Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Strategi Kesopanan dalam Mengatasi Tindak Mengancam Muka: Studi Kasus Pernyataan Masrhanda Perihal Ayahnya

 

Abstrak

Marshanda kembali menjadi sorotan publik dengan ditangkapnya seorang pengemis yang mengaku sebagai ayah dari artis cilik ini. Tentu saja, hal tersebut membuat masyarakat menunggu konfirmasi dari Marshanda terkait benar atau tidaknya pengakuan seorang pengemis tersebut. Ketika melakukan konfirmasi melalui konferensi pers, Marshanda membenarkan berita yang beredar dan mendapatkan tangapan positif dari masyarakat. Kondisi yang demikian membuat penulis tertarik mengidentifikasi strategi kesopanan apa yang dilakukan oleh Marshanda saat konferensi pers yang notabene ada tindak keterancaman muka pada dirinya dan malah mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, teori strategi kesopanan disertai teori tindak mengancam muka dari Brown dan Levinson (1978) akan digunakan dalam tulisan ini sebagai landasan teori. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa adanya tindak mengancam muka negatif terhadap Marshanda membuat dirinya berusaha mengurangi keterancaman muka tersebut dengan menggunakan strategi kesopanan positif dan bukannya strategi kesopanan negatif. Strategi tersebut pun sukses membuat Marshanda mendapat perlokusi positif dari masyarakat.

Kata kunci: Strategi kesopanan, tindak mengancam muka, dan tindak tutur Marshanda.

 

 

I. Pendahuluan

Artis cantik Marshanda kembali heboh diberitakan di media masa cetak maupun elektronik. Setelah sempat dibuat heboh dengan tindakan yang menandakan Marshanda menderita penyakit bipolar melalui video yang diunggahnya pada salah satu akun sosial medianya, sekarang Marshanda diberitakan mempunyai ayah seorang pengemis. Berita tersebut beredar setelah terdengar kabar bahwa ada seorang pengemis yang mengaku ayahnya Marshanda. Tentu saja, hal tersebut membuat ramai pemburu berita yang ingin mengatahui kebenaran dari kabar miring tersebut. Pasalnya, selama ini memang pemberitaan seputar ayah Marshanda tidak pernah muncul ke publik. Marshanda selalu tampil bersama sosok ibunda dan dua saudaranya saja. Hal tersebut pula yang menjadikan kabar terkait ayahnya Marshanda menjadi sorotan publik.

Berbagai dugaan negatif seputar Marshanda pun mencuat ke masyarakat. Ada yang menduga bahwa Marshanda selama ini memang tidak pernah menampilkan sosok ayahnya di depan publik karena malu sang ayah hanya seorang pengemis walaupun memang secara hukum Ayah dan Ibu Marshanda telah berpisah. Di lain pihak, ada pula yang menduga bahwa kabar tersebut bisa saja merupakan pengakuan asal-asalan seseorang supaya diperhatikan dengan maksud ingin terkenal. Hal tersebut bisa saja diduga oleh sebagian masyarakat lantaran banyak sekali orang yang mengaku kenalannya, saudaranya, atau bahkan orang tua artis yang telah terkenal.

Marshanda pun diburu oleh wartawan untuk dimintai tanggapan terkait adanya pengakuan dari seorang pengemis yang mengaku ayahnya tersebut. Tentu saja, pemberitaan tersebut membuat Marshanda saat dimintai tanggapan merasa terancam mukanya. Hal tersebut bisa saja disebabkan pertanyaan wartawan yang menyudutkan dan sebagainya. Akan tetapi, Marshanda malah bersikap santai dengan membenarkan kabar yang telah beredar di masyarakat bahwa pengemis yang terkena razia dinas sosial tersebut memang ayah kandungnya. Hal tersebut dibuktikan dengan kedatangan dirinya ke dinas sosial untuk menjenguk ayahnya. Marshanda pun melakukan konferensi pers di dinas sosial tersebut untuk menjawab pertanyaan seputar ayahnya tersebut. Setelah melakukan konferensi pers tersebut, Marshanda malah mendapatkan banyak pujian dari masyarakat. Padahal, pemberitaan sebelumnya seakan mengancam muka Marshanda di hadapan publik.

Atas dasar tersebut, penulis ingin mengidentifikasi apa saja strategi kesopanan yang dilakukan oleh Marshanda untuk menghindari keterancaman muka di hadapan publik. Hal tersebut penting untuk diidentifikasi supaya dapat menjadi bahan referensi cara menghindari keterancaman muka di hadapan publik sehingga ketika suatu saat mengalami situasi serupa dengan Marshanda, strategi kesopanan yang dilakukan Marshanda ini bisa pula diterapkan untuk mendapatkan tanggapan positif. Selain itu, manfaat dari pengidentifikasian strategi kesopanan yang dilakukan Marshanda ini adalah untuk memberikan sumbangan dalam memahami tindak tutur mengancam muka dan strategi kesopanan dalam ranah keilmuan. Maka dari itu, rumusan masalah pada penelitian ini adalah strategi kesopanan apa saja yang dilakukan Marshanda untuk mengurangi atau menghindari tindak mengancam muka di depan publik. Data yang dipakai adalah pernyataan Marshanda pada saat melakukan konferensi pers di Dinas Sosial Bina Insani Cipayung, Jakarta Timur.

Sementara itu, pengidentifikasian pernyataan Marshanda perihal ayahnya ini dipilih menggunakan pendekatan strategi kesopanan juga disebabkan oleh keterikatan tindak tutur dengan konteksnya. Hal yang dimaksud di sini adalah tindak tutur harus dilihat berdasarkan konteksnya untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif terkait tuturan tersebut. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Firth (dalam Wijana, 1996: 7) yang mengatakan bahwa kajian bahasa tidak dapat dilakukan tanpa mempertimbangkan konteks situasi yng meliputi partisipan, tindak partisipan, ciri situasi yang sedang terjadi, dan efek tindak tutur  ditandai dengan bentuk perubahan akibat tindak partisipan. Oleh karena itu, konteks kenapa pernyataan Marshanda mendapatkan tanggapan positif padahal pemberitaan dirinya dengan ayahnya berpotensi mengancam muka perlu untuk diidentifikasi atau diketahui. Konteks tersebut sekiranya relevan dengan pendekatan strategi kesopanan apa saja yang dilakukan untuk menghindar dari tindak mengancam muka.

 

II. Tinjauan Pustaka dan Penelitian Terdahulu

Pada bagian ini akan ada dua hal yang akan dijelaskan, yaitu tinjauan pustaka dan penelitian terdahulu. Tinjauan pustaka akan dijelaskan terlebih dahulu baru kemudian disusul dengan penjelasan terkait penelitian terdahulu. Dalam melihat tinjauan pustaka, pada penelitian ini sekiranya dimulai dengan penjelasan Austin tentang perbedaan tindak tutur yang terbagi menjadi beberapa jenis. Sebelum melangkah lebih jauh, pengertian dari tindak tutur adalah tindakan yang dilakukan dengan mengungkapkan tuturan di dalam komunikasi (Yule, 1995). Austin (1962) pun membedakan tindak tutur menjadi tiga jenis, yaitu tindak lokusi (an act of saying something), tindak ilokusi (an act of doing something), dan tindak perlokusi (an act of affecting something). Tindak lokusi adalah tindak tutur yang semata-mata menyatakan sesuatu atau tindakan mengucapkan kalimat sesuai dengan makna kata atau makna kalimat. Kata-kata yang diucapkan atau dikatakan tersebut termasuk ke dalam tindak lokusi. Tindak ilokusi adalah apa yang ingin dicapai oleh penuturnya pada waktu menuturkan sesuatu. Dengan kata lain, mencari tindak ilokusi sama dengan mencari maksud dan tujuan kenapa kata-kata tersebut diucapkan atau diutarakan. Tindak perlokusi adalah tanggapan atau timbal balik yang dihasilkan ketika petutur mengatakan sesuatu. Tanggapan atau timbal balik ini bisa berupa tindakan maupun dengan perkataan juga.

Dari ketiga macam tindak tutur tersebut, tindak ilokusi dikatakan sebagai tindak terpenting dan menjadi bagian sentral dalam kajian dan pemahaman tindak tutur. Berangkat dari pemikiran Austin tersebut, Searle (1979: 21) membagi lagi tindak lokusi menjadi lima jenis, yaitu asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif. Asertif adalah ujaran yang dimaksudkan oleh pembicara untuk menunjukkan keterlibatannya pada suatu kejadian, keadaan, atau benda. Contohnya, menegaskan, menyimpulkan, membantah, melaporkan, menduga, dan lain-lain. Direktif adalah ujaran yang dimaksudkan untuk membuat lawan bicara melakukan sesuatu. Contohnya, menyuruh, meminta, bertanya, memaksa, melarang, dan lain-lain. Komisif adalah ujaran yang menunjukkan bahwa pembicara sedikit banyak melibatkan diri pada suatu kejadian. Contohnya, menjamin, berjanji, bersumpah, mengancam, dan lain-lain. Ekspresif adalah ujaran yang dimaksudkan untuk mengungkapkan sikap atau perasaan pembicara terhadap suatu kejadian atau keadaan. Contohnya, meminta maaf, memberikan selamat, mengucapkan terima kasih, dan lain-lain Deklaratif adalah ujaran yang diucapkan oleh seorang pembicara dengan maksud mengubah keadaan sebuah obyek atau keadaan di luar dirinya. Dengan kata lain, deklarasi adalah tindak tutur yang dilakukan si penutur dengan maksud untuk menciptakan hal (status, keadaan, dan sebagainya) yang baru. Contohnya, memutuskan, melarang, mendeklarasikan, dan lain-lain.

Setelah mengetahui tindak tutur apa saja yang bisa dijadikan sebagai data untuk mengetahui ilokusi atau maksud dari tindak tutur tersebut, konsep mengancam muka pun perlu untuk dipahami. Pasalnya, dalam setiap tindak tutur pasti mempunyai potensi untuk mengancam muka. Maksud dari muka sendiri adalah citra diri yang ingin ditampilkan oleh seseorang di dalam suatu interaksi. Muka memiliki dua aspek, yaitu muka positif dan muka negatif. Konsep muka dipelopori oleh Goffman (1967) yang diteruskan oleh Brown dan Levinson. Muka positif lebih mengarah kepada keinginan setiap orang bahwa apa yang dilakukannya ingin menyenangkan orang lain, sedangkan muka negatif mengacu pada keinginan setiap orang untuk tidak dihalangi oleh siapapun dalam bertindak (Brown dan Levinson, 1978).

Dalam hal ini, setiap tindakan yang berlawanan dengan muka yang diinginkan oleh petutur dan mitra tutur termasuk dalam tindak mengancam muka. Tindak mengancam muka ini pun dibagi lagi menjadi empat, yaitu:

 

1. Tindakan mengancam muka negatif mitra tutur (Brown dan Levinson, 1978).

a. Tindakan yang menuntut adanya tindakan dari mitra tutur.

  • Petutur menunjukkan bahwa ia ingin mitra tutur melakukan sebuah tindakan tertentu. Contohnya, memerintahkan, menuntut, dan meminta.
  • Petutur menunjukkan bahwa menurutnya mitra tutur harus melakukan sebuah tindakan tertentu. Contohnya, memberi saran dan nasihat.
  • Petutur menunjukkan bahwa mitra tutur seharusnya ingat untuk melakukan sesuatu seperti mengingatkan.
  • Petutur menunjukkan bahwa ia akan memberi sanksi jika mitra tutur melakukan tindakan tertentu. Contohnya, mengancam, memperingatkan, dan menantang.

 

b.  Tindakan yang menunjukkan tindakan positif petutur terhadap mitra tutur di masa depan.

  • Petutur menunjukkan bahwa ia ingin mitra tutur mempunyai sikap apakah mitra tutur ingin agar petutur melakukan sebuah tindakan yang mungkin saja merupakan hutang budi mitra tutur terhadap petutur seperti menawarkan.
  • Petutur melibatkan dirinya pada sebuah tindakan di masa depan demi kebaikan mitra tutur seperti berjanji.

 

c. Tindakan yang menunjukkan keinginan petutur terhadap mitra tutur atau kebutuhan mitra tutur.

  • Petutur menunjukkan bahwa ia menyukai sesuatu pada diri mitra tutur. Contohnya, memberikan pujian maupun ekspresi iri atau kagum.
  • Petutur menunjukkan adanya kemungkinan ia akan menyakiti mitra tutur. Contohnya, ekspresi perasaan negatif, seperti benci, marah, dan sebagainya.

 

2.Tindakan yang mengancam muka positif petutur (Brown dan Levinson, 1978: 66)

a. Tindakan yang menunjukkan bahwa petutur mempunyai pandangan yang negatif terhadap beberapa aspek muka positif mitra tutur.

  • Petutur menunjukkan bahwa ia tidak suka dengan keinginan, perasaan, tindakan, ataupun kepercayaan mitra tutur. Contohnya, ekspresi ketidaksetujuan, mengkritik, mengeluh, menuduh, menghina, dan menyalahkan.
  • Petutur menunjukkan bahwa menurutnya penilaian mitra tutur terhadap sesuatu atau seseorang adalah salah. Contohnya, perbedaan pendapat.

 

b. Tindakan yang menunjukkan bahwa petutur tidak peduli dengan muka positif mitra tutur.

  • Petutur ingin membuat mitra tutur takut pada petutur dan takut akan dipermalukan.Contohnya, ekspresi luapan emosi yang tidak terkontrol.
  • Petutur ingin menunjukkan bahwa ia tidak takut pada ketakutan-ketakutan mitra tutur dan ia tidak menghargai nilai-nilai yang dianggap mitra tutur berharga. Contohnya, menyebutkan topik pembicaraan yang tabu atau tidak sesuai dengan konteks.
  • Petutur ingin menunjukkan bahwa ia berniat untuk menyakiti mitra tutur atau ia tidak peduli dengan perasaan mitra tutur. Contohnya, membawa berita baik tentang petutur dan berita buruk tentang mitra tutur.

 

3. Tindakan yang mengancam muka negatif petutur (Brown dan Levinson, 1978: 67)

  • Petutur menerima sebuah hutang atau bantuan yang berarti ia telah mempermalukan dirinya sendiri. Contohnya, ucapan terima kasih.
  • Petutur merasa terpaksa mengurangi hutang budi mitra tutur. Contohnya, menerima permintaan maaf atau ucapan terima kasih dari mitra tutur.
  • Petutur menunjukkan bahwa menurutnya ia mempunyai alasan yang benar ketika melakukan sesuatu atau gagal melakukan sesuatu yang dikritik oleh mitra tutur. Contohnya, memberikan alasan.
  • Petutur dipaksa menerima sebuah bantuan. Contohnya, menerima tawaran.
  • Petutur mengikat dirinya pada sebuah tindakan di masa depan yang sebenarnya tidak ia inginkan. Akan tetapi, jika keengganannya itu terlihat ia mungkin juga akan mengancam muka positif mitra tutur. Contohnya, menawarkan atau menjanjikan sesuatu yang sebenarnya tidak diinginkan oleh petutur.

 

4. Tindakan yang mengancam muka positif (Brown dan Levinson, 1978: 68)

  • Petutur menunjukkan bahwa ia menyesali tindakan yang sebelumnya dilakukannya. Contohnya, meminta maaf.
  • Petutur terpaksa memberikan pujian juga kepada mitra tutur sebagai balasan. Contohnya, menerima pujian.
  • Mempermalukan diri sendiri dengan bertingkah konyol.
  • Mengakui kesalahan atau tanggung jawab.
  • Tertawa atau menangis yang tidak terkontrol.

 

Setelah itu, hasil temuan yang ada pada data selain dilihat ilokusinya juga harus dikaitkan dengan teori relevansi. Dalam hal ini, teori relevansi menurut Cutting (2002) yang melihat relevansi atau konteks berdasarkan konteks situasi, konteks latar belakang pengetahuan, dan konteks ko-tekstual. Konteks situasi cenderung mengarah kepada apa yang petutur ketahui tentang apa yang dilihat disekitarnya. Konteks latar belakang pengetahuan lebih kepada apa yang petutur ketahui tentang satu sama lain dan tentang dunia, sedangkan konteks ko-tekstual adalah apa yang petutur ketahui tentang apa yang telah dituturkan.

Selanjutnya, penelitian terkait dengan tindak mengancam muka telah banyak dikaji oleh beberapa peneliti sebelumnya. Meskipun dari penelitian sebelumnya belum ditemukan ada yang mengambil data pernyataan deklaratif satu arah, tetapi inti dari beberapa penelitian sebelumnya sama, yaitu mencari strategi kesopanan sebagai cara menghindari tindak mengancam muka. Beberapa penelitian terkait tindak mengancam muka telah diteliti oleh Kartika (1996),  Shinta (1998), Dumaris (2000), dan Afriani (2008). Penelitian sebelumnya ini diambil dari penelitian tindak mengancam muka yang telah menjadi skripsi atau tesis di Perpustakaan Universitas Indonesia. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan penulis membatasi ruang lingkup penelitian terdahulu yang akan dicantumkan pada tulisan ini. Berikut penjelasan mengenai penelitian terdahulu sebagai bahan referensi memahami tindak mengancam muka pada tulisan ini.

 

1. Analisis Tindak Pengancam Muka dengan Kesantunan Positif dalam Wawancara BBC dengan Putri Diana (Diana Kartika, 1996)

Skripsi dari Program Studi Inggris, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia ini melihat kecenderungan strategi yang digunakan Putri Diana dalam wawancaranya dengan stasiun televisi BBC sehingga diperoleh pemahaman mengenai strategi seorang tamu wawancara untuk menyelamatkan muka positifnya dalam sebuah suasana wawancara yang berpotensi mengancam muka dirinya. Hasilnya, diketahui bahwa seorang tamu wawancara harus menyadari bahwa dengan memutuskan bersedia diwawancara dimuka umum berarti sama saja telah mempertaruhkan muka positifnya sendiri. Berkaitan dengan Putri Diana, ketika sedang wawancara Putri Diana cenderung menggunakan strategi kesantunan menghindari pertentangan sepanjang wawancara. Hal tersebut dilakukan Putri Diana untuk menciptakan kesan tidak ada konfrontasi antara dirinya dengan pewawancara yang mempunyai kepentingan tertentu dan berpotensi mengancam muka Putri Diana.

 

2. Strategi dalam Melakukan Tindak Ujar Pengancam Muka: Telaah Pragmatik pada Film Drama Titanic (Febrina Ika Shinta, 1998)

Skripsi dari Program Studi Inggris, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan strategi tindak ujar pengancam muka oleh Jack dan Rose selaku tokoh utama serta bagaimana frekuensi penggunaan strategi tersebut. Hasilnya, dapat diketahui bahwa terjadi perubahan frekuensi penggunaan strategi tindak ujar pengancam muka oleh kedua tokoh, yaitu Jack dan Rose yang disebabkan semakin pudarnya rasa superior dan inferior di antara mereka.

 

3. Analisis Tindak Tutur Mengancam Muka di Tempat Kerja (Helena Menta Dumaris, 2000)

Skripsi dari Program Studi Jerman, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia ini ingin menganalisis perbedaan dan persamaan tindak tutur mengancam muka yang dilakukan oleh pria dan wanita di tempat kerja dengan disertai kesesuaian ciri ragam bahasa yang digunakan masing-masing pada sebuah novel berbahasa Jerman. Hasil penelitian pun memperlihatkan bahwa ketika ada tindak tutur mengancam muka, baik pria maupun wanita akan berusaha mengurangi keterancaman muka terhadap mitra tutur yang statusnya lebih tinggi dengan menggunakan strategi kesopanan negatif maupun strategi kesopanan positif.

 

4. Penalaran Strategi Bertutur dalam Pidato Politik Berbahasa Inggris: Studi Tindak Pengancam Muka Presiden Amerika Serikat George W. Bush (Susi Herti Afriani, 2008)

Tesis dari Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia ini mencoba menjelaskan strategi kesantunan yang digunakan oleh Presiden George Walker Bush Sepanjang tahun 2006 dan mengidentifikasi pertalian antara strategi kesantunan yang digunakan Presiden Bush dan implikaturnya. Hasilnya, penelitian ini memperlihatkan bahwa Presiden Bush menggunakan empat dari lima strategi yang dirumuskan oleh Brown dan Levinson dengan menunjukkan persentase kuantitatifnya. Dilihat dari implikaturnya, tuturan Presiden Bush memiliki maksud meminta dukungan dan ingin memengaruhi petutur. Lebih jelasnya lagi, Bush ingin menunjukkan bahwa kebijakannya sesuai dengan kepentingan rakyat Amerika Serikat dengan adanya muatan politis.

 

III. Teori dan Metode Penelitian

Setelah memahami ruang lingkup analisis pada tulisan ini, pada bagian ini akan dijelaskan mengenai pisau utama dalam melakukan analisis, yaitu strategi kesopanan itu sendiri. Sebelumnya, pengertian akan arti strategi maupun kesopanan perlu diketahui terlebih dahulu sebelum melangkah ke dalam hal yang lebih mendalam dan luas. Menurut Richards dan Schmidt (2002: 274), strategi adalah prosedur yang digunakan dalam pemelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. Sementara itu, kesantunan atau kesopanan adalah kesadaran memelihara muka dan kesadaran yang menunjukkan perlindungan muka atau harga diri, terutama muka petutur (Brown dan Levinson, 1978: 59-70). Dari dua pengertian tersebut dapat diketahui bahwa maksud dari strategi kesopanan adalah prosedur yang digunakan untuk memelihara muka, terutama muka petutur.

Strategi kesopanan ini muncul karena kadar ancaman yang terkandung pada ujaran atau tindak tutur yang mengancam muka dapat dikurangi dengan menerapkan strategi tertentu. Salah satu kaidah atau strategi yang perlu dipatuhi supaya suatu ujaran terdengar santun oleh mitra tutur yang didasarkan pada pendapat Lakoff (dalam Gunarwan, 1994: 87) adalah formalitas (formality), ketaktegasan (hesitancy), dan persamaan atau kesekawanan (equality or camaraderie). Hal yang dimaksudkan dalam formalitas adalah jangan memaksa atau jangan angkuh, ketaktegasan berarti mitra tutur dapat menentukan pilihan, dan persamaan atau kesekawanan yang berarti bertindak seolah-olah penutur dan mitra tutur sama. Dengan kata lain, membuat mitra tutur senang.

Lebih lanjut, hal yang perlu diperhatikan di sini adalah ada dua tindakan yang berkaitan dengan muka, yaitu tindakan menyelamatkan muka dan tindakan mengancam muka. Tindakan menyelamatkan muka adalah tindakan berupa tuturan yang menghindari ancaman potensial bagi citra diri partisipan lain di dalam interaksi, sedangkan tindakan mengancam muka adalah tindakan berupa tuturan yang mengancam muka orang lain secara langsung (Brown dan Levinson, 1978: 61-62). Cara memilih strategi ini pun tergantung pada komponen muka mana yang terancam, apakah muka positif atau muka negatif. Jika muka positif yang dilindungi, pemberian kompensasi atas kerugian kehilangan muka positif disebut kesopanan positif (positive politeness), sedangkan jika muka negatif yang dilindungi, pemberian kompensasi atas kerugian kehilangan muka negatif disebut dengan kesopanan negatif (negative politeness). Strategi ini dilakukan untuk menjaga petutur supaya tidak kehilangan muka.

Ada beberapa strategi untuk menghindari Tindak Mengancam Muka atau Face Treating Act (FTA), yaitu bertutur terus terang tanpa basa-basi (bald on record), bertutur terus terang dengan basa-basi kesopanan positif (positive politeness), bertutur terus terang dengan basa-basi kesopanan negatif (negative politeness), bertutur secara samar-samar (off record), dan tidak mengatakan apapun atau tidak melakukan tindak mengancam muka sama sekali (don’t do the FTA). Dari kelima strategi tersebut ada tiga strategi yang terbagi lagi ke dalam beberapa strategi. Beberapa strategi yang terbagi lagi menjadi beberapa strategi spesifik, yaitu strategi kesopanan positif, strategi kesopanan negatif, dan strategi pelunakan atau bertutur secara samar-samar. Berikut rincian strategi yang lebih spesifik dari strategi kesopanan positif, strategi kesopanan negatif, dan strategi pelunakan.

 

1. Strategi Kesopanan Positif

  • Menunjukkan perhatian pada mitra tutur
  • Melebih-lebihkan perhatian, persetujuan, atau simpati kepada mitra tutur
  • Meningkatkan minat mitra tutur dengan melebih-lebihkan keadaan yang sebenarnya
  • Menggunakan pemarkah yang menandakan persamaan identitas untuk menekankan persamaan kelompok
  • Mencari persetujuan
  • Menghindari pertentangan
  • Mengisyaratkan, mengemukakan, atau menegaskan persamaan
  • Membuat lelucon
  • Menegaskan atau mengisyaratkan pengetahuan dan perhatian petutur akan keinginan mitra tutur
  • Menawarkan atau menjanjikan
  • Bersikap optimis
  • Melibatkan petutur dan mitra tutur dalam suatu kegiatan
  • Memberikan atau meminta alasan
  • Menganggap atau menegaskan adanya hubungan timbal balik antara petutur dan mitra tutur
  • Memberikan hadiah pada mitra tutur

 

2. Strategi Kesopanan Negatif

  • Berbicara tidak langsung
  • Pembatasan asumsi
  • Bersikap pesimis
  • Meminimalkan paksaan atau tekanan terhadap mitra tutur
  • Memberi rasa hormat
  • Meminta maaf
  • Tidak mengacu kepada petutur dan mitra tutur
  • Menyatakan bahwa tindak mengancam muka adalah suatu hal yang wajar
  • Menggunakan kata benda
  • Melakukan tindak tutur secara langsung dan apa adanya sambil mmbuat hutang atau tidak berhutang kepada mitra tutur

 

3. Strategi Pelunakan

  • Memberikan tanda
  • Memberikan petunjuk
  • Melakukan praanggapan
  • Mengurangi kadar fakta
  • Melebih-lebihkan
  • Menggunakan pengulangan kata tanpa penjelasan
  • Menggunakan kontradiksi
  • Bersikap ironis
  • Menggunakan metafora
  • Menggunakan pertanyaan retoris
  • Bersikap ambigu
  • Bersikap tidak jelas atau samar-samar
  • Generalisasi berlebihan
  • Tidak menempatkan mitra tutur sebagai objek FTA
  • Berbicara tidak lengkap atau menggantung

 

Di lain pihak, metode penelitian yang digunakan pada tulisan ini adalah metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang tidak didesain atau dirancang menggunakan prosedur-prosedur statistik (Subroto, 2007: 5). Hal tersebut tidak berbeda jauh dengan metode yang disampaikan oleh Sudaryanto (1993: 5) bahwa suatu penelitian dilakukan dengan tiga tahapan metode. Tahapan metode tersebut adalah pengumpulan data, metode analisis data, dan metode penyajian analisis data. Menurut Subroto (2007: 35), metode penelitian dalam penelitian linguistik mencakup kesatuan dari serangkaian proses penentuan jenis penelitian, penentuan sampel, penentuan data dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik klasifikasi data, dan teknik analisis data.

Berbicara tentang teknik penelitian, pada tulisan ini akan menggunakan teknik pustaka. Teknik pustaka adalah teknik pemerolehan data yang bersumber pada bahan tertulis yang dibatasi oleh maksud dan tujuan penelitian (Subroto, 2007: 47). Selain itu, pada penelitian ini akan dilakukan pula teknik catat. Hal yang dimaksud adalah penulis akan melakukan pencatatan data yang diteruskan melakukan klasifikasi. Teknik pencatatan seperti ini disebut oleh Sudaryanto (1993: 135) sebagai teknik catat. Hal tersebut juga serupa dengan pendapat Mahsun (2005: 91) yang menjelaskan bahwa teknik catat dilakukan dengan mencatat, mengkategorisasi, dan mengklarifikasi data yang diperoleh.

 

IV. Transkripsi Pernyataan Marshanda Perihal Ayahnya

Kedatangan Marshanda ke Panti Sosial Bina Insani Cipayung, Jakarta Timur bertujuan mengunjungi seorang pengemis bernama Irwan Yusuf yang sebelumnya diberitakan diamankan dinas sosial yang tengah berpatroli. Saat diamankan, Irwan tengah mengemis di seputaran Jalan Bangka, Jakarta Selatan. Kondisi Irwan pun sangat memperihatinkan dan juga lusuh. Warga sekitar yang melihat dinsos mengamankan Irwan sempat menyampaikan bahwa pengemis tersebut adalah ayahanda artis Marshanda.

Saat dikonfirmasikan langsung oleh petugas, Irwan membenarkan dirinya adalah ayah Marshanda. Irwan menikah dengan Rianti Sofyan, ibunda Marshanda, tetapi telah bercerai lebih dari 20 tahun yang lalu. Marshanda pun membenarkan informasi yang mengatakan bahwa Irwan Yusuf adalah ayahnya. Namun, Marhsanda mengaku sudah lama tak bertemu dengan ayahnya serta mengaku senang dengan pemberitaan ini sehingga dirinya bisa mengetahui keberadaan sang ayah. Marshanda menuturkan bahwa dirinya terakhir kali bertemu dengan ayahnya dua tahun yang lalu. Ia juga mengatakan bahwa sejak bercerai dengan ibunya kondisi ekonomi ayahnya memang tidak stabil.

“Dan memang bener. Jadi… Aku enggak kaget sih karena ini udah cerita lama ya di keluarga aku gitu. Jadi memang dari aku saat umur tujuh atau delapan tahun Mama Papa pisah, memang aku tuh lost contact, sering banget lost contact sekian tahun sama Papa. Baru umur lima belas tahun aku ketemu lagi sama Papa. And then, lost contact lagi sekian tahun. Kisaran umur sembilan belas atau dua puluh baru ketemu Papa lagi. Lost contact lagi terus sekarang aja nih aku abis lost contact dua tahun sama Papa hari ini”.

***

“Untuk hari ini, aku datang mau ketemu Papa dan nanti pun ada tante aku yang akan jemput Papa. Jadi nanti siang Tante Lusi nyusul ke sini untuk support Papa”.

***

“Dari tanteku dan oma dari Papa juga udah cerita kalo ya udah ada tempat tinggal buat Papa terus udah gitu segala sesuatunya sudah disiapkanlah”.

***

“Sekarang mungkin lagi parah ya namanya orang kan dalam hidup ada naik ada turun gitu. Kalo dari dulu sih emang keadaan ekonomi Papa enggak baik”.

 

V. Analisis dan Bahasan

Berdasarkan pernyataan Marshanda pada sebuah konferensi pers di Panti Sosial Bina Insani Cipayung, Jakarta Timur dapat diketahui bahwa pernyataan tersebut termasuk ke dalam lokusi deklaratif. Hal ini disebabkan tindak tutur yang dilakukan Marshanda bermaksud untuk mengutarakan sesuatu hal terkait dengan kabar seputar ayahnya sebagai seorang pengemis. Tindak tutur tersebut cenderung mengarah kepada mendeklarasikan, apakah benar seorang pengemis yang ditangkap oleh Dinas Sosial ayahnya Marshanda atau bukan. Hal tersebut dapat terlihat pada kutipan di bawah ini.

 

“Dan memang bener. Jadi… Aku enggak kaget sih karena ini udah cerita lama ya di keluarga aku gitu. Jadi memang dari aku saat umur tujuh atau delapan tahun Mama Papa pisah, memang aku tuh lost contact, sering banget lost contact sekian tahun sama Papa. Baru umur lima belas tahun aku ketemu lagi sama Papa. And then, lost contact lagi sekian tahun. Kisaran umur sembilan belas atau dua puluh baru ketemu Papa lagi. Lost contact lagi terus sekarang aja nih aku abis lost contact dua tahun sama Papa hari ini”

 

Dari lokusi yang disampaikan Marshanda di atas dapat terlihat bahwa dirinya membenarkan atau mendeklarasikan kebenaran berita yang beredar terkait orang bernama Irwan Yusuf yang ditangkap Dinas Sosial adalah ayah kandungnya. Hal tersebut ditandai dengan adanya kata “memang bener” dan menyebutkan kata “Papa” untuk merujuk kepada orang yang ditangkap di Dinas Sosial tersebut.  Meskipun Marshanda tidak secara terang-terangan atau sangat jelas mengungkapkan orang bernama Irwan Yusuf adalah ayahnya, tetapi dengan membenarkan berita tersebut sudah sama aja dengan jelas mengakui perihal status ayahnya.

Pernyataan Marshanda di atas pun dapat ditandai dengan adanya kondisi tindak tutur yang mengancam muka negatif petutur. Hal tersebut diketahui karena Marshanda dalam pernyataannya memberikan alasan kenapa dirinya, seorang artis yang notabene terbilang mampu secara ekonomi, dapat mempunyai ayah seorang pengemis. Pemberian alasan tersebut merujuk kepada relevansi konteks latar belakang pengetahuan Marshanda terkait ayahnya dari zaman dahulu hingga sekarang. Pada pernyataan tersebut, Marshanda menjelaskan kronologi kedekatan hubungan dirinya dengan ayahnya yang sering tidak berkomunikasi atau lost contact. Dengan adanya alasan tersebut diharapkan masyarakat memahami ketimpangan antara dirinya dengan ayahnya secara ekonomi. Pernyataan tersebut juga secara tidak langsung menginsyaratkan atau mempunyai ilokusi bahwa jika Marshanda tidak sering lost contact dengan ayahnya, maka tidak akan mungkin ayahnya akan menjadi pengemis seperti sekarang ini.

Hal tersebut membuat Marshanda memilih strategi kesopanan positif dengan cara menunjukkan perhatian, simpati kepada mitra tutur, menggunakan pemarkah yang menandakan identitas, dan menghindari pertentangan. Penunjukkan perhatian Marshanda kepada ayahnya diperlihatkan dengan diuraikannya konteks latar belakang pengetahuan yang menandakan bahwa Marshanda sebenarnya peduli dengan ayahnya. Hal tersebut dibuktikan dengan ingatnya Marshanda masa-masa lost contact bersama ayahnya dari mulai ayah dan ibunya berpisah hingga sekarang. Selain itu, Marshanda juga memberikan simpati kepada mitra tutur yang merupakan para pemburu berita dengan mengatakan bahwa Aku enggak kaget sih karena ini udah cerita lama ya di keluarga aku gitu. Pernyataan demikian diungkapkan Marshanda untuk memberikan respon terhadap pertanyaan dari wartawan.

Kemudian, Marshanda pun menggunakan pemarkah yang menandakan identitas untuk membenarkan berita terkait ayahnya dengan menyebut kata “Papa”. Hal tersebut secara tidak langsung menandakan bahwa Marshanda tidak malu dan tidak segan-segan mengakui ayahnya walaupun ayahnya seorang pengemis. Tindakan Marshanda yang tidak malu mengakui ayahnya yang pada saat melakukan konferensi pers tersebut berada di panti dinas sosial juga memperlihatkan bahwa Marshanda sengaja menghindri pertentangan dengan langsung membenarkan berita seputar ayahnya di awal konferensi pers. Dengan begitu, bisa saja Marshanda tidak akan disudutkan oleh pertanyaan wartawan dan tidak mendapatkan justifikasi negatif tentang dirinya oleh masyarakat. Selain itu, pernyataan lainnya yang dikatakan oleh Marshanda dalam konferensi pers tersebut juga mengancam muka negatif dirinya dengan dilihat dari aspek yang lain. Berikut kutipan pernyataan Marshanda yang mengancam muka negatif dirinya.

 

“Untuk hari ini, aku datang mau ketemu Papa dan nanti pun ada Tante aku yang akan jemput Papa. Jadi nanti siang Tante Lusi nyusul ke sini untuk support Papa”.

***

“Dari Tanteku dan Oma dari Papa juga udah cerita kalo ya udah ada tempat tinggal buat Papa terus udah gitu segala sesuatunya sudah disiapkanlah”.

 

Pada kutipan di atas dapat diketahui bahwa tindak tutur Marshanda mengancam muka negatif dirinya karena terdapat aspek menerima tawaran dan menjanjikan sesuatu. Hal yang dimaksud menerima tawaran adalah Marshanda menerima tawaran Tante dan Omanya terkait segala sesuatunya sudah disiapkan oleh keluarga Papanya Marshanda. Dengan begitu, pernyataan Marshanda menandakan bahwa sebenarnya Marshanda ingin mengurus Papanya supaya kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Akan tetapi, saat bermediasi dengan pihak keluarga Papanya justru disepakati bahwa Tante dan Oma dari Papanya Marshanda sudah bilang ke dirinya kalau akan mengurusnya dengan lebih baik lagi sehingga Marshanda tidak perlu mengurus Papanya jika dilihat dari pernyataan di atas.

Di samping itu, pernyataan di atas juga seakan menjanjikan sesuatu. Hal tersebut terlihat ketika Marshanda mengungkapkan bahwa Tantenya akan datang untuk menjemput Papanya. Pernyataan tersebut seakan memberikan tanda bahwa Papanya akan tetap diurus oleh pihak keluarga Papanya dan bukan oleh Marshanda. Bisa saja, Marshanda dalam hal ini hanya membantu sebisanya selama diizinkan oleh pihak keluarga Papanya dan menjalin komunikasi agar tidak lost contact. Selain itu, keseriusan pihak keluarganya Papanya Marshanda untuk mengurus Irwan Yusuf diperkuat dengan pernyataan Marshanda kalau Tantenya akan datang untuk menyemangati Papanya di Panti Dinas Sosial tersebut.

Relevansi yang diungkapkan oleh Marshanda tidak hanya relevansi konteks latar belakang pengetahuan dengan menceritakan kronologi kedekatan dirinya dengan ayahnya dari dulu tetapi juga mengungkapkan konteks situasi pada saat yang bersaman pula. Hal tersebut dapat terlihat dari kutipan pernyataan Marshanda di bawah ini.

 

“Sekarang mungkin lagi parah ya namanya orang kan dalam hidup ada naik ada turun gitu. Kalo dari dulu sih emang keadaan ekonomi Papa enggak baik”.

 

Pernyatan Marshanda pada kutipan di atas mencoba menjelaskan relevansi konteks situasi dan relevansi konteks latar belakang pengetahuan secara bersaman. Hal tersebut diketahui dari pernyataan Sekarang mungkin lagi parah ya namanya orang kan dalam hidup ada naik ada turun gitu yang mencoba menjelaskan relvansi konteks situasi yang sedang terjadi saat ini bahwa kondisi Papanya saat ini sedang dalam masa paling sulit dalam hidupnya dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Kondisi itupun dirasa wajar karena kondisi manusia memang tidak ada yang pernah stabil dan cenderung mengalami fluktuasi atau naik turun. Sementara itu, pernyataan Kalo dari dulu sih emang keadaan ekonomi Papa enggak baik justru mengarah kepada relevansi konteks latar belakang pengetahuan Marshanda terkait kondisi ekonomi Papanya. Hal tersebut sekaligus mempertegas bahwa memang Papanya tidak memiliki kondisi ekonomi seperti dengan dirinya setelah bercerai dengan ibunya. Maksud dari pernyataan itu bisa saja sengaja dilontarkan Marshanda untuk berusaha membuat pewajaran atas perbedaan ekonomi dirinya dan Papanya karena dari dulu memang Papanya tidak mempunyai ekonomi yang baik sehingga Marshanda tidak bisa disalahkan begitu saja dan tidak bisa melakukan justifikasi terhadap Marshanda telah menelantarkan Papanya.

Perlokusi Marshanda

Keterangan: Foto Marshanda bersama Papanya setelah bebas dari Panti Dinas Sosial

 

Sejalan dengan strategi kesopanan positif yang dilakukan Marshanda pada saat konferensi pers, membuat adanya perlokusi dari berbagai kalangan masyarakat. Perlokusi atas strategi kesopanan positif yang dipilih Marshanda justru menimbulkan citra positif bagi Marshanda. Hal tersebut diketahui dari komentar pengikut akun Instagram Marshanda ketika dirinya mengunggah fotonya bersama Papanya. Berikut bukti adanya perlokusi citra positif bagi Marshanda dari para masyarakat yang juga menjadi pengikut akun Instagram artis yang kerap dipanggil Caca ini.

Sebenarnya, unggahan Marshanda bersama Papanya ini juga masih satu rangkaian dalam melakukan strategi kesopanan positif tetapi dilakukan di luar konferensi pers yang dilakukan di Panti Dinas Sosial. Hal tersebut disebabkan melibatkan petutur (dalam hal ini Marshanda) dengan mitra tutur (dalam hal ini Papanya Marshanda) dalam satu kegiatan masih termasuk ke dalam strategi kesopanan positif selain melakukan konferensi pers yang melibatkan petutur Marshanda dengan mitra tuturnya para pemburu berita atau wartawan.

Dari unggahannya tersebut, Marshanda mendapat perlokusi citra positif dari masyarakat yang kebanyakan berkomentar bangga, terharu, dan salut atas tindakan yang dilakukan Marshanda tersebut. Hal ini bisa saja disebabkan jarang sekali ada orang yang telah tenar atau kaya masih mau mengakui orang tua, saudara, atau temannya yang miskin sehingga tindakan Marshanda mengakui ayahnya yang ditangkap Dinas Sosial ini mendapat apresiasi yang luar biasa.

 

VI. Simpulan

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa tindak lokusi deklaratif yang dilakukan Marshanda pada saat konferensi pers di Panti Dinas Sosial saat hendak bertemu dengan ayahnya yang tergolong ke dalam tindak mengancam muka negatif petuturnya ini dengan memilih strategi kesopanan positif mampu menimbulkan perlokusi positif. Padahal, ketika adanya keterancaman muka negatif seharusnya menggunakan strategi kesopanan negatif pula. Hal ini disebabkan jika muka negatif yang ingin dilindungi, maka harus ada pemberian kompensasi atas kerugian kehilangan muka negatif tersebut dengan menerapkan strategi kesopanan negatif. Sebaliknya, justru ketika adanya keterancaman muka negatif dan melakukan strategi kesopanan positif malah menimbulkan efek yang diluar dugaan seperti pada kasus Marshanda ini.

 

 

Daftar Pustaka

Austin, John L. 1962. How to Do Things with Words (Edisi Kedua). Oxford: Oxford University Press.

Brown, Penelope, dan Stephen C. Levinson. 1978. Politeness: Some Universals in Language Usage. Cambridge: Cambridge University Press.

Cutting, J. 2002. Pragmatic and Discourse: A Resource Book for Students. Routledge: London and New York.

Richards, J. C., and Richard Schmidt. 2002. Longman Dictionary of Lnguage and Applied Linguistics. 3rd Edition. London: Pearson Education.

Searle, John R. 1969. Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language. Cambridge: Cambridge University Press.

Searle, John R. 1979. Expresion and Meaning: Studies in the Theory of Speech Acts. Cambridge: Cambridge University Press.

Subroto, D Edi. 1992. Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

Wijana, Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford: Oxford University Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 11, 2016 by in Linguistik, Makalah.

Navigation

%d bloggers like this: