Makanan Khas Daerah Indonesia Belum Terkenal Asli Enak

Ngomongin makanan khas Indonesia itu sebenernya enggak akan ada abisnya. Soalnya makanan Indonesia dari Sabang sampai Merauke pasti jumlahnya ribuan banget. Suku dan bahasa di Indonesia aja jumlahnya banyak apalagi makanan khasnya. Tiap suku bisa-bisa mempunyai lebih dari satu makanan yang punya citarasa sesuai dengan karakteristik daerahnya masing-masing.

Dari banyaknya makanan khas Indonesia yang ada di seluruh belahan Nusantara, ada beberapa makanan yang menurut saya kurang terkenal tetapi memiliki rasa yang mantap sekali. Maksud dari makanan kurang terkenal ini lebih kepada kurang dikenalnya makanan daerah ini di Indonesia. Beda dengan Gudeg dari Jogja, Rujak Cingur dari Surabaya, maupun Ayam Betutu dari Bali, makanan khas Indonesia yang akan disebutkan di bawah ini justru tidak akan diketahui kalau kita belum pernah ke daerah tersebut.

Hal inilah yang membuat saya terkesan ketika mengunjungi beberapa daerah yang unik ini. Saya baru tahu kalau ada banyak makanan khas daerah yang sangat enak tapi keterkenalannya hanya sebatas di daerah sekitarnya saja. Padahal, beberapa makanan daerah khas Indonesia ini tidak kalah enak dari makanan yang udah terkenal hingga skala nasional.

Meskipun tidak semua daerah akan disebutkan, tetapi setidaknya beberapa makanan khas Indonesia ini sudah mewakilkan keberagaman makanan Indonesia yang perlu dieksplore lebih dalam dan luas lagi. Maka dari itu, pada tulisan ini akan disebutkan beberapa makanan khas Indonesia yang belum terkenal asli enak dari empat daerah yang pernah saya singgahi. Baca sampai habis ya!

 

1. Rujak Soto – Banyuwangi

2. Rujak Soto - Banyuwangi

Sumber: Dokumentasi Pribadi

 

Banyak yang mungkin bingung apa maksud dari Rujak Soto ini. Bisa dibilang Rujak Soto ini sesuai dengan namanya memang merupakan makanan gabungan antara rujak dengan soto. Isinya itu hampir sama seperti isi rujak umumnya, seperti lontong, sayur, bumbu kacang ditambah potongan daging ataupun jeroan. Tingkat kepedasannya pun kita juga bisa tentukan sendiri mau dikasih cabai berapa seperti Rujak Cingur Surabaya. Namun, hal yang memebedakan adalah rujak tersebut disiram lagi dengan menggunakan kuah soto.

Soal rasa, Rujak Soto ini sangat nikmat sekali. Gurihnya kuah soto dipadu dengan rujak itu sedep-sedep gimana gitu. Unik sih karena baru kali ini merasakan rujak dengan kuah soto dan rasanya mantap ternyata. Meskipun demikian, tidak semua tempat makan di Banyuwangi menyediakan Rujak Soto yang enak loh. Hal itu saya rasakan sendiri ketika berada di tempat makan yang Rujak Sotonya kurang nikmat. Mungkin waktu itu kebetulan ada yang kurang fresh atau entahlah sehingga rasanya menjadi tidak semantap biasanya.

Akan tetapi, sebagian besar Rujak Soto yang saya makan di Banyuwangi mempunyai rasa yang enak banget. So, pastikan diri kamu makan Rujak Soto jika berkunjung ke Banyuwangi, Jawa Timur ya!

 

2. Sego Tempong – Banyuwangi

3. Sego tempong - Banyuwangi

Sumber: Dokumentasi Pribadi

 

Tidak kalah unik dari Rujak Soto, Sego Tempong ini terbilang menu yang banyak beredar di Banyuwangi. Hampir sepanjang jalan di Banyuwangi tempat makannya menyediakan Sego Tempong. Ibarat nasi pecel di daerah Jawa Timur lainnya, Sego Tempong juga dijual baik pagi, siang, maupun pada malam hari. Banyaknya yang menjual Sego Tempong ini pun membuat saya penasaran seperti apa rupa dan rasa dari makanan yang baru saya lihat di Banyuwangi ini.

Alhasil, pada suatu ketika saya memesan Sego Tempong untuk menjawab rasa penasaran selama berada di Banyuwangi. Begitu makanan datang dan disajikan di depan meja, hanya ada satu kesan saya yaitu porsinya banyak banget. Saya tidak mengira kalau Sego Tempong ini kaya akan lauk seperti makanan di Sate Khas Senayan. Untung saja harganya tidak semahal itu dan kurang lebih sama dengan pecel ayam biasa.

Selain ayam, ada mie goreng, tempe, tahu, sayur, terong balado, dan ikan teri pedes gitu. Terus hal yang membuat istimewa adalah sambalnya. Jadi ternyata Sego Tempong itu adalah nasi yang membuat orang yang memakannya merasa tertampar gitu karena kepedasannya. Benar saja, sambal yang disajikan dapat dibilang pedas. Buat yang doyan pedas dengan porsi banyak pastinya Sego Tempong ini menjadi menu favorit selama berada di Banyuwangi.

 

3.Mie Atep – Belitung

4. Mie Atep - Belitung

Sumber: Dokumentasi Pribadi

 

Sebenarnya ini sih mie rebus ala Belitung biasa. Tapi hal yang membuatnya tidak biasa adalah bentuk mienya, kuahnya, dan bahan campuran di dalamnya. Bentuk mienya itu kecil-kecil dan lebih mirip mie yang biasanya dicampur dengan bakso. Terus kuahnya juga unik karena kuahnya itu butek dan cenderung keruh seperti kali yang berwarna coklat. Dari segi rasanya pun sangat berbeda dengan kuah mie pada umumnya. Gurihnya itu khas banget. Malahan, kalau menurut saya lebih seperti kuah tahu campur gitu.

Penasaran dengan bahan campuran kuahnya, saya pun ketika itu menanyakan apakah kuah ini dikasih tambahan petis atau tidak. Namun, pemilik tempat makan bilang kalau tidak ada campuran petis di dalam mie ini. Hal itu yang membuat saya agak terkesima. Rasa yang hampir sama dengan Tahu Campur Surabaya ini ternyata mempunyai kandungan yang berbeda. Saking enak kuahnya, saya pun menghabiskan kuahnya hingga tidak tersisa. Rasa kuah yang unik ini juga menjadi salah satu faktor saya ketagihan dengan mie khas Belitung ini.

Campuran mie di dalamnya juga unik. Hal ini disebabkan ada udang, tahu iris, dan timun. Benar-benar makin mirip Tahu Campur Surabaya tapi tidak ada dagingnya dan digantikan dengan beberapa udang. Pokoknya rasanya maknyus banget deh.

 

4. Bakso Ikan – Belitung

5. Bakso Ikan - Belitung

Sumber: Dokumentasi Pribadi

 

Nah, kalau menu yang satu ini termasuk ke dalam salah satu menu andalan yang murah meriah dengan rasa yang tidak murahan. Tidak perlu berkunjung ke tempat khusus, di pinggir jalan banyak banget yang menjual bakso ikan. Itulah uniknya di Belitung. Di saat dominan beberapa daerah di Indonesia menjual bakso daging sapi, tetapi di Pulau Laskar Pelangi ini malah kebanyakan menjual Bakso Ikan.

Rasanya pun menurut saya lebih enakan Bakso Ikan dibandingkan bakso daging. Apalagi sekarang-sekarang ini bakso daging sudah banyak diragukan keasliannya alias lebih banyak tepungnya dibandingkan dagingnya. Tapi kalau saya perhatikan selama berada di Belitung ini memang masyarakat dominan menjual berbagai hasil laut sehingga tidak mengherankan kalau baksonya saja Bakso Ikan yang banyak dijual. Mungkin harga ikan di sini murah karena ketersediaan ikan yang banyak di pulau ini.

Enaknya lagi, Bakso Ikan yang diberikan juga banyak. Hitung saja ada berapa Bakso Ikan dalam satu porsi yang dihidangkan. Terlebih lagi, ada tambahan telur rebus utuh dengan otak-otak goreng yang ditusuk sate. Tidak perlu makan nasi lagi, makan Bakso Ikan saja rasanya sudah kenyang sekali. Kuahnya pun sedap walaupun tidak ada yang spesial dan sama saja seperti kuah bakso pada umumnya. Wajib coba banget deh kalau ke Belitung yang namanya Bakso Ikan.

 

5. Lakse Kuah – Bintan

6. Lakse Kuah

Sumber: Dokumentasi Pribadi

 

Dari Belitung sekarang saatnya pindah ke pulau lainnya di daerah Sumatera, yaitu Bintan. Di sini juga ada makanan yang unik dan terbilang enak banget. Namanya adalah Lakse Kuah. Awalnya, hal yang membuat makanan ini langsung jadi perhatian saya adalah tempatnya yang menggunakan daun. Tapi ternyata saya terkecoh dan daun hanya digunakan jadi lapisan laksenya saja. Meskipun sudah menggunakan daun tetapi ternyata lakse tetap disajikan di piring dan malah daunnya dibuang. Hal yang tidak disangka-sangka lagi adalah setelah lakse dipisahkan dengan daunnya di piring kemudian laksenya disiram menggunakan kuah santan merah.

Di dalam kuah santan merah tersebut terdapat potongan daging yang telah dipotong tipis-tipis untuk menjadi topping Lakse Kuah. Justru, kuah ini yang menjadi penentu kenikmatan dari Lakse Kuahnya. Kalau laksenya sih tepung gurih biasa yang dibentuk layaknya mie. Tapi kuahnya itu yang megang banget dan menjadikan Lakse Kuah ini favorit saya ketika menghadiri acara pernikahan di salah satu daerah Bintan di Kepulauan Riau.Tidak hanya saya, teman saya pun yang juga dari luar Sumatera sangat menyukai Lakse Kuah ini.

Meskipun demikian, selama di Bintan saya hanya menemukan Lakse Kuah ini saat acara pernikahan saja. Tapi mungkin di tempat makan ada yang jual juga. Hanya saja, sepanjang jalan Bintan yang saya lewati sih tidak ada yang jual atau mungkin hanya di jual di pasar tradisonal ataupun tempat tertentu layaknya jajanan pasar seperti cendil ataupun lupis kalau di Jawa.

 

6. Mie Tarempa – Bintan

7. Mie Tarempa - Bintan

Sumber: Dokumentasi Pribadi

 

Mie Tarempa atau ada teman saya yang memang orang asli Bintan juga bisa dibilang Mie Kuning Goreng ini adalah salah satu makanan khas Indonesia yang tidak boleh dilewatkan atau wajib coba banget. Keliatannya memang tidak berbeda jauh dengan mie goreng biasanya. Tapi kalau diperhatikan dengan lebih seksama, mienya memiliki ukuran dan bentuk yang berbeda. Menurut saya mienya lebih condong seperti Mie Atep Belitung tapi bedanya ini digoreng sedangkan Mie Atep Belitung memakai kuah. Sama-sama mie daerah Sumatera kali ya sehingga mungkin bentuk mienya se-Sumatera kaya sama semua kayak gini.

Dari segi rasa juga ternyata sangat berbeda dengan mie goreng pada umumnya. Kalau boleh dikomparasikan dengan mie goreng Jawa, Mie Tarempa atau Mie Kuning Goreng ini lebih tasty dan kaya akan rempah-rempah gitu sepertinya. Baunya pun sangat khas dan kuat sekali di hidung saat makanan ini disajikan. Warna mienya pun pekat sekali sehingga tidak mengherankan kalau melihatnya saja pasti semua orang akan tergiur akan kelezatan mie ini.

 

7. Duren Lae – Kalimantan

8. Duren Lae - Kalimantan

Sumber: Dokumentasi Pribadi

 

Berbeda dari daerah lainnya, kalau di Kalimantan yang menurut saya makanan khas Indonesia yang sangat unik di sini adalah buah durennya. Baru pertama kali melihat sepanjang hidup di dunia kalau ternyata ada duren yang bentuknya kecil dan bisa dibuka dengan menggunakan tangan kosong. Padahal, kulit duren kan tajam sehingga ketika ada orang Kalimantan yang bilang buka duren pakai tangan aja tanpa bantuan alat perkakas lain sih saya agak takjub gitu.

Tapi setelah saya melihat buah duren yang berukuran mini atau kecil ini, logika saya pun berjalan dan mulai tidak meragukan perkataan orang yang tadi saya temui. Meskipun berukuran kecil, Duren Lae atau Lai mempunyai isi yang banyak. Lebih enaknya, biji durennya berukuran kecil sekali sehingga buah durennya lebih banyak dan tidak perlu repot mengkuliti biji durennya karena biji duren langsung terpisah dengan buahnya begitu masuk di mulut.

Bener-bener lumer banget deh kalau sudah masuk ke dalam mulut buah Duren Lae atau Lai ini. Bahkan, menurut saya Duren Lae atau Lai ini lebih enak dibandingkan duren di Jawa yang lembek dan cenderung berwarna kuning muda cenderung putih. Harganya pun murah tapi sayangnya Duren Lae atau Lai ini hanya tersedia di Kalimantan.

 

8. Duren Daun – Kalimantan

9. Duren Daun - Kalimantan

Sumber: Dokumentasi Pribadi

 

Lebih enak dari Duren Lae dan lebih unik lagi adalah Duren Daun. Sebelum menceritakan keenakan dari Duren Daun ini, terlebih dahulu saya sebutkan keunikan dari buah yang juga hanya ada di Kalimantan. Keunikan dari Duren Daun ini seperti yang bisa dilihat dari gambar di atas bahwa duri Duren Daun terbilang panjang-panjang. Hal tersebut berbeda sekali dengan duren pada umumnya yang durinya berukuran kecil. Kemudian, uniknya lagi adalah Duren Daun ini berwarna hijau dan bukan kuning. Saya kira awalnya Duren Daun ini belum matang tapi ternyata memang begini penampakan Duren Daun saat matang sekalipun.

Rasa dari Duren Daun ini pun jangan ditanya lagi kelezatannya. Untuk pertama kalinya seumur hidup saya sangat amat suka sekali dengan duren hingga langsung berucap syukur kepada Tuhan telah diberikan kenikmatan yang hakiki banget. Dari aromanya saja, Duren Daun ini sangat wangi sekali. Terus pada saat dimakan Duren Daun ini super duper sangat enak sekali beribu-ribu kali lipat dari duren biasa. Bahkan, pada saat memakannya saya serasa sedang makan es krim. Begitu lembut, wangi, dan manisnya pas tidak nyegrek di tenggorokan pula. Konturnya pun tidak sepadat Duren Lae dan condong agak lembek.

Kalau pada saat itu tidak dikasih oleh penduduk setempat, mungkin saya tidak akan pernah tahu di mana membeli Duren Daun ini. Benar-benar kenikmatan yang tersembunyi banget di belantara hutan Kalimantan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: