Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Kritik Strukturalisme De Saussure Berdasarkan Tinjauan Linguistik

Perkembangan linguistik di Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh pemikiran linguis Amerika. Misalnya, Bloomfield, Nida, dan Chomsky. Hal tersebut didukung oleh adanya bantuan Kedutaan Besar Amerika berupa persediaan buku kepada mahasiswa linguistik di Indonesia pada tahun 1955-1959. Sejalan dengan hal tersebut, pemikiran linguistik yang berkembang di Eropa tentu saja tidak dikenal karena tidak dipelajari. Pemikiran linguis dari Eropa ini lebih dikenal di Indonesia sebagai filsuf yang berada di dalam ranah filsafat bahasa.

Padahal, pemikiran dari Eropa seperti Ferdinand de Saussure, Jacques Lacan, Roland Barthes, Julia Kristeva, dan Derrida penting untuk diketahui. Sebab, pemikiran mereka dapat dikatakan sebagai cikal bakal adanya linguistik yang melihat bahasa sebagai sesuatu hal yang perlu mendapat tempat tersendiri dan terpisah oleh ilmu lainnya. Sekadar informasi, dahulu bahasa masih dikaji di dalam ranah psikologi, filologi, dan filsafat. Terlebih lagi, de Saussure dikenal sebagai “bapak strukturalisme” yang mana strukturalisme inilah yang menjadi dasar dari linguistik.

Maka dari itu, pada tulisan ini akan dijelaskan secara singkat mengenai pemikiran strukturalis Ferdinand de Saussure hingga perkembangannya menjadi pascastrukturalisme maupun ultrastrukturalisme. Pengembangan strukturalisme menjadi pascastrukturalisme ini terlihat pada pemikiran tiga tokoh, yaitu Jacques Lacan, Roland Barthes, dan Julia Kristeva. Lebih mendalam lagi, pemikiran ultrastukturalis ini akan dijelaskan berdasarkan pemikiran dari Derrida.

Pemikiran struktural dari Ferdinand de Saussure meliputi empat hal selain adanya kaidah struktural. Pertama,  bahasa terbentuk dari dua unsur, yaitu bentuk dan konsep. Bentuk di sini lebih diartikan sebagai significant atau penanda, sedangkan konsep lebih dipandang sebagai signifie atau petanda.  Signifiant dan signifie di sini memiliki makna tunggal. Selain itu, signifie atau konsep cenderung dianggap lebih dominan dibandingkan significant atau bentuk. Kedua, relasi antartanda dibedakan menjadi relasi paradigmatik dan relasi sintagmatik. Relasi sintagmatik lebih kepada rangkaian tanda yang tersusun di dalam sebuah struktur. Misalnya, subjek, predikat, dan objek. Struktur di sini juga dapat diartikan sebagai suatu bangun ruang abstrak yang terdiri dari beberapa komponen yang berkaitan satu sama lain. Dalam dunia bahasa dapat dipahami memiliki struktur seperti fonem, morfem, kata, frase, klausa, hingga kalimat. Hal ini berbeda dengan relasi sintagmatik, relasi paradigmatik lebih dikaitkan dengan relasi asosiatif. Misalnya, kata-kata yang diasosiasikan sama dalam ruang dan waktu yang sama pula seperti air, teh, dan sirup.

Ketiga, bahasa sebagai gejala sosial memiliki tataran langue dan parole. Langue ini berada dalam tataran konsep atau kaidah, sedangkan parole berada dalam tataran praktik berbahasa dalam masyarakat. Dalam hal ini, langue menguasai parole. Maksudnya, tidak akan bisa mempraktikkan parole tanpa menguasai langue terlebih dahulu. Hal ini sesuai dengan kaidah permainan catur. Keempat, menurut Ferdinand de Saussure bahasa tulis dianggap sebagai turunan dari bahasa lisan. Hal ini disebabkan tidak akan ada bahasa tulis tanpa adanya bahasa lisan dan makna dipandang lebih dekat pada bahasa lisan dibandingkan bahasa tulis sehingga bahasa lisan dianggap objek kajian utama linguistik.

Dari pemikiran strukturalisme tersebut terdapat pengembangan dari beberapa tokoh, yaitu Jacques Lacan, Roland Barthes, dan Julia Kristeva. Pengembangan ini sebenarnya tetap menggunakan kaidah struktural tetapi dengan adanya perubahan evolusioner. Jacques Lacan, seorang psikoanalis, lebih mengembangkan hubungan signifiant dan signifie. Menurut Lacan, ada garis yang tidak dapat ditembus antara bahasa yang dituturkan pada saat seseorang tak sadar (significant) dan makna di bawahnya (signifie). Bentuk significant ini memiliki stukturnya sendiri. Di sini, signifie tidak selalu dominan dibandingkan significant.

Lalu, Roland Barthes juga ikut memberikan pengembangan terhadap konsep sintagmatik dan paradigmatik dari strukturalisme untuk menjelaskan gejala budaya. Sistem sintagmatik yang diutarakan lebih kepada urutan dari menu makanan mulai dari hidangan pembuka, hidangan utama, hingga hidangan penutup. Dalam sistem sintagmatik di sini, setiap unsur makanan dapat menggantikan unsur lain tetapi tidak dapat masuk dalam waktu yang sama. Sedikit berbeda dengan sistem sintagmatik, dalam sistem paradigmatik unsur terlihat pada sistem busana. Di sini, unsur busana menempati gatra tertentu pada tubuh yang tidak dapat diisi oleh unsur yang lain.

Selain itu, Barthes juga mengembangkan teori tanda menjadi dua, yaitu denotasi dan konotasi. Denotasi dianggap sebagai sistem pertama, sedangkan konotasi dianggap sebagai sistem kedua. Maksud dari sistem pertama ini mengarah kepada sinonim atau ekspresi yang sama diungkapkan dengan konten yang berbeda. Misalnya, /dukun/ yang mempunyai makna denotatif ‘paranormal’ atau ‘orang yang menguasai ilmu gaib’. Kalau sistem kedua dapat diartikan sebagai makna lain yang mungkin terjadi atau konten yang sama diekspresikan berbeda. Jika melihat contoh dukun, konotasi yang muncul dari /dukun/ adalah ‘orang jahat’ atau tukang sihir’.

Kemudian, Julia Kristeva ikut menyatakan bahwa teks sebagai manifestasi dari parole dapat berlawanan dengan langue dan tidak selalu mengikuti langue. Hal ini disebabkan teks mengandung dua aspek, yaitu aspek praktik pemaknaan (signification) dan aspek produktivitas (signifiance). Pengertian pemaknaan tidak bersifat tunggal karena praktik kebahasaan yang plural dan berpotensi memiliki makna yang tak terhingga oleh subjeknya. Dari ketiga tokoh tersebut, terdapat beberapa perubahan yang berbeda dari pemikiran Ferdinand de Saussure. Adanya perubahan pemikiran tersebut membuat Jacques Lacan, Roland Barthes, dan Julia Kristeva tergolong ke dalam tokoh pemikiran pascastrukturalis.

Lebih lanjut, tokoh seperti Derrida justru menentang pemikiran strukturalismenya Ferdinand de Saussure. Penentangan atau kritik yang dilakukan terhadap pandangan de Saussure yang lebih mementingkan bahasa lisan dibandingkan bahasa tulis dan mementingkan sinkroni dibandingkan diakroni. Menurut Derrida, struktur tidak hanya dilihat secara sinkronis tetapi juga dari aspek historisnya atau diakronis. Sebab, pendekatan kesejarahan dapat membantu memahami makna yang terdapat pada tulisan dari sudut ruang dan waktu.

Pandangan de Saussure yang melihat bahasa lisan lebih merepresentasikan suara manusia dibandingkan bahasa tulis mendapat kritik dari Derrida. Bedasarkan pemikiran Derrida, bahasa justru bersumber dari tulisan. Hal ini diperkuat dengan anggapan bahwa tulisan tidak hanya terdapat di dalam pikiran manusia tetapi juga konkret di atas halaman kertas dan bisa dilihat dan dipahami oleh semua orang secara terbuka. Derrida juga mengungkapkan bahwa bahasa tulis tidak bergantung kepada bahasa lisan karena bahasa tulis bisa memenuhi dirinya sendiri.

Kritik juga dilakukan Derrida dalam hal hubungan significant-signifie. Dalam hal ini, Ferdinand de Saussure melihat hubungan significant-signifie secara statis tetapi Derrida melihat hubungan keduanya tidak statis. Diferensiasi hubungan antara penanda (bentuk tanda) dengan petanda (makna tanda) lebih kepada untuk menemukan makna baru. Jadi, makna tanda tidak hanya terlihat dalam satu kali jadi tetapi juga pada ruang dan waktu yang berbeda-beda. Hal ini sejalan dengan tokoh pemikiran pascastrukturalis lain yang menyatakan bahwa makna tidak lagi tunggal.

Selanjutnya, kritik Derrida terhadap Ferdinand de Saussure juga terlihat pada hubungan langue dan parole. Menurut de Saussure, langue adalah aspek sosial dari bahasa yang manifestasi kebahasaannya ada pada parole. Namun, Derrida mengemukakan bahwa parole juga bisa menguasai langue dengan menimbulkan perubahan pada langue.  Berbagai kritik tersebut membuat Dosse menggolongkan Derrida sebagai pemikir ultrastukturalis. Hal ini disebabkan kritik Derrida menimbulkan indikasi antistrukturalis dan mengubah strukturalisme itu sendiri.

Dari penjelasan di atas, saya memiliki pendapat yang tidak sama dengan penggolongan Dosse. Dalam hal ini, menurut saya Derrida masih bisa dikategorikan sebagai tokoh pascastrukturalis dan tidak perlu digolongkan berbeda menjadi ultrastukturalis. Hal ini disebabkan pemikiran Derrida tidak jauh berbeda dengan Jacques Lacan, Roland Barthes, dan Julia Kristeva. Pemikiran Derrida masih berpatokan dengan strukturalisme dan tidak sekadar mengembangkannya saja tetapi Derrida ikut mengkritik pemikiran Ferdinand de Saussure. Kemudian, saya juga mempunyai komentar bahwa pemikiran Derrida ini ternyata mempunyai andil yang cukup besar terhadap perkembangan ilmu linguistik. Hal ini membuat metode penelitian linguistik tidak hanya dapat dilakukan secara sinkronis tetapi bisa juga dilakukan secara diakronis.

 

Daftar Pustaka

Hoed, Benny. H. 2014. Semiotik & Dinamika Sosial Budaya. Depok: Komunitas Bambu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 5, 2015 by in Bebas.
%d bloggers like this: