Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Keterkaitan Bahasa dengan Identitas Sosial: Studi Kasus Pulau Belitung

Oleh Satwiko Budiono dan Evi Santi Pratiwi

 

ABSTRAK

Film Laskar Pelangi (2008) sangat memengaruhi masyarakat Pulau Belitung dalam berbagai aspek. Salah satu aspek yang ikut mendapat pengaruh dari fenomenalnya film tersebut adalah bahasa. Dalam hal ini, film Laskar Pelangi membuat adanya perbedaan pengakuan bahasa dari masyarakat Pulau Belitung. Sebagian masyarakat mengaku menggunakan bahasa Melayu dan sebagian masyarakat lainnya mengaku menggunakan bahasa Belitung. Padahal, dalam Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia (2008) tidak ada penggolongan bahasa Belitung pada deskripsi bahasa-bahasa di wilayah Sumatra. Hal tersebut juga senada dengan adanya kamus kecil Bahasa Melayu Belitong (2007) yang lebih menunjukkan bahasa yang dipakai masyarakat Pulau Belitung adalah bahasa Melayu. Untuk itu, penelitian ini akan melihat apakah bahasa Melayu dan bahasa Belitung memiliki perbedaan dan apa yang mendasari munculnya pengakuan bahasa Belitung. Hal tersebut sekiranya dapat terjawab dengan menggunakan pendekatan dialektologi. Metode kualitatif dan kuantitatif yang menggunakan penghitungan dialektometri akan lebih menguatkan penggunaan bahasa masyarakat Pulau Belitung. Hasil yang didapat dari penelitian ini pun menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bahasa antara bahasa Melayu dengan bahasa Belitung. Pengakuan masyarakat atas bahasa Belitung lebih memperlihatkan kebanggaan masyarakat Belitung terhadap identitas wilayahnya. Selain itu, bahasa Belitung juga cenderung dijadikan alat pembeda dengan masyarakat daerah lainnya.

Kata Kunci: Pengakuan bahasa, dialektologi, dan situasi bahasa.

 

I. PENDAHULUAN

Film Laskar Pelangi (2008) tanpa disadari membawa dampak yang besar terhadap masyarakat Pulau Belitung. Dampak tersebut berhubungan dengan berbagai segi atau aspek. Misalnya, segi ekonomi, pariwisata, budaya, dan sebagainya. Jika dari segi ekonomi dan pariwisata sudah jelas bahwa setelah penayangan film yang sukses tersebut banyak membawa wisatawan lokal maupun mancanegara berlibur ke pulau ini. Di sisi lain, aspek bahasa juga ternyata ikut terpengaruh dari fenomenalnya film Laskar Pelangi ini. Dari segi bahasa, masyarakat Pulau Belitung mengalami perbedaan pengakuan bahasa setelah munculnya film dari pengarang Andrea Hirata. Dalam hal ini, sebagian masyarakat Pulau Belitung mengaku menggunakan bahasa Melayu dan sebagian masyarakat lainnya mengaku menggunakan bahasa Belitung.

Hal yang unik di sini adalah adanya pengakuan sebagian masyarakat Pulau Belitung yang menggunakan bahasa Belitung. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan apakah benar ada bahasa Belitung dan apa perbedaannya dengan bahasa Melayu. Hal ini disebabkan secara sekilas saat penulis berada di Pulau Belitung tidak menemukan pembeda bahasa yang digunakan oleh masyarakat yang mengaku menggunakan bahasa Belitung  maupun masyarakat yang mengaku menggunakan bahasa Melayu. Kemudian, jika melihat Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia (2008) pun tidak ada penyebutan bahasa Belitung pada deskripsi bahasa-bahasa di daerah lingkup Sumatra. Ditambah lagi, penulis menemukan adanya kamus kecil Bahasa Melayu Belitong (2007). Kamus kecil tersebut cenderung memperlihatkan bahwa bahasa yang digunakan masyarakat Pulau Belitung adalah bahasa Melayu dengan adanya kata Belitung setelah bahasa Melayu agar menjadi pembeda daerah.

Oleh sebab itu, pada tulisan ini penulis ingin mengetahui sejauh mana perbedaan bahasa Melayu dengan bahasa Belitung dan apa yang mendasari munculnya pengakuan bahasa Belitung dengan menggunakan pendekatan dialektologi. Tataran dialektologi dipakai karena tataran ini sekiranya akan lebih memperlihatkan penamaan bahasa secara kuantitatif dan kualitatif sehingga landasan pemunculan pengakuan bahasa Belitung dapat terdeteksi. Selain itu, pada tulisan ini hasil dari penghitungan kuantitatif yang menggunakan dialektometri akan dikaitkan dengan identitas sosial sebagai tambahan untuk segi kualitatifnya. Hal ini bertujuan untuk menjelaskan faktor apa yang memengaruhi perbedaan penamaan bahasa di Pulau Belitung.

 

II. TEORI & METODOLOGI

Metode yang dipakai pada tulisan ini ada dua, yaitu penghitungan dialektometri dan komponen dalam identitas sosial. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tulisan ini dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif yang dipakai adalah penghitungan dialektometri, sedangkan metode kualitatif dapat dikaitkan dengan komponen identitas sosial. Menurut Revier dalam Ayatrohaedi (1983: 32), dialektometri adalah ukuran secara statistik yang dipergunakan untuk melihat seberapa jauh perbedaan dan persamaan yang terdapat di tempat-tempat yang diteliti dengan membandingkan sejumlah bahan yang terkumpul dari tempat yang diteliti tersebut. Berikut rumus penghitungan dialektometri yang diajukan oleh Jean Seguy (Lauder, 2007: 96).

 

S X 100 = d%

    n

 

keterangan:

s: jumlah beda dengan titik pengamatan lain

n: jumlah peta yang diperbandingkan

d: jarak kosakata dalam persen

 

Dalam hal ini, ada dua pengelompokkan persentase penghitungan dialektometri. Dua pengelompokan presentase tersebut adalah pengelompokkan persentase menurut Guiter (Lauder, 2007: 96) dan pengelompokkan persentase menurut Lauder (Ayatrohaedi, 2002: 12). Pada tulisan ini, pengelompokan persentase yang dipakai ialah pengelompokkan persentase menurut Lauder. Hal ini disebabkan pengelompokan hasil penghitungan dialektometri Guiter tidak sesuai bila diterapkan di Indonesia. Faktor ketidaksesuaian tersebut dipengaruhi oleh kondisi kebahasaan di Indonesia yang sangat beragam sehingga pengelompokan penghitungan dialektometri ini perlu dimodifikasi. Berikut pengelompokkan  persentase menurut Lauder.

 

fvfsv

 

Kosakata yang digunakan dan diperbandingkan menggunakan 200 kosakata dasar Morish Swadesh (Lauder, 2007: 138). Kosakata dasar ini digunakan karena kosakata ini terdapat di semua bahasa dan paling memungkinkan untuk tidak berubah. Sementara itu, metode kualitatif pada penelitian ini lebih kepada interpretasi data dari hasil penghitungan dialektometri ditambah dengan teori komponen identitas sosial.

Branscombe, Ellemers, Spears, dan Doosje (1999) mengemukakan tiga komponen dalam identitas sosial, yaitu cognitive component (self categorization), evaluative component (group self esteem), dan emotional component (affective component). Cognitive component lebih kepada kesadaran kognitif dalam kelompok. Komponen ini berhubungan pula dengan self stereotyping yang menghasilkan identitas pada diri individu maupun kelompok sehingga memunculkan pula perilaku kelompok. Selain itu, evaluative component adalah nilai positif atau negatif yang dimiliki oleh individu terhadap kelompoknya. Komponen ini menekankan nilai-nilai yang dimiliki individu terhadap kelompok. Terakhir, emotional component ialah perasaan keterlibatan emosional terhadap kelompok. Komponen ini cenderung mengarah kepada seberapa besar perasaan emosional yang dimiliki individu terhadap kelompoknya. Hal ini menunjukkan bahwa identitas individu sebagai anggota kelompok sangat penting untuk memperlihatkan keterlibatan emosionalnya walaupun kelompoknya dipandang negatif sekalipun.

 

III. PEMBAHASAN

Penelitian ini mengambil satu informan di setiap kecamatan di Pulau Belitung. Hal yang perlu diketahui adalah Pulau Belitung memiliki dua kabupaten, yaitu Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur. Dari setiap informan di semua kecamatan di dua kabupaten di Pulau Belitung dapat diketahui bahwa sebagian besar titik pengamatan yang satu dengan titik pengamatan yang lainnya tidak terdapat perbedaan bahasa. Hal ini disebabkan dari beberapa titik pengamatan yang ada menunjukkan bahwa titik pengamatan yang paling banyak memiliki jumlah persentase  < 30%. Lalu, hasil penghitungan dialektometri tidak memperlihatkan adanya daerah yang mempunyai perbedaan wicara maupun perbedaan dialek apalagi perbedaan bahasa.

Untuk itu, dibuat pula peta berkas isoglos supaya dapat dengan mudah melihat kondisi kebahasaannya. Bisa dibilang, peta berkas isoglos ini merupakan visualisasi hasil penghitungan dialektometri agar dapat dengan mudah dibaca hasilnya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Lauder (2002: 40) dalam jurnal yang berjudul Reevaluasi Konsep Pemilah Bahasa untuk Bahasa Nusantara yang menyatakan bahwa hasil penghitungan dialektometri berbanding lurus dengan hasil penghimpunan isoglos. Hal tersebut semakin menguatkan peta berkas isoglos dapat merepresentasikan hasil penghitungan dialektometri. Berikut gambar peta berkas isoglos di bawah ini.

 

svfdveavae

Keterangan: Peta Berkas isogloss Pulau Belitung Kosakata Dasar Swadesh

 

Pada gambar peta isoglos di atas terlihat bahwa antara satu titik pengataman dengan titik pengamatan lainnya tidak memiliki garis tebal yang mencolok. Hanya saja, ada beberapa garis yang sedikit lebih tebal dibandingkan garis lainnya. Hal tersebut ketika dilihat dari penghitungan dialektometrinya tetap saja tidak mencapai > 30% yang menandakan tidak ada perbedaan bahasa, wicara, maupun dialek . Padahal, penuturan informan mengenai bahasa apa yang digunakan ada perbedaan, terutama di titik pengamatan atau kecamatan yang ada di Kabupaten Belitung Timur.

Meskipun demikian, tidak sedikit puladi kabupaten Belitung yang mengaku menggunakan bahasa Belitung. Dari 12 kecamatan sebagai titik pengamatan, secara keseluruhan titik pengamatan yang mengaku menggunakan bahasa Melayu hanya 4 kecamatan. Hal ini menandakan bahwa 8 kecamatan lainnya mengaku memakai bahasa Belitung. Pengakuan terbanyak atas penggunaan bahasa Belitung ini terlihat di Kabupaten Belitung Timur. Sekadar informasi, Kabupaten Belitung Timur merupakan tempat kelahiran pengarang Andrea Hirata dan banyak lokasi syuting film Laskar Pelangi di kabupaten ini. Salah satunya adalah sekolah dasar Muhamadiyah Gantong. Bisa saja, pengakuan atas bahasa Belitung ini muncul karena mencuatnya kepercayaan diri atas daerahnya karena film Laskar Pelangi. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini terdapat penggambaran yang memperlihatkan pengakuan bahasa di tiap kecamatan di Pulau Belitung.

 

dvwg2

Keterangan: Pengakuan Bahasa Masyarakat Pulau Belitung

 

Dengan melihat hasil penghitungan dialektometri tersebut, dapat diketahui bahwa antara bahasa Melayu dengan bahasa Belitung tidak ada perbedaan bahasa. Kemunculan fenomena pengakuan bahasa Belitung ini patut diselidiki lebih mendalam. Lebih lanjut, bahasa Belitung mulai diakui masyarakat sebagai bahasa masyarakat Pulau Belitung sejak penayangan film Laskar Pelangi yang mendunia tersebut. Kondisi ini memang wajar terjadi. Hal tersebut disebabkan masyarakat Pulau Belitung ingin membentuk sebuah identitas sosial yang berbeda dari daerah lain sehingga penamaan bahasa Belitung dirasa mewakili bahasa yang dipakai oleh masyarakat Pulau Belitung. Padahal, untuk menentukan penamaan bahasa harus diuji dalam dialektologi dan tidak bisa asal begitu saja.

Adanya pembentukan identitas sosial yang berbeda dari daerah lainnya oleh masyarakat Pulau Belitung sekiranya sesuai dengan tiga komponen identitas sosial yang diutarakan Branscombe, Ellemers, Spears, dan Doosje (1999). Hal ini disebabkan perubahan pengakuan bahasa dari bahasa Melayu ke dalam bahasa Belitung  tanpa disadari telah melibatkan komponen kognitif, komponen evaluatif, dan komponen emosional. Komponen kognitif yang ada di sini cenderung ke self stereotyping yang pada akhirnya membuat sebagian masyarakat Pulau Belitung membentuk identitas dengan mengaku menggunakan bahasa Belitung. Hal tersebut dilakukan setelah adanya komponen evaluatif terhadap kelompoknya. Dari hasil evaluatif tersebut bisa jadi masyarakat Belitung lebih menekankan nilai bahwa masyarakat Belitung itu berbeda dengan masyarakat lain yang sama-sama berbahasa Melayu dan masyarakat Belitung tumbuh rasa percaya dirinya karena mempunyai keunikan tersendiri yang tidak dimiliki daerah lain. Kebangkitan kebanggan atas daerah Belitung tersebut membuat adanya komponen emosional terhadap kelompoknya. Komponen emosional ini mengarah kepada sikap yang kuat untuk menunjukkan keterlibatan emosionalnya dengan memberikan kontribusi berupa pengakuan bahasa Belitung.

 

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa film Laskar Pelangi mempunyai pengaruh yang besar terhadap masyarakat Pulau Belitung, terutama pengakuan bahasa. Pengaruh tersebut terlihat dari perbedaan pengakuan bahasa sebelum dan sesudah adanya penayangan film Laskar Pelangi. Jika sebelumnya masyarakat Belitung mengaku memakai bahasa Melayu, setelah adanya film Laskar Pelangi masyarakat Belitung menjadi mengaku menggunakan bahasa Belitung walaupun tidak semua wilayah mengaku demikian. Akan tetapi, dari semua titik pengamatan sebagian besar telah berubah mengaku menggunakan bahasa Belitung.

Hal ini bisa disebabkan oleh adanya pembentukan identitas sosial di antara masyarakat Pulau Belitung itu sendiri. Dalam hal ini, film Laskar Pelangi telah mengangkat nama Belitung di tingkat nasional maupun internasional. Ketenaran film khas Belitung ini membuat timbulnya kepercayaan diri masyarakat Belitung. Kepercayaan diri yang tumbuh tersebut membuat masyarakatnya  membentuk identitas sosial yang dapat membedakan daerah Belitung dengan daerah lainnya. Pembentukan identitas sosial tersebut terlihat dari terpenuhinya tiga komponen yang mendasari pembentukan identitas sosial.

Meski begitu, dilihat secara linguistik antara bahasa Melayu dengan bahasa Belitung ternyata tidak ada perbedaan.. Hal tersebut didukung dengan perolehan hasil penghitungan dialektometri yang sebagian besar < 30%. Dengan begitu, bahasa masyarakat Pulau Belitung masih tergolong bahasa Melayu. Dalam hal ini, pengakuan bahasa oleh masyarakat lebih cenderung mengarah kepada identitas sosial. Hal tersebut berbeda dengan ahli bahasa atau linguis yang melihat dari sisi bahasanya itu sendiri.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ayatrohaedi. 1983. Dialektologi: Sebuah Pengantar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Branscombe, N. R., Ellemers, N., Spears, R., & Doosje, B. 1999. The Context and Content of Social Identity Threat. In N. Ellemers, R. Spears, & B. Doodje (Eds), Social Identity: Context, Commitment Content. Oxford: Blackwell.

Lauder, Multamia RMT. 2007. Sekilas Mengenai Pemetaan Bahasa. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana.

____________. 2002. Reevaluasi Konsep Pemilah Bahasa dan Dialek untuk Bahasa Nusantara. Depok. Dalam Makara Sosial Humaniora

____________. 2008. Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

 

(Makalah ini telah dipresentasikan dan diprosidingkan pada Seminar Tahunan Linguistik Universitas Pendidikan Indonesia atau Setali Upi 2015)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 5, 2015 by in Linguistik, Makalah.
%d bloggers like this: