Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Strategi dan Kesahihan Tindak Tutur Meminta Maaf Penyanyi Dangdut Zakia Gotik dalam Kasus Pelecehan Lambang Negara

 

I. Pendahuluan

Di kalangan selebriti, sebagian besar media infotainment saat ini sedang menyoroti kasus penyanyi dangdut Zaskia Gotik yang melibatkan pihak kepolisian. Zaskia Gotik dilaporkan atas dugaan penghinaan lambang negara atas pernyataannya pada sebuah acara stasiun televisi nasional yang disiarkan secara langsung. Acara tersebut dipandu oleh Denni Cagur, Raffi Ahmad, dan Syahnaz Shadiqah. Dalam acara musik tersebut, trio Cecepy yang terdiri atas Julia Perez, Zaskia Gotik, dan Ayu Tingting hadir sebagai bintang tamu dan mengikuti sesi cerdas cermat yang dipandu Denni Cagur. Saat diberikan pertanyaan tentang simbol gambar sila kelima Pancasila, Zaskia malah menjawabnya dengan bebek nungging. Padahal, jawaban seharusnya adalah padi dan kapas. Hal tersebut membuat Zaskia Gotik dihujani protes dari masyarakat sehingga dirinya pun berurusan dengan kepolisian.

Aksi protes dari berbagai masyarakat tersebut disebabkan adanya larangan penghinaan negara dan lambangnya yang diatur dalam pasal 24 UU Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Dalam pasal 57 a junto pasal 68 berbunyi, “Setiap orang dilarang: (a) mencoret, menulis, menggambari, atau membuat rusak lambang negara dengan maksud menodai, menghina atau merendahkan kehormatan lambang negara dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp 500 juta”. Namun, menurut kuasa hukum Nagaswara yang ikut mendampingi Zaskia Gotik saat berada di Polda Metro Jaya mengungkapkan bahwa Zaskia Gotik sengaja menjawab salah seputar tanggal proklamasi kemerdekaan sesuai arahan tim kreatif acara, sedangkan jawaban mengenai lambang sila ke lima Pancasila merupakan murni karena keterbatasan dan ketidaktahuan Zaskia yang tidak berpendidikan. Banyaknya tekanan yang diterima oleh Zaskia Gotik, membuatnya membuat surat pernyataan minta maaf yang dialamatkan kepada presiden Indonesia sebagai bentuk penyesalannya melakukan tindakan yang dianggap melecehkan lambang negara. Surat pernyataan tersebut pun dibacakan dihadapan wartawan seusai Zaskia Gotik menjalani pemeriksaan kepolisian. Meskipun demikian, sebenarnya Zaskia Gotik sudah melakukan permintaan maafnya di depan media berulang kali. Namun, untuk lebih membuktikan keseriusan permintaan maafnya, Zaskia Gotik pun melakukan permintaan maaf secara resmi walaupun pada akhirnya pernyataan maaf tersebut tidak ditanggapi oleh presiden Indonesia.

Dari kasus tersebut, terlihat bahwa Zaskia Gotik melakukan permintaan maaf secara resmi dengan ditujukan kepada presiden Indonesia. Hal tersebut dimaksudkan untuk meyakinkan masyarakat bahwa Zaskia Gotik benar-benar menyesal dan permintaan maafnya sungguh-sungguh. Akan tetapi, asumsi tersebut harus dibuktikan kesahihannya dengan melihat pula strategi permintaan maaf dari pernyataan yang diujarkan oleh Zaskia Gotik. Holmes (1990: 161) percaya bahwa bila keadaan ditandai dengan syarat kesahihan, ungkapan penutur dapat diinterpretasikan sebagai sebuah permintaan maaf. Holmes menambahkan bahwa meskipun tidak mungkin memberikan rangkaian tindak tutur meminta maaf secara sempurna dan lengkap, masih sangat mungkin mitra tutur mengelompokkan berbagai strategi meminta maaf yang digunakan sebagai sebuah permintaan maaf yang sesungguhnya.

Hal ini membuat perlu dilakukannya analisis tindak tutur dari bidang pragmatik untuk membuktikan kebenaran atau kesungguhan permintaan maaf dari Zaskia Gotik. Pembuktian kesungguhan permintaan maaf tersebut dikaitkan dengan teori tindak tutur itu sendiri seperti lokusi, ilokusi, dan perlokusinya. Selain itu, pembuktian kesungguhan juga dapat dilihat berdasarkan strategi bagaimana penutur melakukan tindak tutur dan kesahihan dari permintaan maafnya. Jika tindak tutur tersebut memenuhi kesahihan permintaan maaf, maka dapat dikatakan atau dapat digolongkan bahwa tindak tutur tersebut merupakan sebuah permintaan maaf yang sahih atau benar atau sungguhan. Hal ini disebabkan tuturan meminta maaf belum tentu dianggap sebagai pernyataan meminta maaf kalau didalamnya tidak memuat beberapa aspek tertentu yang mendukung permintaan maafnya.

 

II. Teori Tindak Tutur

Menurut pendapat Searle (1980) tindak tutur dapat bertolak dari asumsi unit minimal suatu komunikasi manusia, seperti menyatakan, bertanya, memerintah, menjelaskan, mendeskripsikan, meminta maaf, dan berterima kasih. Sehubungan dengan hal tersebut, Austin (1962) membagi tindak tutur ke dalam dua jenis, yaitu tuturan performatif dan tuturan konstatif. Tuturan konstatif adalah tuturan yang menyatakan sesuatu kebenaran yang dapat diuji kebenaran atau kesalahannya. Contoh dari tindak tutur konstatif adalah “Pulau Jawa termasuk ke dalam pulau yang terpadat penduduknya di Indonesia”. Kebenaran tuturan tersebut terlihat dari data kepadatan penduduk. Sementara itu, tuturan performatif adalah tuturan yang memeriksa secara serentak untuk mengungkapkan suatu tindakan. Contoh dari tindak tutur performatif adalah pada tuturan “Saya berjanji akan menyelesaikan tugas ini secepatnya”. Tindak tutur tersebut tidak dapat dinilai benar atau salahnya tetapi dilihat berdasarkan kesahihannya.

Menurut Austin (1962: 14-36), ada empat syarat tindak tutur performatif supaya memiliki kesahihan. Pertama, adanya prosedur konvensional yang mencakup penuturan kata-kata tertentu oleh orang-orang tertentu pada peristiwa tertentu. Kedua, orang dan peristiwa yang terdapat dalam kasus harus memiliki kelayakan untuk melaksanakan prosedur yang dilaksanakan. Ketiga, prosedur harus dilakukan oleh peserta yang tepat. Keempat, prosedur harus dilakukan peserta secara penuh. Di lain pihak, Leech (1983: 292) mengungkapkan bahwa tuturan performatif memiliki beberapa sifat khas, yaitu:

  1. a) verba klausa induk adalah verba ilokusi
  2. b) verba ini berkala waktu kini
  3. c) Subjek verba adalah persona pertama
  4. d) objek taklangsung verba ini adalah persona kedua
  5. e) verba didahului oleh adverbial
  6. f) Verba diikuti oleh klausa tuturan taklangsung

Kemudian, Austin (1962: 32) membedakan tuturan performatif eksplisit dan tuturan performatif implisit. Tuturan performatif eksplisit adalah tuturan yang mengungkapkan suatu tindakan secara langsung, jelas, ataupun tegas. Misalnya, pada tuturan “Saya berjanji akan datang besok”. Berbeda dengan hal itu, tuturan performatif yang bersifat implisit tidak menjelaskan secara langsung penegasannya. Misalnya, pada tuturan “Saya akan datang besok”. Tuturan ini tergolong performatif implisit karena penutur tetap membuat tindakan “janji” walaupun kata “janji” tersebut tidak diucapkan atau tidak dinyatakan secara jelas atau terang-terangan.

Di samping itu, tindak tutur tidak terlepas dari lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Dalam melihat tindak tutur, macam-macam tindak tutur ini tidak bisa dilepas begitu saja dan masuk menjadi bagian analisis bersamaan dengan yang lainnya. Austin (1962) mengungkapkan bahwa sebuah tuturan memiliki tiga peristiwa atau macam sekaligus. Peristiwa atau macam dari tindak tutur adalah tindak lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Tindak lokusi adalah tindak tutur yang memiliki arti dan acuan tertentu yang mirip dengan makna sesungguhnya. Tindak ilokusi adalah tindakan yang dilakukan dengan menuturkan sebuah tuturan yang memiliki daya tertentu yang menampilkan fungsi tuturan tertentu sesuai dengan konteks tuturan tersebut. Misalnya, memberitahu, memerintah, melarang, dan sebagainya. Tindak perlokusi adalah tindakan yang menuturkan sebuah tuturan yang menimbulkan efek kepada mitra tutur. Efek tersebut dapat memengaruhi perasaan, pikiran, dan perilaku penutur. Misalnya, rasa cemas, senang, gembira, dan sebagainya.

 

III. Tindak Tutur Meminta Maaf

Dalam hal ini, tindak tutur performatif dapat berupa apa saja dari asumsi unit minimal suatu komunikasi manusia seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Salah satu unit minimal komunikasi manusia yang dijadikan topik pembahasan pada tulisan ini adalah tindak tutur meminta maaf. Pada dasarnya, meminta maaf merupakan strategi untuk mencapai tujuan komunikasi. Tindak tutur Searle pun berkaitan pula dengan konsep meminta maaf. Selain itu, Goffman (1971: 90) menganggap bahwa permintaan maaf dapat dikatakan sebagai tindakan ritual yang digolongkan menjadi dua kategori, yaitu tindak ritual positif dan tindak ritual negatif. Tindak tutur ritual positif atau sportif adalah sebuah tindak tutur yang menimbulkan sebuah keinginan untuk saling mendukung, sedangkan tindak tutur ritual negatif adalah tindak tutur yang terjadi ketika pelanggaran telah dilakukan salah satu pihak dalam suatu interaksi sosial.

Dapat dikatakan pula bahwa meminta maaf dapat dijadikan sebagai perbaikan hubungan antarmanusia. Dengan meminta maaf hubungan yang longgar akan memiliki kedekatan yang sama seperti keadaan semula atau sebelumnya. Brown dan Levinson (1987: 68) menganggap permintaan maaf sebagai sebuah tindakan mengancam muka yang merusak muka positif penutur karena dalam melakukannya penutur mengakui bahwa dia telah melakukan pelanggaran. Brown dan Levinson juga mengungkapkan bahwa keseriusan dari tindakan mengancam muka dalam beberapa situasi melibatkan aspek sosial, seperti partisipan, kekuasaan, dan tekanan dalam budaya pemakai bahasa. Berkaitan dengan hal tersebut, ketika suatu tindak tutur meminta maaf seseorang dicoba dideskripsikan dalam sebuah analisis tentu saja terdapat tolok ukur dari tindak tutur meminta maaf tersebut. Hal ini disebabkan tindak tutur meminta maaf memiliki perbedaan ketika diucapkan oleh individu yang berbeda. Banyak faktor yang mendasari perbedaan tindak tutur meminta maaf tersebut. Misalnya, faktor sosial, budaya, maupun ekonomi.

Untuk itu, sebuah tindak tutur meminta maaf   memiliki syarat kesahihan yang telah dipaparkan oleh beberapa ahli. Menurut Fraser (1981), sebuah permintaan maaf dapat dilakukan hanya dalam dua kesahihan dasar. Pertama, penutur mengaku bertanggung jawab atas tindakannya. Kedua, penutur menyampaikan penyesalan atas tindakannya. Berbeda dengan Fraser, Holmes (1990) mengungkapkan bahwa permintaan maaf merupakan sebuah tindak ilokusi yang memiliki syarat kesahihan minimal. Maksudnya, jika seseorang bermaksud melakukan tindak tutur meminta maaf dan tindak tuturnya memiliki unsur kesahihan ini maka dapat dianggap bahwa tindak tutur tersebut dapat digolongkan ke dalam permintaan maaf. Syarat kesahihan permintaan maaf adalah sebuah tindakan telah terjadi, penutur percaya bahwa tindakan itu merugikan penutur, dan penutur bertanggung jawab atas tindakannya itu. Menurut Brown dan Levinson (1987), fungsi permintaan maaf ialah mengembalikan muka negatif penutur. Hal itu dapat dicapai dengan empat cara, yaitu mengaku bertanggung jawab untuk sebuah pelanggaran, menunjukkan keseganan, memberikan alasan, dan memohon maaf.

Ketika melihat kesahihan, tidak lengkap rasanya jika tidak pula melihat strategi meminta maaf. Hal ini dimaksudkan untuk lebih bisa memperjelas atau memperdalam makna atau maksud dari penyataan maaf dilihat dari strategi bagaimana pernyataan maaf tersebut dituturkan. Olshtain dan Cohen (1983) membedakan lima strategi meminta maaf, yaitu meminta maaf dengan menggunakan peranti penanda daya ilokusioner secara eksplisit, memberikan penjelasan, mengaku bertanggung jawab, menawarkan perbaikan, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Cohen dkk (1986: 52) menyebutkan bahwa kelima strategi tersebut dapat berdiri sendiri atau bergabung dengan strategi lain, tergantung pada situasi dan budaya tertentu. Tidak jauh berbeda dengan Olshtain dan Cohen, Holmes (1990) membedakan empat strategi utama meminta maaf. Pertama, ungkapan eksplisit meminta maaf, menawarkan permintaan maaf, mengungkapkan penyesalan, dan meminta pengampunan. Kedua, penjelasan bersama dengan tanggung jawab, excuses, dan pembenaran. Ketiga, pengakuan tanggung jawab. Keempat, berjanji tidak akan mengulanginya kembali.

 

IV. Transkripsi Permintaan Maaf Zaskia Gotik

Pedangdut Zaskia Gotik mendatangi Direktorat Reserse Kriminal Khusus, Polda Metro Jaya. Pada saat itu, Zaskia Diperiksa selama enam jam terkait laporan dugaan pelecehan lambang negara. Usai diperiksa, Zaskia Gotik menyampaikan permohonan maaf yang ditulisnya sendiri kepada presiden Joko Widodo dan masyarakat Indonesia dihadapan para pemburu berita atau wartawan. Berikut pernyataan maaf Zaskia Gotik.

“Terima kasih dulu untuk penyidik eneng yang sangat bijak sekali. Tadi eneng udah berjam-jam di atas diberi minum diberi makan. Terima kasih buat penyidiknya yang sangat luar biasa sekali.

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatu

Kepada bapak Presiden Bapak Jokowi. Saya Zaskia Gotik, warga negara Republik Indonesia. Saya mau meminta maaf sebesar-besarnya atas kekeliruan saya menjawab lambang negara yang kurang sopan. Saya tidak ada niat sedikitpun untuk menghina atau melecehkan. Saya mohon keadilan untuk saya sebagai warga negara Indonesia yang meminta maaf. Sekali lagi, saya meminta maaf atas ketidakmampuan saya dan keterbatasan saya. Hormat saya, Zaskia Gotik”

 

V. Strategi dan Kesahihan Tindak Tutur Meminta Maaf

Berdasarkan data yang ada dari permintaan maaf yang diucapkan oleh Zaskia Gotik, terdapat beberapa hal yang sekiranya sesuai dengan strategi minta maaf yang dilakukan maupun kesahihan dari permohonan maaf tersebut. Sebenarnya, strategi maupun kesahihan permintaan maaf ini tidak jauh berbeda. Hal tersebut disebabkan aspek yang ada pada strategi minta maaf juga dijadikan dasar untuk menentukan kesahihan suatu tindak tutur. Hanya saja, pada strategi maupun kesahihan meminta maaf terdapat beberapa aspek yang berbeda sehingga ketika keduanya dijadikan satu atau digabung akan membuat analisis menjadi komprehensif.

Awalnya, permohonan maaf ini dipicu dari lokusi yang diucapkan oleh Zaskia Gotik saat menjawab pertanyaan Denny Cagur terkait lambang sila kelima dari Pancasila. Hal tersebut membuat Zaskia Gotik menginterpretasikan pertanyaan tersebut menjadi sebuah ilokusi yang menyaratkan bahwa jawaban tidak membutuhkan kebenaran. Hal tersebut bisa saja disebabkan Zaskia Gotik mengira karena pertanyaan tersebut dilontarkan ketika dirinya berada di acara musik yang bersifat menghibur sehingga Zaskia Gotik pun menjawab dengan asal-asalan. Namun, dari lokusi yang dilontarkannya tersebut malah membuat perlokusi yang tidak diduga. Masyarakat memberikan tanggapan negatif kepada Zaskia Gotik karena dianggap telah mencemarkan atau melecehkan lambang negara. Adanya perlokusi yang negatif dari masyarakat tersebut membuat Zaskia Gotik harus berurusan dengan kepolisian.

Maka dari itu, setelah menjalani pemeriksaan kepolisian Zaskia Gotik pun melakukan konferensi pers dengan memberikan pernyataan minta maaf dihadapan publik. Kondisi tersebut jika dilihat dari strategi meminta maaf, pernyataan meminta maaf dihadapan publik tersebut sudah menyaratkan bahwa Zaskia Gotik benar-benar meminta maaf. Hal tersebut pun sudah sesuai dengan pendapat Austin yang menyatakan tentang prosedur konvensional yang harus dilakukan untuk meminta maaf. Dalam hal ini, prosedur konvensional yang dilakukan Zaskia Gotik adalah meminta maaf dihadapan masyarakat yang merasa kecewa dengan sikap atau perkataan dirinya. Berikut kutipan dari pernyataan Zaskia Gotik yang menunjukkan permohonan maaf.

“Saya mau meminta maaf sebesar-besarnya atas kekeliruan saya menjawab lambang negara yang kurang sopan.”

Dari kutipan di atas terlihat bahwa Zaskia Gotik melakukan permintaan maaf secara eksplisit atau dengan jelas. Hal tersebut disebabkan Zaskia Gotik secara langsung mengucapkan kata “maaf”. Tentu saja, pengungkapan maaf tersebut dapat secara jelas dimengerti oleh masyarakat. Bahkan, permintaan maaf ini disebutkan tidak hanya sekali. Repetisi yang dilakukan Zaskia Gotik ini menandakan bahwa dirinya bersungguh-sungguh meminta maaf. Selain itu, dalam pernyataannya Zaskia Gotik pun memberikan alasan terkait dengan mengapa terjadi situasi yang demikian. Berikut kutipan yang mendukung dari pernyataan Zakia Gotik seperti yang tertera di bawah ini.

“Sekali lagi, saya meminta maaf atas ketidakmampuan saya dan keterbatasan saya.”

Kutipan pernyataan di atas memperlihatkan alasan kenapa Zaskia Gotik tidak menjawab dengan benar jawaban atas pernyataan yang diberikan pada acara musik tersebut. Kutpan di atas pun seolah menyatakan atau memberikan ilokusi bahwa Zaskia Gotik tidak menjawab dengan benar karena memang Zaskia Gotik tidak tahu. Hal tersebut pun dikaitkan dengan latar belakang pendidikan Zaskia Gotik yang hanya tamatan SD. Di samping itu, Zaskia Gotik pun memberikan penjelasan terkait maksud dari ucapannya saat menjawab pertanyaan tentang lambang negara. Berikut di bawah ini kutipannya.

“Saya tidak ada niat sedikitpun untuk menghina atau melecehkan.”

Pernyataan Zaskia Gotik di atas memperlihatkan bahwa perlokusi yang diterima masyarakat terkait dengan lokusi yang diucapkannya tersebut tidak benar. Dalam kutipan tersebut, Zaskia Gotik ingin memberitahukan kepada masyarakat bahwa ketika dirinya menjawab lambang sila kelima Pancasila adalah bebek nungging itu tidak ada maksud menghina atau melecehkan seperti perlokusi yang diterima masyarakat umum. Hal tersebut sekiranya menjawab tanggapan miring seputar dirinya hingga Zaskia Gotik terpaksa berurusan dengan pihak kepolisian. Tidak hanya itu, Zaskia Gotik pun dalam melakukan permintaan maaf memuat unsur menunjukkan keseganan. Berikut kutipan yang menunjukkan hal tersebut.

“Terima kasih dulu untuk penyidik eneng yang sangat bijak sekali. Tadi eneng udah berjam-jam di atas diberi minum diberi makan. Terima kasih buat penyidiknya yang sangat luar biasa sekali.”

Kutipan di atas termasuk ke dalam unsur keseganan seperti yang dikategorikan sebagai salah satu kesahihan yang diungkapkan oleh Holmes. Keseganan ini diutarakan Zaskia Gotik sebelum memberikan pernyataan maaf dapat disebabkan sebagai bentuk penghormatan kepada pihak kepolisian. Selain itu, keseganan tersebut juga sengaja diungkapkan di hadapan masyarakat untuk memperlihatkan sikap kooperatifnya sebagai warga negara walaupun dirinya tidak bisa menjawab lambang negara dengan benar. Kemudian, dari pernyataan Zaskia Gotik juga memuat permintaan pengampunan. Berikut kutipannya.

(1) “Kepada bapak Presiden Bapak Jokowi. Saya Zaskia Gotik, warga negara Republik Indonesia”

(2) “Saya mohon keadilan untuk saya sebagai warga negara Indonesia yang meminta maaf”

Dari kutipan di atas dapat terlihat bahwa Zaskia Gotik menekankan permintaan maafnya kepada presiden Indonesia disertai dengan permintaan pengampunan dengan mengucapkan “mohon keadilan”. Hal tersebut bisa saja dimaksudkan agar proses hukumnya tidak dilanjutkan lagi dengan memperhatikan alasan yang telah diutarakan Zaskia Gotik pada permintaan maafnya.

 

VI. Penutup

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa permohonan maaf yang dilakukan Zaskia Gotik dihadapan wartawan yang ditujukan kepada presiden Indonesia mematuhi kaidah strategi dan kesahihan sehingga dapat dikatakan permohonan maaf tersebut dilakukan dengan sungguh-sungguh. Hal tersebut disebabkan pula permintaan maaf Zaskia Gotik dapat dikategorikan sebagai tuturan performatif eksplisit. Tuturan tersebut dilakukan secara lugas dan tegas sehingga tidak mengandung ambiguitas dan semua aspek yang disebutkan sebagai kriteria strategi maupun kesahihan terkandung di dalam permintaan maaf dari Zaskia Gotik. Beberapa aspek yang ada di dalam pernyataan Zaskia Gotik adalah melakukan prosedur konvensional sesuai dengan penuh, memohon maaf secara langsung, mengaku bertanggung jawab atas tindakannya, memberikan penjelasan, dan memuat permintaan pengampunan.

 

 

Daftar Pustaka

Austin, J.L. 1962. How to Do Things with Words. New York: Oxford University Press.

Brown, Penelope & Stephen C. Levinson. 1987. Politeness: Some Universals in Language Usage. Cambridge: Cambridge University Press.

Fraser, Bruce. 1981. “On Apologizing”. Dalam Florian Coulmas (Ed.). Conversational Routine. The Hague: Mouton.

Goffman, Erving. 1971. Relations in Public: Microstudies of the Public Order. Harmondsworth: Penguin.

Holmes, Janet. 1990. Language in Society. Cambridge: Cambridge University Press.

Olshtain, E. & A. D. Cohen. 1983. “Apology: A Speech Act Set”. Dalam N. Wofson & E. Judd. Sociolinguistics and Language Acquisition. Rowley: Newbury House Publishers.

Searle, Joh R. 1969. Speech Act: An Essay in the Philosophy. Cambridge: Cambridge University Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 14, 2016 by in Bebas.
%d bloggers like this: