Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Gejala Bahasa Anak BFLA di Lingkungan Multilingual Bahasa Indonesia, Bahasa Perancis, dan Bahasa Inggris

 

1. Pendahuluan

Pada masa globalisasi seperti saat ini, perkawinan campuran antarbangsa atau antarnegara semakin marak terjadi. Hal tersebut didukung oleh beberapa faktor seperti kemudahan akses untuk berkomunikasi, kemudahan transportasi, dan sebagainya. Terlebih lagi, Indonesia merupakan negara demokrasi yang terbuka dengan adanya orang asing. Hal ini membuat kontak antara orang Indonesia dengan orang asing tidak terhindarkan. Meskipun tidak terlalu banyak orang Indonesia yang menikah dengan orang asing, tetapi jumlahnya semakin lama semakin meningkat. Adanya pernikahan campuran antarnegara tersebut tentu saja mempengaruhi aspek kebahasaan si anak, baik dalam pemilihan bahasa anak, lingkungan tempat tinggal si anak, dan sebagainya. Bahkan, bisa saja si anak hasil dari pernikahan campuran ini mempelajari dua bahasa sekaligus yang dalam bidang psikolinguistik disebut dengan BFLA (Bilingual First Language Acquisition).

Kondisi yang terjadi sekarang ini, anak tidak lagi hanya mempelajari bahasa pertamanya sejumlah satu bahasa saja atau dalam bidang psikolinguistik disebut MFLA (Monolingual First Language Acquisition). Hal ini membuat perkembangan bahasa anak terus mengalami perkembangan keilmuan. Salah satu bidang yang mempelajari perkembangan bahasa anak adalah psikolinguistik. Pada bidang ini, perkembangan bahasa anak akan dilihat dari bagaimana cara anak melakukan pemrosesan ujaran dari fonem hingga kalimat. Dalam kaitannya dengan psikolinguistik, penulis menjadi tertarik melihat bagaimana anak BFLA memproduksi ujaran mulai dari kata hingga kalimat. Terlebih lagi, penulis semakin tertarik untuk melihat anak BFLA yang tinggal di lingkungan yang berbeda dari dua bahasa pertama yang dipelajarinya. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan antara anak MFLA dengan BFLA dalam memproduksi bahasa. Maka dari itu, video singkat yang berjudul “Code Switching between Indonesian, French, and English” dijadikan sebagai data untuk mengetahui gejala bahasa yang dialami oleh anak BFLA di lingkungan yang berbeda dari bahasa pertamanya.

 

2. Perkembangan Bahasa Anak BFLA Menurut De Houwer (2009)

Pada masa awal interaksi, seorang bayi tentu saja akan mendapat banyak input atau masukan bahasa dari orang terdekat. Interaksi awal dengan orang yang familiar tersebut dalam konteks perkembangan bayi disebut dengan pembelajaran intersubjektif. Dalam hal ini, tahap awal pembelajaran intersubjektif menjadi landasan anak untuk perkembangan keseluruhan maupun fungsi komunikatifnya. Dalam beberapa budaya, saudara yang lebih tua memainkan peran penting dalam merawat adik kecilnya. Hal tersebut membuat peran dari saudara yang lebih tua bisa saja lebih dominan dibandingkan dengan orang tuanya pada budaya tertentu. Dari interaksi awal tersebut, perkembangan selanjutnya yang dipelajari adalah bagian dari sosialisasi yang biasa disebut modeling atau pemodelan. Hal ini dipelajari dari contoh nyata yang dilihat maupun yang diajarkan atau diterangkan kepada orang terdekat. Perlu diketahui bahwa perkembangan kognitif anak itu tergantung kepada lingkungan sosialisasinya. Aspek ini memengaruhi perkembangan otak dan kemampuan fisiknya.

Pembelajaran bahasa di tahun pertama biasanya atau ada kecenderungan anak akan melakukan imitasi yang tertanam sejak lahir dalam interaksi sosial. Untuk bahasanya sendiri, imitasi awal suara vokal tertanam dalam interaksi timbal balik dengan orang dewasa yang mendukungnya. Ketika anak akan meniru atau bertindak atau mengatakan sesuatu butuh menunggu hingga alat produksinya matang untuk memulainya. Jika anak sudah menginjak usia lebih tua, orang tua atau penjaga anak akan melakukan hal yang sekiranya bisa dilakukan si anak atau mengenalkan berbagai hal yang ada di sekitar. Kondisi tersebut membuat anak memerhatikan beberapa elemen interaksi, seperti tindakan, objek,  binatang, dan orang lain selain orang terdekat. Tentu saja, adanya pengulangan dengan pengaturan kata spesifik akan membuat  anak akan memahami bagaimana bahasa tersebut diucapkan.

Perkembangan berikutnya, anak akan berusaha memproduksi bahasa yang sudah didengarkannya selama setahun atau dua tahun terakhir. Dalam hal ini, anak mulai menggunakan produksi bahasanya untuk mengoceh yang dilanjutkan dengan memproduksi bunyi yang dipikirkan sebagai sebuah silabel. Intonasi inilah yang dikuasai anak sebelum dapat berbicara. Setelah itu, anak akan berusaha mengucapkan fonem vokal maupun konsonan. Untuk anak BFLA, pengucapan fonem ini dapat lebih lama dipelajari karena anak harus bisa membedakan terlebih dahulu intonasi maupun fonem bahasa A dengan bahasa alpha yang bisa saja berbeda atau bertolak belakang. Akan tetapi, hal tersebut tergantung kepada pengalaman atau frekuensi si anak dalam mendengarkan ujaran dalam kedua bahasa tersebut. Tentu saja, semakin banyak frekuensi bahasa A dan bahasa alpha didengar si anak akan semakin cepat pula anak dapat membedakan keduanya.

Ketika anak sudah dapat memproduksi fonem, pada tahun ketiga anak akan dapat memproduksi kata sebagai langkah awal memproduksi kalimat. Dari suara, kata, hingga produksi kalimat merupakan proses yang cukup kompleks. Pada tahap suara menuju kata biasanya anak akan memulai melakukan subtitusi dan penghapusan pola seperti yang dilakukan oleh orang dewasa. Hal tersebut memungkinkan anak untuk memproduksi kata dengan intonasi yang tidak seharusnya. Pada tahap ini, anak juga sudah mulai memelajari aspek semantik. Aspek pargmatik pun akan dipelajari anak ketika sudah dalam tahap memproduksi kalimat. Meskipun demikian, anak memiliki kecenderungan mencampurkan kata yang berbeda secara bersamaan dalam satu kalimat. Misalnya, campur kode antara bahasa A dengan bahasa alpha. Hal tersebut dirasa wajar karena anak masih berupaya untuk memahami kedua bahasa yang diperolehnya secara bersamaan. Dalam perkembangan anak BFLA, ada beberapa kemungkinan yang dilakukan anak untuk memproduksi ujaran. Beberapa kemungkinan tersebut adalah mixed utterances atau ujaran campur kode antara bahasa A dan bahasa alpha, indeterminate utterances atau ujaran yang terdengar samar antara bahasa A atau bahasa alpha, dan floating utterances atau ujaran yang secara struktural tidak berasal dari bahasa A, tetapi diujarkan dalam bahasa A dan bukan dalam bahasa alpha.

 

3. Transkrip Percakapan “Code Switching between Indonesian, French, and English”

Mama  : Apa yang rusak, Jo?

Jojo      : Eh… This one (sambil nunjuk celana bolong)

Mama  : Kenapa celananya? Celananya bolong? Kok bisa bolong?

Jojo      : Aku tak tahu kenapa bolong

Mama  : Kenapa Papa bolong?

Papa    : Fixed it then. Tiens! Tu peux réparer?

Jojo      : Eu! Je peux pas.

Papa    : Comment sait… Tu peux pas?

Jojo      : There is no more then

Papa    : Tiens! Tu peux pas.

Mama  : Kalau begitu celananya mau diapain, Jo? Dibuang?

Jojo      : Eh.. Apres… We down en pubelle

Mama  : Mau ditaruh di tempat sampah?

Jojo      : No. Non

Mama  : Oh belum ditaruh di tempat sampah?

Papa    : Voila on est…! Louise le repare. Tiens! Louise.. un pied en pantaloon.

Mama  : Bisa gak dipake sama Louis, Jojo?

Jojo      : C’est bien Louise

Papa    : C’est bien.. Voila! Maintenant t’as un petit frère. What?

Jojo      : Louise! Maintenant

Papa    : Maintenant. Louise est ton petit frère.

Mama  : Buat mama ya, Jo, celananya?

Jojo      : Tidak. Sekarang buat Louise.

Mama  : Buat Louise? Gak boleh buat Mama?

Jojo      : Tidak. Nanti

Papa    : Voila!

Jojo      : Maybe just tomorrow

Mama  : Oh besok aja buat mama?

Jojo      : Maybe tomorrow

 

4. Gejala Bahasa Anak BFLA di Lingkungan Multilingual

Pada transkrip percakapan singkat antara Mama yang berbahasa Indonesia, Papa yang berbahasa Perancis, dan Jojo seorang anak BFLA, terdapat beberapa gejala bahasa yang terjadi pada interaksi tersebut. Salah satu gejala bahasa yang dialami Jojo, seorang anak BFLA yang juga multilingual, tersebut adalah Jojo mendapatkan bahasa pertama sebanyak dua bahasa, yaitu bahasa Perancis dan Inggris. Kemudian, Jojo baru mendapat masukan bahasa lainnya, yaitu bahasa Indonesia. Hal tersebut dapat terlihat pada kutipan di bawah ini.

 

(Kutipan 1)

Mama  : Apa yang rusak, Jo?

Jojo      : Eh… This one (sambil nunjuk celana bolong)

Mama  : Kenapa celananya? Celananya bolong? Kok bisa bolong?

Jojo      : Aku tak tahu kenapa bolong

 

(Kutipan 2)

Papa    : Fixed it then. Tiens! Tu peux réparer?

Jojo      : Eu! Je peux pas.

Papa    : Comment sait… Tu peux pas?

Jojo      : There is no more then

 

Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa Jojo lebih fasih dalam bahasa Perancis dan bahasa Inggris. Hal tersebut disebabkan pada kutipan 1 Jojo ketika ditanya oleh mamanya menggunakan bahasa Indonesia menjawab dengan bahasa Inggris terlebih dahulu baru pertanyaan berikutnya menjawab dengan bahasa Indonesia. Hal tersebut menandakan bahwa Jojo pada awalnya memiliki kebingungan ketika ditanya dengan bahasa Indonesia sehingga Jojo menjawabnya dengan bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa pertama yang dipelajari.

Di lain hal, Jojo juga fasih dalam bahasa Perancis pada kutipan 2 saat berbicara dengan ayahnya. Pada kutipan 2, bahasa Perancis dan bahasa Inggris diucapkan dengan baik sehingga bahasa Indonesia bagi Jojo adalah bahasa asing lain dan bukan bahasa pertama. Hal ini bisa saja disebabkan lingkungan rumah Jojo berbahasa Inggris dan komunikasi ayah dan mamanya menggunakan bahasa Perancis sehingga input bahasa Inggris dan bahasa Perancis masuk secara bersamaan.

Gejala lainnya yang juga terlihat pada video singkat percakapan keluarga multilingual tersebut adalah input bahasa Perancis lebih banyak dibandingkan bahasa Inggris. Hal tersebut terlihat dari intonasi bahasa Indonesia yang tidak seperti orang Indonesia. Intonasi bahasa Indonesia yang diucapkan oleh Jojo lebih condong kepada intonasi bahasa Perancis. Hal ini tidak mengherankan karena bisa saja sebelum Jojo bisa berbicara kedua orang tua menggunakan bahasa perancis di dalam rumah dan hanya menggunakan bahasa Inggris ketika bertemu dengan orang luar atau saat berada di luar rumah. Intensitas anak baru lahir yang lebih sering berada di rumah membuat input bahasa yang sering dipakai di rumah memiliki frekuensi lebih banyak.

Selain itu, pada video singkat percakapan antara Mama, Papa, dan Jojo terlihat bahwa adanya campur kode yang dilakukan oleh Jojo saat berbicara. Campur kode dilakukan dalam bahasa Inggris dan bahasa Perancis. Sementara itu, pada ujaran bahasa Indonesia, Jojo tidak melakukan campur kode dengan bahasa lainnya. Berikut kutipan yang mendukung pernyataan tersebut seperti yang tertera di bawah ini.

 

(Kutipan 3)

Papa    : Tiens! Tu peux pas.

Mama  : Kalau begitu celananya mau diapain, Jo? Dibuang?

Jojo      : Eh.. Apres… We down en pubelle

Mama  : Mau ditaruh di tempat sampah?

Jojo      : No. Non

 

(Kutipan 4)

Mama  : Buat mama ya, Jo, celananya?

Jojo      : Tidak. Sekarang buat Louise.

Mama  : Buat Louise? Gak boleh buat Mama?

Jojo      : Tidak. Nanti

 

Pada kutipan di atas dapat terlihat bahwa saat ayahnya berbicara bahasa Perancis kemudian mamanya bertanya dalam bahasa Indonesia, Jojo memiliki kebingungan dengan adanya kata “eh..” yang kemudian dilanjutkan dengan campur kode antara bahasa Inggris dan bahasa Perancis. Hal ini mungkin aja disebabkan Jojo bingung mau mengujarkan bahasa Inggris atau bahasa Perancis karena ayahnya berbicara dengan bahasa Perancis terlebih dahulu baru amanya bertanya dengan bahasa Indonesia. Jika pada kutipan sebelumnya kebingungan Jojo saat ditanya dengan bahasa Indonesia ditandai dengan pemakaian bahasa Inggris terlebih dahulu, maka pada kutipan 3 Jojo memiliki kebingungan karena ayahnya mengujarkan bahasa Perancis sedangkan mamanya bahasa Indonesia sehingga campur kode pun tidak terelakkan terjadi.

Kondisi yang berbeda ditunjukkan ketika ayahnya tidak berbicara bahasa Perancis dan hanya mamanya yang berbicara bahasa Indonesia. Pada kondisi tersebut, Jojo dengan lancar mengujarkan bahasa Indonesia tanpa adanya campur kode. Pemakaian bahasa Inggris pun tidak dilakukan Jojo karena mamanya telah memakai bahasa Indonesia dari awal sehingga dapat ditandai bahwa Jojo hanya melafalkan bahasa Inggris ketika dirinya kebingungan dengan ujaran bahasa Indonesia mamanya yang mendadak.

 

5. Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Jojo merupakan seorang anak BFLA yang memiliki dua bahasa pertama, yaitu bahasa Perancis dan bahasa Inggris. Hal tersebut terlihat dari kefasihan Jojo melafalkan bahasa Perancis ketika ayahnya berbicara berbahasa Perancis pula. Selain itu, bahasa Inggris juga menjadi bahasa pertama Jojo karena bisa saja lingkungan tempat tinggal keluarga Jojo berbahasa Inggris sehingga input bahasa Perancis dan bahasa Inggris masuk secara bersamaan. Meskipun demikian, frekuensi input bahasa Perancis lebih besar dibandingkan bahasa Inggris. Hal tersebut bisa aja disebabkan kedua orang tua Jojo memakai bahasa Perancis di rumah sehingga bahasa Perancis memiliki frekuensi yang lebih besar.

Tidak hanya itu, dapat ditarik kesimpulan pula bahwa bahasa Inggris menjadi bahasa lingua franca antara bahasa Perancis yang diucapkan ayahnya dan bahasa Indonesia yang diucapkan mamanya. Hal tersebut terlihat ketika Jojo kebingungan dengan ujaran bahasa Indonesia mamanya yang mendadak, Jojo akan melafalkan bahasa Inggris terlebih dahulu. Pada saat Jojo sudah terbiasa dengan ujaran bahasa Indonesia mamanya barulah Jojo menggunakan bahasa Indonesia. Selain itu, adanya pengucapan bahasa Perancis dan bahasa Indonesia secara bersamaan juga membuat Jojo kebingungan sehingga Jojo melakukan campur kode bahasa Inggris dengan bahasa Perancis.

 

 

Bahan Bacaan

De Houwer, Annick. 2009. An Introduction to Bilingual Development. Bristol/Toronto: Multilingual Matters.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 26, 2016 by in Linguistik, Makalah.
%d bloggers like this: