Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Makanan sebagai Kode Simbolik: Penanda Budaya Masyarakat

Makanan ternyata dapat menunjukkan kode simbolik sebagai penanda budaya suatu masyarakat tertentu. Dalam hal ini, Sahlins (1990) menunjukkan bagaimana nilai simbolis hewan sebagai makanan benar-benar berfungsi untuk mengungkapkan dan mendukung hierarki sosial dengan mengambil contoh masyarakat Amerika. Pada budaya masyarakat Amerika, mereka tidak memakan daging anjing dan kuda. Masyarakat Amerika justru lebih memilih makan daging babi dan sapi. Kondisi ini menarik karena perlakuan masyarakat Amerika terhadap anjing, kuda, babi, dan sapi berbeda. Alasan mengapa orang Amerika tidak makan daging anjing dan kuda tetapi makan daging babi dan sapi dapat berterima menarik untuk dilihat lebih mendalam.

Pada suatu kebudayaan pasti mempunyai nilai-nilai yang terkandung  di dalamnya dan pasti dianut penuh oleh masyarakatnya. Berbagai faktor seperti faktor sosial, geografis, maupun ekonomi mendasari adanya perbedaan nilai antarkebudayaan di seluruh dunia. Dalam masyarakat Amerika sendiri, nilai yang dipegang adalah nilai bahwa anjing merupakan kerabat bagi masyarakat Amerika. Hal ini tidak terlepas dari banyak berkeliarannya anjing di sepanjang jalan kota-kota besar di Amerika bersama dengan para majikannya masing-masing. Posisi anjing pada masyarakat Amerika dapat dikatakan sudah lebih tinggi dibandingkan hewan lainnya. Hal ini disebabkan adanya fakta bahwa anjing dapat berada di dalam rumah atau apartemen. Selain itu, anjing juga sudah dapat menaiki kursi manusia dan dianggap tidak menimbulkan masalah yang berarti. Bahkan, anjing dapat tidur di tempat tidur majikannya sendiri.

Sementara itu, pada kasus kuda di sini dibahas bahwa masyarakat Amerika menganggap kuda sebagai hewan yang ditunggangi, dicintai, dan diberikan kasih sayang. Adanya anggapan tersebut bagi masyarakat Amerika membuat makan daging kuda pun menjadi tabu atau sesuatu hal yang tidak berterima. Hal tersebut terlihat dari adanya protes untuk daging kuda yang ditawarkan oleh tukang daging sebagai pengganti murah daging sapi. Dalam hal ini, sapi dan babi tidak mendapatkan cinta dan kasih sayang yang lebih seperti anjing dan kuda. Hal yang berbeda di sini adalah tujuan sapi dan babi yang dipelihara pada dasarnya memang untuk keperluan daging sapi dan babi. Dengan kata lain, sapi dan babi sengaja dipelihara untuk keperluan makanan dan tidak lebih dari itu. Meskipun kondisi tersebut telah memperlihatkan adanya stratifikasi hewan dalam budaya masyarakat Amerika (kuda dan anjing lebih tinggi kedudukannya dibandingkan sapi dan babi) tetapi pada satu tingkat stratifikasi tersebut pun ada pula pembeda atau tingkatan lain. Maksudnya, antara sapi dan babi yang dapat digolongkan ke dalam satu tingkat stratifikasi dibedakan lagi menjadi daging sapi diberikan lebih tinggi statusnya dari daging babi.

Hubungan antara sapi, babi, kuda, dan anjing pada masyarakat Amerika ini jelas memiliki perbedaan status dalam derajat sifat atau golongan hewan yang bisa dimakan atau tidak bisa dimakan. Golongan hewan yang bisa dimakan ini meliputi sapi dan babi, sedangkan golongan yang tidak bisa dimakan adalah kuda dan anjing. Golongan hewan yang bisa dimakan nantinya memiliki keterkaitan dengan kategori tinggi dan kurang disukai saat dimakan. Hal yang dimaksud kategori tinggi dan kurang disukai saat makan adalah antara sapi dan babi akan ada hewan yang disukai masyarakat untuk dikonsumsi sehingga antara sapi dan babi tersebut akan ada hewan yang statusnya lebih tinggi karena banyak dikonsumsi masyarakat. Hal yang berbeda terlihat pada golongan hewan yang tidak bisa dimakan dengan memiliki keterkaitan dengan kategori ketabuan. Maksud dari ketabuan ialah antara kuda dan anjing, hewan mana yang memiliki ketabuan yang tinggi dan hewan mana yang ketabuannya sedang. Meskipun sama-sama memiliki ketabuan antara hewan satu dengan hewan lain pasti memiliki derajat ketabuan yang berbeda.

Adanya hubungan yang telah tersebut di atas disebabkan anjing dan kuda mempunyai andil yang cukup banyak atau berpartisipasi aktif dalam kehidupan masyarakat Amerika. Hal tersebut membuat hubungan kedekatan masyarakat Amerika dengan kuda dan anjing begitu dekat sehingga kedua hewan tersebut menjadi hewan yang tabu untuk dimakan. Kedekatan hubungan masyarakat Amerika dengan kuda dan anjing ini pun terlihat dari adanya penamaan anjing dan kuda layaknya manusia. Bahkan, tidak jarang penamaan tersebut memiliki arti yang kurang lebih sama dengan manusia dengan melalui pemikiran yang tidak asal atau serius. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan babi dan sapi. Kedua hewan ini tidak mendapat perlakuan yang sama dengan anjing dan kuda.

Dengan melihat situasi yang demikian, tentu saja memakan daging anjing dan kuda dapat disamakan dengan membangkitkan amarah atau perasaan masyarakat Amerika yang memiliki kedekatan yang tidak lazim dibandingkan hewan lainnya. Selain itu, memakan daging anjing dan kuda bagi masyarakat Amerika dapat pula dikatakan sebagai tindakan inses atau tabu. Tindakan tersebut tentu saja melanggar norma dan aturan masyarakat Amerika. Ibaratnya, masyarakat Amerika memakan layaknya makan daging manusia sendiri. Sebaliknya, memakan daging sapi dan babi pada budaya masyarakat Amerika tidak dianggap tabu karena kedua hewan ini memang memiliki status objek untuk manusia atau dengan kata lain memang diperuntukkan untuk dimakan manusia. Adanya konsep bahwa sapi dan babi merupakan hewan yang dijadikan objek manusia, maka kedua hewan ini pun hidup sendiri atau terpisah dari kehidupan manusia.

Bahkan, Sahlins menyimpulkan bahwa masyarakat Amerika menganggap dirinya lebih beradab dibandingkan masyarakat lainnya. Hal ini disebabkan budaya masyarakat Amerika yang menjauhkan diri dari makan anjing dan kuda sehingga masyarakat atau negara yang makan daging anjing dan kuda dianggap tidak beradab. Padahal, setiap masyarakat memiliki norma dan aturan sendiri yang tentu saja disesuaikan dengan adat dan kebiasaan masyarakatnya itu sendiri. Misalnya, di India yang menganggap tabu memakan daging sapi dan memuliakan sapi itu sendiri. Hal tersebut membuat sapi dengan bebas berkeliaran di India hingga kotorannya pun dibiarkan berserakan begitu saja karena anggapan masyarakat India (terutama yang beragama Hindu) bahwa sapi merupakan hewan sakral yang digunakan dewa. Adanya latar belakang atau pengaruh agama ini membuat atau membentuk perilaku masyarakat di suatu daerah.

Hal yang tidak jauh berbeda juga terlihat dari budaya masyarakat Arab. Dalam masyarakat Arab, hewan yang dimuliakan atau mendapat tempat yang lebih tinggi dibandingkan hewan lainnya adalah kucing. Hal ini tidak terlepas dari adanya pengaruh agama karena kucing merupakan hewan kesayangan nabi. Kondisi tersebut membuat kucing layaknya anjing pada masyarakat Amerika. Lain halnya dengan kondisi masyarakat Dayak Punan di Kalimantan. Pada masyarakat suku Dayak Punan, pengaruh agama tidak menjadi pertimbangan dalam budaya masyarakatnya. Hal yang menjadi pertimbangan masyarakat suku Dayak Punan dalam memilih makanan adalah lebih kepada perkembangbiakan dari hewan tersebut. Model pencaharian makanan yang masih berburu membuat masyarakat suku Dayak Punan lebih sering memakan daging babi dibandingkan daging kijang atau daging hewan lainnya di hutan. Hal ini disebabkan perkembangbiakan babi lebih cepat dan banyak dibandingkan kijang atau hewan lainnya. Meskipun demikian, masyarakat suku Dayak Punan tidak menutup kemungkinan memakan daging kijang dan hewan lainnya walaupun perkembangbiakannya lama. Hal tersebut berbeda dengan masyarakat lainnya yang langsung membuat penggolongan tabu. Akan tetapi, masyarakat suku Dayak Punan lebih cenderung kepada menekan frekuensi makan daging hewan lain selain daging babi. Dapat dikatakan, makan daging babi termasuk makanan sehari-hari dan makan daging hewan lainnya termasuk ke dalam makanan yang jika ada hari atau kegiatan khusus.

Berdasarkan pemaparan di atas yang dilihat dari berbagai sudut pandang masyarakat, dapat disimpulkan bahwa makanan dapat menjadi penanda budaya karena kebiasaan, lingkungan, dan situasi keberadaan hewan tersebut di suatu daerah berbeda dengan daerah lainnya. Hal ini membuat penggolongan hewan yang bisa dimakan dengan yang tidak dimakan antara satu daerah dengan daerah lainnya itu berbeda. Lebih lanjut, pengaruh lain seperti adanya pengaruh agama juga menjadi penanda pula budaya masyarakat tersebut. Hal ini disebabkan pada ajaran agama terdapat hewan yang dimuliakan dan ada hewan yang tidak boleh dimakan. Malahan, makanan yang dimakan suatu masyarakat dapat pula menjadi penanda pola kehidupan yang dianut masyarakat tersebut sehingga aspek lain dari masyarakat tersebut juga akan langsung dapat terdeteksi jika ingin mengkaji kebudayaan suatu masyarakat.

 

Bahan Bacaan

Sahlins, Marshall. 1990. Food as Symbolic Code. Dari Alexander, Jeffrey C., and Steven Seidman. Culture and Society: Contemporary Debates. Cambridge: Cambridge University Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 5, 2015 by in Bebas.
%d bloggers like this: