Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Faktor Kecepatan Membaca Buku Dongeng Pada Anak: Studi Kasus SD Dyatmika, Bali

 

I. Pendahuluan

Dalam melihat perkembangan anak, salah satu aspek yang menarik untuk dilihat adalah aspek kemampuan membaca pada anak. Hal tersebut disebabkan membaca merupakan hal yang penting atau dapat dikatakan sebagai kebutuhan untuk dapat melihat dunia. Bennette (1997) menyatakan bahwa membaca adalah proses simbolis melihat item atau simbol dan menerjemahkannya menjadi sebuah gagasan atau gambar. Biasanya, anak akan diajarkan membaca sejak dini supaya anak dapat cepat menyerap informasi sehingga dapat cepat bersekolah. Selain itu, kemampuan membaca juga diajarkan sejak dini karena di Indonesia anak yang bisa cepat membaca akan cenderung mendapatkan pengakuan pintar. Dalam hal ini, ada kecenderungan bahwa seberapa besar kemampuan membaca anak akan ditandai dengan tingkat kecepatan membacanya. Hal yang dimaksudkan di sini adalah semakin cepat anak membaca, maka dapat dikatakan bahwa anak tersebut memiliki kemampuan membaca yang tinggi. Sebaliknya, jika anak membaca dengan kecepatan yang lambat, maka dapat dikatakan anak memiliki kendala dalam proses membaca.

Kendala dalam membaca bisa saja disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya kendala yang sering dihadapi adalah kendala pada alat produksi bicara yang belum matang maupun tingkat pemahaman anak terhadap kosakata. Selain itu, Shnayer (1968) mengatakan bahwa isi bacaan yang kurang menarik atau tidak diminati lebih dapat dipercaya untuk membedakan antara murid berkemampuan membaca tinggi dengan murid yang kurang mampu membaca. Sejalan dengan Shnayer, DeMao (1977) mengungkapkan bahwa hal yang penting untuk sukses dalam belajar membaca adalah tingkat berpikir logis yang konkrit, motivasi untuk membaca, program yang menarik dan menantang, dan tidak terganggu masalah persepsi. Masalah persepsi di sini bisa saja diartikan sebagai pemahaman semantik atau makna kata dari kosakata yang dibaca sehingga ketika anak tidak mengetahui makna atau arti kosakata tersebut cenderung memperlambat kecepatan membaca.

Berkaitan dengan hal tersebut, pada tulisan ini penulis akan mencoba melihat apa saja faktor yang dapat memengaruhi kecepatan membaca pada anak pada tingkat sekolah dasar. Selain itu, tulisan ini juga akan mengidentifikasi faktor apa yang dapat mempercepat maupun memperlambat anak ketika membaca. Data yang diambil di sini adalah tiga pelajar kelas III SD Dyatmika, Bali yang sedang diminta oleh gurunya untuk membaca salah satu buku bacaan yang dipilih oleh pelajar itu sendiri. Penulis tidak melakukan pengetesan ataupun perekaman secara langsung di sekolah, tetapi lebih kepada mengambil video yang terdapat pada kanal YouTube[1]. Melalui video tersebut, penulis melakukan transkripsi atas pengetesan tiga pelajar kelas III SD dalam hal membaca. Buku yang dijadikan bahan bacaan pun kebetulan adalah buku dongeng.

Pada video tersebut pun diketahui bahwa sang guru menyediakan buku bacaan yang bebas dipilih sendiri oleh muridnya. Buku bacaan yang sudah dipilih sendiri nantinya dibacakan di depan gurunya saja pada salah satu sudut kelas (tidak membaca di depan kelas). Tentu saja, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan membuat interpretasi dari temuan yang ada pada data. Menurut Koentjaraningrat (1993), metode kualitatif adalah metode penelitian yang memberi gambaran secara cermat mengenai individu atau kelompok tertentu tentang keadaan dan gejala yang terjadi. Maksudnya, temuan yang ada nantinya akan dijelaskan secara cermat dengan memerhatikan berbagai faktor membaca yang diungkapkan oleh beberapa ahli yang ada dan tentu saja dilihat berdasarkan sudut pandang linguistik. Dalam video tersebut pun, sang guru hanya meminta tiga pelajar terpilih untuk membaca satu paragraf saja dari buku bacaan yang sudah dipilih oleh pelajar itu sendiri. Dengan begitu, diharapkan pada penelitian ini dapat diketahui bagaimana kemampuan kecepatan membaca anak pada tingkat sekolah dasar, terutama kelas III beserta faktor apa saja yang mempengaruhi kecepatan membaca tersebut. Hal tersebut sekiranya mempunyai manfaat untuk mengetahui kendala apa yang mempengaruhi anak ketika membaca cerita dongeng dikaitkan dengan perkembangan bahasa anak sehingga bisa menjadi bahan koreksi guru dalam memberikan bahan bacaan kepada anak.

 

II. Faktor Kecepatan Membaca

Kemampuan membaca dalam penelitian ini mengacu pada pendapat Harris & Sipay (1980), dan Itzkowitz (1993), yaitu kemampuan untuk mengucapkan kata-kata dari tulisan dan memahami arti dari kata-kata tersebut. Berdasarkan teori perkembangan kognitif dari Piaget, Chall (dalam Thorne, 1991) mengemukakan enam tingkat proses belajar membaca, yaitu:

Tingkatan Membaca Anak

Tabel 1. Tingkatan Membaca Menurut Chall (dalam Thorne, 1991)

 

Dari tabel tersebut diketahui bahwa untuk anak tingkat sekolah dasar masih dalam tataran membaca awal atau decoding, hingga membaca untuk belajar. Bila dikaitkan dengan data yang diambil pada penelitian ini yang merupakan pelajar kelas III SD, maka tingkatan membaca normalnya adalah tahap konfirmasi atau kelancaran. Hal ini yang dapat dijadikan dasar untuk menentukan batasan ketika melihat aspek kecepatan membacanya. Di sisi lain, Dechant (1973) berpendapat bahwa kecepatan membaca akan selalu bergantung pada tujuan, kecerdasan, pengalaman, pengetahuan pembaca dan tingkat kesulitan bahan bacaan. Kecepatan selalu bergantung pada motivasi, keadaan psikologis dan fisik pembaca, penguasaan keterampilan dasar membaca, dan format bahan bacaan tersebut.

Tidak hanya itu, menurut Burns, Roe, & Ross (1984) ada delapan aspek yang berintegrasi dalam proses membaca untuk menghasilkan produk membaca. Delapan aspek tersebut adalah sensori (indra penglihatan dan pendengaran), persepsi, urutan, pengalaman terutama penguasaan kosakata, berpikir, belajar, asosiasi, dan afektif terutama sikap dan minat. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Smith (1982) yang mengatakan bahwa dalam membaca informasi nonvisual atau informasi yang sudah diketahui dan tersimpan dalam ingatan berperan lebih besar daripada informasi visual atau huruf-huruf yang dihadapi saat membaca. Kosakata yang dikuasai atau yang tersimpan dalam ingatan pembaca merupakan informasi nonvisual. Pada saat membaca terjadi proses interaksi, kombinasi, dan asosiasi antara rangsang yang diterima individu dengan segala sesuatu yang sudah tersimpan dalam dirinya (DeMao, 1977; Heilman, Blair, & Rupley, 1981; Smith, 1982).

Lebih lanjut, Quellette (2006) mengatakan ada dua macam kosakata yang dikuasai oleh anak yaitu kosakata luas dan kosakata mendalam. Kosakata luas adalah kosakata yang sekedar diketahui tetapi tidak mendalam. Misalnya, kalau ada satu kata dengan banyak arti, anak hanya tahu salah satu arti saja. Bisa juga, anak mengetahui kosakata tersebut tetapi tidak mengetahui artinya sama sekali. Sebaliknya, kosakata mendalam adalah kosakata yang dikuasai secara mendalam atau dapat dikatakan anak mengetahui makna yang terkandung dalam kosakata tersebut. Misalnya, anak dapat membuat definisi dari kata tersebut dan tahu lebih dari satu arti.

 

III. Transkripsi Data Kecepatan Membaca Buku Dongeng Pada Anak

[Di Ruang Kelas]

Bu Tia: Di sana Bu Tia sudah menyiapkan beberapa buku untuk kalian dan Ibu Tia akan memberi waktu untuk kalian memilih buku yang kira-kira tepat untuk kalian. Oke? Setelah itu, Ibu Tia akan memanggil kalian satu-satu dan Ibu Tia akan mengecek betul tidak buku yang tepat buat kalian. Yah?

Anak-anak: (mengangguk)

Ibu Tia: Oke.

 

[Anak Ke-1]

Ibu Tia: Bacakan halaman ini untuk Ibu Tia. Tidak usah dengn keras tapi setiap Santi menemukan kata-kata yang Santi tidak mengerti Santi ucapkan dengan keras yah nanti Ibu Tia hitung.

Santi: (mengangguk)

Ibu Tia: Oke.

Santi: Wire adalah seorang panglima perang. Ia memiliki anak buah berjumlah banyak. Semuanya mahir menembak dan memanah. Pasukan perang Wire adalah pasukan perang terhebat di hutan itu. Suku mana pun tak pernah ingin membuat masalah dengan pasukan perang Wire. Oleh karena itu, semua suku di hutan itu sangat menghormati dan menyegani Wire dan pasukan perangnya.

Ibu Tia: Oke. Santi, dari paragraf ini ada tidak kata-kata yang Santi tidak mengerti?

Santi: Enggak ada (sambil menggelengkan kepala).

Ibu Tia: Tidak ada ya. Semuanya mengerti. Santi, kira-kira menyelesaikan ini dalam berapa lama?

Santi: 5 menit?

Ibu Tia: 5 menit? Cepat sekali ya. Berarti kira-kira buku ini terlalu sulit, mudah, atau tepat untuk Santi?

Santi: Tepat.

Ibu Tia: Tepat?

Santi: Iya.

Ibu Tia: Berarti tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah. Oke. Terima kasih, Santi.

 

[Anak Ke-2]

Ibu Santi: Baca halaman ini. Tidak usah dibaca dengan keras tapi setiap Indra menemukan kata-kata yang Indra kurang mengerti, Indra sebutkan ya dan Ibu Tia akan menghitung ada berapa dari bacaan ini.

Indra: (mengangguk)Ternyata kancil benar. Binatang yang melangkah di dekatnya adalah gajah. Cepat-cepat gajah memanggilnya dengan suara lantang. Hei kalau kamu kawanku si gajah melongoklah ke dalam lubang ini teriaknya. Mendengar suara itu, gajah menghentikan langkahnya lalu melongok ke dalam lubang.

Ibu Santi: Sejauh ini ada tidak kata-kata yang Indra tidak mengerti?

Indra: (menggeleng)

Ibu Santi: Menegerti semua ya?

Indra: (mengangguk)

Ibu Santi: Oke. Kira-kira tadi Indra menyelesaikan bukunya berapa lama?

Indra: Hm… 6 menit

Ibu Santi: 6 Menit?

Indra: (mengangguk)

Ibu Santi: Cepat lambat?

Indra: Cepat

Ibu Santi: Terasa cepat yah? Berarti bagi Indra buku ini terlalu mudah, terlalu sulit, atau tepat?

Indra: Hmm… Mudah.

Ibu Santi: Telalu mudah yah? Oke. Karena Indra udah selesaikan ini mungkin Indra bisa mencari buku yang lain yang tepat buat Indra yang tidak terlalu mudah tapi tidak juga tidak terlalu susah

Indra: (mengangguk)

Ibu Tia: Terima kasih, Indra.

 

[Anak ke-3]

Ibu Tia:  Buku apa yang sedang kamu baca, Angel?

Angel: Hm.. Buku Dongeng Klasik Indonesia Sangkuriang.

Ibu Tia: Hm.. sudah sampai mana Angel baca?

Angel: Sini (sambil menunjuk)

Ibu Tia: Oh, baru sampai sini?

Angel: (mengangguk)

Ibu Tia. Oke. Angel, bacakan halaman ini untuk Ibu Tia.

Angel: Dilihatnya semut-semut berlarian. Serangga-serangga kecil tampak berterbangan perlahan-lahan. Celeng Wayungyang mulai berjalan tiba-tiba. Ia menangkap suara.

Ibu Tia: Oke. Angel, bisa tolong bacakan halaman ini untuk Ibu Tia. Dibaca dalam hati saja. Tapi setiap Angel menemukan kata-kata yang Angel tidak mengerti, Angel sebutkan dengan keras. Nanti Ibu Tia hitung. Oke?

Angel: (mengangguk)

Ibu Tia: Siap?

Angel: mengendus-endus, bebauan, disebar, moncong, sudi, ditembusi, diserahkan.

Ibu Tia: Jadi ada delapan ya yang Angel tidak mengerti. Oke. Jadi biasanya kalau dalam satu halaman ini ada lebih tiga sampai lima kata-kata yang Angel tidak mengerti itu kemungkinan bukunya terlalu apa?

Angel: Susah

Ibu Tia: Terlalu sulit ya? Iya. Tadi juga membacanya terasa lambat atau cepat?

Angel: Lambat.

Ibu Tia: Lambat ya? Oke. Jadi bisa Angel coba temukan buku lain yang lebih tepat untuk Angel ya. Tidak terlalu susah seperti ini tapi juga tidak terlalu mudah.

Angel: Iya.

Ibu Tia: Oke. Terima kasih, Angel.

 

IV. Analisis Faktor Kecepatan Membaca Buku Dongeng Pada Anak

Pada transkripsi membaca buku dongeng pada ketiga pelajar di atas dapat diketahui bahwa kecepatan membaca Santi, Indra, dan Angel berbeda-beda. Hal tersebut tentu saja disebabkan bahan bacaan yang dipilih ketiganya pun berbeda. Dari ketiganya, Santi mampu membaca satu paragraf dengan lancar bila dibandingkan dengan Indra dan Angel. Menurut Santi, dirinya pun merasa tidak ada hambatan ketika membacanya. Saat ditanya oleh gurunya, Santi mengungkapkan bahwa dirinya mengetahui semua arti dari kosakata pada satu paragraf yang telah dibacanya tersebut. Dilihat dari segi kecepatan membaca satu buku, Santi menganggap bahwa dirinya telah menyelesaikan bacaan pada buku dongeng tersebut hanya selama lima menit saja walaupun sepertinya dirinya sendiri tampak tidak yakin karena tidak ada intruksi sebelumnya dari sang guru untuk menghitung berapa lama membaca buku yang dipilihnya. Jika melihat Santi membaca, penulis pun yakin bahwa Santi dapat dengan cepat menyelesaikan bacaan di buku dongeng itu. Hanya saja, mungkin Santi masih sedikit terbata-bata ketika mengucapkan kata berafiks. Misalnya, pada kata menghormati dan menyegani. Ketika mengucapkan kata berafiks, kecepatan membaca Santi pun mengalami pelambatan sedikit.

Kondisi yang ditunjukkan Santi tersebut tidak jauh berbeda dengan kemampuan membaca Indra. Ketika membaca satu paragraf pada buku bacaan yang telah dipilihnya tersebut, Indra dapat membacanya dengan lancar. Pada kasus Indra, ia hanya kesulitan untuk mengucapkan kata melongoklah dan melongok. Sepertinya, kata dasar longok jarang diucapkan oleh Indra. Hal tersebut didasarkan pada pernyataan Indra yang mengungkapkan bahwa meskipun memperlambat kecepatan membaca saat membaca kata tersebut Indra telah mengetahui semua arti kosakata yang ada pada satu paragraf yang telah dipilihnya tersebut. Saat ditanya waktu yang dibutuhkan membaca satu buku yang dipilihnya, Indra menjawab enam menit. Hal ini menandakan bahwa Indra secara umum tidak memerlukan waktu yang lama untuk membaca buku dongeng tersebut tetapi hanya kesulitan untuk mengucapkan beberapa kata yang mungkin selama ini hanya didengar dan dibaca tanpa ia ucapkan sebelumnya.

Berbeda dari keduanya, Angel belum sempat selesai membaca buku dongeng yang telah dipilihnya sendiri. Saat membaca salah satu paragraf pada buku dongeng tersebut, Angel tampak memiliki kecepatan membaca yang lebih lambat dibandingkan Santi dan Indra. Pada kasus Angel pun tidak berbeda dengan Santi dan Indra yang masih terbata-bata dengan kata berafiks. Kata berafiks yang tidak terlalu lancar disebutkan Angel pun cenderung lebih banyak dibandingkan yang lain. Kata-kata tersebut adalah dilihatnya, berlarian, berterbangan, dan perlahan-lahan. Melihat kondisi tersebut, sang guru pun akhirnya menghentikan Angel walaupun Angel belum selesai membaca satu paragraf. Kemudian, sang guru meminta Angel membaca dalam hati dan menyebutkan kata-kata yang Angel tidak mengerti artinya. Kosakata yang Angel tidak mengerti dalam satu paragraf pada buku dongeng yang dipilihnya ada tujuh kosakata, yaitu mengendus-endus, bebauan, disebar, moncong, sudi, ditembusi, dan diserahkan. Dari kosakata yang Angel tidak tahu artinya tersebut sebagian besar merupakan kata berafiks. Hanya ada satu kata yang tidak berafiks dan Angel tidak mengetahuinya. Meskipun demikian, tidak semua kata berafiks Angel tidak mengetahuinya. Ada pula kata berafiks yang Angel ketahui artinya. Kondisi tersebut menandakan bahwa Angel memang sebelumnya belum pernah menemukan kosakata tersebut sehingga ia tidak mengetahui artinya.

Melihat kondisi ketiganya, dapat diklasifikasikan bahwa tingkat kesulitan bahan bacaan terdapat pada adanya kesulitan membaca kata berafiks dan kata yang tergolong ke dalam kosakata luas atau kosakata yang belum dipahami makna atau artinya. Meskipun demikian, kesulitan membaca kata berafiks yang memengaruhi kecepatan membaca dapat dikatakan hanya terdapat pada kata yang jarang diujarkan secara langsung dan kata yang tidak diketahui artinya. Hal ini disebabkan tidak semua pada kata berafiks, baik Santi, Indra, dan Angel memperlambat kecepatan membacanya. Ada beberapa kosakata berafiks yang tidak menjadi masalah atau tidak menjadi faktor memperlambat kecepatan membaca. Berikut tabel yang memperlihatkan beberapa kata berafiks yang tidak menjadi kendala dan kata berafiks yang menjadi kendala dalam proses membaca untuk dapat lebih memahami pola kecenderungan afiks yang sulit dan mudah dilafalkan anak kelas III SD.

 

Jenis Kosakata Penggolongan Afiks Kosakata
Kosakata Lafal Lancar Prefiks berjumlah, menembak, memanah, mendengar, seorang, terhebat, membuat, melangkah, berjalan, menangkap
Sufiks
Konfiks memanggilnya, memiliki
Kosakata Lafal

Tidak Lancar

Prefiks melongo
Sufiks
Konfiks menghormati, menyegani, melongoklah, berlarian, berterbangan, menghentikan

Tabel 2. Pola Kecendeungan Afiks Saat Anak Kelas III SD Membaca

 

Tabel di atas menunjukkan bahwa ketika membaca anak pada kelas III SD cenderung mudah untuk melafalkan atau mengucapkan kosakata yang mengandung prefiks atau kata yang memiliki imbuhan di awal. Sebaliknya, pada kasus Santi, Indra, dan Angel memiliki kecenderungan untuk sulit melafalkan atau mengucapkan kosakata yang mengandung konfiks atau kata yang memiliki imbuhan di awal dan akhir. Hal ini dirasa wajar bila dikaitkan dengan tahap perkembangan membaca anak yang memperlihatkan bahwa kemampuan anak kelas III SD masih sebatas konfirmasi atau kelancaran. Hal tersebut pula yang menyebabkan tidak semua konfiks susah diucapkan karena ada beberapa konfiks juga yang mudah untuk diucapkan oleh ketiga anak yang dijadikan sampel. Begitu juga sebaliknya, tidak semua prefiks mudah diucapkan oleh ketiga anak SD Dyatmika, Bali ini.

Kecenderungan kondisi tersebut menandakan bahwa pada dasarnya anak kelas III SD masih belum lancar untuk melafalkan atau mengucapkan konfiks. Selain itu, dapat pula dikatakan bahwa anak pada tahap ini masih dalam proses penyerapan kosakata yang mengandung konfiks. Hal tersebut disebabkan adanya beberapa konfiks yang sudah bisa dilafalkan atau diucapkan lancar oleh ketiga anak tersebut. Sementara itu, kondisi tidak semua prefiks lancar diucapkan atau dilafalkan oleh Indra ini dapat saja disebabkan oleh adanya faktor pengalaman dalam penguasaan kosakata secara verbal. Maksudnya, dapat saja kata tersebut jarang diucapkan oleh Indra sehingga alat produksinya tidak terbiasa mengucapkan kata tersebut. Hal tersebut diketahui dari pahamnya Indra akan makna atau arti dari kata tersebut sehingga dapat dipahami bahwa Indra hanya kurang pengalaman mengucapkan kata tersebut dan sudah ada pengalaman mengetahui kata tersebut sebelumnya.

 

V. Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang memengaruhi kecepatan membaca anak kelas III SD di Bali tergantung pada jenis afiks pada kosakata dan pengalaman anak tersebut mengetahui kosakatanya itu sendiri. Lebih jelasnya, kosakata konfiks masih menjadi penghambat Santi, Indra, dan Angel untuk membaca lancar. Kosakata yang mengandung konfiks cenderung memiliki kecepatan membaca yang lambat dibandingkan kosakata yang mengandung prefiks. Hal ini disebabkan Santi, Indra, dan Angel yang notabene duduk di kelas III SD ini masih dalam tahap perkembangan membaca pada tingkatan konfirmasi atau kelancaran sehingga pada tahap ini mereka masih belajar untuk membaca lancar.

 

Daftar Pustaka

Baldwin, R. S., Peleg-Bruckner, Z., & McClintock, A.H. 1985. Effects of topic interest and prior knowledge on reading comprehension. Reading Research Quarterly, 20(4), 497-504. Bannatyne, A. (1976). Language, reading and learning disabilities. Third Printing. Springfield, IL: Charles C Thomas–Publisher.

Dardjowidjojo, S. 2003. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

DeMao, V. L. 1977. Piagetian assessment of reading readiness. Sixth annual conference. Piagetian theory and the helping professions. 140-151. University of Southern California.

Holil, Anwar. Membaca Mandiri. 11 Juni 2015 <https://www.youtube.com/watch?v=t-CTNkAGFlg>

Itzkowitz, L. 1993. Fundamentals of Reading. Dalam: Psychology and Education: Paralel and Interactive Approach. Editor: Notterman, J. M., & Drewry, H. N. New York: Plenum Press

Quellette, G. P. 2006. What’s Meaning Got to So with It: The Role of Vocabulary in Word Reading and Reading Comprehension. Journal of Educational Psychology, 98(3), 554-566.

Shnayer, S. W. 1968. Some Relationships between Reading Interest and Reading Comprehension. Boston: International Reading Associaton Conference.

Smith, F. 1982. Understanding Reading. Third Edition. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Thorne, C. 1991. Study of Beginning Reading in Lima. Nijmegen. The Netherlands: Drukkerij Quickprint BV.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 11, 2016 by in Linguistik, Makalah.
%d bloggers like this: