori yang ada, teori dari Joan Cutting tentang bahasa dan konteksnya di luar bahasa atau non-lingual dirasa sesuai menjelaskan keterkaitan keberterimaan jawaban. Ada tiga hal yang perlu dipahami dalam konteks di luar bahasa, yaitu konteks situasional, konteks pengetahuan latar belakang, dan konteks ko-tekstual.

Konteks situasional yang dimaksud di sini adalah hal apa saja yang diketahui oleh penutur yang ada di sekitarnya. Pada penelitian ini, konteks situasional diperlukan sebagai informasi tambahan  dalam menganalisis data ujaran protektif. Biasanya, hal yang terkait dengan konteks situasional ini adalah pelaku, tempat, dan peristiwa yang ada dalam sebuah situasi tertentu. Kemudian, ada pula konteks ko-tekstual. Konteks ko-tekstual di sini diartikan sebagai konteks yang mengacu kepada hal yang telah diketahui peserta komunikasi tentang apa yang telah dikatakan atau dinyatakan.

Berikutnya, konteks latar belakang adalah konteks keseluruhan berdasarkan latar belakang yang ada dalam suatu percakapan antara pembicara dan pendengar sama-sama mengetahui apa yang sedang dibicarakan. Misalnya, konteks budaya yang jika penutur dan kawan tutur memiliki kesamaan budaya maka akan dengan mudah membicarakan sesuatu yang bersifat kedaerahan tersebut. Hal ini disebabkan antara kedua belah pihak sama-sama mempunyai konteks latar belakang. Meskipun demikian, konteks latar belakang bisa juga berlandaskan pengetahuan interpersonal selain pengetahuan budaya.

Terakhir, konteks ko-teks yang terdapat pada pertanyaan dan jawaban di atas menandakan bahwa melalui berbagai jawaban tersebut seseorang yang bertanya menjadi tahu bahwa kotak coklatnya tidak ada karena (b) sudah dimakan oleh seseorang yang menjawab pertanyaan tersebut dan (c) ada dugaan kotak coklat telah dimakan oleh anak kecil yang tadi ke ruangan kotak coklat disimpan. Hal ini disebabkan konteks ko-teks mengacu kepada hal yang diketahui peserta komunikasi tentang apa yang telah dikatakan.

 

III. Metode

Perolehan data pada tulisan ini diambil dari satu dialog yang mempunyai banyak kemungkinan jawaban yag diambil pada buku Introduction to Discourse Studies (2004: 21). Berikut dialog yang diambil menjadi data pada tulisan ini.

 

A: Where’s my box of chocolates?

            B: a. Where are the snows of yearteryear?

                 b. I was feeling hungry

                 c. The Children were in your room this morning.

 

Pada tulisan ini, metode yang dipakai menggunakan metode kualitatif. Menurut Sugiono (2009:15), metode kualitatif adalah metode yang dilakukan dengan analisis data bersifat induktif dan lebih menekankan makna daripada generalisasi. Kemudian, langkah yang diambil untuk melakukan analisis adalah dengan mengkaitkan data dengan landasan teori terkait konsep pragmatik dalam wacana menurut Joan Cutting (2002).

 

IV. Analisis Pragmatik Keberterimaan Jawaban

Jika melihat ketiga aspek pragmatik yang disebutkan Joan Cutting, keberterimaan jawaban antara pertanyaan dan jawaban di atas bisa menjadi relevan. Hal ini disebabkan pertanyaan dan jawaban tersebut mengandung tiga unsur pragmatik, seperti konteks situasional, konteks latar belakang, dan konteks ko-teks.

Konteks situasional yang ada pada pertanyaan dan jawaban di atas lebih kepada situasi seseorang yang menanyakan kotak coklat yang dimilikinya. Seseorang ini menanyakan kotak coklatnya karena kotak coklatnya tidak ada di tempat ia menaruh kotak coklat tersebut. Dengan menanyakan kotak coklat tersebut diharapkan seseorang yang bertanya mendapatkan jawaban letak dari kotak coklatnya sehingga seseorang ini tidak lagi mencari kotak coklatnya yang hilang.

Selanjutnya, konteks kedua yang terkandung pada pertanyaan dan jawaban tersebut adalah konteks latar belakang yang terbagi ke dalam pengetahuan interpersonal dan pengetahuan kultural. Pengetahuan interpersonal yang ada di dalam dialog lebih menekankan kepada pengetahuan komunikasi tentang mitra tutur. Dalam hal ini, pengetahuan interpersonal yang ada terlihat dalam pengetahuan mengenai seseorang yang sedang mencari kotak coklat yang dimilikinya. Sementara itu, kata “kotak coklat” menjadi bagian dari pengetahuan latar belakang tentang dunia atau budaya.

Lebih lanjut, jika melihat pilihan jawaban yang ada terdapat pengetahuan interpersonal di setiap jawabannya walaupun disampaikan dengan cara yang berbeda dan ada yang tidak menjawab pertanyaannya. Pada jawaban (a) pengetahuan interpersonal pada bagian ini lebih mengarah kepada pengetahuan puisi yang secara kebetulan teksnya sama dengan pertanyaannya sehingga seseorang yang diajak bicara langsung menghubungkannya ke teks lanjutan dari puisi tersebut walupun sebenarnya tidak menjawab pertanyaan yang benar ditujukan.

Lalu, jawaban (b) memiliki pengetahuan interpersonal yang mengetahui siapa yang mengambil kotak coklat tersebut. Pengetahuan akan siapa yang mengambil kotak coklat tersebut tidak secara langsung diungkapkan tetapi diungkapkan secara tersirat. Meskipun diungkapkan secara tersirat, jawaban masih dianggap relevan karena seseorang yang bertanya memiliki pemahaman atau pengetahuan budaya dari kawan bicaranya sehingga seseorang yang bertanya mengetahui ke mana kotak coklat yang hilang tersebut. Dalam hal ini, pemberi jawaban mengungkapkan bahwa tadi ia sedang lapar yang menandakan coklatnya telah dimakan.

Jawaban (c) memiliki pengetahuan interpersonal yang hampir mirip dengan jawaban (b). Bedanya, jawaban (c) menjelaskan pemahamannya tentang kotak coklat berdasarkan apa yang dilihat sebelumnya walaupun sama-sama menjawabnya secara tersirat. Meski begitu, seseorang yang bertanya tetap akan mengerti maksud dari jawaban tersiratnya karena adanya pengetahuan budaya dari situasi  jawaban yang diberikan. Dalam hal ini, ia menjawab bahwa ada anak kecil yang tadi ke ruangan ini yang menandakan bahwa bisa saja anak kecil tersebut yang mengambil coklatnya. Adanya situasi tersebut mampu menjawab pertanyaan di mana kotak coklatnya tanpa pemberi jawaban menuduh anak kecil tersebut.

 

V. Penutup

Berdasarkan penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa antara pertanyaan dan tiga alternatif  jawaban sama-sama tergolong relevan atau berkaitan satu sama lain. Hanya saja, dari tiga alternatif jawaban tersebut menyambungnya ke dalam situasi yang berbeda sehingga keberterimaannya pun berbeda walaupun sama-sama masih berterima. Bedanya, kalau jawaban (a) tidak menjawab pertanyaan tetapi masih berterima karena meneruskan lirik sebuah puisi yang memiliki teks yang sama dengan pertanyaan. Sisanya, antara jawaban (b) dan (c) sama-sama menjawab pertanyaan secara tersirat tetapi penyampaian jawabannya berbeda. Seperti yang diketahui bahwa jawaban (b) menjawab bahwa dialah yang memakan coklat yang sedang dicari oleh penanya, sedangkan jawaban (c) menjawab bahwa bisa saja anak kecil yang tadi pagi ke ruangan tempat penyimpanan coklat yang mengambil coklat tersebut.

 

 

Daftar Pustaka

Cutting, Joan. 2002. Pragmatics and Discourse. London and New York: Routledge.

Renkema, Jan. 2004. Introduction to Analysis Discourse. Amsterdam/Philadelphia: John Benjamins Publishing Company.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 5, 2015 by in Bebas.
%d bloggers like this: