Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Relevansi Hubungan Masyarakat Banyuwangi dengan Bali Ditinjau Berdasarkan Pendekatan Dialektologi

 

Abstrak

Kesenian masyarakat Banyuwangi dan Bali memiliki kemiripan. Kemiripan tersebut terlihat dari kesenian barongnya. Meskipun memiliki nama yang berbeda, yaitu Barong Prejengan asal Banyuwangi dan Barong Keket asal Bali, keduanya memiliki beberapa kemiripan dari segi penampakan bentuk barong dan alunan musiknya. Dalam hal ini, apakah kemiripan kesenian yang dimiliki masyarakat Banyuwangi dan Bali juga tercermin dalam bahasa? Hal tersebut didasarkan pada pendapat Edward Sapir (1956) yang menyatakan bahwa kemiripan kesenian berbanding lurus dengan kemiripan bahasanya. Oleh karena itu, untuk melihat mirip atau tidaknya bahasa antara masyarakat Banyuwangi dan Bali dapat digunakan pendekatan dialektologi, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Metode kuantitatif yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan penghitungan dialektometri. Berdasarkan penghitungan dialektometri ternyata diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa bahasa masyarakat Banyuwangi dengan Bali tidak memiliki kemiripan. Hasil tersebut diperoleh dari penghitungan dialektometri yang menggunakan 200 kosakata Swadesh. Pada penghitungan dialektometri menunjukkan perbedaan antara bahasa masyarakat Banyuwangi dan Bali sekitar 83%. Hasil ini memperlihatkan bahwa masih diperlukan penelitian dari kajian bidang lainnya yang dapat menjelaskan kemiripan kesenian yang dimiliki Banyuwangi dan Bali.

Kata kunci: Dialektologi, Banyuwangi, Bali, masyarakat, dan bahasa

 

 

I. PENDAHULUAN

Daerah Banyuwangi dan Bali tidak hanya berdekatan secara geografis, tetapi juga mempunyai kedekatan dari segi keseniannya. Kedekatan tersebut terlihat dari miripnya kesenian yang dimiliki Banyuwangi maupun Bali, seperti kesenian barong dan tari gandrungnya. Sebagai contoh, kesenian barong ini di dalam masyarakat Banyuwangi dikenal dengan Barong Prejengan dan di dalam masyarakat Bali dikenal dengan Barong Keket. Perbedaan mendasar dari keduanya adalah kepala barong Banyuwangi lebih kecil dibandingkan barong Bali. Selain itu, perbedaan lainnya terletak pada adanya sayap dan mahkota pada barong Banyuwangi. Hal tersebut berbeda dengan barong Bali yang tidak mempunyai sayap maupun mahkota. Dari warna yang dominan pada barong pun memiliki perbedaan, yaitu barong Banyuwangi memiliki variasi warna yang beragam dengan dominasi warna merah, sedangkan barong Bali tidak memiliki beragam warna dan dominasi warnanya lebih ke arah warna emas atau kuning.

Kesamaan kesenian seperti itu tentu saja menimbulkan berbagai spekulasi yang bermunculan. Mulai dari bagaimana bisa Banyuwangi dan Bali memiliki kesamaan kesenian hingga mana yang lebih dulu muncul antara barong di Banyuwangi atau Bali. Di sisi lain, Edward Sapir (1956) berpendapat bahwa masyarakat yang berbeda bahasanya boleh dikatakan hidup dalam dunia realitas yang berbeda. Bisa dibilang, Sapir mengungkapkan bahwa kalau berbeda bahasa maka berbeda pula kebudayaan atau kesenian. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Koentjaraningrat (2002) yang menyatakan bahwa bahasa memiliki fungsi umum dan khusus. Fungsi umum lebih sebagai alat ekspresi, berkomunikasi, mengadakan integrasi, dan adaptasi sosial. Sementara itu, fungsi khusus lebih mengarah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan, mewujudkan kesenian, dan mengeksploitasi ilmu pengetahuan. Dapat dipahami di sini bahwa Koentjaraningrat juga memiliki pandangan bahwa bahasa berfungsi menciptakan kesenian. Bila bahasanya tidak sama, bisa dibilang tidak mungkin memiliki kesenian yang sama.

Berdasarkan pandangan tersebut bila dikaitkan dengan kesamaan kesenian antara Banyuwangi dan Bali membuat perlu adanya kajian tentang bahasa masyarakat Banyuwangi dan Bali. Pembuktian bahasa ini akan lebih cocok bila dilihat dari segi dialektologi, baik kualitatif dan kuantitatif. Aspek kuantitatif pada dialektologi ini adalah membuat penghitungan dialektometri yang berlandaskan 200 kosakata Swadesh. Penghitungan dialektometri tersebut akan semakin memperjelas apakah bahasa masyarakat Banyuwangi dengan bahasa masyarakat Bali ini mempunyai kemiripan atau tidak. Bila memang terbukti ada kemiripan antara bahasa Jawa Banyuwangi (Budiono, 2015: 172) dengan bahasa Bali, dapat dikatakan bahwa wajar ada kemiripan kesenian. Namun, bila ternyata tidak terbukti ada kemiripan bahasa, perlu dicurigai dan perlu adanya penelitian dari bidang lain yang bisa menjelaskan kemiripan kesenian di dua daerah yang bersebelahan ini. Atas dasar tersebut, rumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah kesamaan kesenian yang dimiliki daerah Banyuwangi dan Bali berbanding lurus dengan adanya kemiripan bahasa sesuai dengan pendapat Sapir dan Koentjaraningrat. Hal ini bertujuan sebagai upaya menjelaskan relevansi kemiripan kesenian yang ada di Banyuwangi dan Bali berdasarkan dari sudut bahasa.

 

II. LANDASAN TEORI

Pada tulisan ini, landasan teori yang dipakai lebih mengarah untuk penghitungan dialektometri dari metode kuantitatif. Sementara, metode kualitatifnya berupa intrepetasi data dari metode kuantitatifnya. Penghitungan dialektometri ini dilakukan guna melihat ada atau tidaknya kemiripan antara bahasa Jawa Banyuwangi dengan bahasa Bali. Ada dua model penghitungan dialektometri, yaitu penghitungan dialektometri menurut Guiter (Lauder, 2007: 96) dan menurut Lauder (Ayatrohaedi, 2002: 12). Menurut Guiter, ketika penghitungan dialektometri mencapai angka <20% berarti titik yang diperbandingkan tidak berbeda bahasa. Lalu, bila penghitungan dialektometrinya menunjukkan angka 21—30% berarti terdapat perbedaan wicara. Begitupun saat  angka penghitungan dialektometrinya 31—50% maka dapat dikatakan ada perbedaan subdialek. Kalau angka penghitungannya 51—80% dapat dikatakan ada perbedaan dialek dan jika hasil penghitungan memperoleh angka >80% berarti titik yang diperbandingkan memiliki perbedaan bahasa.

Berbeda dari Guiter, Lauder mempunyai kategori penghitungan yang berbeda. Meskipun perbedaan angkanya tidak terlalu jauh, tetap saja perbedaan angka penghitungan membuat berbeda pula pengkategoriannya. Pengelompokkan hasil penghitungan dialektometri versi Lauder adalah jika hasil penghitungan memperoleh angka <30% akan dianggap tidak berbeda bahasa. Jika hasil penghitungan memperoleh angka 31—40% akan dianggap terdapat perbedaan wicara. Jika hasil penghitungan memperoleh angka 41—50% akan dianggap terdapat perbedaan subdialek. Jika hasil penghitungan memperoleh angka 51—69% akan dianggap terdapat perbedaan dialek dan jika hasil penghitungan memperoleh angka >70% akan dianggap mempunyai perbedaan bahasa.Dari kedua penghitungan dialektometri ini, penghitungan dialektometri Guiter dirasa kurang sesuai dengan situasi kebahasaan di Indonesia. Maka dari itu, Lauder melakukan modifikasi yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia. Dengan begitu, penghitungan dialektometri yang dipakai adalah penghitungan berdasarkan Lauder.

Hasil penghitungan dialektometri tersebut didapat dari rumus penghitungan dialektometri yang diajukan oleh Jean Seguy (Lauder, 2007: 96) sebagai berikut.

 

S X 100 = D%

    N

 

Keterangan:

S: jumlah beda dengan titik pengamatan lain

N: jumlah peta yang diperbandingkan

D jarak kosakata dalam persen

 

Hal yang diperhitungkan di sini adalah 200 kosakata dasar Morish Swadesh (Lauder, 2007: 138). Kosakata dasar ini digunakan karena kosakata ini terdapat di semua bahasa dan paling memungkinkan untuk berubah. Jadi, dalam penelitian ini daftar tanyaan sebanyak 200 kosakata Swadesh ini ditanyakan kepada dua informan, yaitu informan berbahasa Jawa Banyuwangi dan informan berbahasa Bali di Kabupaten Banyuwangi. Untuk informan berbahasa Jawa Banyuwangi ini diambil dari Desa Kemiren, sedangkan informan berbahasa Bali diambil dari Desa Patoman. Sekadar informasi, Desa Kemiren merupakan desa yang banyak dihuni oleh masyarakat Using (masyarakat asli Banyuwangi) dan dijadikan sebagai desa wisata Using oleh Pemerintah Banyuwangi. Sementara itu, Desa Patoman adalah salah satu desa di Kecamatan Rogojampi yang termasuk ke dalam kampung Balinya di Banyuwangi. Tentu saja, pemilihan informan ini telah disesuaikan dengan syarat informan yang dikemukakan oleh Ayatrohaedi dalam bukunya yang berjudul Dialektologi: Sebuah Pengantar (1983: 48).

 

III. PEMBAHASAN

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, informan yang dipilih ada dua, yaitu satu orang yang berbahasa Jawa Banyuwangi dari Desa Kemiren dan satu orang yang berbahasa Bali dari Desa Patoman. Informan tersebut pun ditanyakan 200 kosakata Swadesh sesuai dengan bahasanya masing-masing. Data 200 kosakata Swadesh tersebut kemudian diperbandingkan dengan penghitungan dialektometri. Berikut tabel penghitungan dialektometrinya.

 

veveger

 

Berdasarkan tabel penghitungan dialektometri di atas terlihat bahwa ada angka 0 dan 1. Maksudnya, angka 0 menunjukkan bahwa antara kosakata bahasa Jawa Banyuwangi dan Bali tidak memiliki perbedaan, sedangkan angka 1 memiliki arti ada perbedaan kosakata bahasa Jawa Banyuwangi dan Bali. Dalam hal ini, angka yang paling banyak terdapat pada tabel adalah angka 1. Artinya, dari 200 kosakata Swadesh banyak kosakata yang berbeda antara kosakata bahasa Jawa Banyuwangi dan Bali. Hal tersebut semakin diperjelas dengan perolehan persentase yang menunjukkan angka 83%. Jika melihat kategori penghitungan dialektometri menurut Lauder, perolehan tersebut menandakan bahwa adanya beda bahasa antara bahasa yang digunakan masyarakat asli Banyuwangi dengan masyarakat Bali. Perolehan tersebut juga memperlihatkan tidak adanya kemiripan bahasa di antara dua masyarakat yang memiliki kesenian yang sama ini.

Kosakata yang sama di antara keduanya hanya sebatas kosakata angka, penamaan keadaan alam, warna, dan bagian tubuh. Berdasarkan keempat kategori yang berasal dari kosakata umum Swadesh ini, penamaan keadaan alam menjadi kategori kosakata yang paling banyak miripnya antara bahasa Jawa Banyuwangi dengan bahasa Bali. Kosakata angka yang sama tersebut ditunjukkan oleh glos EMPAT, LIMA, dan TIGA. Kosakata penamaan keadaan alam yang mirip diperlihatkan pada glos ANGIN, BULAN, GUNUNG, HUTAN, KABUT, dan LANGIT. Lalu, kosakata warna juga memiliki kemiripan, yaitu pada glos KUNING dan PUTIH. Kosakata bagian tubuh pun punya kesamaan, seperti glos KULIT, JANTUNG, dan TELINGA. Berbeda dengan kategori lainnya, kategori kosakata bagian tubuh ini tidak semuanya mempunyai kemiripan. Sebab, glos USUS yang notabene termasuk ke dalam kategori kosakata bagian tubuh memiliki perbedaan.

Hal yang menarik di sini adalah ketidaksamaan bahasa dengan kesenian yang dimiliki masyarakat Banyuwangi dengan Bali. Padahal, kesenian di antara kedua daerah tersebut hampir mirip. Sayangnya, kemiripan tersebut tidak diikuti oleh kemiripan bahasa. Hal tersebut membuat penelusuran kenapa kesenian Banyuwangi dengan Bali bisa mirip menjadi semakin besar. Meskipun ada beberapa kosakata yang mirip tetapi berdasarkan penghitungan dialektometri tidak menunjukkan jumlah yang signifikan atau banyak. Bisa saja, kemiripan kesenian ini dapat dikaitkan dengan sejarah masa lalu yang menyebutkan bahwa daerah Banyuwangi atau Blambangan pernah diduduki oleh Kerajaan Mengwi dari Bali (Babad Blambangan, 1995: 322) sehingga pencampuran kesenian bisa saja terjadi.

Namun, Beatty (2001:76) mengungkapkan bahwa barong di Banyuwangi tepatnya di Desa Kemiren dibawa oleh Buyut Cili yang merupakan pendeta Hindu dari kerajaan Macan Putih yang berasal dari Mataram. Kedatangan Buyut Cili ke Desa Kemiren ini sebagai upaya melarikan diri dari ekspansi pengaruh Islam yang semakin kuat di tanah Jawa. Saat di Desa Kemiren inilah, Buyut Cili mempertunjukkan kesenian barong yang memang lekat dengan unsur Hindu. Bahkan, pada buku Perebutan Hegemoni Blambangan disebutkan bahwa tidak benar bila Blambangan pernah dijajah oleh Kerajaan Mengwi dari Bali. Hal itu disebabkan kerajaan yang ada di Bali biasanya bertumpu pada sektor pertanian dengan konsep religius agama Hindu yang kuat sehingga tidak memiliki kemaritiman yang kuat. Sementara itu, tahun yang disebutkan saat Kerajaan Mengwi menjajah Blambangan juga ganjil. Pasalnya, ketika I Made Sudjana menyimpulkan Mengwi menguasai Blambangan pada 1763-1768, di tahun tersebut Mengwi telah lemah sehingga tidak mungkin di tahun tersebut Mengwi bisa menguasai Blambangan.

Malahan, Pak Bonang Prasunan, anak dari Hasnan Singodimayan yang merupakan seorang tokoh kesenian di Banyuwangi (saat ditanya melalui telepon) menyebutkan bahwa kesamaan kesenian yang dimiliki Banyuwangi dengan Bali bukan karena kerajaan di Bali pernah menduduki Banyuwangi atau Blambangan. Ia menegaskan kalau kesamaan kesenian itu didasarkan pada agama Hindu yang dulu dianut oleh Kerajaan Blambangan. Sebelum agama Hindu terdesak oleh Islam selepas Kerajaan Majapahit runtuh, peninggalan masyarakat penganut Hindu banyak di Kerajaan Blambangan karena kerajaan ini masih menganut agama Hindu. Seiring perkembangan waktu, banyak penganut Hindu yang menyebrang ke Pulau Bali walaupun tidak semua. Maka dari itu, kesenian Banyuwangi dan Bali bisa sama.

 

IV. SIMPULAN

Adanya persentase penghitungan dialektometri sebesar 83% ini membuat tidak adanya kemiripan bahasa antara masyarakat Banyuwangi dengan Bali. Hal tersebut juga menandakan bahwa tidak adanya relevansi kemiripan kesenian yang dimiliki oleh kedua masyarakat yang daerahnya saling bersebelahan ini. Padahal, Edward Sapir dan Koentjaraningrat telah menyebutkan bahwa kalau ada kesamaan kesenian pasti diikuti oleh kesamaan bahasa. Sebab, tidak mungkin bahasa yang berbeda bisa melahirkan satu kesenian yang sama. Akan tetapi, pada kasus kesamaan kesenian Banyuwangi dan Bali teori dari Edward Sapir dan Koentjaraningrat tidak terbukti. Faktanya, tidak adanya kemiripan bahasa antara Banyuwangi dan Bali ini tetap memunculkan kesenian yang sejenis.

Entah, faktor apa yang bisa melatarbelakangi hal ini bisa terjadi. Dari segi sejarahnya pun masih ada perbedaan pandangan terkait hubungan Banyuwangi dengan Bali. Terlebih lagi, belum ada penelitian yang menelusuri kesamaan kesenian Banyuwangi dengan Bali, seperti kesenian barong dan tari barongnya. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan dari bidang lain untuk bisa mengungkapkan kenapa kesenian Banyuwangi dengan Bali bisa mirip.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Winarsih Partaningrat. 1995. Babad Blambangan. Yogyakarta: Ecole Francaise d‘Extreme-Orient bekerja sama dengan Yayasan Bentang Budaya.

Ayatrohaedi. 1983. Dialektologi: Sebuah Pengantar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

____________. 2002. Pedoman Penelitian Dialektologi. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Beatty, Adrew. 2001. Variasi Agama di Jawa, Suatu Pendekatan Agama. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Budiono, Satwiko. 2015. Variasi Bahasa di Kabupaten Banyuwangi: Penelitian Dialektologi. Depok: Fakultas ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Lauder, Multamia RMT. 2007. Sekilas Mengenai Pemetaan Bahasa. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana.

____________. 2002. Reevaluasi Konsep Pemilah Bahasa dan Dialek untuk Bahasa Nusantara. Depok: Makara Sosial Humaniora.

Margana, Sri. 2012. Ujung Timur Jawa 1763-1813: Perebutan Hegemoni Blambangan. Jakarta: Pustaka Infada.

Sapir, Edward. 1956. Language, Thought, and Reality. Cambridge: MIT Press.

 

(Makalah ini telah dipresentasikan dan diprosidingkan pada Seminar Nasional Sosiolinguistik dan Dialektologi Universitas Indonesia 2015)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 5, 2015 by in Bebas.
%d bloggers like this: