Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Penentuan Titik Pengamatan dalam Dialektologi

 

I. Pendahuluan

Seperti yang telah dijelaskan oleh kelompok sebelumnya, penelitian dialektologi merujuk pada faktor geografis. Dapat dikatakan, penelitian dialektologi merupakan penelitian yang didasarkan atau bergantung pada aspek geografis. Hal tersebut yang membedakan dialektologi dengan sosiolinguistik dan bidang linguistik terapan lainnya. Aspek geografis atau wilayah erat kaitannya dengan titik pengamatan. Sebab, penelitian dialektologi akan menjadi menarik jika daerah, wilayah, atau titik pengamatan yang diteliti memiliki ciri khas yang berbeda dengan wilayah lainnya. Oleh karena itu, penentuan titik pengamatan sangat penting dalam penelitian dialektologi sehingga diperlukan pemahaman khusus yang komprehensif mengenai hal ini.

Dalam menentukan titik pengamatan, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan calon peneliti dialektologi. Hal tersebut termasuk ke dalam konsep-konsep dasar dialektologi sebagai dasar pengetahuan untuk memulai melakukan penelitian dialektologi. Ketika beberapa aspek dalam penentuan titik pengamatan tidak dipatuhi calon peneliti, penelitian dialektologi yang dilakukan akan menjadi tidak sempurna. Beberapa aspek tersebut antara lain jenis titik pengamatan, sifat titik pengamatan, derajat keakuratan, populasi dan sampel, persebaran sampel, kriteria jarak, serta situasi geografis dan demografis titik pengamatan. Semua hal tersebut akan dijelaskan lebih lanjut di bawah ini.

 

II. Aspek Titik Pengamatan

  • Jenis Titik Pengamatan

Untuk melihat jenis titik pengamatan dalam kajian atau penelitian dialektologi, ada baiknya melihat pendapat dari Ayatrohaedi. Menurut Ayatrohaedi (1983: 38), titik pengamatan dibedakan menjadi dua, yaitu daerah perkotaan dan daerah pedusunan. Dalam hal ini, adanya pro-kontra terhadap pemilihan titik pengamatan di daerah perkotaan. Gillieron dan Edmont dalam pembuatan Atlas Linguisques de la France (ALF) menyebutkan bahwa daerah perkotaan merupakan daerah yang dihindari karena di daerah perkotaan dialek sudah tidak lagi digunakan. Akan tetapi, Pierre Nauton justru memilih daerah perkotaan karena didasarkan pada anggapan bahwa daerah tersebut merupakan pusat budaya, agama, ekonomi, dan kegiatan lainnya sehingga memperjelas keadaan kebahasaan.

Sementara itu, daerah pedusunan adalah daerah yang biasanya paling disukai peneliti karena dianggap bahasa atau dialeknya masih murni sehingga keistimewaan bahasa atau dialek tersebut dapat terlihat. Kondisi semacam itu menjadi baik dalam melihat atau menelusuri perkembangan bahasa atau dialek yang bersangkutan. Meskipun ada dua jenis titik pengamatan, kedua jenis titik pengamatan ini dapat digunakan untuk melakukan penelitian dialektologi. Namun, hal yang membedakan lebih pada tujuan penelitian dialektologi itu sendiri. Jenis titik pengamatan yang cocok untuk diterapkan pada penelitian dapat ditentukan setelah tujuan penelitian dialektologi telah diketahui. Menurut Ayatrohaedi (1983: 36), jenis titik pengamatan ditentukan berdasarkan keadaan geografi daerah penelitian. Hal yang dimaksud adalah apakah daerah tersebut merupakan dataran rendah, pegunungan, pesisir, atau kepulauan.

Aspek apakah daerah tersebut merupakan dataran rendah, pegunungan, pesisir atau kepulauan akan berdampak kepada aspek lain dalam tahapan penelitian dialektologi. Misalnya, ketika hendak melakukan penelitian dialektologi di daerah pegunungan, maka daftar tanyaan untuk kategori budaya pasti yang berkaitan dengan alat pertanian dan bukan alat perikanan dan begitu juga sebaliknya. Jenis titik pengamatan tersebut akan memudahkan pula calon peneliti dialektologi untuk bisa mengkaitkan titik pengamatan dengan daftar tanyaan yang relevan. Terlebih, penelitian dialektologi membutuhkan waktu, dana, dan juga tenaga yang tidak sedikit sehingga perencanaan penelitian ini sangat vital untuk kelangsungan penelitian.

 

  • Sifat Titik Pengamatan

Menurut Ayatrohaedi (1985: 26), pemilihan desa didasarkan pada tiga sifat desa, yaitu (1) desa yang tua, (2) desa yang sukar dihubungi, dan (3) desa yang mudah dihubungi. Maksud dari desa tua di sini diinterpretasikan sebagai desa yang bisa dibilang lebih lama ada dibandingkan dengan desa yang lain. Hal ini disebabkan desa tentunya mengalami perkembangan sehingga bisa saja suatu daerah yang dulunya hanya memiliki satu desa pada perkembangannya memiliki beberapa desa karena kedatangan pendatang ke daerah tersebut. Untuk memastikan desa mana yang lebih tua dan mana lebih muda bisa langsung ditanyakan kepada penduduk disekitar. Meskipun belum tentu ada bukti tertulisnya, lama atau tidaknya desa di suatu tempat pasti diketahui masyarakatnya sehingga peneliti dialektologi hanya tinggal perlu memadukan jawaban beberapa masyarakat di titik pengamatan tersebut. Bahkan, bisa juga desa tua ditandai oleh artefak-artefak yang ada di desa tersebut, seperti prasasti atau candi yang mengarah kepada tahun tertentu. Selain itu, desa tua juga bisa dilihat dari pusat peradaban daerah tersebut atau ibukota kecamatan atau kabupaten daerah tersebut. Hal ini disebabkan ibukota kecamatan atau kabupaten biasanya merupakan daerah yang telah lama dan paling dikenal sehingga dapat pula diasumsikan sebagai desa yang tua.

Selanjutnya, desa yang sukar dihubungi ini adalah desa yang dapat dikategorikan sebagai desa yang terisolasi, baik oleh keadaan alam maupun oleh kondisi lainnya. Namanya juga desa yang sukar dihubungi jadi dapat dikatakan sebagai desa yang jangkauan antara satu desa ke desa lainnya itu susah. Biasanya, kesukaran desa tersebut disebabkan oleh faktor geografis, seperti terhalang sungai, jurang, hutan, dan sebagainya. Hal ini juga bisa menyebabkan antara satu desa dengan desa lain yang bersebelahan bisa saja berbeda bahasa sama sekali karena tidak adanya interaksi atau komunikasi di antara keduanya. Selain itu, bisa juga kesukaran akses mobiltas ke desa tersebut. Misalnya, jalanan belum diaspal, kendaraan tidak ada yang bisa melintas, dan sebagainya. Desa yang sukar dihubungi ini banyak ditemui di daerah Papua. Maka dari itu, tidak mengherankan jika daerah Papua memiliki banyak sekali bahasa.

Sifat yang terakhir adalah sifat desa yang mudah dihubungi. Secara garis besar, desa yang mudah dihubungi ini merupakan kebalikan dari sifat desa yang sukar dihubungi. Dalam hal ini, desa yang mudah dihubungi biasanya memiliki akses mobiltas sosial yang tinggi di samping kondisi geografisnya yang tidak terlalu bertekstur. Akses mobilitas bisa diartikan sebagai banyaknya kendaraan yang menuju ke desa tersebut. Kemudian, desa ini juga bisa dibilang tidak terisolasi oleh keadaan alam sehingga antara satu desa ke desa lain tidak terlalu mengalami kesulitan. Kecenderungan interaksi sosial antardesa juga bisa dikatakan cukup tinggi karena mudahnya akses. Kemudahan tersebut biasanya membuat bahasa antardesa memiliki kemiripan atau kesamaan. Sebagai contoh, desa yang mudah dihubungi ini banyak ditemui di Pulau Jawa.

 

  • Derajat Keakuratan

Mengingat pentingnya titik pengamatan dalam penelitian dialektologi, calon peneliti dialektologi harus mengetahui derajat keakuratan titik pengamatan. Menurut Ayatrohaedi (1983: 36-37) terdapat lima hal yang harus diperhatikan dalam menentukan titik pengamatan dalam penelitian dialektologi. Pertama, keadaan geografi daerah penelitian. Maksudnya adalah apakah daerah tersebut pegunungan, kepulauan, dan sebagainya. Hal ini disebabkan beda jenis titik pengamatan akan beda pula daftar tanyaan maupun aspek lainnya dalam penelitian dialektologi. Kedua, keadaan kependudukan daerah penelitian. Kondisi demografi ini dilihat dari segi etnik, sosial, budaya, dan agama. Ketiga, tinjauan sejarah daerah penelitian. Aspek ini diperlukan untuk memahami keadaan kebahasaannya. Keempat, keadaan kebahasaan daerah penelitian. Kondisi kebahasaan titik pengamatan mengacu kepada apakah daerah itu berbahasa tunggal atau jamak, apakah ada tataran bahasa khusus (seperti fonetik, morfologi, sintaksis), apakah dialek di daerah tersebut terbuka atau tertutup. Hal ini juga akan berpengaruh kepada daftar tanyaan yang akan diberikan kepada informan. Kelima, kajian sebelumnya. Aspek ini terbilang penting karena dengan melihat kajian sebelumnya calon peneliti dialektologi akan dapat memahami kondisi daerah titik pengamatan dengan lebih baik. Malahan, dari penelitian sebelumnya dapat diketahui hal apa yang bisa sekiranya dibahas sehingga tidak terjadi pengulangan penelitian atau pengulangan kesalahan dalam melakukan penelitian seperti kajian sebelumnya.

Sementara itu, menurut Multamia RMT Lauder dalam buku Sekilas Mengenai Pemetaan Bahasa (2007: 60) tahapan penentuan titik pengamatan didasarkan oleh beberapa aspek. (1) Menghitung dan menentukan jarak antartitik pengamatan agar daerah penelitian tersebar secara merata. Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah daerah yang dijadikan titik pengamatan seyogyanya memenuhi kaidah kriteria jarak. Hal ini disebabkan jika titik pengamatan tidak memenuhi kriteria jarak bisa dipahami bahwa daerah penelitian tidak merata yang pada akhirnya berujung kepada ketidakvalidan penelitian dalam merepresentasikan kondisi kebahasaan di daerah penelitian. (2) Menentukan satuan unit penelitian. Satuan unit penelitian ini dapat berupa provinsi, kabupaten, kecamatan, desa, rukun warga, atau rukun tetangga. Penentuan satuan unit secara tepat dapat menampilkan hal-hal yang menjadi sasaran penelitian. (3) Memperhatikan distribusi pemilihan sifat dan jenis pengamatan. Maksudnya di sini adalah penggolongan desa tua, desa yang sukar dihubungi, dan desa yang mudah dihubungi (Ayatrohaedi, 1985: 26). (4) Menentukan jumlah ideal untuk informan yang akan diambil agar memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai daerah pakai dan daerah sebar bahasa. Hal ini tidak bisa diabaikan begitu saja karena jumlah informan akan ikut menentukan hasil maupun tujuan penelitian. (5) Mencari rujukan peta daerah penelitian ke Biro Pusat Statistik atau kantor pemerintah yang terkait. Hal ini diperlukan untuk mengkonfirmasi kebaruan peta daerah tersebut.

 

  • Populasi dan Sampel

Populasi titik pengamatan merupakan ruang lingkup titik pengamatan yang ingin diamati dalam penelitian dialektologi. Dalam hal ini, populasi titik pengamatan dapat dibedakan berdasarkan jenis daerahnya. Misalnya, provinsi, kabupaten, kecamatan, atau desa. Populasi titik pengamatan ini akan penting untuk menentukan sampel. Maksudnya, ketika calon peneliti dialektologi ingin memilih titik pengamatan seharusnya calon peneliti dialektologi tersebut memperhitungkan dahulu populasi titik pengamatannya dan setelah populasi titik pengamatan sudah ada barulah sampel akan diketahui. Sebagai contoh, bila calon peneliti dialektologi ingin melihat populasi titik pengamatan berdasarkan provinsi maka dapat diketahui bahwa sampel titik pengamatan yang harus dipilih oleh calon peneliti dialektologi tersebut adalah tingkat kabupaten. Begitu pula ketika calon peneliti dialektologi ingin melihat populasi titik pengamatan berdasarkan kabupaten maka sampel yang dipilih adalah tingkat kecamatan. Intinya, sampel selalu berada pada tingkat yang lebih rendah dari populasi titik pengamatan.

Kemudian, sampel titik pengamatan dalam penelitian dialektologi mengarah kepada daerah atau titik penelitian yang akan diteliti. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sampel titik pengamatan ini bergantung kepada populasi titik pengamatan. Ketika calon peneliti dialektologi telah menemukan sampel titik pengamatan misalnya pada tingkat kecamatan, maka langkah selanjutnya yang harus diperhatikan adalah ada berapa kecamatan di kabupaten yang dijadikan populasi. Ada kalanya, banyaknya kecamatan dalam satu kabupaten atau jumlah sampel dalam populasi tidak sama. Entah bisa lebih banyak atau bisa terhitung sedikit. Jika sampel dalam suatu populasi tersebut terhitung sedikit, calon peneliti dialektologi dapat dengan mudah mengambil data di semua sampel tersebut. Namun, saat sampel dalam suatu populasi memiliki jumlah yang banyak ada kalanya tidak semua sampel akan diteliti. Hal tersebut berkaitan erat dengan kendala waktu, tenaga, dan biaya dari calon peneliti dialektologi. Kalau memang calon peneliti dialektologi tidak ada kendala  tersebut, sampel bisa saja diambil semua supaya lebih komprehensif dan mewakili atau merepresentasikan daerah tersebut.

Akan tetapi, bagaimana jadinya jika calon peneliti dialektologi memiliki kendala waktu, tenaga, dan biaya? Hal yang harus dipikirkan adalah menentukan sampel ideal dalam penelitian dialektologi. Menurut Lauder (1990) sampel ideal setidaknya sekitar 20% dari populasi, sedangkan Mahsun (1994) menyebutkan sampel ideal sebanyak 25% dari populasi. Dari dua pendapat tersebut, dapat diambil pemahaman bahwa sampel ideal harus mewakili 20-25% populasi. Sebagai contoh, misalnya populasi titik pengamatannya memiliki jumlah sampel sebanyak 20 maka peneliti dialektologi dapat diambil hanya 5 sampel titik pengamatan saja kalau peneliti memiliki kendala. Meskipun demikian, tetap saja pengambilan semua sampel dari populasi jauh lebih baik dibandingkan hanya sebagian. Hal tersebut disebabkan ketika pengambilan sampel dilakukan di semua titik pengamatan peneliti dialektologi akan mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai daerah tersebut dibandingkan hanya mengambil sampel ideal yang sekitar 20-25% dari populasi.

 

  • Persebaran Sampel

Sebelum melihat persebaran sampel penelitian dialektologi, ada baiknya melihat terlebih dahulu metode pengambilan sampel ideal. Hal ini nantinya akan berkaitan dengan sifat dari sampel titik pengamatan. Menurut Teken (1965: 38) metode pengambilan sampel yang ideal memiliki sifat dapat menghasilkan gambaran yang dipercaya dari seluruh populasi yang diteliti. Berikutnya, dapat menentukan kepresisian dari hasil penelitian dengan menentukan penyimpangan baku didasarkan pada taksiran yang diperoleh secara sederhana sehingga mudah dilaksanakan dan dapat memberikan keterangan sebanyak mungkin dengan biaya serendah rendahnya.

Dengan melihat pengambilan sampel ideal memiliki beberapa sifat tersebut, persebaran sampel sekiranya memiliki empat aspek yang harus dipertimbangkan oleh seorang peneliti. Salah satu aspek tersebut adalah derajat keseragaman dari populasi. Maksudnya di sini adalah tingkat kehomogenan titik pengamatan. Bisa dibilang, semakin homogen keadaan populasi semakin sedikit sampel yang dapat diambil. Kemudian, aspek presisi yang dikehendaki oleh peneliti dialektologi. Dapat dikatakan, semakin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki peneliti semakin besar jumlah sampel yang diambil. Aspek selanjutnya adalah rencana analisis data. Hal ini dimaksudkan peneliti juga harus memikirkan rencana analisis data ketika hendak memilih persebaran sampel. Semakin banyak sampel yang dilakukan maka akan berpengaruh kepada semakin banyaknya analisis data sehingga waktu pengerjaannya tentunya tidak sebentar. Berikutnya, aspek tenaga, biaya, dan waktu penelitian. Peneliti dialektologi juga harus sangat memperhitungkan ketiga hal ini. Sebab, ketiga hal tersebut seringkali menjadi kendala peneliti saat hendak penelitian sehingga persebaran sampel pun harus dipirkan matang-matang supaya sampel yang diambil setidaknya masih dapat mewakili atau memebrikan gambaran tujuan penelitiannya.

Biasanya, dalam menentukan persebaran sampel yang hanya sebesar 20-25% dari populasi titik pengamatan peneliti memilih sampel atau daerah yang setidaknya tidak bersebelahan langsung atau kalaupun memang bersebelahan tetapi akses antara satu sampel dengan sampel lainya sulit. Hal ini disebabkan jika bersebelahan dan akses antarsampelnya gampang dapat dipastikan kondisi kebahasaannya akan mirip. Sebaliknya, jika akses antarsampelnya sulit walaupun bersebelahan kondisi kebahasannya pun akan berbeda karena jarangnya kontak atau hubungan langsung di sampel yang bersebelahan tersebut. Tujuan dari pemilihan sampel yang demikian adalah untuk tetap berusaha memunculkan situasi kebahasaan yang sekiranya menyeluruh dan menggambarkan titik pengamatan tersebut. Persebaran sampel tersebut dapat tercermin pada gambar di bawah ini.

dcsddsvs

Keterangan: Titik Pengamatan di Kabupaten Sumedang

 

  • Kriteria Jarak

Setelah mengetahui bahwa sampel bisa diambil hanya 20-25% dari populasi dan telah mengetahui bagaimana persebaran sampel tersebut, sekarang saatnya melihat kriteria jarak yang harus diperhatikan dalam penelitian dialektologi. Dalam hal ini, Nothofer (1981: 5) mengemukakan bahwa kriteria untuk menentukan titik pengamatan dibedakan menjadi dua, yaitu kriteria jarak kualitatif dan kriteria jarak kuantitatif. Pada kriteria kualitatif, kriteria jarak yang digunakan adalah mobilitas penduduknya tergolong rendah untuk sampel desa dan tidak terlalu tinggi untuk sampel kota. Mobilitas yang rendah akan memperlihatkan keaslian kebahasaan daerah tersebut karena masyarakat dengan mobilitas rendah tidak mengetahui kebahasaan lain sehingga bahasanya tidak akan bercampur dengan yang lain. Hal yang berbeda akan terlihat pada masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi. Hal tersebut tentu saja akan berdampak pada penggunaan bahasanya sehingga masyarakat dengan mobilitas tinggi akan memiliki bahasa yang lebih beragam atau bervariasi.

Selain itu, jumlah penduduk maksimal 6.000 jiwa. Kriteria ini mungkin saja diambil supaya sampel yang diambil di dalam populasi tersebut bisa banyak. Maksudnya, ketika populasi memiliki jumlah penduduk yang banyak ada kemungkinan bahasa di populasi tersebut berbeda. Bandingkan dengan populasi dengan jumlah penduduk sedikit yang bisa saja situasi kebahasaanya sama. Tidak hanya itu, kriteria lainnya adalah usia desa paling rendah 30 tahun. Selanjutnya, kriteria kuantitatif dalam penentuan titik pengamatan ini dilakukan dengan mengukur jarak di antara titik pengamatan kurang lebih +20 km. Jika isolek yang digunakan bersifat heterogen ukuran jarak tidak menjadi masalah. Hal ini disebabkan saat masyarakat heterogen berarti bisa dibilang ada aspek yang dapat membentengi daerah satu dengan daerah lainnya walaupun berdekatan. Menurut Lauder (2007: 61), jarak antara satu desa dan desa lainnya yang dijadikan daerah pengamatan sekitar 10 km.

 

  • Situasi Geografis dan Demografis

Pada penentuan titik pengamatan, situasi geografis dan demografis tidak boleh diabaikan. Situasi geografis yang perlu diamati atau dilihat sekiranya meliputi kondisi alam seperti hutan, sungai, pantai, dan sebagainya. Kondisi alam tersebut dilihat untuk mengidentifikasi titik pengamatan mulai dari perencanaan hingga tahapan analisis dalam penelitian. Hal ini disebabkan kondisi alam mempengaruhi penentuan titik pengamatan itu sendiri. Ketika ada hutan atau sungai di antara dua titik pengamatan bisa saja hal tersebut menjadi penghalang kedua titik pengamatan untuk berinteraksi sehingga walaupun bersebelahan bisa saja masyarakat di kedua titik pengamatan tidak pernah bertemu atau tidak bisa saling paham ketika berkomunikasi.

Sementara itu, situasi demografis yang sekiranya dimaksud adalah jumlah penduduk, tingkat pendidikan, tingkat pekerjaan, agama, kesehatan, dan lain sebagainya. Situasi demografi ini dapat menjadi dasar pula dalam menentukan sifat desa atau sifat titik pengamatan. Sebagai contoh, ketika sebuah titik pengamatan atau desa mempunyai penduduk yang tingkat pendidikannya tidak terlalu tinggi dan kebanyakan tidak bekerja dan mengandalkan berkebun atau berladang maka bisa dikatakan bahwa desa tersebut merupakan desa yang tergolong terisolasi atau desa terpencil sehingga desa tersebut bisa dibilang sangat cocok dijadikan titik pengamatan. Hal ini disebabkan desa terpencil atau yang terisolasi tersebut pasti akan memberikan gambaran keaslian bahasa daerah tersebut tanpa adanya intervensi atau campuran dari desa yang lain. Menurut Ayatrohaedi (1983: 36–37), dalam menentukan titik pengamatan, faktor geografis lebih diprioritaskan daripada demografis, jarak, dan sifat pengamatan. Hal ini bertujuan agar peneliti tidak terjerumus memasukkan daftar tanyaan yang tidak sesuai dengan daerah yang akan diteliti. Faktor demografis melihat kepaduan atau ketidakpaduan daerah penelitian secara etnik, budaya, agama, dan sosial.

Berdasarkan teori tersebut, kami pun menyimpulkan dari hasil diskusi bahwa hal yang diprioritaskan dalam menentukan titik pengamatan adalaasih faktor geografis. Titik pengamatan yang berupa daerah atau wilayah sangat berkaitan dengan pertimbangan geografis, misalnya faktor-faktor dalam menentukan daerah berelief pantai atau dataran rendah akan berbeda dengan titik pengamatan di daerah bergunung-gunung. Oleh karena itu, faktor geografis menjadi prioritas. Sebagai contoh dari faktor geografis, dalam membuat daftar tanyaan untuk daerah Kepulauan Seribu, peneliti mengajukan daftar tanyaan berupa kosakata budaya yang berkaitan dengan kelautan dan perikanan. Jika peneliti mengajukan daftar tanyaan berupa kosakata yang berkaitan dengan pertanian tentu tidak relevan dengan masyarakat Kepulauan Seribu sebagai informan dari penelitian tersebut.

 

III. Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa titik pengamatan dalam penelitian dialektologi merupakan hal vital yang menentukan ketepatan penelitian dialektogi itu sendiri. Jika penentuan titik pengamatannya salah, bisa saja penelitian tersebut akan tidak tepat sasaran sehingga hasilnya akan tidak sesuai dengan apa yang menjadi tujuan awal penelitian. Selain itu, penentuan titik pengamatan ini dalam penelitian dialektologi dianggap penting karena pengertian dari dialektologi sendiri yang lebih mengarah kepada hal yang bersifat geografis sehingga faktor titik pengamatan mutlak harus benar dan sesuai. Bahkan, pemilihan titik pengamatan ini harus memiliki kekhasan atau aspek kebahasaan yang menarik sehingga penelitian dialektologi akan menjadi menarik pula.

 

Daftar Pustaka

Ayatrohaedi. 1983. Dialektologi: Sebuah Pengantar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

__________. 1985. Bahasa Sunda di Daerah Cirebon. Jakarta: Balai Pustaka.

__________. 2002. Pedoman Praktis Penelitian Dialektologi. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Lauder, Multamia RMT. 2007. Sekilas Mengenai Pemetaan Bahasa. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana.

Mahsun. 1995. Dialektologi Diakronis: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: University Press.

Nothofer, Bernd. 1980. Cita-cita Penelitian Dialek. Dewan Bahasa.

Nuraeni, Fitri. 2012. Pemetaan Bahasa di Kabupaten Sumedang: Sebuah Kajian Dialektologi. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 5, 2015 by in Bebas.
%d bloggers like this: