Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Pemaknaan Stiker dalam Kaitan Wacana dengan Konteks

 

I. Pendahuluan

Seperti yang telah diketahui bersama, tanda dapat dijumpai di berbagai hal. Tanda sendiri bisa dikaitkan dengan tanda lalu lintas maupun tanda yang menekankan sesuatu hal di berbagai tempat. Misalnya, kantor, mall, atau di tempat umum lainnya. Hal yang menarik di sini adalah menjamurnya tanda berupa stiker di Indonesia. Entah sejak kapan dan bagaimana tanda stiker ini marak beredar di masyarakat. Hal yang sudah dapat dipastikan kejelasannya adalah tanda berupa stiker tidak hanya dapat dijumpai di dalam ruangan tetapi juga pada kendaraan umum maupun pribadi. Kata-kata yang ada di dalam stiker tersebut pun memiliki variasi yang sangat banyak. Mulai dari humor, peringatan hingga pemberitahuan biasa.

Dalam hal ini, kalimat pada stiker mampu menjadi wacana jika didukung oleh adanya konteks. Hal ini disebabkan tidak semua kalimat atau teks mampu menjadi wacana. Hal ini mendorong untuk melihat lebih dalam mengenai apa saja faktor atau aspek yang dapat membuat kalimat dapat menjadi wacana. Keterkaitan aspek atau konteks yang kuat pada peralihan kalimat menuju wacana ini penting untuk dilihat supaya dapat memberikan gambaran yang jelas atau menjadi dasar yang kuat untuk menjelaskan suatu teks dapat disebut wacana atau bukan.

Oleh karena itu, saya tertarik untuk melihat kalimat pada stiker yang dapat menjadi wacana bila didukung oleh konteks. Dalam penelitian ini, saya memiliki tujuan untuk menjelaskan contoh dari kalimat yang dapat menjadi wacana. Berkaitan dengan hal tersebut, maka rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana kalimat pada stiker mampu menjadi wacana dengan adanya dukungan dari konteks. Hal tersebut dimaksudkan agar pemahaman mengenai teks yang dapat menjadi wacana semakin mudah dipahami dan dapat mengetahui apa saja konteks yang bisa membuat kalimat menjadi wacana.

 

II. Makna Wacana Dibentuk Konteks Menurut Barbara Johnstone

Dalam memahami kaitan kalimat menjadi wacana bila didukung oleh konteks, perlu adanya pendekatan yang menyeluruh dari berbagai aspek pendukung. Hal tersebut akan memudahkan dalam melihat korelasi perubahan kalimat atau teks menjadi wacana dengan adanya konteks tertentu. Menurut Johnstone (2002: 9), dalam memahami teks diperlukan adanya pemahaman mengenai struktur teks dan bagaimana hal tersebut sesuai dengan struktur yang lebih besar dari sebuah kumpulan teks maupun kumpulan interaksi.

Johnstone juga menyebutkan bahwa ada beberapa kategori yang dapat membantu memahami teks. Beberapa kategori tersebut berkaitan dengan dua hal, yaitu konteks membentuk teks dan teks membentuk konteks. Dua hal ini memang tidak dapat terpisahkan begitu saja. Sebab, dua hal tersebut saling berkaitan satu sama lain. Di sini, beberapa kategori ini merupakan sebuah heuristik dari kajian wacana. Maksud dari heuristik ini bersangkutan dengan prosedur analitis yang dimulai dengan perkiraan yang tepat dan mengecek ulang sebelum memberikan kepastian. Setidaknya, dengan mengkaitkan beberapa kategori tersebut dapat diperoleh gambaran umum dari sebuah teks.

Beberapa kategori ini merupakan kategori konteks yang membentuk teks. Kategori tersebut ada enam, yaitu world, language, participants, prior discourse, media, dan purpose. World di sini diartikan sebagai dugaan yang ada di luar wacana. Lebih lanjut, world ini yang menciptakan dan menginterpretasikan sebuah teks. Maka dari itu, tidak mengherankan bila beberapa filsuf maupun linguis sepakat bahwa human worlds dibentuk oleh wacana. Sebagai contoh, anggapan masyarakat Mesir yang disebut peradabannya terobsesi oleh hidup selamanya dan mempunyai kegiatan tidak biasa dengan kematian. Konteks tersebut dibuat dalam sebuah teks pada sebuah majalah di Amerika yang merepresentasikan deskripsi pemikiran orang Amerika kontemporer tentang masyarakat Mesir. Padahal, tidak semua masyarakat tertarik dengan keabadian. Fakta yang sesunggguhnya adalah sebagian besar masyarakat memiliki ritual yang berhubungan dengan kematian yang belum tentu mengarah kepada obsesi terkait keabadian.

Selain itu, wacana juga dibentuk oleh posibilitas dan keterbatasan bahasa. Hal yang dimaksud adalah bahasa dapat menjadi sebuah sarana mengubah wacana dari informasi umum menjadi informasi baru walaupun dalam jumlah kata yang terbatas. Misalnya, tulisan di dalam poster “Terima kasih telah menjadi anggota Museum Gajah”. Tulisan di dalam poster tersebut dapat diasumsikan bahwa copywriter memposisikan pembaca merupakan anggota dari Museum Gajah. Klausa tersebut juga dapat dimaksudkan agar pembaca yang belum menjadi anggota dengan melihat poster tersebut akan tergerak menjadi anggota pula.

Dari segi partisipan, hal yang penting diketahui adalah hubungan penulis dan pembacanya. Hal ini disebabkan teks pasti dibuat untuk pembaca tertentu yang sudah ditentukan targetnya. Hubungan tersebut akan berkaitan dengan cara membuat dan menginterpretasikan teks. Misalnya, teks tentang Shabtis dari majalah MFA yang diperuntukan untuk anak-anak. Meskipun teks tersebut ditujukan untuk anak-anak tetapi penulis tidak menulisnya dalam bahasa anak-anak. Penulis tetap menulis dengan bahasa orang dewasa dengan maksud memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang Shabtis.

Selanjutnya, prior discourse atau bisa disebut juga pertahanan ini merupakan pemaknaan yang didasarkan pada ekspetasi dan asumsi. Hubungan intertekstualitas ini tergambar dalam iklan yang berjudul “Splendors”. Dalam iklan tersebut disebutkan “The Book of the dead” yang dapat diekspetasikan atau diasumsikan ke dalam beberapa hal. Misalnya, apa maksudnya, apa tujuannya, apa yang diperhatikan, dan bagaimana mereka membuat dan mendistibusikan hal tersebut.

Berikutnya, media apa yang digunakan di dalam sebuah wacana itu juga penting untuk dilihat. Pasalnya, media yang dipakai menentukan pemaknaan dari sebuah teks yang bisa berbeda makna jika berbeda media. Hal tersebut juga berkaitan dengan maksud dari si penulis yang ingin mengarahkan teksnya ke arah mana. Misalnya, iklan di majalah yang sekiranya lebih memiliki kualitas yang lebih hidup dibandingkan dengan artikel di dalam majalah tersebut. Hal ini tentu saja juga berhubungan dengan interpretasi pembaca.

Terakhir, konteks yang dapat membentuk wacana adalah purpose atau tujuan. Maksudnya, tujuan ini tergantung dari penutur wicara atau penulisnya. Tujuan tertentu akan menciptakan wacana atau makna tertentu. Sebab, di dalam teks pasti akan ada banyak suara yang bermunculan. Maka dari itu, tujuan ini penting untuk mengarahkan pembaca agar tidak melenceng dari yang seharusnya dan supaya dapat meredam suara-suara lain yang sekiranya dapat bermunculan.

 

III. Metode

Metode pemerolehan data didapat dari teks yang ada pada stiker. Data diambil dari stiker karena isi teks tidak terlalu panjang. Hal ini akan semakin memudahkan pembaca untuk memahami bagaimana suatu teks bisa menjadi wacana dan bukan. Selain itu, teks pada stiker juga cenderung memiliki bahasa yang ringan dan bersifat menghibur sehingga tidak terlalu sulit untuk dicerna oleh berbagai kalangan, di samping banyak dijumpai juga di mana-mana setikernya itu sendiri.

Lebih spesifik, stiker yang dijadikan data hanya berjumlah satu dengan teks yang dipilih secara acak dan sekiranya bisa mewakili jawaban teks menjadi wacana. Teks pada stiker yang akan dilihat lebih mendalam pada tulisan ini adalah stiker yang bertuliskan “Nyalip Mandul”.

5274947_20130802100313

Sumber: http://www.kaskus.co.id

Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Maksud dari metode kualitatif ini adalah melakukan interpretasi data dari teori tanpa adanya unsur yang bersifat angka atau penghitungan numerik. Menurut Basuki (2006: 78), metode kualitatif adalah metode yang berhubungan dengan ide, persepsi, pendapat, atau kepercayaan orang yang diteliti. Teori yang dipakai untuk melihat konteks apa saja yang dapat membentuk wacana adalah teori dari Barbara Johnstone. Penulis lebih memilih menggunakan teori tersebut karena dianggap bisa merepresentasikan atau mengemukakan konteks yang sesuai berkaitan dengan wacana.

Langkah pertama yang dilakukan dalam tulisan ini adalah mengambil data dari internet secara acak yang bisa dijadikan contoh terkait wacana dibentuk oleh konteks. Setelah data diperoleh, teks pada stiker akan dihubungkan dengan teori yang dikemukakan oleh Barbara Johnstone. Pengaitan antara teori Johnstone ini lebih kepada penjabaran konteks apa saja yang mendasari teks tersebut bisa menjadi wacana atau bukan.

 

IV. Pemaknaan Stiker dalam Kaitan Wacana dengan Konteks

Pada contoh stiker yang bertuliskan “Nyalip Mandul” mempunyai arti atau konteks yang erat kaitannya dengan beberapa konteks yang disebutkan oleh Johnstone. Dari beberapa konteks tersebut dapat terlihat apakah sebuah teks dapat menjadi wacana atau bukan. Beberapa konteks yang disebutkan Johnstone adalah world, language, participants, prior discouse, media, dan purpose.

Dilihat dari segi world, stiker yang bertuliskan “Nyalip Mandul” mengindikasikan bahwa ada dugaan karakteristik orang Indonesia yang masih percaya dengan pantangan-pantangan yang beredar di sekitar. Selain itu, world di sini bisa juga diartikan sebagai pandangan masyarakat Indonesia yang tidak mau hal buruk terjadi pada dirinya sehingga sebisa mungkin masyarakat Indonesia akan menghindari hal buruk tersebut supaya tidak terjadi atau menimpa dirinya. Hal tersebut bisa saja dirasa ampuh supaya orang tidak menyalip sembarangan. Konteks ini sengaja dibuat bisa juga diakibatkan dari banyaknya pengendara yang suka menyalip seenaknya sehingga diperlukan sebuah tanda yang dapat memperingati pengendara yang seenaknya tersebut. Hal ini juga sekaligus bisa menjawab konteks purpose atau tujuan.

Di lain pihak, aspek bahasa yang bisa dilihat adalah adanya tulisan “nyalip mandul” yang mengindikasikan bahwa penulis ingin memberitahukan kepada pembaca kalau orang yang sedang membaca teks tersebut dan sedang mengendarai kendaraan tidak boleh menyalip. Kecenderungan kenekatan pengendara yang mungkin banyak membuat penulis teks menuliskan kata “mandul” sebagai upaya mencegah perilaku pengendara yang masih seenaknya walaupun tidak semua masyarakat Indonesia takut atau parno dengan kemandulan.

Dari sudut partisipan, stiker ini dapat diperkirakan bahwa hubungan penulis dengan pembaca memiliki kedekatan yang notabene sama-sama sedang mengendarai kendaraan. Hal ini disebabkan teks yang ada di dalam stiker ditulis dengan seakan menggunakan kalimat aktif yang terlihat pad kata “nyalip” sehingga ketika orang lain membaca seakan-akan orang yang menuliskan teks tersebut langsung berbicara kepada pembaca. Meskipun banyak kata yang hilang dan tidak utuh tetapi pembaca masih bisa mengetahui konteksnya karena pembaca mengetahui interpretative frame yang berkaitan dengan media penempelan stiker tersebut. Lalu, stiker ini juga mempunyai konteks prior discourse yang didasarkan pada ekspetasi dan asumsi yang mempunyai perhatian kepada perilaku atau perbuatan pengendara kendaraan bermotor.

Kemudian, konteks yang tidak kalah penting adalah media. Stiker tidak akan mempunyai makna atau dimengerti pembaca jika tidak diletakkan di bagian belakang kendaraan bermotor. Hal tersebut disebabkan teks tersebut mengandung kata “nyalip” yang tidak akan berkorelasi dengan sesuatu di luar kendaraan bermotor. Hal yang berbeda akan diartikan berbeda pula bila stiker tidak diletakkan di bagian belakang kendaraan bermotor dan hanya diletakkan di atas meja. Selain pesan yang ingin disampaikan penulis teks tidak akan sampai, orang yang membaca pun tidak akan menganggap teks yang dibacanya sesuai dan ditujukan kepada dirinya.

 

V. Penutup

Kesimpulan yang dapat diambil dari penjelasan di atas adalah sebuah teks atau kalimat tidak akan menjadi sebuah wacana yang dapat dimengerti oleh orang atau pembaca jika tidak memiliki konteks. Dalam hal ini, keenam konteks seperti world, language, participants, prior discouse, media, dan purpose memiliki pemaknaannya masing-masing dan berkaitan antara satu konteks dengan konteks lain. Suatu teks atau kalimat akan tidak bermakna secara utuh ketika ada ketimpangan pada salah satu konteksnya. Misalnya, jika stiker yang bertuliskan “nyalip mandul” hanya diletakkan di meja dan bukan di bagian belakang kendaraan bermotor. Hal ini juga menandakan bahwa suatu teks dikatakan sebagai wacana saat dibentuk atau didukung oleh konteks.

 

Daftar Pustaka

Johnstone, Barbara. 2002. Discouse Analysis. Massachusetts: Blakwell Publishers.

Sulistyo, Basuki. 2006. Metode Penelitian. Jakarta: Wedatama Widya Sastra dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 5, 2015 by in Bebas.
%d bloggers like this: