Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Pembingkaian dapat Berbahaya: Beberapa Refleksi Metodologi Antropologi Kognitif

 

Pengantar

  • Apa yang ditulis di sini bukan memuat banyak penelitian yang dialamatkan untuk pembaca sebagai representasi dari apa yang dibicarakan.
  • Beberapa diskusi merujuk kepada berbagi pengalaman tentang apa yang dibicarakan.
  • Hal ini akan membantu jika pembaca dapat membayangkan bagian dari audience.

 

Sudut Pandang Antropologi Kognitif

  • Antropolog kognitif yang juga dapat disebut ethnoscientist mengatakan bahwa manusia mendengar apa yang dikatakan oleh penutur.
  • Dalam hal ini, Frake tidak mengaku sebagai seorang ahli antropolog kognitif tetapi menganggap dirinya sebagai penutur asli. Maksudnya, dalam mendalami antropologi kognitif berusaha berpikir seperti penutur asli.
  • Tujuannya antropologi kognitif ini adalah mengambil peluang untuk menilai hal menarik dari mendengarkan sudut pandang penutur asli tentang aktivitas yang dilakukan oleh kelompok tersebut.

 

Permasalahan Metode

  • Penelitian antropologi kognitif meliputi perbedaan pendekatan dan perspektif yang sulit ditemukan dan terpisah dari label itu sendiri.
  • Beberapa merasa bahwa masalah ketidakoherenan teori dapat diatasi dengan menggunakan metode baru.
  • Pencarian metode baru yang bekerja untuk mencari sesuatu atau apapun harus menggantikan teori yang dapat menjelaskan apa yang ingin diketahui.

 

Metodologi Antropologi Kognitif

  • Metodologi digunakan untuk memahami realita secara umum. Ketika metode gagal, jawabannya tidak hanya menambahkan teori tetapi juga mempertimbangkan kembali teori.
  • Tujuannya di sini adalah untuk menggambarkan beberapa metodologi yang berhasil dan gagal dari antropologi kognitif yang berimplikasi pada konsepsi umum dari hubungan antara perilaku, deskripsi verbal, kognisi, dan budaya.
  • Hal yang menjadi fokus di sini mengetahui salah satu item dalam antropologi kognitif, yaitu pembingkaian.

 

Gagasan Pembingkaian

  • Gagasan pembingkaian termasuk alat metodologi yang berguna. Hal ini disebabkan frames memberikan cara memperoleh dan mengorganisasi beberapa jenis data sehingga dapat dibuat beberapa makna dengan meyakinkan.
  • Meskipun demikian, tidak semua data terbukti mudah dikerjakan dan memberikan hasil yang signifikan ketika membuat makna.
  • Pembingkaian mempunyai gagasan bukan sebagai konteks berperilaku tetapi sebagai dorongan untuk berperilaku.

 

Representasi Pertanyaan

  • Dalam pemerolehan pengetahuan bahasa dan budaya, hal yang jelas bahwa satu cara untuk menemukan pertanyaan yang tepat adalah dengan menanyakan konteks dari pertanyaan yang ditanyakan.
  • Dalam hal ini, ketika melakukan penelitian di lapangan peneliti hendaknya melakukan sapaan yang tepat untuk membuka sarana komunikasi. Misalnya, menanyakan beberapa hal di bawah ini walaupun tidak semua pertanyaan perlu dijawab.

“Siapa teman kamu di sana?” dan “Apa yang kamu bawa di sana?”

 

Tentang Interpretasi

  • Infoman tidak hanya dilihat dari pertanyaan dan jawaban, tetapi juga menginterpretasikan kehidupannya dengan melihat hubungan sistem kognitif perilakunya.
  • Interpretasi justru membantu menjelaskan fenomena. Hal ini disebabkan perilaku seseorang dapat berbeda karena adanya perbedaan pengalaman, perbedaan kapasitas mental, maupun perbedaan keseimbangan hormonal.
  • Dengan menggunakan frame untuk mencakup konteks sosial akan membuat interpretasi menjadi masuk akal atau logis atau komprehensif.

 

Makna dalam Pembingkaian

  • Antropolog kognitif mempelajari konteks dengan menanyakan keterkaitan antara hubungan yang satu dengan yang lain.
  • Dalam hal ini, peneliti harus membuka diri dari fenomena yang ada untuk dapat membuat hasil yang komprehensif.
  • Frame mengarah kepada ranah relatif. Misalnya, membedakan makna asli “mother” (sosok perempuan) dari makna metaforanya (mother tongues).
  • Komponen makna “mother” tersebut menarik antropolog simbolik yang sekarang berkembang menjadi semiotik.

 

Sistem Antropologi Kognitif

  • Biasanya, antropolog melihat acara sosial dengan mengumpulkan sampel dari perilaku di dalamnya, memeriksa sampel, dan menulis monografi tentang acara sosial tersebut.
  • Sistem tersebut tidak selalu mencerminkan bagaimana orang-orang membagi dan mengatur budaya mereka sendiri dalam dunia.
  • Hal seperti itu sudah mulai ditinggalkan dan merujuk ke dimensi baru dengan menampilkan sinyal eksplisit dalam berperilaku.

 

Pembingkaian dapat Berbahaya

  • Masyarakat yang berbeda dalam nilai harus menempatkan tanda formalitas sebagai simbol identitas dan diferensiasi.
  • Tidak bisa dihindari, pembicara pasti menghadapi beberapa risiko. Lebih jelasnya, risiko untuk diinterpretasikan lain oleh orang lain.
  • Oleh karena itu, frame yang tidak berdasar local view dapat berbahaya karena makna dibalik tanda dapat berbeda-beda dan artinya dapat pula bertolak belakang.

 

Kesimpulan

  • Frame digunakan dalam antropologi kognitif sebagai metode untuk memahami sudut pandang dari segi penutur asli atau local view
  • Berbagai konteks yang ada harus dihubungkan ke dalam sebuah frame sehingga interpretasi akan menjadi masuk akal atau koheren.
  • Pada dasarnya, konteks membangun pemahaman. Ketika konsep dikaitkan dengan konteks sekiranya akan membuat pemahaman yang komprehensif.
  • Bila dikomparasikan dengan linguistik, pendekatan antropologi kognitif ini hampir serupa dengan pragmatik yang mana melihat sesuatu, baik verbal maupun nonverbal, dengan mengungkapkan lokusi, ilokusi, dan perlokusi dari sudut pandang si penutur atau local view.

 

Bahan Acuan

Casson, Ronald (ed). 1981. Language, Culture, and Cognition. New York. Macmillan Publishing.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 11, 2016 by in Laporan Bacaan, Linguistik.
%d bloggers like this: