Pemertahanan Eksistensi Jati Diri Bangsa melalui Pendidikan Berkualitas di Luar Negeri: Studi Kasus Pendokumentasian dan Pelestarian Kebudayaan Indonesia

Kebudayaan Indonesia semakin lama semakin terkikis oleh derasnya arus globalisasi yang terus menerus berdatangan. Hal tersebut dapat terlihat dari berbagai sisi. Misalnya, aspek pendidikan, ekonomi, maupun pertunjukan seninya. Dari aspek pendidikan, terkikisnya kebudayaan Indonesia dapat tercermin pada kenyataan bahwa penguasaan bahasa Indonesia yang rendah pada para pelajar di Indonesia. Mulai dari jenjang, SD, SMP, hingga SMA, bahasa Indonesia menjadi pelajaran yang paling rendah nilainya. Hal tersebut kontras sekali dengan bahasa Inggris yang menjadi pelajaran yang nilainya lebih tinggi dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Fakta tersebut diketahui dari Laporan Hasil Ujian Nasional Tahun 2014 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Adanya kondisi demikian menandakan bahwa kebudayaan Indonesia telah tergantikan oleh budaya asing. Bahasa yang menjadi alat komunikasi sehari-hari tidak mampu bersaing dengan bahasa Inggris.

Begitu pula dengan aspek ekonomi yang menyaratkan bahwa kebudayaan Indonesia sedikit demi sedikit telah terkikis dan mulai tergantikan dengan pengaruh luar. Hal tersebut terlihat dari banyaknya sekali produk luar negeri yang sekarang mulai dijual di Indonesia. Popularitas produk luar negeri tersebut mengalahkan popularitas produk dalam negeri. Bahkan, banyak sekali yang secara terang-terangan lebih bangga dan suka dengan menggunakan produk luar negeri dibandingkan produk luar negeri tersebut. Dengan adanya kebanggan terhadap produk luar negeri secara tidak langsung menandakan bahwa tidak adanya kecintaan terhadap bangsanya sendiri. Contoh paling konkret adalah tidak sukanya anak Indonesia makan makanan tradisional Indonesia seperti jenang, klepon, dan sebagainya. Hal tersebut telah tergantikan dengan kimchi, ramen, dan salad yang sekarang bertebaran di mana-mana.

Di sisi lain, pertunjukan seni pun telah mengalami perubahan. Pertunjukan seni yang bersifat tradisional dan sarat akan pesan moral maupun pemahaman yang mencerdaskan malah tidak disukai dibandingkan pertunjukan modern dari luar Indonesia. Hal tersebut sangat disayangkan karena pertunjukan seni tradisional merupakan kearifan lokal yang dibuat oleh nenek moyang. Kearifan lokal tersebut seharusnya dilestarikan dan dibudayakan kepada generasi penerus sehingga identitas sebagai orang Indonesia tidak akan hilang. Bahkan, UUD 1945 Pasal 32 sendiri sudah mengatur tentang kebudayaan. Inti dari pasal tersebut adalah memajukan, memelihara, dan menjaga nilai-nilai kebudayaan Indonesia. Pentingnya kebudayaan ini menjadikan pergeseran pertunjukan seni yang ada di Indonesia mengkhawatirkan. Pertunjukan wayang, campur sari, atau sejenisnya sekarang sudah tidak digemari lagi. Hal tersebut tergantikan dengan band rock n roll, boyband & girlband, dan lainnya. Malahan, di Indonesia sendiri memiliki girlband duplikat dari negara Jepang yang bernama JKT 48. Girlband ini langsung diadaptasi dari Jepang, yaitu AKB 48 dengan hanya mengubah lirik lagu menjadi bahasa Indonesia. Meskipun demikian, budaya Jepang sangat ditonjolkan oleh girlband ini sehingga tidak mengherankan banyak sekali komunitas ataupun penggemar budaya Jepang di Indonesia.

Adanya beberapa kondisi tersebut membuat kebudayaan Indonesia perlu mendapatkan perhatian lebih dari orang Indonesianya sendiri. Sehubungan dengan hal tersebut, saya merasa tergerak untuk mempelajari kebudayaan Indonesia. Konteks kebudayaan Indonesia memang sangatlah luas. Pada saat SMA ketika mau memutuskan memilih jurusan, saya pun sempat bingung. Hal ini disebabkan jurusan apa yang bisa mempelajari kebudayaan Indonesia. Setelah saya melakukan riset dan bertanya dengan beberapa teman maupun tentor di bimbingan belajar, jurusan seperti Antropologi, Arkeologi, dan Sastra Indonesia merupakan daftar jurusan yang mempelajari kebudayaan Indonesia. Pada akhirnya, saya memutuskan memilih Sastra Indonesia sebagai jurusan pada saat kuliah. Alasan yang paling simpel memilih jurusan tersebut karena Sastra Indonesia mempunyai peluang kerja yang lebih jelas kedepannya dibandingkan Antropologi dan Arkeologi. Kebetulan pula, nilai bahasa Indonesia saya selalu tinggi walaupun saya tidak belajar sehingga saya pun semakin percaya diri memilih jurusan Sastra Indonesia.

Sesuai dengan perkiraan awal, jurusan Sastra Indonesia berada di bawah naungan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya sehingga hal yang dipelajari juga tidak jauh dari kebudayaan Indonesia. Hanya saja, mempelajari kebudayaan Indonesia dari perspektif bahasa. Berbagai ilmu dan pemahaman baru saya dapatkan di sini. Untungnya, saya masuk di Universitas Indonesia dan mendapatkan berbagai input yang sangat luar biasa. Dosen-dosennya sangat memotivasi dan membuat saya menyadari betapa pentingnya mempelajari bahasa sebagai salah satu bentuk dari pendokumentasian dan pelestarian kebudayaan Indonesia. Seiring berkembangnya waktu, saya pun memiliki ketertarikan pada bidang pendokumentasian bahasa. Hal ini sekiranya masih sejalan dengan ketertarikan saya pada kebudayaan Indonesia. Dengan mendokumentasikan bahasa, sama saja ikut melestarikan kebudayaan Indonesia. Hal ini disebabkan bahasa dan kebudayaan tidak bisa dipisahkan begitu saja dan keduanya saling terkait satu sama lainnya.

Dari hal itu semua, ada fenomena yang sedikit menggelitik saya dan terbilang aneh. Saya kira dengan saya masuk jurusan Sastra Indonesia semua teori yang saya pelajari berasal dari orang Indonesia. Kenyataannya malah sebaliknya. Kebudayaan Indonesia yang dipelajari banyak berasal dari orang luar negeri. Belanda merupakan negara yang paling banyak melakukan penelitian kebahasaan di Indonesia. Selain adanya keterkaitan dalam hal penjajahan pada masa lampau, tetapi ternyata sampai dengan sekarang orang Belanda juga masih fokus mengkaji kebudayaan Indonesia. Bahkan, mereka lebih mengerti kebudayaan Indonesia dibandingkan orang Indonesianya sendiri. Hal tersebut terlihat dari banyaknya ahli bahasa atau linguis dari Belanda yang melakukan penelitian di Indonesia dan menjadi pembicara pada kuliah umum tentang kebudayaan Indonesia. Saya awalnya sangat terkejut dengan fakta ini. Kondisi demikian justru membuat saya semakin semangat untuk terus mempelajari bidang yang saya tekuni supaya saya dapat menggantikan posisi orang luar negeri tersebut dan menjadi raja di tanah kelahiran sendiri.

Hal tersebut berhubungan pula dengan pemertahanan eksistensi jati diri sebagai orang Indonesia. Jika orang Indonesia tidak peduli dengan budayanya, bagaimana kebudayaan Indonesia akan tetap bertahan. Orang luar negeri yang mempelajari kebudayaan Indonesia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Segala perubahan atau sikap budaya yang ada ditentukan sendiri dari pengguna budaya tersebut. Meskipun ada campur tangan orang luar negeri tetapi jika pengguna budayanya tidak mau menggunakan akan sama saja hasilnya dan bisa-bisa budaya tersebut hilang atau diambil oleh budaya lain. Contoh dari ketidakpedulian kebudayaan Indonesia terlihat dari pengakuan Malaysia akan budaya reog, lagu yang berjudul “Rasa Sayange”, dan kain batik. Ketidakpedulian budaya Indonesia membuat pihak lain melakukan pengakuan atas apa yang dimiliki Indonesia. Hal tersebut seharusnya menjadi teguran keras kepada pemerintah supaya lebih memerhatikan kebudayaan Indonesia.

Kondisi demikian sekiranya disebabkan dari ketidaktahuan pemerintah akan pentingnya menjaga kebudayaan walaupun sudah tertera di UUD 1945. Mungkin saja, dalam jajaran pemerintah yang mengurus bagian budaya tidak memiliki pegawai yang kompeten atau bisa dibilang pemerintah tidak mempunyai sumber daya manusia yang andal dalam bidang ini sehingga dengan gampangnya budaya Indonesia diklaim pihak lain. Berkaitan dengan sumber daya manusia, pengetahuan budaya yang kurang sebagian besar disebabkan dari tidak sesuainya latar belakang pendidikan dengan jabatan yang dipegang atau dijalani. Hal tersebut tidak mengherankan karena jurusan yang mempelajari kebudayaan Indonesia memang sangat sedikit jumlahnya. Bahkan, jumlah mahasiswa yang mempelajari kebudayaan Indonesia pun sedikit. Sebagai contoh, jurusan Sastra Indonesia di Universitas Indonesia saja hanya menerima 60 mahasiswa per tahun. Hal tersebut merupakan jumlah yang sangat sedikit dibandingkan jurusan Akuntansi yang bisa mencapai 300 mahasiswa per tahun dalam satu universitas.

Dengan begitu, saya pun tergerak untuk memiliki kapasitas yang lebih tinggi terkait dengan kebudayaan Indonesia. Pada awalnya, saya sendiri pun ragu apakah saya bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi lagi dari pencapaian saya yang sekarang. Pengetahuan yang lebih tinggi tersebut pastinya akan saya dapatkan ketika saya langsung mempelajari kebudayaan Indonesia dari ahlinya. Adanya fakta bahwa ahli kebudayaan Indonesia kebanyakan orang luar negeri membuat saya pun harus melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Hal tersebut tentunya akan selaras dengan pengembangan sumber daya manusia di bidang kebudayaan Indonesia. Meskipun awalnya terasa berat harus meninggalkan tanah air untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, tetapi hanya dengan cara tersebut saya bisa mempertahankan eksistenti jati diri bangsa Indonesia supaya dapat menjadi kuat di dalam rumah sendiri.

Alhasil, saya pun mencari segala sesuatu yang diperlukan untuk dapat meneruskan pendidikan di luar negeri, tepatnya di Belanda. Pencarian dilakukan mulai dari tahapannya, universitas mana yang ingin dituju, jurusan apa yang mau diambil, cara memperoleh beasiswa, hingga cara bertahan hidup di negeri tujuan universitasnya. Saya pun pada akhirnya berencana memilih jurusan Applied Linguistic di Universitas Leiden. Hal ini disebabkan jurusan tersebut merupakan jurusan yang sesuai untuk kelanjutan studi saya sebelumnya karena saya memperdalam linguistiknya dan bukan sastranya walaupun jurusannya Sastra Indonesia. Universitas Leiden pun dipilih karena universitas ini memiliki banyak ahli terkait kebudayaan Indonesia. Bahkan, banyak sekali dosennya yang melakukan penelitian di Indonesia secara berkala dan hasil pemikirannya dijadikan referensi dalam dunia linguistik pada berbagai jurnal maupun konferensi internasional. Selain itu, dengan jurusan tersebut sekiranya pula saya dapat mewujudkan keinginan saya memperdalam kebudayaan Indonesia sekaligus mempertahankan eksistensi jati diri bangsa di dunia internasional dalam hal pendokumentasian dan pelestarian kebudayaan Indonesia.

Semua itu dilakukan untuk semakin meyakinkan saya melanjutkan studi ke luar negeri. Bahkan, semua pameran pendidikan, webinar, ataupun sejenisnya saya ikuti guna memperoleh informasi selengkap-lengkapnya. Mungkin dari semua persyaratan, bahasa merupakan kendala karena untuk memperoleh beasiswa penguasaan bahasa Inggris harus sudah bagus dengan standar nilai yang tinggi. Akan tetapi, usaha dan doa yang terus dilakukan tiada henti mudah-mudahan akan membuahkan hasil karena usaha tidak akan mengkhianati hasil. Paradigma Imposible pun harus saya ubah dengan sekuat tenaga menjadi I’m Possible. Kita tidak akan pernah tahu hasil jika tidak pernah berusaha bukan? So, I’ll do it!

 

(Esai ini dibuat untuk mengikuti salah satu kompetisi esai yang diselenggarakan dalam hal motivasi kuliah di luar negeri)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: