Pesona Ujung Timur Pulau Jawa: Kawah Ijen Banyuwangi

Waktu itu, saya menginap di rumah Pak Anwar, salah satu warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Di desa ini saya banyak mengenal budaya Using. Sebab, desa ini telah ditetapkan oleh Pemerintah Banyuwangi sebagai Desa Wisata Using. Beruntunglah saya bisa tinggal di desa wisata Using selama kurang lebih sebulan sehingga saya pun banyak mendapatkan masukan tentang masyarakat Using di Banyuwangi. Kalau ada yang berminat tinggal di rumah Pak Anwar untuk jalan-jalan di Banyuwangi silakan hubungi nomor ini 085258106518 atau nomor Bu Supinah 085235302518. Untuk harga penginapan dan makan dijamin murah banget. Apalagi rumah Pak Anwar dekat sekali dengan Kawah Ijen. Kisaran harga untuk penginapan pada tahun 2014 20 ribu/hari, sekali makan 10 ribu, dan sewa motor 20 ribu/hari. Murah banget kan? Ya kalaupun harga naik juga tidak akan jauh-jauh dari kisaran harga yang sudah disebutkan tadi.

IMG_2306

Saat hendak ke Gunung Ijen, saya bersiap diri mulai dari subuh. Setelah melaksanakan salat subuh barulah saya berangkat dari rumah Pak Anwar ke gunung yang berada di Banyuwangi ini. Kenapa saya baru berangkat subuh? Sebab kalau berangkatnya dini hari masih gelap banget dan pasti saya tidak akan bisa melaksanakan salat subuh. Terlebih lagi, saya hanya seorang diri jadi untuk mencegah atau meminimalisasi hal-hal yang tidak diinginkan saya harus mengantisipasi dengan berangkat ketika hari telah terang dan tidak meninggalkan salat supaya dilindungi oleh Sang Pencipta. Tak masalah bagi saya kalau tidak melihat blue fire yang kata orang-orang bagus. Hal tersebut disebabkan saat berselancar di dunia maya, saya hanya mendapati api berwarna biru serupa dengan gas elpiji saat masak di dapur. Lagipula, saya tidak memiliki kamera yang bagus pula sehingga kalau foto di tengah kegelapan pasti jelek dan menunggu matahari terbit merupakan pilihan yang tepat karena kamera poket yang saya miliki hasil fotonya akan bagus dengan adanya bantuan sinar matahari.

Setelah salat subuh, saya langsung berangkat menuju Kawah Ijen yang hanya tinggal 1 jam perjalanan lagi dari rumah Pak Anwar. Dengan modal nekat, semangat, tekad, dan harapan yang kuat, saya pergi ke Kawah Ijen sendirian naik motor. Saya pun lupa kalau Gunung Ijen tergolong tinggi sehingga ketika berada di bagian parkiran kendaraan, tangan saya berwarna putih pucat walaupun langit telah menampakkan warna biru tanda matahari akan datang. Bagi teman-teman lain yang hendak ke Kawah Ijen dan memakai motor terutama wajib banget bawa sarung tangan supaya tidak kedinginan di pagi hari. Jalanan menuju parkiran kendaraan Kawah Ijen pun berkelok-kelok, ada yang kecil dan ada yang lebar, serta banyak truk pengangkut petani yang hendak ke pekarangan atau perkebunan sepanjang jalan ke Kawah Ijen sehingga kecepatan laju kendaraan pun tidak bisa kencang. Meskipun demikian, pemandangan sepanjang jalan dari Desa Kemiren ke area parkir kendaraan Kawah Ijen terbilang bagus dengan barisan tanaman yang beraneka jenis. Apalagi kalau subuh-subuh gitu masih ada kabut pagi yang menyegarkan sehingga badan akan menjadi segar dan pernapasan akan sangat lancar karena udaranya begitu sejuk.

Sesampainya di area parkir kendaraan Kawah Ijen, saya harus membayar retribusi untuk parkir dan biaya masuknya. Harga pun termasuknya terjangkau. Jalur penanjakan Gunung Ijen sampai pada Kawah Ijen kalau tidak salah 2 km dengan jalur yang tergolong miring sekali kalau saya boleh bilang. Tekstur jalur penanjakan yang berpasir ini pula yang menjadi tantangan ketika melakukan pendakian. Hilang fokus atau salah memakai sepatu bisa menyebabkan kamu terpeleset atau terjatuh, terutama ketika hendak turun. Hal tersebut terbukti ketika saya berada di sana banyak sekali bule yang jatuh ketika melakukan penurunan. Bahkan, ada bule yang naiknya bareng dengan saya jatuh hingga patah tulang. Kalau kata orang-orang pengambil belerang, kakinya kepanjangan makanya gampang patah. Dengan kondisi begitu, fisik yang kuat, sepatu yang memadai (bukan sepatu sneakers), dan selalu berhati-hati dalam menjalankan sesuatunya menjadi hal yang perlu dipersipakan jauh-jauh hari sebelum ke Kawah Ijen.

IMG_2454IMG_2458

IMG_2461IMG_2460

Selain itu, saya juga menyarankan untuk tidak mengobrol dengan para pengangkut belerang kalau memang tidak mau dipandu oleh local guide di sana. Hal ini disebabkan jika kamu terus mengajak berbicara pengangkut belerang tersebut sesampainya di atas kamu akan dimintakan bayaran kecuali kamu hanya mengajak berbicara sebentar dan membiarkan pengan gkut belerang tersebut duluan. Harga bayaran local guide di sini sekitar 100 ribu pulang dan pergi. Menurut saya, kalau memang kamu mau ada local guide lebih baik memang ambil dari pengangkut belerang saja. Badannya yang besar dan sepatu boat yang khusus medan berpasir tersebut dapat diandalkan supaya kamu juga tidak jatuh apalagi pada saat turun dari penanjakan local guide dari pengangkut belerang akan dapat memegangi kita supaya tidak jatuh. Selain itu, local guide dari pengangkut belerang juga tidak komersil dan memberikan arahan yang tak kalah lengkap dari local guide biasa. Kalau kamu tidak mau menggunakan jasa local guide dari awal pun tak masalah. Kamu bisa menggunakan jasa ini saat turun saja dengan harga 50 ribu. Pokoknya, pikirkan dahulu dan siapkan uangnya kalau memang menggunakan jasa local guide ini.

Meskipun pada saat saya baru mulai naik pendakian banyak wisatawan lokal maupun asing yang sudah turun karena mereka naik dari dini hari untuk melihat blue fire, tetapi keputusan saya baru mulai naik dari subuh terbayarkan dengan panorama atau pemandangan yang sangat bagus luar biasa. Tidak tanggung-tanggung, pemandangan pagi menjelang siang ini benar-benar seperti pemandangan gunung di luar negeri. Tidak sedikit pula loh, bule atau wisatawan asing seperti saya yang baru naik pada pagi hari. Dapat dikatakan pula bahwa pemadangan siang hari di Gunung Ijen ini benar-benar berbeda 180 derajat dari pemandangan paginya. Tidak sedikit dari teman saya yang menanyakan foto di Gunung Ijen yang saya posting atau unggah di sosial media padahal mereka sudah pernah ke Gunung Ijen sebelumnya tetapi tidak mendapati pemadangan seperti saya. Terima kasih ya Allah!

IMG_2485IMG_2494IMG_2544

Kalau baru berada di puncak Gunung Ijennya, kamu baru memiliki dua pilihan. Pertama, melanjutkan perjalanan ke bawah Kawah Ijennya. Kedua, duduk-duduk saja melihat kawah ijen dari puncak gunung. Jika kamu memilih pilihan pertama, pastikan kamu membawa masker. Hal ini disebabkan ke bagian bawah Kawah Ijen bau belerangnya sangatlah menyengat dan pekat sekali. Udara yang dingin dengan bau belerang yang pekat kalau kamu tidak benar-benar kuat aan terjadi hal yang tidak diinginkan. Sementara itu, kalau kamu lebih memilih pilihan kedua dengan duduk-duduk saja, pastikan kamu membawa perbekalan yang cukup, terutama air putih karena udara dingin dan bau belerang yang pekat akan membuat tenggorokan kering dan kebutuhan akan minum semakin tinggi. Tidak lupa, pastikan kamu sarapan dulu ya sebelum ke Gunung Ijen karena energi yang dikeluarkan akan sangat banyak sekali kecuali kamu sudah terbiasa melakukan penanjakan. Untuk mendapatkan hasil foto pemandangan bagian Kawah Ijen pun kamu harus banyak bersabar. Sebab, asap belerang biasanya menutupi bagian kawah sehingga kamu harus bersabar menunggu asap beelrangnya tertiup angin hingga bagian kawahnya terlihat dengan jelas dan indah. Menurut saya, jangan cepat-cepat turun kalau sudah di atas Gunung Ijen. Hal ini disebabkan semakin siang semakin bagus pemandangan Kawah Ijennya maupun daerah sekitarnya.

Setelah turun dari Gunung Ijen dan berada di area parkir kendaraan kalau kamu tidak memiliki uang berlebih jangan makan di dekat parkiran.  Coba kamu tanyakan saja ke pengangkut belerang tempat menimbang belerang di mana. Di dekat penimbangan belerang ada warung yang kaya para pengangkut belerang murah dibandingkan tempat makan yang di dekat parkiran. Waktu itu saya pesan nasi pecel dengan tambahan kerupuk dan tambahan lauk dengan minum teh panas tidak lebih dari 10 ribu. Murah banget kan? Makanya jangan lupa ke warung ini kalau memang tidak membawa makanan karena perut pasti akan sangat membutuhkan asupan ketika sudah turun dari Gunung Ijen.

IMG_2504IMG_2517IMG_2519IMG_2522IMG_2539

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: